Kota, Api dan Sebuah Cara Pulang

Ada cinta yang menyala seperti api—menghangatkan, membakar, sekaligus membutakan. Dan ada hidup yang tetap menuntut kita waras, bahkan saat hati sedang tidak bisa diajak bicara.”
.

Kota itu tidak pernah benar-benar tidur.
Ia hanya mengganti cara terjaga.

Siang hari, ia menegakkan punggungnya pada gedung-gedung kaca, pada rapat-rapat, pada notifikasi yang berbunyi seperti detak jantung mesin. Malam hari, ia menurunkan suaranya menjadi dengung. Lampu-lampu menyala seperti bintang buatan. Jalan raya mengalir seperti urat nadi yang tak pernah diberi jeda.

Di salah satu balkon apartemen, di lantai yang terlalu tinggi untuk merasakan tanah, Jayengrana berdiri dengan secangkir kopi yang sudah dingin.

Kopi yang dingin selalu punya bahasa sendiri:
bahwa ada sesuatu yang ditunda terlalu lama,
bahwa ada seseorang yang terlalu lama dipikirkan sampai lupa diminum.

Di kaca jendela, pantulan wajahnya seperti dua orang: satu yang rapi, satu yang lelah. Satu yang berhasil, satu yang terancam oleh perasaan.

Di layar ponsel, sebuah nama masih menyala.

Sekartaji.

Nama itu bukan sekadar huruf. Ia seperti lampu kecil di lorong panjang hidup Jayengrana: membuatnya ingin berjalan, sekaligus membuatnya takut jika lorong itu berujung pada sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

Ia memandangi pesan yang belum dibalas. Jemarinya sempat menggantung di atas layar, seperti orang yang berdiri di tepi kolam renang, ragu apakah harus melompat atau menahan napas.

Ia tidak membalas.

Bukan karena tak mau.

Tapi karena ia tahu, jika ia membalas, dunia lain akan runtuh dengan sendirinya: dunia yang ia bangun dari jadwal, angka, rencana, dan kontrol. Dunia yang orang-orang puji sebagai “mapan”, padahal ia lebih mirip dinding tipis yang menahan banjir.

Kota di bawah tetap hidup.
Jayengrana hanya mencoba tidak tenggelam.

.

Jayengrana adalah lelaki kelas menengah ke atas yang hidupnya tampak seperti poster keberhasilan.

Ia memiliki pendidikan yang membuat orang mengangguk hormat. Ia punya pekerjaan yang membuat keluarga bangga. Ia punya bisnis yang membuat teman-temannya bilang “gila, kamu hebat.” Ia punya investasi properti—dua unit yang ia beli bukan karena ia butuh rumah, tapi karena ia butuh rasa aman.

Setiap bulan ia membaca laporan, menyusun strategi, mengukur risiko. Hidupnya terpetakan, terukur, seperti grafik yang naik perlahan tapi pasti.

Namun belakangan, ada sesuatu yang tidak bisa masuk spreadsheet.

Perasaan.

Sekartaji datang tanpa rencana, tanpa tanda. Seperti angin yang menyusup di celah pintu ketika semua jendela tertutup. Jayengrana bahkan tidak bisa menjelaskan kapan tepatnya ia mulai peduli. Ia hanya tahu: setiap kali ponselnya bergetar dan nama itu muncul, dadanya seperti diberi ruang.

Mereka bertemu di sebuah forum diskusi kecil—tempat kelas menengah kota menyalurkan rasa ingin tahu agar tidak sepenuhnya dikalahkan rutinitas. Pembicara malam itu membahas tema yang kedengarannya sederhana: “Mengapa kita merasa kosong di tengah kesibukan.”

Jayengrana datang bukan untuk mencari jawaban. Ia datang karena ia lelah terlihat baik-baik saja.

Di barisan kursi yang tidak terlalu depan, Sekartaji duduk dengan buku catatan yang sudah kusut. Ia mendengarkan dengan cara yang berbeda—bukan sekadar menunggu giliran bicara, melainkan seolah ia mengumpulkan kata-kata untuk dipahami, bukan untuk dilawan.

Jayengrana ingat hal itu.

Di kota yang semua orang berlomba cepat, orang yang mendengarkan dengan sabar terasa seperti mukjizat kecil.

Mereka bicara setelah acara. Awalnya soal buku. Lalu merambat ke film, ke musik, ke cara orang menangis diam-diam di kamar mandi kantor. Sekartaji bercerita tanpa ingin dikasihani, Jayengrana mendengar tanpa ingin memperbaiki.

