Mitokondria
“Kadang yang membuat kita kuat bukan ambisi, melainkan sel-sel kecil di dalam diri yang diam-diam tetap bekerja—meski hati sudah hampir menyerah.”
.
Langit Jakarta seperti layar bioskop yang lupa mematikan lampu. Gedung-gedung memantulkan cahaya, kaca-kaca menampakkan bayangan orang-orang yang pulang dengan wajah yang tidak benar-benar pulang. Jam menunjukkan lewat tengah malam ketika Jayengrana menutup laptopnya—bukan karena pekerjaannya selesai, melainkan karena matanya terasa seperti pintu darurat yang dipaksa tetap terbuka.
Di apartemen high-rise yang menghadap ke jalan layang, hidupnya tersusun rapi seperti katalog: sofa warna netral, karya seni abstrak, rak buku bisnis, dan aroma diffuser mahal yang katanya menenangkan—padahal yang tenang hanya ruang, bukan kepalanya.
Jayengrana dikenal di lingkaran kelas menengah atas yang “kaya waktu tapi miskin jeda.” Ia bukan orang yang lahir dari kemewahan, tetapi ia berhasil mengejar kemewahan dengan cara yang tampak elegan: sekolah bagus, beasiswa, kemudian menanjak pelan-pelan sampai akhirnya memimpin unit investasi sebuah perusahaan keluarga yang kini berubah menjadi konglomerasi “modern”—bercita rasa startup, berperilaku korporasi.
Di luar, Jakarta tetap berdenyut. Di dalam, ada yang pelan-pelan redup: tenaga, rasa, dan—yang paling ia takutkan—makna.
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat dadanya seperti ditarik benang tak kasatmata: Muninggar.
“Masih di kantor?” suara Muninggar tenang, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan jam-jam jahat.
“Baru sampai rumah,” Jayengrana berbohong setengah. Ia memang sudah di rumah, tapi kepalanya masih di ruang rapat.
“Kamu makan?”
Jayengrana menelan. “Nanti.”
Muninggar tidak membantah. Ia tahu kata “nanti” dalam dunia Jayengrana berarti “tidak” yang diberi jas.
“Besok kamu bisa luang dua jam?” tanya Muninggar.
“Untuk apa?”
“Aku mau ajak kamu ketemu seseorang. Bukan investor, bukan klien. Seseorang yang mungkin bisa menyelamatkan kamu dari diri kamu sendiri.”
Jayengrana tertawa kecil, datar. “Kamu bicara seperti… film.”
“Karena hidup kamu sudah terlalu lama seperti presentasi,” jawab Muninggar, pelan tapi mengena.
Jayengrana memejam. Di dalam gelap, ia melihat angka-angka, target, grafik naik-turun, notulen rapat, dan wajah orang-orang yang menuntut kepastian. Ia juga melihat wajah ibunya—yang beberapa minggu terakhir makin sering terbatuk di telepon, tapi selalu menutupinya dengan kalimat sederhana, ‘Ibu baik-baik saja.’
“Dua jam,” Jayengrana akhirnya berkata, seperti memberi diskon pada hidupnya sendiri.
“Baik. Jam sepuluh. Di RS tempat aku praktik. Jangan telat.”
Telepon ditutup. Hening kembali menyelimuti apartemen. Jayengrana berdiri di depan jendela, memandang kota yang tidak pernah tidur.
Ia bergumam, nyaris seperti doa yang malu-malu: “Selamatkan aku… dari aku.”
.
Keesokan paginya, Jayengrana menembus kemacetan seperti orang menembus masa lalu. Ia tiba di rumah sakit swasta yang lobby-nya lebih mirip hotel bintang lima: wangi, bersih, dan menenangkan—seakan sakit pun harus tampil layak.
Muninggar menunggunya di dekat lift, mengenakan jas putih, rambutnya digelung sederhana. Wajahnya seperti seseorang yang menyimpan banyak cerita, tapi tidak menjualnya sebagai drama.
Mereka berjalan melewati koridor, suara sepatu mereka menimbulkan gema yang terasa seperti detak jam besar.
“Siapa yang mau aku temui?” tanya Jayengrana.
Muninggar meliriknya. “Namanya Umarmaya.”
Jayengrana berhenti setengah langkah. “Umarmaya yang itu?”
Muninggar mengangguk.
