Jeffrey Wibisono V.
  • Home
  • Profile
  • Blogs
  • Support me and locals
Cerpen ala Kompas Minggu tentang Wira dan Ras: persahabatan, doa, dan harapan di Jakarta. Mengharubiru, filmis, menyentuh hati, dan meneguhkan keyakinan.

Segelas Kopi Sepotong Malam

“Segelas kopi, sepotong malam; selebihnya keberanian untuk percaya esok tetap datang.” . Hujan turun di Jakarta seperti sumbu yang dipantik.
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 19, 2025
Cerita sastra urban tentang luka, cinta, dan keberanian di Jakarta–Surabaya–Madura. Filmis, menyentuh sanubari, mengharubiru, dan memberi ruang pulang.

Luka yang Menjadi Jalan Pulang

  “Ada waktunya kita berhenti berbicara, bukan karena kalah, melainkan karena sadar: sebagian telinga memang ditakdirkan tak mau mendengar.” “Bahagia
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 19, 2025
Cerpen emosional berlatar Jakarta tentang Angling yang akhirnya berhenti menunduk, menegakkan batas, dan berdiri demi martabat serta harga dirinya.

Sampai di Sini Aku Berdiri

“Ada saatnya berhenti memberi hormat pada yang tak tahu cara menghargai;sebab batas bukanlah dinding kebencian, melainkan pagar untuk menjaga damai
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 19, 2025
Cerpen Kompas Minggu tentang pekerja Jakarta yang belajar melatih agar orang bisa pergi dan memperlakukan agar mereka memilih tinggal—hangat, mengharubiru.

Martabat di Antara Gedung-gedung

“Kadang yang paling berharga bukan gedung yang menjulang, melainkan satu sikap kecil yang membuat manusia merasa ada.” . Jakarta, selepas
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 17, 2025
Cerita urban tentang hotel yang membangun budaya “latih sampai bisa pergi, perlakukan hingga tak ingin pergi”. Mengharukan, manusiawi, dan menghangatkan.

Jam Tanpa Jarum

“Ada jam yang berdetak tanpa jarum, seperti hati yang tetap berjaga meski waktu tak lagi dihitung.” . Hujan Jakarta turun
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 17, 2025
Cerpen urban tentang Hamzah–Zubaidah: cinta yang belajar melepaskan, integritas di tengah rimba beton, dan harga air mata yang tak murah.

Harga Air Mata di Rimba Beton

“Di rimba beton, yang terkuat bukan yang tak menangis, melainkan yang tahu untuk siapa ia menangis.” . Di perempatan Salemba
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 17, 2025
  • «
  • 1
  • …
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • 54
  • …
  • 154
  • »

Search

My Recent Post

  • Yang Tersisa Setelah Tepuk Tangan Reda
  • Kembali Naik
  • Lapisan Mood
  • Datang Tepat Waktu
  • Jejak Tangan di Lorong Terakhir
  • Peta Tubuh, Rumah Hati
  • Ketika Nama Menemukan Pemiliknya
  • Mabuk yang Kedua
  • Kursi di Ujung Meja
  • Yang Belum Dicentang

Share To Your Circle

  • Support me and locals
  • Cart
  • My Account

Copyright © 2026 Jeffrey Wibisono V. . All rights reserved

back to top