Laut Tidak Menjawab Apa Pun
“Pada usia tertentu, hidup tidak lagi menuntut kita menjadi benar. Ia hanya meminta kita jujur.”
.
Jam kota menyala di kejauhan seperti mata yang tidak pernah berkedip. Angka-angkanya berganti dengan ketepatan yang dingin, seolah waktu adalah sesuatu yang harus patuh, bukan dipahami. Menak Jingga berdiri di balkon apartemennya, lantai belasan, membiarkan malam menyentuh kulit wajahnya. Angin membawa sisa hujan dan bau aspal yang masih hangat—bau kota yang terus bergerak, bahkan ketika manusia berhenti berharap.
Di bawah sana, lampu kendaraan membentuk garis-garis panjang, putus, lalu menyambung lagi. Dari ketinggian, semuanya terlihat rapi. Dari dekat, ia tahu: hidup jarang rapi.
Ia menyesap teh yang sudah tidak panas, membiarkan kepahitan kecil itu tinggal lebih lama di lidah. Ada kebiasaan yang ia rawat sejak lama: saat pikiran terlalu bising, ia kembali ke sesuatu yang bisa dihitung—langkah, waktu, jarak. Bukan karena ia percaya angka dapat memberi jawaban, melainkan karena angka tidak pernah berpura-pura.
Namun malam ini, bahkan hitungan terasa rapuh.
Apartemen itu bersih, tertata, nyaris steril dari kejutan. Furnitur dipilih dengan selera orang yang tidak ingin salah. Rak buku diatur berdasarkan tinggi, bukan genre. Foto-foto dipilih yang aman: kota, langit, lanskap. Tidak banyak wajah. Tidak banyak cerita.
Orang-orang sering menyebutnya beruntung. Karier stabil. Jaringan luas. Usaha dan profesi yang tumbuh perlahan, tetapi konsisten. Di dunia kelas menengah ke atas, ia termasuk mereka yang dianggap berhasil—mampu bergerak lintas peran, lintas kepentingan, lintas generasi.
Ia selalu mengangguk ketika mendengar pujian itu. Senyum profesional. Jawaban seperlunya.
Tak ada yang tahu bahwa keberuntungan bisa terasa seperti kesepian yang dikelola dengan baik.
Ia lahir di kota yang dulu tidak sepadat ini, dari keluarga yang percaya bahwa hidup adalah rangkaian tanggung jawab. Ayahnya keras, ibunya pendiam. Tidak kejam, tetapi kering dari pelukan. Mereka dibesarkan oleh zaman yang percaya bahwa kasih sayang tidak perlu diucapkan—cukup dibuktikan dengan disiplin.
Sejak kecil, Menak Jingga belajar membaca suasana. Ia peka pada nada suara, pada pintu yang ditutup terlalu keras, pada langkah kaki di malam hari. Ia belajar diam sebelum diminta. Mengalah sebelum konflik. Menyimpan sebelum kehilangan.
Di sekolah, ia bukan anak yang paling bersinar, tetapi ia jarang gagal. Ia menyukai keteraturan, namun tidak pernah sepenuhnya percaya padanya. Terlalu sering ia melihat hidup merobek rencana paling rapi sekalipun.
Ia tumbuh dengan kompas batin yang selalu mengarah ke hati-hati.
“Ada orang yang terlihat tenang bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena terlalu lama belajar menahan.”
Dunia dewasa menyambutnya dengan bahasa baru: target, reputasi, konsistensi. Ia mempelajarinya dengan cepat. Ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus mendengar. Ia tahu bahwa sistem membutuhkan orang-orang yang mampu menenangkan, bukan hanya memimpin.
Kariernya bergerak dari ruang-ruang yang jarang disorot. Ia pernah membuka sesuatu dari nol, menghidupkan sesuatu yang hampir mati, merapikan sesuatu yang kacau. Ia tahu, organisasi besar sering runtuh bukan karena badai besar, melainkan karena kesalahan kecil yang dibiarkan berulang.
Ia belajar tentang manusia. Tentang kebaikan yang bisa berubah ketika kepentingan datang. Tentang kepercayaan yang harus dirawat, bukan diumumkan.
Di lingkaran kelas menengah ke atas, ia bertemu banyak wajah dengan cerita yang serupa: pendidikan tinggi, usaha keluarga, diversifikasi penghasilan, pencarian stabilitas. Mereka bicara tentang masa depan seperti bicara tentang menu makan siang—ringan, cepat, dan sering lupa rasanya.
Menak Jingga mendengarkan, memahami, ikut tertawa. Namun setiap kali pulang, ada pertanyaan yang selalu kembali: apakah ini hidup yang aku pilih, atau hidup yang aku jalani agar tidak mengecewakan siapa pun?
Ia bertemu Menak Wira di sebuah kafe kecil dekat pusat bisnis. Kopi pahit, obrolan ringan, tawa seperlunya.
“Kau masih sama,” kata Wira. “Tenang. Seolah selalu tahu arah.”
