Menepi Tanpa Pergi

“Ada musuh yang tak perlu kau kalahkan dengan suara keras.
Ia cukup dipermalukan oleh satu hal yang tak ia punya: kerendahhatian.”

Langit Jakarta selalu punya cara sendiri untuk menahan air mata.

Kadang ia menahannya di sela kaca-kaca gedung, di antara lampu merah yang terlalu lama, di bawah neon apotek 24 jam, di balik jendela mobil yang berembun oleh AC dan kabar buruk.

Malam itu, Panji menahan air matanya di parkiran basement—tempat orang-orang kelas menengah ke atas menyimpan rahasia, bukan hanya kendaraan.

Ia duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin. Jam di dashboard menyala dingin. Notifikasi bertumpuk. Grup kantor. Grup keluarga. Grup alumni. Grup bisnis yang dulu terasa “masa depan”, kini terasa seperti ruang sidang.

Ada satu pesan yang paling singkat, paling kejam:

“Panji, besok jam 09.00 rapat dewan. Jangan telat. Bawa klarifikasi.”

Pengirimnya: Inu.

Panji membaca ulang nama itu seperti sedang menelan duri. Inu—teman kuliah yang dulu tampak hangat, yang kini mampu memotong orang dengan kalimat rapi. Inu yang selalu datang dengan “data”, tapi pulang membawa “kesimpulan” yang ia pilih sendiri.

Panji memejam. Mengingat semua yang ia bangun: karier yang ia diversifikasi supaya tidak rapuh—konsultan strategi, angel kecil-kecilan di usaha teman, kelas daring manajemen operasional, dan satu investasi yang paling ia banggakan: rumah mungil di pinggir kota yang ia beli bukan untuk gaya, tapi untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia “jadi orang”.

Lalu tiba-tiba, semua yang ia banggakan terasa seperti poster motivasi yang mudah sobek saat hujan.

Ponselnya bergetar lagi.

Dari Sekar.

“Mas, kamu pulang jam berapa?”

Panji mengetik: Sebentar lagi.

Ia menghapusnya. Ia mengetik lagi: Aku masih rapat.

Ia menghapus lagi.

Ia menatap kalimat yang tak jadi itu, lalu menyadari: ia tidak sedang mencari kata-kata untuk Sekar. Ia sedang mencari kata-kata untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

.

Sekar menunggu di apartemen lantai dua puluh tiga. Di luar, kota berkelip seperti perhiasan yang mahal tapi tidak selalu membawa bahagia. Sekar membuat teh hangat, memotong buah, menyiapkan ruang pulang untuk suaminya—karena sejak awal menikah, ia percaya satu hal: rumah bukan tempat bertengkar paling keras, tapi tempat paling aman untuk jujur.

Panji membuka pintu dengan wajah yang tak bisa lagi disembunyikan.

Sekar tidak bertanya “kenapa”, ia bertanya “seberapa berat”.

Panji meletakkan tas, duduk, menatap lantai seperti orang yang kehilangan arah di tempat yang ia kenal.

“Besok rapat dewan,” katanya pelan.

Sekar menunggu.

“Mereka bilang… laporan proyeksi yang aku susun menyesatkan investor. Mereka bilang aku memoles angka.”

Sekar mengembuskan napas, bukan karena marah—lebih karena ia tahu: tuduhan itu akan membunuh sesuatu yang tidak kelihatan, tapi sangat mahal—nama baik.

“Dan kamu?” tanya Sekar.

Panji tertawa kecil yang retak. “Aku punya semua bukti. Email. Draft. Catatan rapat. Bahkan rekaman Zoom.”

Sekar menatapnya lama. “Tapi?”

Panji menelan. “Tapi Inu pintar memutar balikkan fakta.”

Kata “Inu” jatuh seperti benda tajam di ruang tamu.

Sekar pernah bertemu Inu beberapa kali: di acara alumni, di pembukaan coworking space, di gala dinner yang selalu memotret orang-orang paling sukses untuk dipajang di Instagram. Inu selalu ramah. Selalu menepuk bahu. Selalu menyebut “bro” seperti mantra.

