Menjaga

“Sifat manusia bukan paling mudah terbaca saat ia sedang bahagia—melainkan saat ia kecewa, saat ia tidak diuntungkan, saat ia merasa tidak dilihat. Di situ, kejujurannya berdiri tanpa kostum.”

.

Langit Jakarta sore itu seperti kain tipis yang disetrika terlalu panas—pucat, berkilau, dan menyimpan bau hangus yang tak diakui. Dari lantai dua puluh tujuh sebuah gedung kaca di Sudirman, mobil-mobil di bawah tampak seperti mainan yang dipaksa dewasa: rapi, cepat, dan sama-sama terburu pulang, padahal tak ada rumah yang benar-benar menunggu.

Di ruang rapat yang dingin seperti kulkas butik, Jayeng duduk dengan kedua telapak tangan saling menekan. Di mejanya ada dua gelas air mineral yang tidak diminum, satu laptop dengan presentasi yang sudah dibuka dari setengah jam lalu, dan sebuah pesan singkat yang membuat jantungnya serasa ditarik keluar lewat tenggorokan.

“Mas, aku telat 15 menit. Tamu investor minta kamu mulai duluan. Please.”
—Umar.

Jayeng membaca ulang kata please itu, seolah-olah ia bisa menakar ketulusan dari huruf-huruf kecil yang sopan. Ia tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena merasa bodoh: betapa mudah manusia percaya pada kata yang rapi.

Di dinding kaca ruang rapat, pantulan wajah Jayeng seperti lelaki yang baru saja menyadari umurnya sendiri: tiga puluh delapan, mapan, punya apartemen di kawasan premium, punya mobil yang dibeli “cash” agar tak berutang, punya usaha edukasi yang ia rintis dari nol, dan punya startup yang kini hendak dikawinkan dengan modal ventura.

Tapi hari ini—ia hanya punya sebuah pertanyaan yang menggerogoti: orang itu, Umar, sesungguhnya siapa?

Sebuah kalimat yang Muning pernah ucapkan dua minggu lalu tiba-tiba muncul, bersih seperti tulisan di papan kelas:

“Kalau mau menilai orang, Mas, jangan cuma lihat performanya saat presentasi. Lihat caranya bicara, cara ia memperlakukan yang tak bisa membalas, dan caranya saat marah.”

Muning bukan ustaz, bukan psikolog. Ia dosen komunikasi yang memilih tetap mengajar meski suaminya—Jayeng—sudah sanggup menanggung hidup mereka berdua. Muning punya cara menasihati yang tidak menampar, tapi menghanguskan ego pelan-pelan. Ia tidak pernah berkata “aku benar”. Ia hanya menaruh cermin di depan wajahmu, lalu membiarkan kamu melihat sendiri.

Hari ini, Jayeng merasakan cermin itu menempel di kulit.

.

Startup mereka bernama Rengga Edu, platform pembelajaran untuk keluarga kelas menengah ke atas yang ingin “mendidik anak tanpa kehilangan karier”. Mereka menjual kurikulum, mentorship, komunitas, dan layanan konsultasi untuk sekolah-sekolah swasta. Pasarnya jelas: orang-orang yang punya uang, punya ambisi, dan punya rasa bersalah yang mahal.

Jayeng membangun Rengga Edu dari ruang tamu apartemen—dengan meja lipat, printer murah, dan jam tidur yang ia potong separuh. Umar datang setahun lalu membawa jargon, jaringan, dan keberanian bicara. Ia memperkenalkan diri seperti iklan yang tahu caranya menggaet: ramah, cepat, dan penuh janji.

“Aku suka visi kamu, Jayeng,” kata Umar dulu. “Indonesia butuh edukasi yang bikin orang tua tidak tenggelam. Kita bisa jadi jembatan.”

Jayeng waktu itu hampir menangis—bukan karena kata-kata Umar indah, tapi karena ia lelah berjuang sendirian. Ada orang datang menawarkan bahu. Dan orang yang lelah sering mengira bahu itu rumah.

