Belajar Berhenti Mengejar

“Kadang yang paling dewasa bukan bertahan, melainkan berhenti mengejar.
Sebab tidak semua yang pergi perlu dikejar—sebagian hanya perlu dilepas dengan hormat.”

Langit Jakarta sore itu seperti kain tipis yang ditarik pelan-pelan di atas gedung-gedung kaca. Udara masih panas, tetapi angin di antara lorong Sudirman sudah mulai membawa aroma hujan. Di halte bus yang terlalu terang oleh iklan pinjaman cepat, orang-orang menunduk pada layar, seolah hidup bisa diringkas menjadi notifikasi.

Panji menatap pantulan wajahnya di kaca pintu halte. Pipi sedikit cekung. Mata menyimpan semacam lelah yang tidak bisa disembunyikan oleh jam tangan mahal, sepatu kulit bersih, dan kemeja linen yang selalu tampak rapi.

Ponselnya bergetar. Nama itu muncul lagi.

Sekar.

Panji menahan napas, seperti seseorang yang sudah tahu rasa pahitnya, tetapi tetap mengangkat gelas.

“Aku udah sampai,” tulis Sekar.

Panji membalas: “Aku juga. Di lobby.”

Mereka bertemu di sebuah gedung perkantoran baru di SCBD—lobby-nya harum, lantainya mengilap, dan musiknya seperti sengaja disetel agar orang-orang bicara pelan. Di atas meja resepsionis ada vas kaca berisi bunga putih, tampak suci, tetapi terlalu dingin.

Sekar datang dari arah lift, berjalan cepat, rambutnya dikuncir rapi, blazer abu-abu menempel pada bahu seperti keputusan yang tidak bisa ditawar. Ia selalu terlihat seperti seseorang yang sudah menata hidupnya menjadi kalimat-kalimat legal: jelas, tegas, dan nyaris tanpa celah.

Namun sore itu, di balik ketegasan itu, ada retak kecil di mata Sekar—retak yang hanya bisa dilihat oleh orang yang pernah diajaknya berbagi sunyi.

“Maaf telat,” kata Sekar.

“Kamu selalu tepat waktu,” jawab Panji, mencoba tersenyum.

Sekar memandang Panji sebentar. Seolah menimbang: apakah ini pertemuan dua orang dewasa yang ingin menutup cerita, atau dua orang yang masih mencoba menipu dirinya sendiri.

“Naik, yuk,” kata Sekar. “Klana udah nunggu.”

Nama itu membuat dada Panji terasa sempit, seperti kancing baju yang terlalu ketat. Klana: anak muda flamboyan, pendiri startup edukasi yang sedang naik daun, pemilik suara meyakinkan, pemilik ide besar, dan—untuk beberapa orang—pemilik kemampuan mengubah segala hal menjadi panggung.

Pintu lift menutup, dan seketika Panji merasa berada di dalam kotak kaca yang bergerak naik bersama keputusan-keputusan yang tidak lagi bisa ditunda.

.

Panji mengenal Sekar dari masa yang jauh, jauh sebelum dunia mereka dipenuhi istilah-istilah: pitch deck, term sheet, burn rate, exit strategy.

Waktu itu, mereka sama-sama mahasiswa yang sibuk menyusun masa depan dan pura-pura tidak takut.

Sekar kuliah hukum, Panji ekonomi. Mereka bertemu di perpustakaan kampus—ruang dingin dengan aroma kertas tua dan kopi sachet. Sekar meminjamkan catatan, Panji meminjamkan keberanian: mengajak Sekar makan malam murah di warung tenda.

Mereka pernah berjalan berdua di bawah hujan ringan, sambil tertawa pada hal-hal kecil. Panji ingat jelas satu kalimat Sekar yang dulu membuatnya jatuh cinta, bukan karena romantis, tetapi karena jujur:

“Aku nggak mau jadi orang hebat, Pan. Aku cuma mau jadi orang yang bisa dipercaya.”