Tapi Sekar juga pernah melihat cara Inu memandang orang lain: seperti sedang menilai harga, bukan manusia.

“Mas,” kata Sekar, suaranya pelan tapi tegas, “kadang bukan bukti yang menang. Kadang yang menang itu cara orang bercerita.”

Panji menatap Sekar.

“Dan Inu,” lanjut Sekar, “kalau dia niat menjatuhkan, dia tidak butuh kebenaran. Dia butuh keraguan.”

Kalimat itu membuat Panji ingin berdiri dan berteriak. Tapi ia hanya diam. Karena ia tahu, Sekar benar.

Di kota ini, reputasi adalah mata uang. Dan rumor adalah bank gelap.

.

Malam itu Panji tidak tidur. Ia menyusun “amunisi”.

Slide klarifikasi. Kronologi. Lampiran.

Ia menulis kalimat-kalimat seperti sedang menulis surat pembelaan untuk dirinya sendiri:

  • Saya tidak pernah memanipulasi angka.

  • Saya hanya menampilkan skenario optimistis berdasarkan input tim.

  • Saya selalu meminta approval lintas divisi.

Tapi setiap kalimat terasa seperti menambah beban.

Sekar beberapa kali bangun, menepuk punggung Panji, lalu kembali tidur. Di sela itu, Panji mendengar napas Sekar yang berusaha tenang. Dan justru di situlah rasa bersalah Panji tumbuh: ia membawa pulang badai kantor ke ranjang yang seharusnya damai.

Pukul tiga pagi, Panji membuka chat lama dari Kirana.

Kirana adalah teman yang jarang ia temui, tapi selalu tepat muncul di saat hidupnya keropos. Kirana mengelola lembaga edukasi privat—kelas persiapan beasiswa, bimbingan masuk kampus, dan program “career pivot” untuk profesional yang ingin pindah jalur. Kirana percaya pendidikan bukan sekadar nilai, tapi cara seseorang bertahan tanpa kehilangan martabat.

Chat terakhir Kirana seminggu lalu:

“Kalau capek, mampir. Bukan untuk curhat panjang. Cukup minum teh dan diam. Kadang diam itu obat.”

Panji membaca itu berkali-kali.

Lalu ia mengetik:

“Besok habis rapat, aku mampir.”

Kirana membalas cepat, seolah tidak tidur:

“Datang aja. Pintu kebuka.”

.

Pagi di Jakarta selalu terasa seperti orang yang dipaksa tersenyum.

Panji berangkat lebih awal. Di lift kantor, ia melihat pantulan dirinya: rapi, wangi, profesional. Tapi matanya kosong.

Di lantai rapat, ruang dewan terasa dingin. Kaca tebal memantulkan langit yang pucat. Kursi-kursi sudah terisi: orang-orang yang biasa bicara tentang “growth”, “pipeline”, “market share”, tetapi jarang bicara tentang manusia yang menghidupkan angka.

Inu duduk di ujung meja.

Ia tersenyum kepada Panji seperti teman lama.

“Panji,” kata Inu, suaranya lembut, “kita semua di sini ingin kebaikan bersama.”

Kalimat itu membuat Panji ingin muntah.

Dewan membuka rapat dengan formalitas. Lalu Inu mengambil alih, seperti sudah menunggu panggung.

Ia memutar slide. Menunjuk grafik. Menyebut angka-angka. Mengutip potongan email tanpa konteks. Menampilkan screenshot chat yang dipilih.

“Ini,” kata Inu, “menunjukkan bahwa Panji mendorong narasi optimistis tanpa dasar yang cukup.”

Panji menahan napas. Ia menunggu giliran untuk membantah.

Tapi Inu tidak memberi ruang kosong. Ia mengisi semua celah dengan kata-kata. Ia mengikat ruangan dengan alur yang rapi. Ia mengemas keraguan menjadi logika.

Panji akhirnya bicara. Ia membuka laptop. Menampilkan dokumen asli. Memperlihatkan versi lengkap email. Menunjukkan timeline rapat.

Satu per satu ia membuktikan.

Tapi Inu tidak menyerang bukti.

Inu menyerang makna.

