Ketika Sunyi Menjadi Berisik
“Ada luka yang tidak pernah mencari suara,
tapi diam-diam tumbuh menjadi gema di dalam dada.”
.
Malam itu, Jakarta tidak sedang gaduh.
Ia hanya terlihat demikian dari kejauhan.
Dari lantai tinggi gedung-gedung kaca, lampu-lampu kota tampak seperti konstelasi yang jatuh ke bumi—rapi, indah, dan menipu. Kendaraan bergerak seperti garis cahaya yang tidak pernah berhenti, seolah dunia ini selalu tahu ke mana harus pergi.
Tidak seperti beberapa manusia di dalamnya.
Sekarwati berdiri di depan jendela. Tidak bergerak. Tidak benar-benar melihat. Matanya mengarah ke luar, tapi pikirannya tertahan di dalam—seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya pulang.
Di tangannya, segelas kopi yang sudah dingin sejak satu jam lalu.
Ia tidak menyadarinya.
Seperti ia tidak menyadari sejak kapan ia mulai kehilangan sesuatu yang dulu begitu dekat dengan dirinya: kemampuan untuk merasa… tanpa harus menyembunyikannya.
.
Di meja kerjanya, laptop masih menyala.
Slide presentasi terbuka.
Angka-angka menanjak.
Grafik-grafik meyakinkan.
Semua terlihat baik.
Selalu terlihat baik.
Namun ada satu hal yang tidak pernah muncul dalam presentasi mana pun—
berapa kali ia harus menahan tangis di kamar hotel setelah berdiri di panggung.
.
“Ada kehidupan yang tampak rapi di permukaan,
namun berantakan dalam ruang yang tidak pernah dipertontonkan.”
.
Sekarwati bukan orang biasa.
Ia tidak pernah dibesarkan untuk menjadi biasa.
Ayahnya, seorang pengusaha properti di Surabaya, pernah berkata kepadanya saat ia masih remaja:
“Kalau kamu ingin dihormati dunia, jangan pernah tunjukkan bahwa kamu rapuh.”
Ibunya tidak pernah membantah.
Hanya menambahkan dengan lembut,
“Perempuan harus lebih kuat. Karena dunia tidak selalu adil pada mereka.”
Sekarwati kecil mendengarkan.
Dan seperti banyak anak yang ingin membuat orang tuanya bangga—
ia menyerap semuanya.
Tanpa bertanya.
Tanpa menyaring.
.
Ia belajar cepat.
Juara kelas.
Lulus dari universitas ternama.
Masuk industri hospitality dengan cepat.
Naik jabatan dengan cepat.
Dan setiap langkah yang ia ambil, selalu ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan:
mengeluh.
.
Hingga suatu hari, bertahun-tahun kemudian, ia menyadari sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun—
bahwa menahan segalanya tidak membuat seseorang lebih kuat.
Kadang, itu hanya membuatnya… lebih jauh dari dirinya sendiri.
.
Kini, ia adalah nama.
Bukan sekadar individu.
Nama itu hadir di ruang-ruang rapat, di forum bisnis, di artikel digital, di layar-layar konferensi.
Ia membangun perusahaan teknologi yang menghubungkan industri hospitality dengan dunia digital—membantu hotel kecil bertahan, membantu bisnis lama menemukan napas baru.
Ia memiliki saham di beberapa restoran fine dining.
Ia menjadi mentor bagi startup muda.
Ia bahkan sedang merancang program edukasi untuk generasi baru di industri pariwisata.
Ia menjadi suara.
Ia menjadi inspirasi.
Ia menjadi… sesuatu yang diharapkan.
.
Namun malam itu, di antara cahaya yang begitu terang, ada sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Sunyi.
Yang perlahan… menjadi berisik.
.
Ponselnya bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berhenti.
Nama yang muncul: Jayengkara.
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya menatap.
Seolah nama itu membawa sesuatu yang tidak siap ia hadapi.
Namun akhirnya, ia mengangkat.
“Halo.”
Suara di seberang sana tenang.
“Kamu masih di kantor?”
“Iya.”
Jawaban singkat.
Seperti biasa.
.
Ada jeda.
Bukan jeda kosong.
Tapi jeda yang penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan.
.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu sederhana.
Terlalu sederhana.
Namun justru itu yang membuatnya terasa berat.
.
Sekarwati menutup matanya sebentar.
Hanya satu detik.
Namun cukup untuk menahan sesuatu yang hampir keluar.
“Iya. Aku baik-baik saja.”
.
“Kalimat ‘aku baik-baik saja’ sering kali bukan jawaban,
melainkan benteng terakhir sebelum seseorang benar-benar runtuh.”
.
Jayengkara mengenalnya terlalu lama.
Sejak mereka sama-sama magang di hotel kecil di Bandung, berbagi kamar sempit, berbagi mimpi besar, dan berbagi ketakutan yang saat itu masih mudah diucapkan.
Ia tahu—
Sekarwati tidak sedang baik-baik saja.
.
“Aku di rooftop,” katanya pelan.
“Kalau kamu mau datang.”
Telepon terputus.
.
Sekarwati tidak bergerak beberapa saat.
Ruangan terasa lebih sunyi.
Atau mungkin—
lebih jujur.
.
Ia teringat sesuatu.
Malam di Bali, bertahun lalu.
Saat ia pertama kali dipercaya memimpin tim besar.
Ia berdiri di balkon resort, menatap laut gelap.
Semua orang merayakan keberhasilannya.
Namun ia menangis diam-diam di balik pintu.