Umar mulai menjadi wajah publik perusahaan. Ia yang tampil di podcast, ia yang berdiri di panggung, ia yang berfoto dengan influencer parenting. Jayeng senang. Jayeng percaya. Jayeng merasa akhirnya ia bisa kembali menjadi suami untuk Muning—bukan cuma mesin yang kerja.

Sampai suatu malam, Muning menatap layar ponsel Jayeng yang menyala karena notifikasi grup.

Nama grup itu: “Rengga Investors — internal”.

Di sana Umar mengirim pesan:

“Kita perlu keputusan cepat. Jangan tunggu Jayeng. Dia terlalu idealis.”

Muning tidak menghakimi. Ia hanya menaruh ponsel di meja, lalu berkata pelan:

“Mas, idealis itu bukan dosa. Tapi kalau ada orang yang menganggap idealismu hambatan, itu tanda: dia tidak mencintai visi, dia hanya ingin menang.”

Jayeng menelan ludah. Ia masih membela Umar di kepalanya. Mungkin salah paham. Mungkin tekanan. Mungkin cara bicara.

Namun hari ini, di ruang rapat dingin itu, Jayeng akhirnya memutuskan: ia akan melihat, bukan mengira.

.

Investor datang: tiga orang, rapi, wangi, dan terlatih menyembunyikan pendapat. Mereka duduk dengan senyum standar—senyum yang tidak memberi apa-apa selain rasa “silakan mulai”.

Jayeng mempresentasikan data: pertumbuhan pengguna, retensi, revenue, churn, strategi ekspansi, peluang kerja sama dengan sekolah internasional. Ia bicara dengan suara yang ia latih sejak lama: tenang, jelas, tidak memaksa.

Di tengah presentasi, seorang staf hotel gedung itu masuk—membawa kopi. Ia sedikit gugup, karena gelasnya hampir tumpah.

“Maaf, Pak…” katanya, terbata.

Salah satu investor hanya melirik. Yang lain menahan napas, seperti takut tersentuh sesuatu yang tidak “premium”.

Jayeng mengangguk ramah. “Santai, Mas. Pelan-pelan saja.”

Lalu pintu terbuka lagi. Umar masuk. Wajahnya cerah seperti baru memenangkan sesuatu.

“Sorry, sorry,” katanya keras. Ia duduk tanpa menatap staf yang masih berdiri menunggu gelas diambil. Umar menggeser kursi dengan bunyi tajam, lalu berkata ke investor, “Kita bisa percepat bagian monetisasi, ya. Aku punya skema yang lebih agresif.”

Jayeng menangkap sesuatu: bukan pada skema agresif itu—melainkan pada cara Umar mengabaikan manusia yang sedang berdiri di sampingnya.

Muning benar. Cara seseorang memperlakukan yang lemah, yang “tidak menguntungkan”, sering lebih jujur daripada CV.

Staf itu akhirnya menaruh gelas, tangan gemetar, lalu buru-buru keluar. Umar tidak berkata terima kasih. Tidak juga mengangguk.

Jayeng merasa dadanya sesak, seperti menyimpan tangisan yang tidak punya izin keluar.

.

Rapat berjalan cepat, terlalu cepat. Umar mengambil alih. Ia bicara dengan kalimat-kalimat yang memikat: market size, scalability, customer acquisition, lifetime value—kata-kata yang terdengar seperti masa depan yang bisa dibeli.

Ketika investor bertanya soal kualitas konten edukasi dan dampaknya pada anak, Jayeng menjawab panjang, hati-hati. Umar menyela:

“Dampak itu penting, tapi kita harus realistis. Kalau mau survive, kita harus push upsell. Parents itu suka paket premium.”

Kata parents keluar dari mulut Umar seperti objek, bukan manusia.

Seorang investor tersenyum kecil. “Menarik. Jadi, kalian akan pivot menjadi… semacam lifestyle education untuk kelas premium?”

Jayeng hendak menjelaskan, tapi Umar sudah mengangguk besar. “Yes. Exactly.”

Jayeng merasakan sesuatu runtuh. Seperti rumah yang diam-diam dijual oleh orang yang kamu beri kunci.

