Katalog di Lemari Retak
“Ada rumah yang rapi, tapi tidak hangat. Ada doa yang panjang, tapi tidak memeluk.”
“Kadang luka paling dalam tidak berteriak; ia hanya tinggal, menunggu kita dewasa untuk akhirnya mengerti.”
.
Malam di kota selalu tampak seperti janji yang ditunda.
Lampu gedung-gedung kaca menyala dengan sopan, seolah setiap jendela adalah mata yang memilih tidak berkedip. Dari lantai dua puluh tujuh apartemen di Jakarta Timur, Jayeng memandang jalan tol yang mengalir: merah-putih lampu kendaraan seperti arus doa yang tak pernah putus, cepat, rapi, terus-menerus, tanpa sempat bertanya apakah pengemudi di dalamnya merasa pulang.
Angin menyusup lewat sela balkon. Ada bau hujan yang sudah lewat—bau aspal yang baru dipukul air, bau besi, bau yang selalu membuat orang ingin menoleh ke masa kecil. Jayeng berdiri dengan tangan di saku celana, menatap jauh. Ia tidak sedang mencari mobil siapa pun. Ia tidak menunggu seseorang. Ia menunggu dirinya sendiri… atau sesuatu yang dulu hilang dan belum sempat ia beri nama.
Di belakangnya, ruang tamu apartemen tampak seperti halaman katalog: sofa abu-abu dengan sudut tegas, meja marmer kecil, vas putih minimalis, rak buku yang tertata lurus. Semuanya bersih. Semuanya “berhasil”. Bahkan kesunyian di ruangan itu tampak mahal.
Laptop di meja masih menyala. Dokumen presentasi terbuka.
Service Pattern Mapping: Read People, Read Emotion, Read Moment.
Jayeng tersenyum kecil, seolah mengejek nasib yang rapi.
Teleponnya bergetar. Ia menoleh. Layar menyala.
Pesan dari Kiran:
Ibu sakit.
Tidak ada tanda seru. Tidak ada emoji. Hanya tiga kata yang singkat seperti struk belanja—yang diberi Jayeng sejak lama tanpa pernah benar-benar diminta.
Jayeng menatap pesan itu agak lama, seperti seseorang yang memeriksa luka lama: bukan untuk memastikan ia sudah sembuh, tapi untuk memastikan ia masih ada.
Ia meletakkan telepon. Menarik napas. Mengembuskan.
Kota di luar terus bergerak, seolah tidak peduli. Dan memang, kota tidak pernah peduli. Kota hanya tahu ritme. Orang-orang di dalamnya belajar meniru ritme itu agar tidak terasa sepi. Jayeng mengerti. Ia ahli meniru “baik-baik saja”.
Namun di dalam tubuhnya, sejak pesan itu datang, ada pintu yang terbuka pelan. Pintu yang selama ini ia kunci dengan rapat: pintu yang menuju rumah lama, rumah yang rapi, rumah yang penuh stok, rumah yang melatihnya bertahan hidup—dengan cara yang paling sunyi.
Nama itu muncul tanpa dipanggil.
Sekar.
Ibunya.
Nama yang selalu terdengar seperti bunga di luar, tetapi seperti jarum di dalam.
.
Rumah masa kecil Jayeng di Malang bukan rumah yang berantakan. Justru sebaliknya: rumah itu terlalu rapi untuk ukuran rumah yang dihuni empat anak.
Di sana, kerapian adalah agama kedua.
Pagi-pagi buta, sebelum matahari menguapkan embun, suara piring beradu sudah terdengar. Bukan suara kasar, tapi tegas—seperti tanda bahwa waktu tidak boleh disia-siakan. Sekar bangun pukul lima, selalu. Bahkan ketika sakit. Bahkan ketika hujan. Bahkan ketika semua orang lain ingin tidur sedikit lagi.
“Bangun,” suaranya datar, tapi tidak bisa ditawar. “Air mandi sudah siap.”
Sekar tidak banyak basa-basi. Ia tidak percaya pada kata-kata yang berputar-putar. Ia percaya pada jadwal, daftar, stok, dan angka. Jayeng kecil sering melihat ibunya berdiri di dapur, menggoreng dengan satu tangan, menghitung dengan mata.
Satu butir telur, satu sendok gula, tiga bungkus mi, lima sabun batang. Sekar bisa mengingat sisa stok beras tanpa membuka karung. Seolah ia punya sensor keuangan di ujung jari.
Di ruang makan, ada buku catatan kecil yang selalu diletakkan di sisi meja. Halaman-halamannya penuh angka. Sekar menulis setiap pengeluaran. Seperti setiap rupiah perlu alasan untuk dikeluarkan. Seperti hidup adalah proyek yang harus diselamatkan dari kebocoran.
“Kalau kamu tidak belajar hemat sekarang,” katanya suatu hari, “nanti kamu jadi beban.”