“Oh tentu,” Inu tertawa kecil, “email bisa saja benar. Tapi pertanyaannya: kenapa proyeksinya meleset sejauh itu?”

Panji menjawab dengan tenang: asumsi pasar berubah, regulator mengubah kebijakan, kompetitor agresif, dan tim sales mengalami churn.

Inu mengangguk seolah paham, lalu berkata:

“Jadi Panji mengakui, proyeksi itu tidak reliable.”

Panji tersentak. “Bukan begitu—”

Inu memotong: “Kalau tidak reliable, kenapa disajikan sebagai bahan investor? Kita bicara trust.”

Panji ingin membalas: Kamu juga tahu semua orang di sini paham risiko. Tapi ia tahu, kalimat itu akan dipelintir lagi.

Rapat berjalan seperti pertandingan di arena yang bukan milik Panji. Ia datang membawa fakta. Inu datang membawa cerita.

Dan di kota ini, cerita sering lebih mudah dibeli daripada fakta.

Puncaknya datang ketika Inu berkata, pelan tapi mematikan:

“Kita semua menghargai Panji. Dia pekerja keras. Tapi mungkin… mungkin Panji terlalu ambisius. Dan ambisi, kalau tidak dikendalikan, bisa bikin orang melangkah terlalu jauh.”

Ruangan hening.

Panji merasa ada tangan tak terlihat yang mencekik lehernya.

Ia melihat beberapa wajah menunduk. Beberapa wajah pura-pura netral. Tidak ada yang membelanya.

Di situlah Panji mengerti: ia sedang berhadapan bukan dengan rapat dewan, tapi dengan sesuatu yang lebih tua dari kantor—iblisnya manusia.

Bukan iblis bertanduk.

Iblis yang bersembunyi di balik kalimat “demi kebaikan bersama”.

.

Rapat ditutup tanpa keputusan final. Tapi satu hal jelas: nama Panji sudah diberi tanda tanya.

Panji keluar ruangan dengan langkah yang terasa bukan miliknya. Di koridor, ia melihat orang-orang menatap lalu cepat mengalihkan pandangan—seperti melihat seseorang yang sedang ditentukan nasibnya.

Di parkiran, Panji duduk lagi di mobil. Kali ini mesin menyala, tapi ia tidak bergerak.

Ia menatap kemacetan di depan kantor dan merasa: hidupnya ikut macet.

Ia menekan gas, lalu belok ke arah tempat Kirana.

.

Kirana menyambut Panji tanpa pertanyaan panjang. Kantor Kirana berada di ruko yang bersih, dengan dinding putih dan papan tulis penuh catatan. Di ruang tunggu ada anak-anak SMA, beberapa orang tua, dan dua profesional muda yang tampak baru pulang kerja—mereka duduk dengan laptop, menunggu sesi “career coaching”.

Di tempat itu, Panji melihat wajah-wajah yang sedang berjuang untuk masa depan.

Dan mendadak, ia malu pada dirinya sendiri—karena ia mengira hidupnya paling berat.

Kirana mengajak Panji ke ruang kecil belakang. Meja kayu. Dua gelas teh. Aroma melati yang menenangkan.

Panji ingin langsung bercerita. Tapi yang keluar justru napas panjang.

“Aku kalah,” kata Panji.

Kirana menatapnya. “Kalah dari apa?”

“Dari permainan kata. Dari orang yang bisa memutar fakta. Aku sudah bawa bukti, tapi dia… dia seperti tidak bisa disentuh.”

Kirana mengangguk pelan, seolah sudah sering mendengar kisah seperti itu, dari dunia lain, tapi dengan luka yang sama.

“Panji,” katanya, “kamu mau menang apa mau selamat?”

Pertanyaan itu menampar halus.

“Aku mau menang,” jawab Panji otomatis.

Kirana tersenyum tipis. “Itu suara ego. Ego selalu ingin menang. Tapi hidup tidak selalu memberi panggung untuk menang.”

Panji terdiam.

Kirana melanjutkan, suaranya lembut tapi tajam:

“Kadang kamu tidak melawan iblis dengan ilmu. Iblis juga bisa hafal teori.
Kamu tidak melawan iblis dengan fakta. Iblis bisa memutar fakta.
Kamu tidak melawan iblis dengan debat. Iblis paling doyan debat.”