Umarmaya adalah teman lama—dulu satu komunitas debat kampus, satu rumah kontrakan saat mereka sama-sama miskin gaya, kaya mimpi. Umarmaya kemudian menjadi konsultan komunikasi, spesialis “menyelamatkan reputasi” orang-orang besar. Ia pintar bicara, lebih pintar membaca manusia. Tapi beberapa tahun terakhir, Jayengrana jarang bertemu: terlalu sibuk, terlalu sombong, atau terlalu takut melihat cermin yang bernama teman lama.
Mereka masuk ke ruang tunggu sebuah klinik neurologi. Di sana, Umarmaya duduk sambil memegang botol air, wajahnya pucat tapi masih menyisakan humor di sudut bibir.
“Wah,” kata Umarmaya ketika melihat Jayengrana. “Masih hidup ternyata. Aku kira kamu sudah berubah jadi spreadsheet.”
Jayengrana hendak tertawa, tapi suaranya tertahan. “Kamu kenapa di sini?”
Umarmaya menepuk kepala sendiri, pelan. “Kepalaku kebanyakan kerja. Aku jatuh pingsan dua kali. Dokter bilang… aku harus berhenti sok kuat.”
Jayengrana menatapnya, lalu menatap Muninggar. “Kamu mau aku belajar dari dia?”
Muninggar menggeleng. “Aku mau kamu belajar dari tubuh kamu sendiri. Dan dari sesuatu yang kamu sering lupakan: kamu manusia, bukan mesin.”
Jayengrana duduk. Tiba-tiba ia merasa lelah—bukan lelah yang bisa disembuhkan dengan tidur satu malam, melainkan lelah yang menumpuk di tiap pilihan, tiap tuntutan, tiap kalimat ‘Aku bisa.’
Pintu terbuka. Seorang dokter senior keluar, rambutnya memutih, sorot matanya jernih. Muninggar berdiri, menyapa dengan hormat.
“Ini dokter Kalandar,” kata Muninggar. “Beliau yang mau aku kenalkan.”
Kalandar menatap Jayengrana seperti orang membaca buku yang sampulnya mewah, tapi halaman dalamnya mulai robek.
“Kamu Jayengrana?” tanya Kalandar.
Jayengrana mengangguk.
Kalandar mempersilakan mereka masuk. Di dalam ruangan, ada model otak, diagram saraf, dan satu poster kecil: gambar sel dengan tulisan besar MITOKONDRIA.
Jayengrana menunjuk poster itu dengan dahi berkerut. “Saya ingat ini dari pelajaran biologi. ‘Powerhouse of the cell’.”
Kalandar tersenyum. “Betul. Dan lucunya, banyak orang hebat lupa bahwa hidupnya juga butuh ‘powerhouse’. Mereka pikir tenaga bisa dibeli. Mereka pikir fokus bisa dipaksakan. Mereka pikir tubuh hanya kendaraan. Padahal tubuh itu rumah.”
Umarmaya menyandarkan punggung. “Saya yang salah satu contohnya, Dok.”
Kalandar mengangguk. Lalu menatap Jayengrana. “Dan kamu—kamu belum jatuh. Tapi kamu sudah goyah.”
Jayengrana ingin membantah. Tapi mulutnya tidak bergerak.
Kalandar mengambil spidol, menggambar sel sederhana di papan kecil.
“Mitokondria ini,” katanya, “menghasilkan energi. Tapi mereka juga sensitif terhadap stres kronis. Kurang tidur, pola makan buruk, kerja tanpa jeda—itu seperti membuat pabrik listrik bekerja tanpa perawatan. Awalnya lampu tetap menyala. Lama-lama, kabelnya meleleh.”
Jayengrana menelan. Entah kenapa, penjelasan itu terasa seperti menelanjangi hidupnya tanpa harus menyebut satu pun kata “burnout.”
Kalandar melanjutkan, suaranya tenang, seperti orang menuntun seseorang menyeberang jalan:
“Yang menarik, mitokondria diwariskan dari ibu. Kamu tahu?”
Jayengrana mengerjap. “Dari ibu?”
“Ya,” kata Kalandar. “Bukan ayah. Kita membawa jejak energi dari garis ibu. Itu sebabnya, ketika kamu menolak beristirahat, kamu bukan hanya melawan tubuh kamu. Kamu juga melawan warisan ketahanan—dan kelembutan—yang ibu kamu bawa.”