Saat itu Panji mengangguk, seperti seorang pria muda yang yakin kesetiaan adalah hal yang mudah. Ia belum tahu: dunia dewasa punya cara licik memutar kata “percaya” menjadi “butuh”, lalu mengubah “butuh” menjadi “memakai”.

Sekar kemudian bekerja di firma hukum ternama. Panji meniti karier di dunia investasi—berpindah dari korporasi ke venture capital, dari rapat ke rapat, dari kota ke kota, membawa tas kerja berisi angka-angka dan kemungkinan.

Mereka tidak pernah benar-benar putus. Mereka hanya… melonggarkan pegangan.

Hingga Klana datang.

Klana muncul seperti meteor: cepat, terang, mengundang tepuk tangan, dan meninggalkan jejak panas di mana-mana. Ia membangun platform edukasi digital bernama “Mayang”—nama yang dipilih dari kata-kata Jawa yang katanya “puitis”. Klana merekrut banyak orang hebat: lulusan luar negeri, mantan konsultan, influencer edukasi, guru-guru muda yang idealis.

Sekar menjadi legal counsel untuk Mayang. Panji—atas nama kantor investasi—menjadi orang yang mengamati dari kejauhan: menilai, menghitung, dan mempertimbangkan.

Namun cinta seringkali bukan persoalan jarak. Cinta seringkali persoalan panggung.

Klana pandai membuat orang merasa dipilih.

Sekar, yang selama ini berlatih tegas dan rasional, perlahan masuk ke orbit Klana yang hangat.

Panji melihatnya dari jauh, seperti melihat rumah yang pelan-pelan dipasangi lampu-lampu pesta oleh orang lain.

.

Di lantai 37, ruang rapat Klana seperti galeri: dinding kaca, sofa putih, dan pemandangan kota yang bisa membuat orang percaya bahwa mereka sedang memegang masa depan.

Klana berdiri menyambut dengan tangan terbuka.

“Panji!” serunya, hangat seperti teman lama. “Akhirnya ketemu. Aku suka tulisanmu, bro.”

Panji kaget. “Tulisan?”

Klana menunjuk ponsel. “Yang kamu unggah tentang leadership. Yang soal… menepi tanpa pergi. Kena banget.”

Panji menahan senyum yang tidak ingin keluar. Ia memang menulis. Bukan untuk terkenal—lebih sebagai cara bertahan agar tidak pecah di tengah hiruk-pikuk. Tulisan itu kecil, sepi pembaca, tetapi kadang dibagikan oleh satu-dua orang yang merasa dipeluk.

Di ujung meja, ada Maya—PR Mayang—yang tersenyum sambil mengangguk. Maya dikenal sebagai perempuan cerdas dan cepat, yang bisa membuat krisis terlihat seperti peluang.

“Panji, thanks udah datang,” kata Maya. “Ini penting.”

Sekar duduk di samping Klana. Mereka tidak bersentuhan, tetapi jarak di antara mereka terasa terlalu akrab.

Panji duduk berhadapan, menaruh tas kerja, membuka laptop, memasang wajah profesional.

Klana memulai dengan presentasi yang memukau. Grafis naik, pengguna bertambah, engagement tinggi. Klana bicara tentang “masa depan pendidikan”, “akses untuk semua”, “demokratisasi pengetahuan”. Kata-kata itu indah—dan di satu sisi, Panji ingin percaya.

Namun insting investasi tidak dibangun dari percaya. Insting investasi dibangun dari curiga yang terlatih.

Panji bertanya tentang revenue. Klana menjawab dengan optimis.

Panji bertanya tentang cashflow. Klana mengalihkan ke growth.

Panji bertanya tentang legal compliance dan lisensi konten. Sekar menjawab dengan rapi—terlalu rapi, seperti naskah yang sudah disiapkan.

Lalu Panji bertanya tentang satu hal yang sejak awal mengganggunya:

“Kenapa laporan audit internal kalian belum lengkap?”

Sekar menatap Panji. Klana tersenyum, santai.