Kalimat itu tidak diucapkan marah. Tidak. Ia diucapkan seperti nasihat logis. Tapi Jayeng kecil merasakan sesuatu: bahwa keberadaannya selalu terancam menjadi kesalahan. Bahwa ia harus layak.
Sekar rajin berdoa.
Ia punya jadwal ibadah yang lebih tertib dari jadwal sekolah anak-anaknya. Ia bisa menangis di atas sajadah. Tangisnya rapi juga—seolah air mata punya durasi yang wajar. Setelah doa, ia akan bangkit, mengusap wajah, lalu kembali menjadi Sekar: perempuan yang disiplin, terukur, dan jarang tersentuh.
Di rumah itu, doa dan perhitungan berjalan sejajar. Dan Jayeng tumbuh di antara keduanya, mempelajari pelajaran yang tidak pernah ditulis di buku: bahwa kasih sayang kadang disampaikan lewat keteraturan, bukan pelukan; lewat kewajiban, bukan kata “sayang”.
Namun, ada perbedaan antara keteraturan dan kehangatan—perbedaan itu baru ia mengerti bertahun-tahun kemudian, ketika ia melihat rumah orang lain.
.
Ayahnya, Wira, tidak banyak bicara.
Ia bekerja, pulang, makan, tidur, bekerja lagi. Ketika ia bicara, kalimatnya sering pendek, tetapi berat. Ia tidak membentak. Ia tidak perlu. Tatapannya cukup.
Wira seperti paku: diam, tetapi menentukan bentuk kayu yang dipukulnya.
Sore itu—Jayeng dua belas tahun—rumah terasa lebih dingin daripada biasanya. Ada pembicaraan orang dewasa. Ada nada yang menegang. Ada uang. Selalu uang, entah uang untuk siapa, entah uang dari mana. Anak-anak tidak pernah diberi penjelasan; mereka hanya diberi atmosfer.
Jayeng diminta melakukan sesuatu. Ia lupa. Atau terlambat. Atau salah. Bahkan hingga sekarang, Jayeng tidak bisa memastikan kesalahan itu apa. Waktu kecil, kesalahan sering tidak perlu jelas. Yang jelas adalah rasa.
Wira memanggilnya.
Jayeng berdiri di depan ayahnya. Ia memandang lantai. Tangannya basah.
Wira menatap Jayeng lama. Tatapan itu bukan tatapan marah. Itu tatapan seperti orang memeriksa barang yang tidak sesuai pesanan.
Lalu, pelan, seperti membaca vonis:
“Anak pembawa sial.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada gestur. Justru karena pelan, kata itu masuk seperti air dingin. Menetes, merembes, lalu menetap.
Jayeng menoleh pada Sekar.
Sekar diam.
Diam yang lama.
Diam yang tidak menolak.
Dan di dalam diam itu, Jayeng mengerti: kalimat ayahnya bukan sekadar ucapan; ia adalah label yang disahkan oleh keheningan ibu.
Itulah hari ketika Jayeng belajar bahwa kadang luka bukan datang dari kata-kata, melainkan dari orang yang seharusnya berkata: “tidak.”
Sekar tidak membela. Tidak memeluk. Hanya menutup buku catatan, menata piring, lalu berkata kemudian, saat Jayeng berani menyinggungnya:
“Jangan sensitif. Orang tua itu kadang ngomongnya keras, tapi niatnya baik.”
Niat baik.
Kata itu seperti taplak meja: menutupi noda, bukan membersihkan.
.
Empat anak di rumah itu: Inu, Galuh, Kiran, Jayeng.
Jika rumah adalah panggung, Sekar adalah sutradara. Jika keluarga adalah komposisi, Sekar yang menentukan siapa jadi melodi, siapa jadi latar.
Kasih sayang di rumah itu tidak pernah dibagi seperti kue ulang tahun. Ia dibagi seperti anggaran: ada pos utama, ada pos cadangan, ada pos yang bisa “dikurangi” jika dianggap tidak penting.
Inu, anak pertama, adalah kebanggaan. Sekar menyebutnya “contoh”. Prestasi Inu selalu punya tempat di percakapan Sekar.
Galuh, anak ketiga, punya peran hiburan: lucu, mudah membuat orang tertawa, sekaligus “merepotkan” kalau terlalu emosional.
Kiran, si bungsu, sering jadi alasan Sekar untuk terlihat lembut: “Kasihan dia masih kecil,” katanya.
Jayeng… Jayeng adalah anak yang “bisa mengerti”.
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tetapi Jayeng tahu, itu adalah penetapan peran: ia dituntut memahami semua orang, tetapi jarang dipahami.
“Jayeng kan bisa mengerti,” kata Sekar ketika Jayeng diminta mengalah.
“Jayeng kan bisa mengerti,” kata Sekar ketika Jayeng diminta menunggu.