Mata Jayengrana panas, cepat-cepat ia menunduk. Nama “Ibu” di mulut orang asing terasa seperti tombol rahasia yang ditekan.
Muninggar memandangnya lama, seperti sudah menunggu momen itu.
Jayengrana berdehem. “Apa hubungan semua ini dengan hidup saya?”
Kalandar menutup spidol. “Hubungannya sederhana. Kamu sedang hidup seperti menghabiskan baterai tanpa pernah mengecas. Kamu mengejar validasi, tapi mengabaikan sistem yang membuat kamu bisa hidup.”
Umarmaya tertawa getir. “Selamat datang di klub orang-orang sok kuat.”
Jayengrana menatap Umarmaya. “Aku pikir kamu selalu paling tahan banting.”
Umarmaya mengangkat bahu. “Aku tahan banting di luar. Tapi di dalam, aku rapuh. Mitokondria aku sudah demo.”
Muninggar menyela, suaranya lembut tapi tegas. “Jay, kamu selalu bilang ingin membangun legacy. Tapi legacy apa kalau kamu sendiri habis sebelum selesai?”
Jayengrana menatap lantai. Kata “legacy” yang biasa ia ucapkan dalam rapat, tiba-tiba terdengar seperti lelucon pahit.
Kalandar berkata, “Saya bukan motivator. Saya dokter. Saya cuma ingin kamu sadar: kamu boleh ambisius, tapi jangan bunuh diri pelan-pelan.”
Hening menggantung.
Jayengrana merasa tenggorokannya mengeras. Lalu, tanpa rencana, ia bertanya: “Kalau sudah terlanjur rusak… bisa pulih?”
Kalandar menatapnya seperti menatap anak kecil yang baru berani jujur. “Tubuh punya kemampuan pulih luar biasa. Tapi syaratnya satu: kamu harus berhenti menyakiti dia.”
Muninggar menghembuskan napas, lega.
Jayengrana menatap poster mitokondria lagi. Kata “powerhouse” kini terdengar seperti sesuatu yang bukan hanya tentang sel, tapi tentang hidup.
.
Sore harinya, Jayengrana duduk di mobil, tapi tidak langsung pulang. Ia parkir di tepi jalan, memandangi orang-orang yang berjalan cepat, seolah takut kalah oleh waktu.
Ponselnya bergetar. Telepon dari rumah.
“Ibu,” sapa Jayengrana, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Di seberang sana, suara ibunya terdengar seperti daun kering yang masih mencoba bersuara. “Jay… kamu kapan pulang?”
Jayengrana terdiam. “Ibu kenapa?”
“Aku… cuma kangen,” ibunya berbohong. Tapi bohong yang terlalu transparan.
Jayengrana menutup mata. Ia membayangkan ibunya di rumah lama, mungkin duduk di kursi dekat jendela, menatap jalan, menunggu suara mobil yang ia kenal sejak kecil.
“Kapan terakhir aku pulang?” tanya Jayengrana, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Ibunya tertawa kecil, tapi batuknya menyela. “Kamu sibuk. Ibu paham.”
Jayengrana ingin bilang, Aku juga paham. Tapi ia baru sadar: selama ini ia tidak paham. Ia hanya merasa bersalah, lalu menutupinya dengan uang, kiriman, dan janji-janji.
“Kapan kontrol lagi, Bu?”
Hening. “Minggu depan.”
“Dokter apa?”
Ibunya menyebut nama klinik. Jayengrana membeku—itu rumah sakit tempat Muninggar bekerja.
Ia menelan. Tiba-tiba semua potongan hidupnya seperti disusun ulang oleh tangan tak terlihat.
“Ibu,” katanya pelan, “besok aku pulang.”
Ibunya terdiam lama. Lalu suaranya berubah, seperti orang menahan tangis. “Kamu serius?”
“Iya, Bu.”
“Jangan cuma janji,” ibunya berbisik.
Jayengrana menatap lampu merah di depan. Seperti hidupnya sendiri—berhenti untuk pertama kalinya, memberi ruang pada sesuatu yang sudah lama diabaikan.
“Aku serius,” katanya. “Aku mau pulang… sebelum terlambat.”
.