“Itu lagi kita rapikan,” kata Klana. “Namanya juga startup. Masih lincah.”

Panji mengangguk pelan. Ia tahu kalimat “startup harus lincah” seringkali dipakai sebagai permakluman untuk hal-hal yang seharusnya tidak dilincahkan.

Rapat berjalan. Klana terus memukau.

Namun yang paling memukau Panji bukan presentasi.

Yang paling memukau Panji adalah cara Sekar menatap Klana ketika Klana bicara.

Tatapan itu bukan sekadar profesional.

Tatapan itu—Panji tidak mau menyebutnya, tetapi tubuhnya tahu—adalah cara seseorang melihat rumah baru.

.

Selesai rapat, Sekar mengajak Panji ke pantry.

Ruang pantry itu sunyi. Di luar kaca, kota seperti laut lampu. Mesin kopi berdengung.

Sekar menuang air, tangannya sedikit gemetar.

“Kamu baik-baik aja?” tanya Panji.

Sekar menertawakan pertanyaan itu, tetapi tawanya tidak sampai ke mata. “Kamu nanya kayak gitu ke aku?”

Panji mendekat, pelan. “Sekar…”

Sekar memotong. “Aku nggak mau drama.”

“Aku juga nggak mau,” kata Panji, jujur. “Aku cuma mau… jelas.”

Sekar menatap Panji lama. Lama sekali, seolah sedang menyusun kalimat yang tidak akan membuat siapa pun tampak jahat.

“Pan,” kata Sekar akhirnya, suaranya menipis, “aku capek.”

Panji menahan napas. “Capek sama apa?”

“Capek jadi orang yang selalu kuat,” Sekar berbisik. “Capek jadi orang yang selalu bisa. Capek jadi orang yang selalu mengalah biar semuanya ‘baik-baik aja’.”

Panji ingin bilang: aku bisa jadi tempat kamu pulang. Tetapi ia takut kalimat itu terdengar seperti paksaan, seperti tuntutan.

Sekar melanjutkan, lebih pelan: “Aku juga capek jadi orang yang kamu tunggu.”

Kalimat itu seperti pisau yang masuk pelan-pelan: tidak langsung membunuh, tetapi membuat darah mengalir tanpa suara.

Panji memejam. Ia tahu, selama ini ia memang sering pergi—untuk rapat, untuk proyek, untuk karier. Ia selalu bilang, “sebentar,” lalu “sebentar” itu menjadi bulan, menjadi tahun, menjadi jarak.

Sekar menatap Panji dengan mata yang basah tetapi masih berusaha tegar.

“Pan, aku nggak mau kamu ngejar aku,” katanya. “Aku nggak mau kamu memaksa aku buat tetap di cerita yang aku udah nggak yakin.”

Panji menelan ludah. Ia ingin bertanya: apakah ada orang lain?

Namun jawabannya sudah duduk di ruang rapat, memakai senyum.

Sekar mengambil napas panjang. “Aku cuma pengen kamu belajar… lima hal.”

Panji terdiam. “Lima hal?”

Sekar membuka ponselnya, menunjukkan sebuah gambar—tulisan sederhana dengan latar langit:

BELAJARLAH DARI 5 HAL INI

  1. Jangan mengejar orang yang telah meninggalkanmu.

  2. Jangan pernah mengharapkan orang yang sudah tidak menginginkanmu lagi.

  3. Jangan pernah mencintai orang yang cintanya hanya untuk orang lain.

  4. Jangan menjaga hati seseorang, sedangkan dia lebih memilih menjaga hati orang lain.

  5. Jangan memaksa seseorang menepati janjinya kepadamu, karena yang mencintaimu tidak akan mengecewakanmu.

Sekar menatap Panji, dan untuk pertama kalinya, Panji melihat betapa lelahnya Sekar menahan air mata selama ini.

“Aku baca itu semalam,” kata Sekar. “Dan aku… takut.”

“Takut apa?”

