Jeffrey Wibisono V.
  • Home
  • Profile
  • Blogs
  • Support me and locals
Cerpen emosional berlatar Jakarta tentang Adipati–Ratna yang belajar memahami diam, lelah, dan cinta. Sunyi menjadi bahasa hati ketika kata tak lagi didengar.

Ketika Lelah Menjadi Rumah

“Kadang diam bukan karena kalah, melainkan karena lelah menjelaskan pada telinga yang tak pernah ingin mendengar.” “Ada orang yang berhenti
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 18, 2025
Cerpen urban Jakarta–Yogyakarta tentang cinta yang retak oleh luka kecil yang diabaikan. Mengharubiru, filmis, dan menyentuh: belajar pulang sebelum rumah kosong.

Dalam Diam yang Membeku

“Tidak ada seseorang yang tiba-tiba menjauh, dingin, dan acuh tak acuh. Semua berawal dari luka kecil yang diabaikan.” . Hujan
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 18, 2025
Cerpen urban tentang Wiratma: jatuh bangun di dunia kerja kota, pulang memulihkan arah, lalu membangun ruang tumbuh dari desa. Emosional, membumi, penuh anekdot dan harapan.

Badai Ini Terlalu Kencang, Kawan

“Kita tidak selalu bisa memilih arah angin, tapi kita bisa belajar melipat layar agar tidak karam. Dan kalau layar pun
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 15, 2025
Seorang mentor teknologi di Jakarta mengajarkan generasi muda menggabungkan inovasi digital dengan kearifan lokal, dalam kisah inspiratif penuh makna.

Kota yang Merajut Masa Depan

“Ilmu tanpa budi pekerti ibarat cahaya yang menyilaukan, namun membutakan mata hati.” . Hujan tipis menutup langit Jakarta sore itu.
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 15, 2025
Cerpen filmis-logis bergaya Arswendo, napas Serat Centhini di kota Jakarta: Amongraga mencari rumah lewat langkah, orang-orang kecil, dan laku pulang yang pelan.

Jalan Pulang di Bawah Lampu Kota

“Manusia itu laku, bukan kata. Jalan adalah kitab; pulang adalah tafsir.” . Hujan awal Desember turun secermat penjahit tua, menyulam
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 15, 2025
Cerpen urban yang mengharubiru tentang kehilangan, harapan, dan keberanian membuka halaman baru. “Bab-bab terbaik masih ditulis” di jendela yang menghadap langit.

Bab-Bab Terbaik Masih Ditulis

“Hidup ini bukan perlombaan menutup bab, melainkan keberanian membuka halaman berikutnya—meski tangan masih gemetar oleh halaman yang barusan kita lewati.”
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   August 14, 2025
  • «
  • 1
  • …
  • 47
  • 48
  • 49
  • 50
  • 51
  • 52
  • 53
  • …
  • 137
  • »

Search

My Recent Post

  • Buku Memahami Perjanjian Pengelolaan Hotel
  • Mesin yang Batuk, Kota yang Mengajar
  • O-Ring di Dalam Dada
  • Mereka yang Datangnya Dinantikan
  • Di Antara Aman dan Benar
  • Harga Sebuah Sikap
  • Kabar yang Tak Pernah Ditanyakan
  • Tidak Gratis
  • Laut Tidak Menjawab Apa Pun
  • Negeri yang Belajar Berbicara Pelan

Share To Your Circle

  • Support me and locals
  • Cart
  • My Account

Copyright © 2026 Jeffrey Wibisono V. . All rights reserved

back to top