Setelah rapat, investor pamit dengan kalimat yang tidak menjanjikan apa pun. Umar menepuk bahu Jayeng.

“Mas, trust me. Ini strategi. Kalau kita mau menang, kita harus berani.”

Jayeng menatap Umar. Di matanya ada pertanyaan yang memanjang: ini strategi untuk siapa?

Umar menambah, “Mas, jangan bawa idealisme ke meja investor. Mereka itu bukan guru. Mereka cari return.”

Jayeng mengangguk. Ia tidak ingin berdebat di ruang kaca. Ia hanya ingin pulang—ke tempat yang tidak memaksanya menjadi versi orang lain.

.

Di parkiran, Jayeng duduk di mobil tanpa menyalakan mesin. Ia menatap setir, seperti menatap takdir yang bisa diputar, tapi tidak selalu bisa dikendalikan.

Ponselnya bergetar. Muning.

“Mas, kamu sudah selesai?”

“Selesai,” jawab Jayeng. “Aku capek.”

Muning diam sebentar, lalu berkata, “Capek itu wajar. Tapi jangan pulang dengan kalah.”

Jayeng menelan ludah. “Aku merasa, perusahaan ini bukan milikku lagi.”

Muning menarik napas. “Mas, perusahaan itu milikmu kalau kamu masih memegang nilai. Kalau nilaimu dilepas, kamu hanya jadi pegawai dari ambisi orang lain.”

Jayeng menutup mata. Air mata menekan dari dalam, memaksa.

Muning melanjutkan, “Mas, ingat yang pernah kita bicarakan? Menilai orang itu bukan dari janji. Tapi dari bukti. Dari cara dia menyikapi masalah—apakah menyalahkan atau bertanggung jawab.”

Jayeng teringat kejadian minggu lalu.

Mereka sempat punya masalah: satu sekolah mitra membatalkan kerja sama karena ada keluhan dari orang tua. Jayeng ingin investigasi dan memperbaiki modul. Umar justru marah dan menyalahkan tim konten.

“Kalian ini bikin apa sih?” Umar membentak di ruang kerja. “Kok bisa ada komplain? Kalian tahu nggak nilai kontrak itu berapa?”

Tim konten terdiam. Seorang editor muda hampir menangis. Umar tidak peduli.

Jayeng waktu itu mencoba menenangkan, “Kita cari akar masalah. Jangan cari kambing hitam.”

Umar menatap Jayeng dengan mata panas. “Mas, kamu terlalu lembek. Dunia bisnis itu keras.”

Dan sekarang, di parkiran ini, Jayeng mengerti: kekerasan bukan tanda kuat. Kekerasan sering hanya bukti bahwa seseorang tidak punya kapasitas untuk menahan kecewa.

Jayeng menghela napas. “Muning, aku takut.”

“Takut itu manusiawi,” jawab Muning. “Tapi kamu harus pilih: takut kehilangan uang, atau takut kehilangan dirimu.”

Kalimat itu menampar tanpa tangan.

Jayeng menyalakan mesin. Ia pulang dengan mata basah.

.

Malam itu, hujan turun di Jakarta dengan gaya yang tak pernah sopan. Di balkon apartemen, Muning membuat teh hangat. Jayeng duduk di sofa, menatap layar laptop yang terbuka pada dokumen perjanjian saham.

Umar memegang 30%. Jayeng 45%. Sisanya untuk karyawan dan investor kecil.

Jayeng merasa lucu: ia yang merintis, tapi ia yang paling rentan kehilangan arah.

Muning duduk di sampingnya. “Mas, kamu tahu kenapa cerita-cerita lama selalu punya tokoh yang diuji?”

Jayeng menatapnya. “Karena hidup suka bercanda?”

Muning tersenyum. “Karena manusia tidak bisa mengenal dirinya sendiri tanpa ujian.”

Muning mengambil buku catatan. Ia menulis sesuatu, lalu menyodorkannya pada Jayeng.