Panji menatap Kirana, merasa kalimat-kalimat itu seperti berasal dari tempat yang lebih dalam dari sekadar pengalaman.

“Lalu caranya?” tanya Panji, suaranya hampir pecah.

Kirana menaruh gelas. Menatap Panji lama, seolah memastikan Panji siap mendengar.

“Dengan rendah hati.”

Panji tertawa pahit. “Rendah hati tidak membayar cicilan, Kirana.”

Kirana mengangguk. “Tapi rendah hati menyelamatkan sesuatu yang lebih mahal dari cicilan: dirimu.”

Panji memejam.

Kirana melanjutkan: “Aku pernah lihat orang yang menang debat, tapi pulang sebagai manusia kalah. Kalah dari dirinya sendiri.”

Panji menelan. “Tapi kalau aku rendah hati, Inu akan menginjak.”

“Belum tentu,” kata Kirana. “Orang yang hidupnya dari debat akan kehilangan tenaga saat kamu tidak menyediakan arena. Kamu bukan harus diam untuk kalah. Kamu diam untuk memilih jalan yang lebih tinggi.”

Panji menatap Kirana. “Jalan tinggi?”

Kirana menunjuk papan kecil di dinding. Ada tulisan tangan:

“Ketegasan tanpa kerendahhatian adalah kekerasan yang sopan.”

Panji membaca itu dan merasa ada pintu kecil di dalam dadanya terbuka.

Ia tiba-tiba ingat Sekar. Ingat rumah. Ingat alasan ia bekerja: bukan untuk membuktikan ia lebih hebat dari orang lain, tapi untuk menjaga keluarganya tetap waras.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Panji.

Kirana mengambil napas. “Kamu buat satu pernyataan. Bukan pembelaan. Bukan serangan balik. Pernyataan yang jujur.”

Panji mengernyit.

“Kamu akui bagian yang memang lemah,” lanjut Kirana. “Bukan untuk menjatuhkan diri. Tapi untuk menunjukkan kamu tidak takut pada kebenaran—termasuk kebenaran tentang keterbatasanmu. Lalu kamu tawarkan solusi. Bukan drama.”

Panji merasa dadanya sesak.

“Kalau aku mengaku lemah, mereka akan semakin yakin aku salah.”

Kirana menggeleng. “Yang membuat orang ragu bukan kelemahan. Yang membuat orang ragu itu kepalsuan.”

Kalimat itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

.

Malamnya, Panji pulang dengan kepala yang masih ramai, tapi ada satu garis tenang.

Sekar membuka pintu. Melihat wajah Panji. Tidak bertanya “bagaimana rapat”. Ia bertanya:

“Mas… kamu masih jadi kamu?”

Panji menahan air mata. Ia mengangguk.

Sekar memeluknya.

Pelukan itu bukan sekadar romantis. Itu seperti kabel yang menyambungkan kembali Panji kepada versi dirinya yang manusia.

“Aku mau bikin pernyataan,” kata Panji pelan di bahu Sekar.

Sekar mengusap punggungnya. “Pernyataan apa?”

“Yang jujur.”

Sekar diam sebentar. Lalu berkata:

“Kalau jujur, jangan lupa satu hal: jujur itu bukan hanya mengaku salah. Jujur itu juga mengaku apa yang kamu lindungi.”

Panji menarik napas. “Aku melindungi tim.”

Sekar mengangguk. “Dan aku.”

Panji tersenyum pahit, lalu akhirnya menangis.

Tangisnya pecah tanpa suara, seperti kaca yang retak perlahan.

Di saat itu Sekar berkata pelan, seolah membacakan doa:

“Kadang Tuhan tidak menyelamatkan kita dari badai. Tuhan menyelamatkan kita dari menjadi orang jahat saat badai datang.”

.

Keesokan harinya, Panji meminta sesi khusus dengan dewan—tanpa Inu.

Itu bukan hal mudah. Tapi Panji tidak datang dengan amarah. Ia datang dengan tenang yang baru: tenang yang tidak butuh tepuk tangan.