“Takut aku jadi orang yang jahat,” Sekar berbisik. “Padahal aku cuma… lelah.”

Panji merasakan dadanya sesak, bukan karena Sekar, tetapi karena dirinya sendiri. Karena ia tahu: cinta bukan hanya perasaan. Cinta adalah hadir. Dan ia terlalu sering absen.

Panji menatap layar ponsel Sekar, lalu memandang Sekar.

“Sekar,” kata Panji pelan, “kamu udah ninggalin aku?”

Sekar menutup mata. “Aku… lagi berdiri di pintu.”

Panji mengangguk. Di kepalanya, ada dua suara: suara yang ingin mengejar, dan suara yang ingin menghormati.

Dan seringkali, dewasa adalah memilih suara kedua—meski lebih sakit.

.

Malam itu Panji pulang sendirian. Ia menyetir tanpa musik. Jakarta malam terasa seperti ruangan besar yang menahan napas.

Di apartemennya, Panji duduk di balkon, menatap jalanan jauh di bawah. Ia merasa seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu, tetapi tidak bisa menjelaskan kepada siapa pun, karena tidak ada yang benar-benar “diambil”. Semua hanya… perlahan terlepas.

Panji membuka laptop, membuka blog kecilnya. Ia menulis satu kalimat:

“Ada perpisahan yang tidak butuh pertengkaran. Ia hanya butuh kejujuran.”

Lalu ia berhenti. Tangannya gemetar.

Ia teringat seseorang: Umar.

Umar adalah senior Panji di masa awal karier—mentor yang tidak banyak bicara, tetapi selalu mengajarkan satu hal: “Kamu boleh ambisius, Pan. Tapi jangan jadi orang yang kehilangan rumah batin.”

Umar pernah berkata, sambil menatap kopi hitam, “Orang dewasa sering salah: mengira mengejar itu bentuk cinta. Padahal mengejar kadang cuma bentuk takut sendirian.”

Panji meraih ponsel, mengetik: “Mas, aku butuh ngobrol.”

Umar membalas cepat, seolah sudah tahu: “Jam 10, warung kecil dekat rumahmu. Jangan terlambat.”

.

Warung itu kecil, tetapi selalu ramai oleh orang-orang yang pulang larut: pegawai bank, konsultan, dokter muda. Di sudut, Umar duduk dengan jaket sederhana, wajahnya tenang seperti orang yang sudah berdamai dengan banyak hal.

Panji duduk di depan Umar. Mereka tidak langsung bicara.

Umar menatap Panji lama, lalu berkata, “Kamu habis patah.”

Panji menelan ludah. “Aku nggak tahu, Mas. Aku cuma…”

“Cuma apa?”

Panji memandang meja. “Cuma merasa… kalah.”

Umar tersenyum tipis. “Kalah sama siapa?”

Panji terdiam.

Umar menyandarkan tubuh. “Pan, kamu mau dengar hal yang paling menyakitkan?”

Panji mengangguk pelan.

Umar berkata, suaranya lembut tetapi menghantam: “Kamu bukan kalah. Kamu telat.”

Kalimat itu membuat Panji ingin tertawa pahit. Karena benar.

Umar melanjutkan, “Kalau kamu telat naik kereta, kamu nggak bisa teriak ‘tunggu’ ke kereta. Kamu harus terima, lalu beli tiket berikutnya.”

Panji menatap Umar. “Jadi aku harus… melepas?”

Umar mengangguk perlahan. “Melepas bukan berarti kamu nggak cinta. Melepas berarti kamu menghormati pilihan orang. Dan menghormati itu bentuk cinta yang paling dewasa.”

Panji menghela napas panjang. “Tapi sakit, Mas.”

Umar tersenyum lagi. “Ya. Harga dari dewasa memang sakit. Tapi tahu nggak yang lebih mahal?”

“Apa?”

“Memaksa.”

Umar menatap Panji, tajam tetapi hangat. “Kalau kamu memaksa Sekar tinggal, kamu bukan menyelamatkan cinta. Kamu cuma menunda luka.”