“Jayeng kan bisa mengerti,” kata Sekar ketika Jayeng diminta memberi.
Kalimat itu seperti kunci pas: dipakai untuk mengencangkan baut kewajiban sampai Jayeng tidak bisa bergerak.
Jayeng tidak pernah menjadi anak yang boleh lemah.
Jika ia sedih, Sekar berkata: “Kamu harus kuat.”
Jika ia kecewa, Sekar berkata: “Jangan cengeng.”
Jika ia bertanya, Sekar berkata: “Tidak semua perlu dijelaskan.”
Di rumah itu, rasa ingin tahu adalah gangguan. Air mata adalah pemborosan.
.
Sekar cerdas. Bukan hanya cerdas akademis, tetapi cerdas membaca situasi.
Ia pandai bercerita. Pandai menyusun narasi. Di depan tetangga, ia bisa menjadi ibu yang berjuang. Di depan keluarga besar, ia bisa menjadi korban keadaan. Di depan guru sekolah, ia bisa menjadi orang tua yang “peduli” dan “aktif”.
Sekar bisa mengganti wajah seperti mengganti pakaian.
Di rumah, ia tajam.
Di luar rumah, ia halus.
Jayeng kecil memperhatikan semua itu, dan tanpa sadar, ia belajar: dunia tidak selalu menilai kebenaran; dunia menilai penampilan yang meyakinkan.
Jika ada yang mulai membaca pola Sekar, ia akan mengelak: nylimur, ngeles, menukar topik, menangis, atau menyelipkan kalimat religius sebagai pagar.
“Yang penting niat kita baik.”
“Nanti Tuhan yang tahu.”
“Jangan menilai orang.”
Kalimat-kalimat itu terdengar mulia. Tetapi Jayeng merasakan fungsinya: bukan untuk merendahkan ego, melainkan untuk menutup ruang tanya.
Sekar juga punya kualifikasi sosial. Ia malas berinteraksi dengan orang yang menurutnya tidak “selevel”. Ia memilih lingkungan. Ia menutup pintu dengan halus—bukan dengan marah, tapi dengan membiarkan orang itu tidak lagi ada dalam daftar.
Jayeng belajar membaca karakter.
Kelak, ketika ia berada di industri hospitality, kemampuan itu menjadi keahlian: ia bisa mengerti tamu hanya dari cara mereka memegang gelas, cara mereka memandang menu, cara mereka memanggil staf. Ia tahu kapan seseorang tersenyum tulus dan kapan seseorang sedang memainkan lakon.
Ia belajar dari rumah.
Rumah adalah sekolah yang tidak pernah ia pilih.
.
Jayeng tumbuh menjadi remaja yang rapi juga.
Bukan rapi baju. Rapi emosi.
Ia menjadi anak yang “baik”—bukan karena selalu bahagia, tetapi karena tidak ingin menambah masalah. Ia belajar keras. Ia patuh. Ia membantu. Ia membuat dirinya tidak terlihat sebagai beban.
Ia percaya—atau ingin percaya—bahwa jika ia cukup baik, rumah akan berubah. Sekar akan melunak. Wira akan memanggilnya dengan nada lain.
Namun rumah tidak berubah.
Rumah hanya menemukan cara baru menuntut.
Saat Jayeng mulai bekerja sambil kuliah, Sekar berkata, “Kamu kan sudah bisa cari uang.”
Kalimat itu terdengar seperti kebanggaan, tetapi Jayeng merasakan instruksi di baliknya: sekarang kamu punya tanggung jawab.
Ia mulai memberi: untuk uang sekolah adik, untuk listrik, untuk perbaikan rumah, untuk acara keluarga. Sekar menerima dengan wajah datar, seperti menerima sesuatu yang memang seharusnya.
Tidak ada pelukan. Tidak ada “terima kasih”. Yang ada:
“Ya memang seharusnya begitu.”
Jayeng belajar bahwa memberi tidak selalu menghasilkan rasa dihargai. Kadang memberi hanya membuat orang lain semakin terbiasa.
Ia menjadi anak yang menopang.
Dan anehnya, anak yang menopang sering tidak diberi tempat duduk.
.
Waktu berputar. Kota berganti.
Jayeng merantau. Masuk dunia kerja. Masuk dunia hospitality. Ia belajar tentang service: bahwa pelayanan bukan prosedur, tapi emosi; bukan skrip, tapi kepekaan. Ia bertemu banyak orang kelas menengah atas: mereka yang mengkilap di luar, retak di dalam.
Jayeng menyadari sesuatu: orang-orang yang terlihat sempurna sering punya rumah yang tidak sempurna. Dan mereka membawa rumah itu ke mana pun, ke hotel mewah sekalipun.
Jayeng naik karier. Ia menjadi trainer. Konsultan. Ia diversifikasi: bisnis kecil, investasi, edukasi. Ia berdiri di panggung, memegang mikrofon, menjelaskan tentang “membaca emosi pelanggan”.