Di ruang rapat kecil, Panji membuka laptop. Tapi kali ini, bukan untuk menyerang. Ia menaruh satu halaman saja.

“Terima kasih sudah memberi saya ruang,” kata Panji. “Saya ingin menyampaikan pernyataan.”

Ia menatap satu per satu wajah dewan.

“Saya tidak memanipulasi angka. Tapi saya mengakui: saya terlalu percaya bahwa skenario optimistis akan membantu kita bergerak cepat. Saya mengabaikan kemungkinan perubahan regulasi yang lebih ekstrem. Itu kelalaian saya.”

Ruangan hening.

Panji melanjutkan: “Saya bertanggung jawab atas kelalaian itu. Dan saya sudah menyiapkan rencana koreksi, lengkap dengan skenario konservatif dan rencana mitigasi. Saya juga siap mundur dari posisi saya, jika itu diperlukan untuk menjaga kepercayaan.”

Ia berhenti sejenak, menelan.

“Namun saya mohon: jangan jadikan tim saya kambing hitam. Mereka bekerja dengan jujur. Kesalahan ini milik saya sebagai penanggung jawab narasi proyeksi.”

Kalimat itu terasa seperti melepaskan baju besi.

Panji merasa telanjang.

Tapi anehnya, ia merasa lebih ringan.

Salah satu dewan, yang selama ini dikenal tajam, berkata pelan:

“Panji… kenapa kamu memilih bicara seperti ini? Kamu bisa saja bawa pengacara. Kamu bisa saja serang balik.”

Panji menatap meja sebentar, lalu menjawab:

“Karena saya lelah bertahan dengan cara yang membuat saya jadi orang lain.”

Ia menambahkan, suaranya pelan tapi jelas:

“Saya tidak mau menang dengan cara yang membuat saya kalah sebagai manusia.”

.

Berita pernyataan Panji menyebar cepat. Di kantor, orang-orang mulai berbisik lagi—tapi kali ini, ada dua jenis bisik: yang mencibir, dan yang diam-diam kagum.

Inu tentu tidak tinggal diam. Ia mengirim pesan:

“Kamu pinter main drama ya, Ji.”

Panji membaca pesan itu tanpa emosi. Ia mengetik balasan, lalu menghapus. Ia memilih tidak menyediakan arena.

Beberapa jam kemudian, Inu mengumumkan “temuan baru” dan mencoba menggiring opini: Panji mengaku kelalaian berarti bersalah.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Orang-orang yang tadinya ragu, mulai melihat pola Inu: terlalu bernafsu, terlalu menikmati panggung, terlalu ingin memenangi cerita.

Dan orang yang terlalu ingin menang, sering menunjukkan ketakutan yang ia sembunyikan.

Sore itu, salah satu anggota dewan memanggil Inu dan Panji bersama. Pertemuan singkat, tanpa drama.

“Ini bukan soal siapa paling pintar berbicara,” kata dewan itu. “Ini soal siapa yang bisa dipercaya saat keadaan buruk.”

Ia menatap Inu. “Kamu terlalu sibuk membuktikan orang lain salah.”

Lalu ia menatap Panji. “Kamu memilih bertanggung jawab.”

Keputusan turun: Panji dicopot dari proyek investor untuk sementara, tapi tetap dipertahankan sebagai konsultan internal. Inu diberi peringatan keras karena komunikasi manipulatif dan pelanggaran etika internal.

Panji tidak “menang” seperti yang ego inginkan. Tapi ia selamat—dengan cara yang lebih mahal: ia selamat sebagai manusia.

.

Beberapa minggu berlalu.

Panji menjalani hari-hari yang aneh: lebih sepi, tapi lebih jujur.

Ia mengajar kelas daring lebih sering. Ia membantu tim membuat sistem laporan yang lebih transparan. Ia membatasi pergaulan yang hanya berisi gengsi.

Ia juga mulai menemani Sekar lebih banyak: menjemputnya, makan malam tanpa ponsel, berjalan kaki di taman kota yang kecil tapi cukup untuk mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus besar.

Suatu malam, Sekar membawa kabar:

“Aku hamil.”