Di kantor, dunia tetap berputar seperti biasa: rapat-rapat, strategi akuisisi, pitch deck, dan satu proyek besar yang sedang ia pegang—pengembangan kawasan mixed-use di pinggir kota. Proyek itu digadang-gadang sebagai “kota mandiri masa depan”: apartemen, pusat edukasi, coworking space, rumah sakit, dan ruang hijau yang lebih sering jadi slogan daripada kenyataan.
Ada satu orang yang paling mendorong proyek itu berjalan tanpa jeda: Umarmadi.
Umarmadi adalah rekan kerja sekaligus “saingan elegan” Jayengrana. Ia pintar, ambisius, punya cara bicara yang membuat orang merasa bodoh bila tidak setuju. Ia tidak pernah marah, tapi kalimatnya selalu terasa seperti pisau yang dibungkus beludru.
Di ruang rapat, Umarmadi berkata sambil menunjuk timeline, “Kita tidak bisa melambat. Investor menunggu. Market tidak peduli kamu lelah.”
Jayengrana menatap timeline itu—barisan tanggal yang seperti pagar tinggi.
Muninggar pernah berkata: “Kamu hidup seperti dikejar.” Dan kini Jayengrana sadar: yang mengejar itu bukan orang lain. Itu dirinya sendiri.
“Aku mau adjust timeline,” kata Jayengrana, suara tenang.
Umarmadi menoleh, alisnya naik. “Kenapa?”
“Kita butuh audit ulang dampak lingkungan dan kesiapan sosial. Kita bangun ‘kota mandiri’, tapi kalau warga sekitar tersingkir, itu bukan pembangunan. Itu pemindahan masalah.”
Ruangan mendadak sunyi, seperti ada yang mematikan AC.
Umarmadi tersenyum tipis. “Kamu jadi idealis sekarang? Ini bisnis, Jay. Bukan seminar moral.”
Jayengrana menatapnya. “Justru karena ini bisnis, kita harus bertanggung jawab. Aku nggak mau proyek besar ini jadi monumen keserakahan.”
Umarmadi menyandarkan tubuh. “Kamu berubah.”
Jayengrana mengangguk pelan. “Iya. Aku baru ingat… aku manusia.”
Umarmadi tertawa kecil, dingin. “Investor suka manusia yang menghasilkan. Bukan manusia yang merenung.”
Jayengrana menarik napas. Dulu, ia akan takut kehilangan dukungan. Dulu, ia akan mundur setengah langkah demi “keseimbangan politik kantor.” Tapi sekarang, ia melihat sesuatu yang lebih besar: tubuhnya, ibunya, dan—anehnya—poster mitokondria di ruang dokter Kalandar.
“Kalau investor cuma suka manusia sebagai mesin,” kata Jayengrana, “berarti investor kita perlu belajar definisi hidup.”
Rapat berakhir dengan aura tegang. Jayengrana tahu, ini akan punya konsekuensi. Tapi untuk pertama kalinya, konsekuensi itu terasa lebih ringan daripada kehilangan dirinya sendiri.
.
Malam sebelum pulang ke rumah ibunya, Jayengrana datang ke apartemen Umarmaya. Temannya itu baru selesai sesi terapi.
Di ruang tamu, Umarmaya menyalakan lampu temaram. Mereka duduk berhadapan, dua pria dewasa yang dulu bermimpi mengubah dunia, lalu nyaris diubah habis-habisan oleh dunia.
“Kamu benar-benar pulang besok?” tanya Umarmaya.
“Iya.”
Umarmaya mengangguk pelan. “Bagus. Aku dulu pikir pulang itu tanda kalah. Ternyata pulang itu… keberanian.”
Jayengrana menatapnya. “Kamu kenapa nggak pulang juga?”
Umarmaya tersenyum getir. “Aku takut melihat orang tua aku menua. Takut merasa bersalah. Takut… mitokondria aku mengingatkan, aku ini anak.”
Jayengrana tertawa kecil, tapi matanya basah. “Aku juga.”
Umarmaya menepuk bahu Jayengrana. “Dengar. Kamu bisa jadi hebat di luar. Tapi jangan jadi pecundang di rumah.”
Kalimat itu menancap lebih dalam dari nasihat mana pun.
Jayengrana pulang dengan perasaan yang tidak biasa: takut, tapi juga lega.
.