Orang-orang mengangguk. Mencatat. Memuji.
Mereka menyebutnya ahli.
Mereka tidak tahu: ia hanya mengulang pelajaran dari masa kecil—pelajaran tentang membaca manusia agar selamat.
Di balik semua itu, Jayeng tetap merasa dikejar sesuatu.
Bukan uang. Bukan jabatan.
Mungkin pembuktian: bahwa ia bukan anak pembawa sial.
Mungkin pencarian: sebuah rumah yang tidak membuatnya merasa salah hadir.
.
Pesan Kiran malam itu memanggilnya pulang.
Jayeng membeli tiket tanpa banyak pikir, tetapi tubuhnya gemetar ketika menekan tombol bayar. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menunda. Bukan karena ia tidak peduli ibu, tetapi karena ia tahu: pulang berarti membuka pintu lama, pintu yang penuh bau lemari dan retakan.
Di pesawat, Jayeng memandang awan. Awan tampak seperti kapas, tetapi tak bisa disentuh.
Ia teringat masa kecil: tampak normal dari luar, tetapi menghilang ketika disentuh.
.
Rumah di Malang masih berdiri. Catnya baru. Pagarnya baru. Tanamannya lebih rapi.
Sekar selalu menyukai tampilan “beres.”
Kiran menyambut di pintu. Wajahnya mirip Sekar: mata tajam, bibir tegas. Jayeng masuk, dan aroma rumah menabraknya: minyak kayu putih, deterjen, dan bau lemari—bau kertas lama, kain yang lama disimpan, bau stok.
Di ruang tamu, Sekar duduk.
Tubuhnya mengecil. Tapi matanya—mata itu—tetap seperti dulu: tajam, memeriksa.
“Kamu datang juga,” katanya.
Tidak ada “terima kasih”. Tidak ada “aku kangen”. Hanya kalimat datar. Jayeng mengangguk.
Sekar bicara tentang dokter, obat, biaya. Jayeng mendengar, seperti dulu ia mendengar jadwal dan daftar.
Sekar memandangnya lama. Di matanya, ada hening yang khas: hening yang menunggu Jayeng mengambil peran yang sudah lama ditulis.
Jayeng tahu pola itu. Seperti buku catatan pengeluaran: ada pos yang harus diisi. Jayeng mengisi.
Ia transfer. Ia urus. Ia atur.
Sekar berkata:
“Kamu memang anak yang bisa diandalkan.”
Jayeng merasakan sesuatu bergerak di dalam dada: bukan bangga, bukan lega—lebih seperti: begini lagi.
.
Malamnya, Jayeng tidur di kamar lamanya. Kamar itu sekarang jadi ruang penyimpanan. Lemari besar masih ada. Salah satu pintunya retak. Retak itu seperti garis yang selalu ada tetapi tidak pernah dibicarakan.
Jayeng membuka lemari.
Di dalamnya: tumpukan katalog lama. Katalog elektronik. Katalog perabot. Katalog diskon supermarket. Semuanya disimpan rapi, seperti Sekar menyimpan kemungkinan-kemungkinan: “kalau suatu hari butuh, sudah ada.”
Jayeng mengangkat satu katalog, lalu menemukan buku kecil di bawahnya.
Buku catatan.
Sampulnya kusam.
Jayeng membuka halaman pertama. Angka-angka. Tanggal. Catatan belanja. Lalu beberapa halaman setelahnya, ada catatan lain.
Tentang anak-anak.
Seperti laporan.
Seperti penilaian.
Inu: pintar, mudah diarahkan. Investasi bagus.
Galuh: emosional, tapi lucu. Bisa dijaga.
Kiran: sensitif, perlu perhatian.
Jayeng: keras kepala, harus ditekan. Tapi bisa diandalkan kalau sudah tunduk.
Jayeng menutup buku itu perlahan.
Ia tidak terkejut. Ia hanya… merasa tubuhnya dingin.
Jadi, bahkan di kertas, ia bukan anak. Ia proyek. Ia pos anggaran. Ia pilar yang dianggap tidak perlu diberi cat, asal tidak roboh.
Jayeng duduk di lantai, bersandar pada lemari retak.
Retak itu menyentuh punggungnya.
Ia mengerti sesuatu yang selama ini ia hindari: luka bukan karena ia tidak dicintai; luka karena ia dicintai dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Bahasa yang menjadikan anak sebagai alat bertahan.
Dan ia, sejak kecil, dipilih menjadi alat itu.
.
Pagi, Sekar memanggil Jayeng ke dapur. Dapur itu masih seperti dulu: rapi, penuh stok, penuh rasa aman versi Sekar.
Sekar menyusun belanjaan: beras, gula, kopi, mi, minyak, biskuit. Menata seperti display.