Panji terdiam.

Rasanya seperti langit yang selama ini menahan air mata akhirnya turun dalam bentuk yang berbeda: bukan hujan duka, tapi hujan syukur.

Panji memeluk Sekar lama. Tidak berkata-kata.

Di saat itu, ia mengerti sesuatu yang sederhana:

Ada musim di hidup ketika Tuhan mengizinkan reputasi kita diguncang, supaya kita tidak menggantungkan hidup pada hal yang mudah runtuh.

Panji menatap perut Sekar yang masih belum tampak. Ia berbisik:

“Maaf… aku sempat lupa rumah.”

Sekar mengusap pipi Panji. “Kamu pulang.”

Panji tertawa kecil. “Aku pulang tanpa papan nama.”

Sekar tersenyum, lalu berkata pelan:

“Yang pulang itu bukan jabatanmu. Yang pulang itu kamu.”

.

Beberapa hari kemudian, Panji bertemu Kirana lagi. Di kafe kecil, Kirana membawa buku catatan.

“Apa kabar?” tanya Kirana.

Panji tersenyum. “Aku masih terluka. Tapi aku tidak busuk.”

Kirana tertawa pelan. “Itu kemajuan.”

Panji menatap Kirana. “Ternyata rendah hati itu bukan kalah.”

Kirana mengangguk. “Rendah hati itu keberanian. Karena kamu berani tidak disukai, demi tetap jujur.”

Panji menghela napas. “Aku masih takut. Kadang aku ingin balas. Kadang aku ingin mempermalukan Inu.”

Kirana menatap Panji lama. Lalu berkata:

“Balas dendam itu candu. Sekali kamu minum, kamu ketagihan jadi orang yang bukan kamu.”

Panji menunduk.

Kirana melanjutkan: “Dan ingat satu hal. Ada orang yang tidak bisa dikalahkan dengan bukti. Tapi dia bisa kalah ketika kamu tidak lagi bisa diprovokasi.”

Panji menatap langit Jakarta yang sore itu kelabu. Lalu ia berkata, lebih kepada dirinya sendiri:

“Tidak semua perang harus dimenangkan. Ada perang yang cukup diakhiri.”

Kirana tersenyum.

Di luar, kota tetap bising. Tetap penuh ambisi. Tetap penuh orang yang menjual citra.

Tapi di meja kecil itu, Panji belajar sesuatu yang lebih sunyi, lebih dalam:

Kadang iblis tidak pergi karena kamu mengusirnya.

Iblis pergi karena kamu berhenti memberi tempat di dalam dirimu.

.

Malamnya, Panji pulang. Ia membuka pintu apartemen. Sekar sedang menonton acara memasak, tertawa kecil, memegang perutnya seperti memegang masa depan.

Panji menaruh tas. Menatap Sekar.

Sekar menoleh. “Mas, kamu kenapa senyum-senyum?”

Panji mendekat, duduk, lalu berkata pelan:

“Aku baru paham… ternyata cara paling elegan melawan yang gelap itu bukan dengan jadi lebih keras.”

Sekar menunggu.

Panji mengusap tangan Sekar. “Tapi dengan menjaga hati tetap terang.”

Sekar tersenyum. “Paham kan?”

Panji tertawa. “Paham.”

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Panji merasa: hidupnya memang tidak sempurna, tapi ia tidak lagi tersesat.

Karena ia tahu arah pulang.

.

.

.

Malang, 16 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#MenepiTanpaPergi #Cerpen #CerpenIndonesia #SastraIndonesia #SastraUrban #CeritaKota #KehidupanPerkotaan #RuangRapat #Nurani #Integritas #Refleksi #MaknaPulang

.

Quotes tambahan

  • “Orang yang paling berbahaya bukan yang membencimu, tapi yang memelintir kebenaran sambil tersenyum.”

  • “Jangan habiskan hidup untuk menang debat, lalu kalah pulang.”

  • “Kerendahhatian bukan cara menunduk pada manusia; ia cara berdiri di hadapan nurani.”

  • “Kejujuran tidak selalu membuatmu aman. Tapi ia selalu membuatmu utuh.”

Leave a Reply