Di rumah ibunya, udara terasa berbeda. Tidak ada aroma diffuser mahal, tapi ada wangi minyak kayu putih, wangi masakan sederhana, dan wangi masa kecil yang tiba-tiba muncul dari pintu.
Ibunya berdiri di ambang, tubuhnya terlihat lebih kecil dari yang Jayengrana ingat. Rambutnya mulai memutih, matanya tetap sama—mata yang dulu menatap Jayengrana kecil setiap kali ia pulang sekolah.
Jayengrana berdiri kaku. Lalu, tanpa sadar, ia memeluk ibunya lama sekali. Pelukan itu bukan hanya pelukan anak pada ibu, tapi pelukan seseorang yang akhirnya mengakui: ia lelah.
Ibunya menangis pelan. “Kamu kurus,” bisik ibunya.
Jayengrana tertawa kecil. “Ibu juga.”
Mereka masuk. Rumah itu sederhana, tapi hangat. Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan makanan.
Jayengrana memandang piring itu seperti memandang sesuatu yang selama ini ia cari di tempat yang salah.
Mereka makan pelan. Tidak banyak kata. Tapi justru dalam diam itu, Jayengrana merasakan energi yang berbeda—bukan energi dari kopi, bukan dari adrenaline rapat, melainkan energi dari rasa aman.
Malamnya, ibunya batuk lagi. Jayengrana menahan napas. Ia ingin panik, tapi ia memilih tenang. Ia membantu ibunya minum obat, menyiapkan air hangat, duduk di sampingnya.
Ibunya memandang Jayengrana. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “dulu kamu itu gampang sakit. Aku selalu takut kamu nggak kuat.”
Jayengrana menatap ibunya. “Tapi aku tumbuh.”
Ibunya tersenyum tipis. “Kamu tumbuh, iya. Tapi kamu lupa… kuat itu bukan berarti nggak pernah berhenti.”
Jayengrana teringat mitokondria diwariskan dari ibu. Ia memandangi ibunya—perempuan yang tubuhnya rapuh, tapi ketahanannya seperti batu.
“Ibu,” kata Jayengrana, suaranya pecah, “maaf.”
Ibunya mengusap kepala Jayengrana seperti dulu. “Maaf yang paling mahal itu yang disusul perubahan.”
Jayengrana mengangguk. Dalam dadanya, sesuatu yang lama terkunci akhirnya terbuka.
.
Minggu berikutnya, Jayengrana mengantar ibunya kontrol. Di rumah sakit, Muninggar menyambut mereka.
Ibunya menatap Muninggar, lalu menatap Jayengrana. “Ini…?”
“Teman,” jawab Jayengrana cepat.
Muninggar tersenyum sopan, membantu ibunya duduk. Ia memeriksa dengan teliti, mengajak bicara pelan, seolah memeluk lewat profesi.
Di lorong, Kalandar menyapa Jayengrana. “Bagaimana?”
Jayengrana tersenyum tipis. “Saya pulang.”
Kalandar mengangguk, seolah itu diagnosis terbaik.
“Dan proyek saya…” Jayengrana ragu, “mungkin akan kacau karena saya menolak timeline yang tidak manusiawi.”
Kalandar menatapnya tenang. “Proyek bisa diulang. Tubuh tidak selalu.”
Jayengrana mengangguk. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti kompas.
Di luar, hujan turun. Jayengrana menatap gerimis yang membasahi kaca, lalu menatap ibunya yang sedang tersenyum kecil pada Muninggar. Ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: rasa cukup.
Ia sadar, hidup tidak harus selalu dipacu seperti balapan. Kadang, hidup perlu dipahami seperti sel: ada proses kecil, repetitif, tidak glamor—tapi itulah yang membuat kita tetap ada.
Mitokondria bekerja tanpa tepuk tangan. Ibu mencintai tanpa panggung. Dan mungkin, inilah definisi kekuatan yang sebenarnya.
Jayengrana menghembuskan napas panjang, lalu berkata pada dirinya sendiri, pelan:
“Aku akan berhenti menjadi mesin yang dipuji… dan mulai menjadi manusia yang pulang.”
.
.
.
Malang, 18 Februari 2026
.
.
#Cerpen #SastraIndonesia #KompasMinggu #KehidupanKota #KelasMenengahAtas #Burnout #KesehatanMental #Keluarga #RefleksiHidup #Mitochondria #Pulang