Jayeng berdiri di ambang pintu dapur, memandang ibunya yang bergerak pelan. Sekar tampak lelah, tetapi tetap ingin rapi. Seolah jika ia berhenti menata, dunia akan bocor.
Jayeng ingin berbicara.
Ia ingin membuka pintu yang sudah terbuka semalam.
Ia ingin berkata: Ibu, aku ingin diakui sebagai anak.
Namun kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan. Bertahun-tahun menjadi “kuat” membuat lidahnya malas meminta.
Yang keluar justru:
“Ibu minum obatnya teratur ya.”
Sekar mengangguk. “Ya.”
Sekar menatapnya.
“Kamu kalau ngomong selalu pendek.”
Jayeng tersenyum kecil. “Biar nggak salah.”
Sekar mengernyit. “Ngomong kok takut salah.”
Jayeng hampir tertawa. Ia ingin berkata: Aku belajar takut salah dari siapa? Tapi ia diam.
Diam adalah bahasa paling lancar yang ia miliki di rumah itu.
.
Hari-hari berikutnya, Jayeng menjadi pengurus: mengantar kontrol, mengurus administrasi, membeli obat, memastikan Sekar makan, memastikan jadwal berjalan.
Sekar tetap Sekar.
Ia mengomentari dokter, perawat, pasien lain. Selalu ada penilaian. Penilaian itu seperti pagar yang membuat Sekar merasa aman: jika dunia bisa dinilai, dunia bisa dikontrol.
Di teras, Inu merokok dan berkata:
“Kamu capek?”
Jayeng mengangkat bahu. “Biasa.”
Inu menghembuskan asap, lalu berkata, “Kamu dari dulu memang paling kuat.”
Jayeng menatap Inu.
“Kuat itu kadang cuma nama lain dari nggak punya pilihan.”
Inu diam. Kata-kata Jayeng jatuh seperti batu kecil di genangan. Riaknya pelan. Tetapi riaknya ada.
Malam lain, Galuh membawa album foto.
“Kamu ingat ini?” Galuh menunjuk foto mereka kecil, tersenyum di depan rumah.
Jayeng memandang foto itu lama. Sekar berdiri di belakang mereka, tersenyum. Foto itu tampak bahagia—bahagia yang seperti katalog: indah, tetapi tidak selalu nyata.
Galuh berkata pelan:
“Kamu ingat waktu ayah bilang… itu?”
Jayeng menoleh. Galuh menelan ludah.
“Aku dengar,” kata Galuh. “Aku pura-pura nggak dengar. Aku takut.”
Jayeng diam. Lalu ia mengangguk. Bukan marah. Hanya… mengerti.
Galuh berkata, “Maaf.”
Jayeng menatap adiknya. Ada kejujuran di mata Galuh. Ia mengangguk lagi.
Malam itu, Jayeng merasa sesuatu yang jarang: luka itu ternyata disaksikan. Ia tidak sendirian. Tetapi semua orang memilih diam—karena diam adalah cara bertahan di rumah itu.
.
Sekar semakin lemah. Tetapi ia tetap ingin memegang kendali.
Suatu malam, Sekar memanggil Jayeng ke kamarnya.
Kamar itu penuh: kotak-kotak, stok obat, stok biskuit, stok tisu. Seperti Sekar takut kekurangan bahkan ketika waktu sudah menipis.
Jayeng duduk di sisi ranjang.
Sekar menatapnya lama. Matanya tidak setajam dulu. Ada retak yang halus—retak yang hanya terlihat jika kita mau melihat.
Sekar berkata:
“Kamu dari kecil… selalu bikin aku pusing.”
Jayeng diam.
Sekar melanjutkan:
“Kamu beda.”
Jayeng menelan ludah.
“Beda gimana?”
Sekar memandang langit-langit, seolah mencari kata yang tidak ia punya.
“Kamu… kalau disakiti… kamu nggak melawan. Kamu justru makin diam.”
Jayeng merasakan dada sesak.
Sekar berkata lagi, lebih pelan:
“Kadang aku takut sama kamu.”
Jayeng menatap ibunya.
“Takut kenapa?”
Sekar menoleh sedikit.
“Bukan takut kamu jahat. Tapi takut… kamu nanti pergi, dan nggak pernah balik.”
Jayeng terdiam.
Sekar menutup mata sebentar. Napasnya berat.
“Aku… dari kecil hidup susah,” katanya. “Aku nggak pernah diajarin peluk-pelukan. Aku diajarin… tahan.”
Kata “tahan” keluar seperti batu.
Sekar membuka mata.
“Aku pikir… kalau aku bikin kalian kuat, kalian selamat.”
Jayeng menelan ludah.
Sekar menatapnya, dan untuk pertama kalinya, Jayeng melihat ibunya sebagai manusia yang juga ketakutan—bukan hanya sutradara.
“Tapi aku salah,” Sekar berkata.
Kalimat itu pendek. Tetapi ia seperti retakan di tembok yang akhirnya terlihat.