Saat itu, ia berpikir:
Nanti juga terbiasa.
.
Ia salah.
Ia tidak pernah benar-benar terbiasa.
Ia hanya… semakin pandai menyembunyikannya.
.
Ia mengambil tasnya.
Menutup laptop.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama—
ia tidak memilih untuk tetap tinggal.
.
Rooftop itu tidak berubah.
Angin malam masih membawa aroma kota—sedikit asap, sedikit dingin, sedikit asing.
Jayengkara duduk di sudut yang sama seperti dulu.
Segelas kopi di depannya.
Seolah waktu tidak pernah benar-benar berjalan di tempat itu.
.
“Kamu datang,” katanya.
Sekarwati hanya mengangguk.
Duduk di seberangnya.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada topeng.
.
Mereka diam.
Dan untuk pertama kalinya, diam itu tidak canggung.
.
“Aku capek.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa pengantar.
Tanpa struktur.
Seperti sesuatu yang terlalu lama ditahan.
.
“Capek bagaimana?” tanya Jayengkara.
.
Sekarwati tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena ia tidak tahu harus mulai dari mana.
“Capek jadi orang yang selalu terlihat kuat.”
.
Ia menunduk.
Tangannya saling menggenggam.
“Semua orang melihat aku sebagai seseorang yang tahu arah. Yang punya kontrol. Yang bisa diandalkan.”
Ia menarik napas.
“Tapi tidak ada yang tahu… aku sering tidak tahu apa yang aku rasakan.”
.
“Kadang kita terlalu sibuk menjadi versi yang dibutuhkan orang lain,
hingga lupa mengenali versi diri kita yang sebenarnya.”
.
“Aku tertawa. Aku bicara. Aku tampil di depan banyak orang,” lanjutnya.
“Tapi setiap malam… aku seperti kehilangan suara di dalam diriku sendiri.”
Air matanya jatuh.
Tidak deras.
Tidak dramatis.
Namun cukup untuk menunjukkan—
bahwa ini bukan luka yang baru.
.
“Aku tidak cerita ke siapa-siapa lagi sekarang,” katanya lirih.
“Kenapa?”
Sekarwati mengangkat bahunya pelan.
“Karena aku lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti.”
.
Jayengkara menatapnya.
Lama.
Dalam.
Tidak menghakimi.
Tidak memperbaiki.
Hanya… hadir.
.
“Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Sekarwati menggeleng.
.
“Kamu tidak lemah,” kata Jayengkara.
“Kamu hanya terlalu lama kuat sendirian.”
.
Kalimat itu sederhana.
Namun menghantam lebih dalam dari apa pun yang pernah ia dengar.
.
Malam semakin larut.
Namun untuk pertama kalinya, waktu tidak terasa seperti musuh.
Ia hanya terasa… hadir.
.
Beberapa minggu setelah malam itu, perubahan kecil mulai terjadi.
Tidak dramatis.
Tidak instan.
Namun nyata.
.
Sekarwati mulai berkata “tidak”.
Pada undangan.
Pada ekspektasi.
Pada kebiasaan yang dulu ia anggap wajib.
.
Ia mulai duduk sendirian di pagi hari, tanpa ponsel.
Mendengarkan napasnya sendiri.
Hal sederhana yang dulu terasa asing.
.
Ia mulai menulis.
Bukan untuk publik.
Bukan untuk branding.
Tapi untuk dirinya sendiri.
Tentang apa yang ia rasakan.
Tentang apa yang ia takutkan.
Tentang apa yang selama ini ia sembunyikan.
.
Dan untuk pertama kalinya—
ia membaca dirinya sendiri.
.
Suatu hari, ia pulang ke Surabaya.
Bertemu ibunya.
Di ruang tamu yang sama.
Dengan sofa yang sama.
Dengan aroma yang sama.
.
“Ibu…” katanya pelan.
Ibunya menoleh.
“Aku capek.”
.
Ibunya tidak menjawab.
Hanya memeluknya.
Dan di pelukan itu—
untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—
Sekarwati tidak perlu terlihat kuat.
.
“Ada pelukan yang tidak menyelesaikan masalah,
tapi mengingatkan bahwa kita tidak harus menghadapinya sendirian.”
.
Waktu berjalan.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Cukup.
.
Di sebuah sesi mentoring, seorang peserta bertanya,
“Kak, bagaimana caranya tetap kuat di tengah tekanan?”
.
Sekarwati tersenyum.
Kali ini, tidak ada yang dipaksakan.
.
“Ternyata,” katanya pelan,
“kita tidak selalu harus kuat.”
Ruangan hening.
.
“Kadang, yang paling kita butuhkan adalah berhenti berpura-pura kuat.”
.
“Kesembuhan tidak datang dari menjadi sempurna,
melainkan dari keberanian untuk menjadi jujur.”
.
Malam kembali datang.
Jakarta tetap menyala.
Gedung-gedung tetap berdiri.
Orang-orang tetap berjalan.
.
Namun di dalam diri Sekarwati,
sunyi itu tidak lagi sama.
.
Ia masih ada.
Namun kini—
tidak lagi menakutkan.
.
Karena ia tidak lagi sendiri di dalamnya.
.
Dan mungkin,
di situlah segalanya benar-benar dimulai.
.
.
.
Malang, 16 April 2026
.
#KetikaSunyiMenjadiBerisik #CerpenSastra #KompasMingguStyle #MentalHealth #RefleksiDiri
#HealingJourney #LeadershipLife #NamakuBrandkuStyle