Menak Jingga tersenyum. “Kalau aku terlihat tahu, itu karena aku terlalu sering salah.”
Mereka bicara lama. Tentang teman-teman yang memilih jalan berbeda. Tentang usaha yang jatuh dan bangkit. Tentang usia yang pelan-pelan mengubah ambisi menjadi kehati-hatian.
“Kau baik-baik saja?” tanya Wira, tiba-tiba.
Pertanyaan itu menggantung.
Menak Jingga ingin menjawab cepat, seperti biasa. Namun malam itu, kelelahan membuatnya jujur. “Aku baik di permukaan. Tapi ada sesuatu di dalam… seperti jam yang berdetak terlalu lama.”
Wira tidak menasihati. Ia hanya berkata, “Mungkin ada orang yang memang hidupnya berjalan dengan ritme sendiri.”
Kata ritme menempel lama di kepala Menak Jingga.
Ia pulang malam itu dengan langkah lambat. Di depan lift, ia melihat pantulan dirinya di kaca—bahu tegap, wajah rapi, mata lelah. Lift naik. Angka lantai berganti satu per satu, seperti hidup yang ia susun naik, naik, naik. Tapi menuju ke mana?
Di apartemen, ia mematikan lampu. Duduk di lantai, bersandar pada sofa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya menangis tanpa suara. Tidak dramatis. Hanya air mata yang turun seperti hujan kecil di tanah kering.
Ia tidak tahu apa yang ia tangisi: masa lalu yang tidak sempat ia peluk, masa kini yang terlalu rapi, atau masa depan yang tidak ia pahami.
“Kadang yang melelahkan bukan kegagalan, melainkan terlalu lama berpura-pura kuat.”
Hari-hari berjalan seperti biasa. Ia tetap bekerja, tetap memimpin, tetap menjadi orang yang diandalkan. Namun ada perubahan kecil yang sulit dijelaskan. Ia mulai memperhatikan pola-pola lama: kecenderungannya menyelamatkan sesuatu lalu merasa kosong setelahnya, kebiasaannya mundur ketika seseorang terlalu dekat, pilihannya pada aman ketimbang bahagia.
Ia mulai memberi ruang pada hal-hal yang tidak produktif. Berjalan pagi tanpa tujuan. Duduk di taman. Menulis catatan yang tidak harus dibaca siapa pun. Catatan tentang takut, tentang rindu, tentang marah yang tak pernah ia izinkan keluar.
Suatu pagi, tanpa rencana panjang, ia pulang.
Rumah itu masih berdiri. Catnya memudar. Halamannya terasa lebih sempit. Pagar berderit ketika dibuka. Di ambang pintu, ia berhenti—tempat ia dulu sering berdiri, mengintip dari balik kusen.
Ayahnya membuka pintu.
Mereka saling menatap. Terlalu lama untuk disebut wajar. Terlalu singkat untuk disebut cukup.
“Kau datang,” kata ayahnya.
“Aku pulang,” jawab Menak Jingga.
Mereka duduk di ruang tamu. Jam dinding berdetak keras. Percakapan dimulai dari hal-hal kecil: cuaca, tetangga, kesehatan. Kalimat bergerak hati-hati, seperti takut mengusik sesuatu yang lama terkubur.
“Aku sering takut dulu,” kata Menak Jingga tiba-tiba.
Ayahnya terdiam lama. Lalu berkata, pelan, “Aku juga.”
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya. Tidak ada pelukan. Tidak ada tangis. Tetapi ada pengertian yang tidak lagi meminta penjelasan.
Menjelang sore, Menak Jingga pamit. Di ambang pintu, ia menoleh. Ayahnya berdiri di ruang tamu, punggung sedikit membungkuk, tidak lagi terasa jauh.
Ia menutup pintu pelan.
Beberapa minggu kemudian, ia berdiri di kota pesisir. Laut terbentang kelabu. Angin membawa bau asin dan sesuatu seperti sisa pembakaran—abu yang entah dari mana datangnya.
Ia berjalan tanpa sepatu, kaki menyentuh pasir basah. Ombak datang dan pergi. Tidak meminta izin. Tidak menjanjikan apa-apa.
Di kejauhan, sebuah podium kecil berdiri di tepi pantai. Kosong. Sunyi. Tidak ada mikrofon menyala. Tidak ada suara.
Menak Jingga berhenti beberapa langkah dari podium itu. Ia tidak naik. Ia hanya berdiri, memandang laut, memandang podium, membiarkan angin mengibaskan kemejanya.
Di dadanya, tidak ada rencana besar. Tidak ada jawaban. Hanya ritme yang bergerak perlahan: ombak, angin, sunyi.
Jam kota berdetak jauh di belakangnya.
Laut tetap tidak berkata apa-apa.
.
.
.
Malang, 7 Januari 2026
.
.
#CerpenKompasMinggu #SastraReflektif #KehidupanDewasa #TakdirDanPilihan #NarasiSunyi