Sekar menarik napas lagi.
“Aku… pilih kasih. Aku tahu.”
Jayeng merasa seperti mendengar sesuatu yang tak pernah ia harapkan.
Sekar melanjutkan:
“Dan kamu… yang paling banyak kasih… malah paling sedikit aku…”
Sekar berhenti. Kata itu tidak keluar. Ia tidak punya kosakata untuk “peluk” yang tulus. Ia hanya punya kosakata “tahan”.
“Aku nggak pintar ngomong begitu,” katanya akhirnya.
Jayeng menatap ibunya lama.
Ia tidak ingin mengubah momen ini jadi drama. Drama sudah terlalu banyak di rumah ini.
Ia berkata pelan:
“Aku cuma pengin diakui sebagai anak.”
Sekar menatapnya.
Jayeng melanjutkan:
“Bukan proyek. Bukan penyokong. Bukan beban. Bukan… sial.”
Wajah Sekar tersentak.
“Wira bilang begitu?”
Jayeng mengangguk.
Sekar menelan ludah.
“Aku kira kamu sudah lupa.”
Jayeng tertawa kecil. “Kalimat kayak gitu nggak bisa dilupakan.”
Sekar memejamkan mata. Ada sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. Atau mungkin ketakutan bahwa waktu sudah terlalu sedikit untuk memperbaiki.
“Aku diam waktu itu,” Sekar berkata.
Jayeng mengangguk.
Sekar menambahkan, nyaris berbisik:
“Aku ikut juga… kadang.”
Jayeng menatap ibunya. Napasnya berat.
Sekar membuka mata.
“Aku minta maaf,” katanya.
Kalimat itu tidak indah. Tidak sinematik. Tapi itulah yang membuatnya terasa nyata: ia keluar dari mulut yang selama ini lebih sering mengeluarkan perintah dan perhitungan.
Jayeng tidak langsung berkata “aku maafkan”.
Ia tidak mau jadi orang baik palsu. Ia hanya berkata:
“Aku sudah hidup jauh dari rumah ini, Bu.”
Sekar menatapnya.
Jayeng melanjutkan:
“Aku nggak mau jadi seperti Ibu.”
Sekar mengangguk pelan, seperti menerima.
Jayeng menambahkan:
“Tapi aku juga nggak mau benci Ibu seumur hidup.”
Sekar menatapnya, mata basah.
“Kalau kamu benci… kamu nggak salah.”
Jayeng menggeleng pelan.
“Benci itu capek.”
Sekar menghela napas, seperti seseorang yang baru sadar bahwa seumur hidupnya juga capek.
Malam itu, Jayeng duduk lama di kamar Sekar. Tidak banyak kata. Hanya keberadaan. Hanya napas.
Kadang orang tidak butuh penjelasan. Kadang orang hanya butuh seseorang yang tidak pergi.
.
Beberapa hari setelahnya, Wira datang.
Wira sudah tua. Tubuhnya membungkuk, tetapi aura “penentu” masih menempel. Ia duduk di kursi ruang tamu seperti masih punya wewenang atas ruangan itu.
Jayeng duduk di seberangnya.
Hening.
Wira menatap Jayeng.
“Kamu kerja apa sekarang?”
Jayeng menjawab singkat: “Konsultan. Training. Hospitality.”
Wira mengangguk, seolah mengerti, seolah tidak.
Hening lagi.
Wira mengusap lututnya, lalu berkata pelan:
“Dulu aku keras.”
Jayeng menatap ayahnya.
Wira menelan ludah.
“Aku ngomong yang nggak seharusnya.”
Jayeng diam.
Wira melanjutkan:
“Waktu itu… aku stres. Uang. Kerja. Aku…”
Kata-kata Wira seperti orang tua yang berusaha berjalan tanpa tongkat, goyah. Ia bukan pandai bicara emosi. Ia hanya pandai menahan.
Wira menatap Jayeng.
“Kalimat itu…”
Jayeng menarik napas. “Ya.”
Wira menunduk.
“Aku minta maaf.”
Jayeng merasa dada yang sesak.
Wira mengangkat kepala.
“Kamu bukan pembawa sial.”
Jayeng menatap ayahnya.
Wira menambahkan:
“Kalau ada yang sial… mungkin caraku jadi bapak.”
Kalimat itu jatuh pelan, seperti batu besar yang akhirnya diletakkan di tanah setelah lama dipanggul.
Jayeng memejamkan mata sebentar.
Di dalam dirinya, anak kecil dua belas tahun itu berdiri lagi, gemetar, menunggu sesuatu yang terlambat bertahun-tahun.
Jayeng membuka mata.
“Aku hidup baik-baik saja,” katanya pelan. “Tapi bukan karena kalimat itu nggak sakit. Aku hidup baik-baik saja karena aku nggak mau mati di dalam.”