Di kertas itu tertulis:
1) Bicara
2) Perlakuan pada yang lemah
3) Reaksi saat marah/kecewa
4) Janji vs bukti
5) Menyalahkan atau bertanggung jawab
6) Sikap saat susah
7) Hal kecil: waktu, tolong, terima kasih

Jayeng menatap daftar itu lama. Ia merasakan dadanya menghangat sekaligus perih.

“Ini bukan daftar untuk menilai Umar,” kata Muning, pelan. “Ini daftar untuk menilai siapa pun—termasuk kita.”

Jayeng mengangguk. “Mungkin aku juga gagal di beberapa.”

Muning meraih tangan Jayeng. “Mas, orang baik itu bukan yang tidak pernah salah. Tapi yang mau bertanggung jawab dan belajar.”

Jayeng menutup mata. Ia membiarkan tangisnya jatuh, sekali ini tanpa malu. Muning memeluknya. Di pelukan itu, Jayeng merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di dunia bisnis: aman.

.

Keesokan hari, Jayeng meminta bertemu Umar di sebuah kafe di Senopati. Kafe itu penuh orang yang tampak sukses: jam tangan mahal, laptop tipis, sepatu bersih. Aroma kopi bercampur aroma ambisi.

Umar datang dengan jaket bomber dan senyum lebar. “Mas! Kita kemarin bagus. Investor keliatan tertarik.”

Jayeng membuka pembicaraan pelan, “Umar, aku mau bicara serius.”

Umar mencondongkan badan, masih tersenyum. “Let’s go.”

Jayeng menatap Umar. Ia memutuskan untuk memulai dari hal paling sederhana.

“Umar, kamu pernah sadar nggak, cara kamu memperlakukan orang-orang yang… tidak punya posisi?”

Umar tertawa kecil. “Mas, maksudmu staf kemarin? Ya ampun, Mas, itu hal kecil.”

Jayeng mengangguk, pelan. “Justru hal kecil yang sering menunjukkan siapa kita.”

Umar mengernyit. “Mas, jangan jadi terlalu sensitif. Kita ini lagi bangun unicorn, bukan komunitas meditasi.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dada Jayeng. Ia merasakan kemarahan naik. Tapi ia menahan. Ia ingin melihat Umar saat keadaan tidak sesuai harapannya.

Jayeng melanjutkan, “Aku juga baca chat kamu di grup investor. Kamu bilang jangan tunggu aku.”

Umar terdiam sebentar. Lalu wajahnya berubah. Senyumnya hilang, diganti garis tegang.

“Mas, kamu ngintip chat internal?” Umar balik menyerang.

Jayeng menghela napas. “Aku bukan ngintip. Aku… tahu.”

Umar mengetuk meja. “Mas, ini yang aku bilang. Kamu terlalu baper. Di dunia bisnis, keputusan harus cepat. Kamu itu lambat.”

Jayeng menatap mata Umar yang mulai panas. Ia melihat: ketika kecewa, Umar memilih menyerang.

Jayeng berkata tenang, “Umar, kamu bisa bilang aku lambat. Tapi jangan bilang idealisme itu hambatan. Idealismeku itu alasan kenapa Rengga Edu lahir.”

Umar mendengus. “Mas, kamu pikir perusahaan bisa hidup dari niat baik? Investor nggak peduli. Mereka mau untung.”

Jayeng menelan ludah. Ia merasakan titik balik.

“Aku bukan menolak untung,” kata Jayeng. “Aku menolak cara yang membuat kita menjual rasa bersalah orang tua sebagai produk premium. Aku menolak menjadikan pendidikan sebagai aksesori.”

Umar tersenyum sinis. “Mas, kamu sok suci. Kalau kamu mau jadi guru, balik aja ngajar.”

Jayeng mengangguk, pelan. “Mungkin aku memang guru dalam bentuk yang lain.”

Umar bersandar, lalu berkata lebih tajam, “Mas, jangan lupa. Tanpa aku, kamu nggak akan sampai sini. Aku yang bawa network. Aku yang naik panggung. Aku yang bikin brand kamu dikenal.”

Jayeng tersenyum tipis. “Itu yang kamu anggap bukti?”

Umar menatap tajam. “Ya.”