Panji diam.

Umar menambahkan, pelan: “Kadang Tuhan mengeluarkan orang dari hidupmu bukan karena kamu kurang, tapi karena kamu harus pulang dulu ke dirimu.”

Panji menunduk. Kata “pulang” itu membuat matanya panas.

.

Beberapa hari kemudian, Panji menerima email dari kantor: due diligence Mayang menemukan kejanggalan. Ada kontrak konten yang tidak beres. Ada laporan penggunaan dana yang tidak sinkron. Ada vendor fiktif.

Panji membaca berulang. Tangannya dingin.

Di tengah laporan, ada satu nama yang muncul: sebuah perusahaan konsultansi kecil yang ternyata terhubung ke orang dalam—dan orang itu, secara mengejutkan, adalah Madi: CFO Mayang yang selama ini terlihat tenang.

Panji memanggil Maya. Maya datang dengan wajah tegang.

“Ini gawat,” kata Maya pelan.

Panji menatap Maya. “Sekar tahu?”

Maya ragu. “Aku… nggak yakin. Tapi Sekar pasti… minimal mencium.”

Panji menelan ludah. Bayangan Sekar, dengan wajah lelah, muncul lagi.

Panji mengirim pesan ke Sekar: “Kita perlu ketemu. Ini soal Mayang.”

Sekar tidak membalas.

Panji menunggu. Jam berlalu.

Akhirnya, Sekar menulis: “Bisa malam ini. Di tempat biasa.”

Tempat biasa: kedai kecil yang dulu sering mereka datangi—bukan yang mewah, tetapi hangat. Kursinya kayu, lampunya kuning. Tempat yang tidak memaksa siapa pun terlihat sempurna.

Sekar datang dengan wajah pucat. Panji menunjukkan laporan.

Sekar membaca. Matanya membesar.

“Kamu baru tahu?” tanya Panji.

Sekar menutup mata. “Aku… sudah lihat beberapa tanda.”

“Kenapa kamu diam?” Suara Panji pecah—bukan marah, lebih seperti kecewa yang jatuh.

Sekar menahan air mata. “Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut… kalau aku buka mulut, aku dihancurkan,” Sekar berbisik. “Klana punya cara bikin orang terlihat salah.”

Panji terdiam. Ia tahu tipe manusia seperti Klana. Di dunia bisnis, orang seperti Klana sering dipuja, sampai suatu hari semua orang bertanya: kenapa kita dulu begitu percaya?

Sekar menggenggam gelas. “Dan aku juga takut… kalau aku jujur sama kamu, kamu pikir aku memilih dia.”

Panji menatap Sekar. “Sekar…”

Sekar menghela napas panjang. “Pan, aku nggak mau jadi orang yang kamu kejar.”

Panji memejam sejenak. Kalimat dari gambar itu muncul lagi: jangan mengejar orang yang telah meninggalkanmu.

Panji membuka mata. “Aku nggak mau ngejar kamu, Sekar,” katanya pelan. “Aku cuma… nggak mau kamu tenggelam.”

Sekar menatap Panji, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada kehangatan di mata Sekar—kehangatan yang tidak meminta apa pun.

“Kalau aku jadi whistleblower,” kata Sekar, “hidupku bisa selesai.”

Panji mengangguk. “Tapi kalau kamu diam, hidupmu juga selesai. Cuma bedanya… kamu mati pelan-pelan.”

Sekar menangis, diam-diam, seperti orang yang akhirnya lelah menahan.

Panji berkata, pelan tetapi tegas, “Aku bisa bantu kamu cari jalur aman. Aku bisa hubungkan kamu dengan orang yang ngerti perlindungan. Kita bisa bikin ini rapi.”

Sekar menggeleng pelan. “Kenapa kamu masih mau bantu aku?”

Panji menatap Sekar, dan jawaban itu keluar bukan dari logika, tetapi dari inti dirinya yang paling manusia:

“Karena aku pernah janji… aku mau jadi orang yang bisa dipercaya.”