Wira menatap Jayeng lama.
Lalu mengangguk.
Tidak ada pelukan. Wira bukan tipe itu. Tetapi ada sesuatu yang berubah: hening di antara mereka tidak lagi seperti hukuman. Ia seperti pengakuan.
.
Sekar meninggal pada pagi yang tenang.
Tidak ada drama besar. Tidak ada teriakan. Hanya napas yang pelan-pelan berhenti, seolah tubuhnya akhirnya mengizinkan dirinya istirahat dari kewajiban bertahan.
Kiran menangis. Galuh menangis. Inu menangis diam-diam.
Jayeng berdiri di sisi ranjang, memandang wajah Sekar yang sekarang tampak… netral. Tidak lagi tajam. Tidak lagi menilai. Tidak lagi menata.
Jayeng tidak merasa lega. Tidak juga hancur.
Ia merasa seperti seseorang yang baru keluar dari ruangan sempit—dan mendapati udara di luar tidak otomatis membuatnya bahagia, tapi setidaknya membuatnya bisa bernapas.
Saat pemakaman, banyak orang datang.
Sekar dikenal baik. Banyak yang berkata: “Ibumu hebat,” “Ibumu kuat,” “Ibumu luar biasa.”
Jayeng mendengar semuanya. Ia tidak menyangkal.
Sekar memang hebat dalam bertahan.
Namun Jayeng juga tahu: hebat dan hangat tidak selalu sama.
Ada orang yang kuat, tetapi membuat rumah seperti benteng: aman dari luar, dingin di dalam.
.
Setelah semuanya selesai, mereka membereskan rumah.
Kiran membawa kardus. Inu membuka lemari. Galuh memegang album foto. Jayeng memegang buku catatan Sekar.
Mereka duduk di ruang tamu. Membaca halaman-halaman itu, dan untuk pertama kalinya, melihat diri mereka bukan dari mata sendiri, tetapi dari mata Sekar.
Kiran membaca catatan tentang dirinya, lalu menutup buku cepat-cepat. Seolah takut membaca lebih jauh.
Inu membaca bagian tentang dirinya dan diam.
Galuh membaca bagian tentang dirinya dan menangis pelan.
Jayeng menutup buku itu perlahan.
Ia tidak ingin menjadikan buku itu senjata. Ia tidak ingin membalas Sekar dengan cara Sekar: menilai.
Jayeng berkata pelan:
“Kita nggak bisa ubah masa lalu.”
Kiran menatapnya.
Jayeng melanjutkan:
“Tapi kita bisa putus pola.”
Galuh mengusap air mata.
Inu menatap lantai.
Jayeng berkata, suaranya lebih tegas:
“Biar rumah ini jadi pelajaran. Bukan kutukan.”
Di luar, angin bergerak pelan. Daun pohon di halaman berdesir seperti bisik-bisik yang akhirnya bisa didengar.
.
Malam sebelum kembali ke Surabaya, Jayeng tidur di kamar lamanya lagi.
Ia duduk di lantai, bersandar pada lemari retak.
Retak itu seperti garis takdir yang pernah memisahkan “anak” dan “penopang”.
Jayeng memejamkan mata.
Ia mengingat Sekar: perempuan yang suka belanja dan menstok, yang disiplin dan teratur, yang rajin berdoa, yang cerdas bermain peran, yang pelit berbagi, yang selalu berhitung, yang memilih orang, yang memilih kasih, yang membuat satu anak menjadi kuat sampai lupa cara meminta.
Jayeng mengingat Wira: lelaki yang menahan emosi sampai emosi keluar sebagai label.
Jayeng mengingat dirinya: anak yang bertahan.
Lalu ia mengingat kalimatnya sendiri yang sering ia ucapkan di kelas training:
“Service yang baik bukan soal prosedur. Service yang baik adalah soal hati.”
Jayeng tertawa kecil.
Ia belajar hati bukan dari rumah.
Ia belajar hati dari luka.
Luka membuatnya peka. Luka membuatnya membaca. Luka membuatnya mengerti.
Tapi ia tidak ingin berhenti pada mengerti.
Ia ingin mengasihi.
Ia ingin menjadi rumah yang tidak membuat orang merasa salah hadir.
Ia ingin memeluk anaknya kelak tanpa menunggu prestasi.
Ia ingin memberi tanpa menjadikan memberi sebagai alat kendali.
Ia ingin memutus warisan dingin—bukan dengan marah, tapi dengan hangat.
Jayeng membuka mata.
Di dalam dirinya, anak kecil dua belas tahun itu duduk, akhirnya. Tidak lagi berdiri gemetar.
Jayeng berbisik—entah kepada dirinya, entah kepada retak di lemari, entah kepada udara yang menyimpan bau masa kecil:
“Kamu bukan sial.”
“Kamu hanya lahir di rumah yang salah menerjemahkan cinta.”