Jayeng menarik napas panjang. Ini bagian paling sulit: memisahkan diri dari orang yang dulu ia anggap penyelamat.

“Aku akan buyback saham kamu,” kata Jayeng. “Kita pisah.”

Umar tertawa keras. “Mas, kamu bercanda? Dari mana uangnya?”

Jayeng menatapnya. “Aku sudah hitung. Aku akan jual satu aset, dan aku akan cari investor yang sejalan. Kalau tidak ada, aku jalan pelan.”

Umar menepuk meja. “Mas, kamu gila!”

Jayeng mengangguk. “Mungkin. Tapi aku lebih takut jadi orang yang kehilangan arah.”

Umar berdiri. Wajahnya merah. Di kafe yang penuh orang “sukses”, Umar terlihat seperti anak kecil yang mainannya diambil.

“Mas, kamu akan nyesel,” kata Umar. “Kamu akan tenggelam.”

Jayeng menatapnya, tanpa benci. “Lebih baik tenggelam sambil belajar berenang, daripada mengapung di kapal yang salah.”

Umar pergi tanpa pamit. Tidak ada terima kasih. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada keindahan perpisahan.

Jayeng menatap cangkir kopi yang dingin. Ia merasa sakit—tapi anehnya, ada ruang lega di dalam sakit itu.

.

Proses buyback tidak mudah. Umar menolak, mengancam, memainkan narasi di belakang. Ada hari-hari Jayeng pulang dengan kepala pusing, dan Muning menunggunya dengan dua hal: teh hangat dan kesabaran yang tidak pernah habis.

Mereka menjual mobil yang paling Jayeng banggakan. Mereka memangkas gaya hidup: lebih sedikit makan di luar, lebih banyak masak sederhana. Mereka menunda liburan. Mereka belajar berkata “cukup” tanpa merasa malu.

Di kantor, Jayeng mulai melihat hal-hal kecil yang dulu ia abaikan.

Seorang staf admin bernama Sela selalu datang paling awal. Ia tidak pernah minta dipuji. Ia hanya bekerja. Jayeng mulai berkata terima kasih padanya, setiap hari.

Seorang editor muda, Kencana, yang dulu hampir menangis karena bentakan Umar, kini berani memberi masukan. Jayeng mendengarkan, benar-benar mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran bicara.

Jayeng mulai mengerti: perusahaan bukan dibangun dari presentasi—tapi dari cara manusia diperlakukan.

Dan di saat paling berat, justru muncul orang-orang yang paling tulus.

Rengga—teman lama Jayeng dari masa kuliah—menghubungi. “Aku dengar kamu lagi perang.”

Jayeng tertawa pahit. “Perang yang tidak heroik.”

Rengga berkata, “Aku bisa bantu. Aku punya jaringan sekolah di Surabaya. Kita bikin pilot project.”

Jayeng terdiam. Matanya panas. Ia tidak menyangka masih ada yang percaya pada nilai, bukan hanya angka.

Di malam lain, seorang orang tua murid mengirim email:
“Terima kasih. Modul kalian membuat saya lebih sabar pada anak saya. Saya merasa jadi orang tua yang lebih manusia.”

Jayeng membaca email itu berkali-kali. Ia menangis. Muning memeluknya.

“Mas,” kata Muning, “ini bukti. Bukan janji.”

.

Beberapa bulan kemudian, mereka berhasil buyback sebagian saham Umar. Umar keluar dengan wajah yang tetap marah. Ia membuat perusahaan baru, menjual “kursus premium” dengan harga fantastis. Ia cepat naik, cepat viral, cepat kaya.

Jayeng melihatnya dari jauh. Ia tidak iri. Ia hanya sedih: betapa dunia kadang memberi panggung pada orang yang pandai bicara, bukan yang pandai menjaga hati.

Rengga Edu tumbuh pelan, tapi sehat. Mereka memilih mitra yang sejalan. Mereka menolak beberapa kontrak besar yang ingin memanipulasi orang tua. Mereka fokus pada dampak. Mereka menambah program beasiswa untuk guru-guru di pinggiran kota—bagian kecil dari keuntungan mereka.