Sekar menutup mulut dengan tangan, menangis lebih keras.

Di titik itu, Panji sadar: cinta tidak selalu berarti bersama. Kadang cinta berarti menjaga seseorang agar tidak jatuh—meski nanti ia berjalan ke arah yang bukan kamu.

.

Malam-malam berikutnya menjadi rangkaian rapat rahasia, dokumen, rekaman, dan strategi.

Umar membantu Panji menyusun langkah: siapa yang harus dihubungi, bagaimana melindungi Sekar, bagaimana menutup celah yang bisa dipakai Klana untuk menyerang balik.

Maya, yang selama ini terlihat seperti PR yang manis, ternyata punya nyali. Ia mengumpulkan bukti komunikasi internal. Ia menyimpan screenshot, email, dan chat yang bisa menjadi bom, tetapi juga bisa menjadi pelindung.

Namun Klana tidak bodoh.

Klana mencium gerak-gerik. Ia memanggil Sekar ke ruangannya. Sekar pulang malam itu dengan wajah kosong.

“Apa dia ancam kamu?” tanya Panji.

Sekar mengangguk, pelan. “Dia bilang, kalau aku macam-macam… dia akan bikin aku terlihat sebagai orang yang ‘sakit hati’.”

Panji menghela napas. “Dan dia akan bikin aku terlihat sebagai orang yang ‘nggak terima’.”

Sekar menatap Panji. “Kamu nggak takut?”

Panji tersenyum pahit. “Takut. Tapi aku lebih takut kalau kita membiarkan ini.”

Sekar terdiam lama, lalu berkata pelan, “Pan… aku belajar sesuatu.”

“Apa?”

Sekar menatap Panji. “Jangan menjaga hati seseorang, sedangkan dia lebih memilih menjaga hati orang lain.”

Panji merasa kalimat itu menamparnya sekaligus menyembuhkan.

Sekar melanjutkan, “Selama ini aku menjaga hati Klana—menutup mata, menahan diri—padahal dia nggak pernah menjaga hatiku. Dia cuma menjaga… kepentingannya.”

Panji mengangguk. “Dan kamu nggak harus lagi.”

Sekar menghela napas panjang. “Aku mau selesaiin ini.”

.

Puncaknya terjadi pada sebuah acara besar: “Education Future Summit” di hotel bintang lima. Klana akan tampil sebagai pembicara utama. Investor, media, influencer, semuanya hadir.

Klana berdiri di panggung dengan percaya diri, memakai jas gelap, senyum lebar.

“Pendidikan adalah hak,” kata Klana di mikrofon. “Dan Mayang hadir untuk memastikan semua orang punya akses.”

Tepuk tangan meledak.

Di barisan tengah, Sekar duduk, tangan dingin. Panji duduk di belakang, bersama Umar dan Maya.

Maya berbisik, “Kita siap?”

Panji mengangguk.

Ketika Klana mulai bicara tentang integritas, layar besar di belakang panggung tiba-tiba berubah. Bukan slide presentasi. Tetapi dokumen. Angka. Email. Chat.

Ruangan mendadak sunyi.

Klana membeku. Senyumnya retak.

Sekar berdiri. Langkahnya pelan, tetapi tegas. Ia naik ke panggung, mengambil mikrofon dari meja samping.

“Aku Sekar,” katanya, suaranya bergetar tetapi jelas. “Aku legal counsel Mayang. Dan aku ingin bicara tentang sesuatu yang selama ini kita tutupi.”

Ruangan seperti menahan napas.

Sekar melanjutkan, “Kalian datang ke sini untuk bicara masa depan pendidikan. Tapi masa depan tidak bisa dibangun dari kebohongan.”

Klana melangkah, mencoba merebut mikrofon. Sekar mundur satu langkah, menatap Klana.

“Klana,” kata Sekar pelan, “jangan pakai masa depan anak-anak untuk menutup lubang rekeningmu.”