Dan untuk pertama kalinya, air mata turun tanpa ia tahan.
Bukan air mata marah.
Air mata seperti hujan pertama setelah kemarau: tidak menghapus masa lalu, tetapi memberi tanah kesempatan menumbuhkan sesuatu yang baru.
.
Surabaya menyambutnya dengan ritme: rapat, workshop, klien, presentasi, proyek digital, bisnis kecil, investasi, kelas mentoring.
Jayeng kembali ke panggung. Kembali ke ruangan-ruangan hotel yang wangi. Kembali ke orang-orang yang menyapa dengan senyum profesional.
Namun ada sesuatu yang berubah: ia tidak lagi bekerja untuk menghapus label. Ia bekerja untuk membangun rumah.
Ia mulai menulis.
Tidak langsung untuk publik. Untuk dirinya. Ia menulis tentang “katalog” yang membuat rumah tampak aman, tetapi menyimpan ketakutan. Ia menulis tentang “lemari retak” yang menyimpan penilaian diam-diam. Ia menulis tentang doa yang panjang tetapi pelukan yang jarang. Ia menulis tentang “niat baik” yang dijadikan dalih agar luka tidak perlu dibahas.
Ia menulis tanpa menyebut nama.
Ia menulis agar siapa pun yang membaca nanti—jika nanti dibaca—dipaksa berpikir:
Apakah cinta selalu harus terasa manis?
Apakah pengorbanan selalu harus dipamerkan?
Apakah orang tua selalu benar hanya karena tua?
Apakah disiplin harus mengalahkan kelembutan?
Jayeng menulis bukan untuk menghakimi.
Ia menulis untuk memutus.
Karena memutus pola bukan berarti membenci masa lalu. Memutus pola adalah memilih masa depan.
.
Suatu sore setelah kelas training, seorang peserta mendekatinya.
“Mas,” kata orang itu pelan, “saya nggak tahu kenapa saya nangis waktu Anda jelasin tentang membaca emosi tamu.”
Jayeng menatapnya.
Orang itu menunduk, lalu berkata:
“Kayak… saya baru sadar, selama ini saya juga nggak pernah dibaca di rumah.”
Jayeng diam sebentar. Ada hening. Hening itu hangat.
Lalu Jayeng berkata pelan:
“Kadang kita belajar hospitality bukan dari hotel. Tapi dari rumah. Dari yang kurang.”
Orang itu mengangguk, air matanya jatuh lagi.
Jayeng menepuk bahunya pelan.
Dan di momen itu, Jayeng merasa: lukanya tidak sia-sia jika ia bisa menjadi jalan orang lain pulang ke dirinya.
.
Malam kembali datang.
Jayeng berdiri lagi di balkon apartemennya. Kota menyala.
Arus kendaraan di tol masih seperti sungai listrik. Tetapi kali ini, Jayeng tidak menunggu sesuatu yang tidak jelas.
Ia hanya berdiri, bernapas, dan merasakan dirinya utuh.
Ia tidak lagi mengejar pembuktian.
Label itu sudah lepas—bukan karena dunia menghapusnya, tapi karena ia sendiri menolak menjadikannya identitas.
Jayeng menutup mata.
Di dalam hatinya, ia mengucap pelan:
Terima kasih, Sekar—bukan untuk lukanya, tapi untuk pelajaran bahwa cinta bisa salah bahasa.
Terima kasih, Wira—bukan untuk labelnya, tapi untuk akhirnya mengaku.
Terima kasih, rumah—meski retak, kau mengajarkan aku cara membangun rumah lain.
Rumah di dalam diri.
Rumah yang tidak menilai seseorang dari “kualifikasi”.
Rumah yang tidak menjadikan disiplin sebagai alasan untuk dingin.
Rumah yang tidak menyamarkan luka dengan kalimat “niatnya baik”.
Jayeng membuka mata.
Lampu kota menyala seperti katalog kehidupan yang menawarkan banyak pilihan.
Dan kali ini, Jayeng memilih satu:
Menjadi rumah.
Bukan hanya untuk orang lain—tapi untuk dirinya sendiri.
Di balik kaca balkon, pantulan wajahnya tampak lebih tenang.
Ia tidak tampak seperti anak pembawa sial.
Ia tampak seperti seseorang yang berhasil memutus sesuatu yang tidak kasatmata: warisan dingin yang diwariskan diam-diam.
Jayeng tersenyum.
Lalu ia masuk, menutup pintu balkon pelan.
Dan di dalam apartemen yang rapi itu, akhirnya ada sesuatu yang tidak bisa dibeli di katalog mana pun:
Keheningan yang hangat.
.
.
.
Malang, 26 Februari 2026
.
.
#CerpenIndonesia #KompasMingguStyle #RumahYangMengajarkanBertahan #LukaKeluarga #HealingJourney #Reflektif #UrbanStory #Parenting #StorytellingFilmis