Suatu sore, Jayeng dan Muning duduk di ruang kelas kecil yang mereka sewa untuk workshop. Di depan, ada puluhan orang tua muda: manajer, dokter, pengusaha, kreator konten, dosen. Mereka datang dengan wajah lelah, tapi ingin.

Jayeng membuka sesi dengan suara tenang.

“Bapak-ibu,” katanya, “kita hidup di kota yang membuat kita sibuk membuktikan. Kadang, kita lupa merawat. Kita ingin anak sukses, tapi kita lupa memastikan mereka tumbuh sebagai manusia.”

Seorang ibu mengangkat tangan. “Mas, gimana cara kita memilih mentor untuk anak? Banyak yang terlihat hebat.”

Jayeng terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum, mengenang daftar Muning.

“Lihat cara mereka bicara,” kata Jayeng. “Bukan hanya kata-katanya, tapi nada dan niatnya. Lihat cara mereka memperlakukan orang yang tidak bisa memberi apa-apa. Lihat caranya saat kecewa. Dan lihat hal-hal kecil: apakah mereka tepat waktu, apakah mereka bisa bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.”

Ia menatap para peserta satu per satu.

“Karena sering kali,” lanjut Jayeng, “karakter itu bukan sesuatu yang diumumkan. Karakter itu sesuatu yang terlihat… saat tidak ada yang menonton.”

Muning menatap Jayeng dengan mata berkaca-kaca. Di situ Jayeng mengerti: luka yang ia alami bukan sia-sia. Ia berubah jadi pelajaran yang bisa dibagikan.

Di akhir workshop, seorang ayah menghampiri Jayeng. Wajahnya ragu, seperti membawa sesuatu yang berat.

“Mas,” katanya, “saya ini sering marah di rumah. Saya merasa gagal. Tapi hari ini… saya merasa masih bisa belajar.”

Jayeng menepuk bahu lelaki itu. “Pak, orang yang mau belajar itu tidak gagal. Yang gagal itu yang merasa selalu benar.”

Ayah itu menangis. Jayeng ikut menahan air mata. Muning menunduk, seperti berdoa.

Di tengah kota yang keras, momen itu terasa seperti oasis: sederhana, tapi menyelamatkan.

.

Malamnya, di apartemen yang kini terasa lebih hangat meski perabot tidak semewah dulu, Jayeng duduk di balkon. Jakarta masih bising. Tapi di kepala Jayeng, ada sunyi yang baik.

Muning keluar membawa dua gelas teh. Ia duduk di samping Jayeng.

“Mas,” katanya, “kamu menyesal?”

Jayeng menggeleng. “Aku sakit, tapi tidak menyesal.”

Muning tersenyum. “Kadang, kehilangan itu bukan hukuman. Kadang itu penyelamatan.”

Jayeng menatap langit yang hitam. Ia mengingat Umar, mengingat panggung, mengingat ancaman, mengingat rasa takut, mengingat email orang tua murid, mengingat tangis ayah tadi.

Ia berkata pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri:

“Kalau hidup ingin menguji kita, mungkin bukan untuk menjatuhkan—tapi untuk memastikan kita tidak salah memilih jalan.”

Muning menggenggam tangan Jayeng.

Dan di tengah kota yang mengajarkan manusia untuk mengejar, Jayeng belajar satu hal yang lebih sulit: menjaga.

Menjaga nilai. Menjaga empati. Menjaga hal-hal kecil yang sering diabaikan, padahal di situlah manusia dikenali.

Jayeng menghela napas. Ia tidak tahu masa depan akan jadi apa. Tapi ia tahu: ia pulang dengan tidak kalah.

Karena hari ini, ia tidak sekadar membangun perusahaan.

Ia sedang membangun dirinya kembali.

.

.

.

Malang, 18 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#Cerpen #CerpenKompas #SastraIndonesia #KehidupanUrban #KelasMenengahAtas #StartupIndonesia #EdukasiKeluarga #RefleksiHidup #Integritas #Empati #Mentorship #NamakuBrandku

Leave a Reply