Kalimat itu menghantam ruangan seperti benda jatuh di lantai marmer.

Beberapa orang berdiri, panik. Media mulai merekam. Investor saling berbisik.

Klana mencoba tertawa. “Ini fitnah. Ini drama personal.”

Sekar menatap lurus. “Kalau ini drama personal, kenapa dokumen keuanganmu ada di layar?”

Klana membeku lagi.

Panji melihat Sekar, dan ada rasa bangga sekaligus sedih di dadanya. Bangga karena Sekar berani. Sedih karena ia tahu: setelah ini, hidup Sekar akan berubah.

Sekar menutup dengan satu kalimat yang membuat Panji ingin menangis di tempat:

“Aku nggak minta kalian percaya aku. Aku cuma minta kalian berhenti memuja orang yang pandai bicara, tapi tidak pandai menjaga.”

.

Setelah acara itu, berita meledak. Polisi masuk. Audit dilakukan. Nama Klana menjadi headline: “Startup Edukasi Disorot.” Ada yang membela, ada yang mencaci. Seperti biasa, kota punya nafsu untuk mengunyah cerita.

Sekar mengundurkan diri dari firma hukum. Ia pindah ke rumah kecil di pinggir kota, sementara kasus berjalan.

Panji menawarkan bantuan finansial. Sekar menolak.

“Aku nggak mau hidupku dibayar,” kata Sekar. “Aku mau hidupku… dipulihkan.”

Panji mengangguk. Ia belajar: membantu tidak selalu berarti memberi uang. Kadang membantu berarti memberi ruang.

Beberapa minggu kemudian, Panji dan Sekar bertemu lagi di kedai kecil itu.

Sekar terlihat lebih kurus, tetapi matanya lebih terang—seperti orang yang kehilangan kenyamanan, namun menemukan sesuatu yang lebih mahal: martabat.

Panji menatap Sekar. “Kamu baik-baik aja?”

Sekar tersenyum, lelah tapi jujur. “Aku takut. Tapi aku merasa… pulang.”

Panji menelan napas. “Sekar… tentang kita…”

Sekar mengangkat tangan, halus. “Pan. Jangan memaksa.”

Panji terdiam. Kata-kata dari gambar itu datang lagi: jangan memaksa seseorang menepati janjinya kepadamu…

Sekar melanjutkan, “Aku nggak tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu. Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

Sekar menatap Panji. “Kamu nggak mengecewakan aku hari ini.”

Panji menunduk. Air mata terasa ingin jatuh.

Sekar tersenyum kecil. “Dan itu… cukup untuk malam ini.”

Mereka duduk dalam sunyi yang tidak canggung. Di luar, hujan turun pelan, membasuh jalanan, membasuh kota, membasuh luka yang tidak bisa disembuhkan oleh kata-kata.

Panji menyadari sesuatu yang selama ini ia salah pahami:

Kadang cinta bukan soal memenangkan seseorang. Kadang cinta adalah soal menjadi manusia yang layak dicintai—meski orang itu tidak kembali.

Di meja, Panji menulis di kertas kecil, lalu mendorongnya ke Sekar.

Sekar membaca.

“Aku berhenti mengejar.
Tapi aku tidak berhenti belajar.”

Sekar menatap Panji, lalu mengangguk.

Di luar, Jakarta tetap bising. Namun di antara bising itu, ada dua orang dewasa yang akhirnya mengerti:

Tidak semua yang pergi harus dikejar.
Tidak semua yang hilang harus diganti.
Ada yang cukup disadari—lalu dilepas—agar hati punya ruang untuk tumbuh.

Dan barangkali, di situlah pendidikan paling senyap dimulai.

.

.

.

Malang, 23 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #CerpenSastra #SastraIndonesia #KehidupanUrban #KelasMenengahAtas #StartupIndonesia #Edukasi #Integritas #SelfRespect #CintaDewasa #RefleksiHidup #NamakuBrandku #KisahJakarta #MentorshipHidup

Leave a Reply