Percakapan itu membuat Jayengrana merasa—aneh, tapi nyata—bahwa hidupnya tidak hanya tentang mengejar. Ada hal lain: menyadari.

Dan sejak malam itu, api kecil mulai menyala.

.

Api itu mula-mula hangat.

Pesan singkat. Tawa kecil. Kesepakatan bertemu lagi di tempat yang sama, lalu tempat yang berbeda, lalu waktu yang tidak pernah cukup.

Jayengrana bukan tipe yang mudah larut. Ia terbiasa memegang kendali. Namun Sekartaji tidak pernah meminta. Ketidakmemintaannya justru membuat Jayengrana memberi. Ia memberi waktu, ia memberi cerita, ia memberi sisi rapuh yang selama ini ia sembunyikan di balik nama baik.

Yang membuatnya kehilangan orientasi bukan ketertarikan fisik. Itu hanya bagian permukaan, seperti kilau lampu kota di atas genangan. Yang berbahaya adalah kedalaman: percakapan tentang luka masa kecil, tentang ayah yang keras, tentang ibu yang menua diam-diam, tentang ketakutan gagal yang dibungkus prestasi.

Sekartaji melihatnya tanpa menilai.

“Kadang,” kata Sekartaji suatu malam, “orang paling rapi justru yang paling takut berantakan.”

Jayengrana tertawa, tapi tawanya retak.
Karena ia tahu, perempuan ini sedang berbicara tentang dirinya.

Jika mungkin, Jayengrana ingin tinggal di dalam suara Sekartaji—di dalam kalimat-kalimatnya, di dalam jeda yang tidak canggung. Ia ingin melarikan diri dari bising kota ke ruang kecil tempat dua orang dewasa saling percaya.

Namun hidup tidak mengenal romantisme tanpa biaya.

Api selalu punya harga: oksigen.

.

Suatu ketika, tanggung jawab datang seperti hujan deras yang tidak meminta izin.

Pagi itu, Jayengrana terbangun dengan dada sesak. Notifikasi rapat menumpuk seperti tumpukan piring kotor yang tak kunjung dicuci. Investor meminta update. Tim menunggu keputusan. Satu proyek besar hampir jatuh karena kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Ada konflik internal, ada ego, ada “politik kantor” versi modern: bahasa halus yang menyimpan pisau.

Di sela semua itu, ponselnya bergetar.

Ibunya menelepon.

Ibunya—perempuan Jawa yang sepanjang hidupnya menanamkan satu keyakinan: kerja keras adalah cara manusia menjaga martabat. Ia tidak pernah meminta banyak. Ia tidak pernah menuntut hadiah. Ia hanya ingin anaknya tidak tersesat.

Jayengrana tidak mengangkat.

Bukan karena ia tidak sayang.

Tapi karena ia sedang kehabisan tempat untuk memegang semua hal sekaligus.

Setelah panggilan terputus, ia memandangi layar lama, seperti orang yang baru sadar ia telah melukai sesuatu yang tidak pantas dilukai: waktu.

Ia menelan ludah. Ia menulis pesan pendek untuk ibunya: Ma, aku telpon nanti.
Ia pun menatap nama Sekartaji di daftar chat.

Dan ia berhenti lagi.

Karena ia tahu: jika ia memulai percakapan dengan Sekartaji saat itu, ia akan jatuh.

Ia sedang lelah. Dan lelah adalah pintu yang mudah dibuka oleh perasaan.

Api itu masih menyala, tetapi kenyataan datang membawa ember air dingin.

.

Ia mulai menjauh.

Bukan menghilang, bukan memutus, bukan membuat drama. Ia hanya menurunkan intensitas, seolah ia sedang mengecilkan api kompor agar tidak menghanguskan dapur.

Sekartaji tidak bertanya.
Tidak menuntut penjelasan.
Tidak mengirim paragraf panjang.

Ia hanya diam.

Dan diam yang berkelas selalu lebih menyakitkan daripada ribuan kata.

Jayengrana mengira diam itu adalah bentuk pengertian. Namun di malam-malam sunyi, ia mulai paham: diam juga bisa berarti perpisahan yang sopan.

Di kota, perpisahan sering dilakukan tanpa suara.
Orang-orang terlalu sibuk untuk berteriak, tetapi terlalu luka untuk tetap tinggal.

Jayengrana menyadari sesuatu yang pahit: cinta yang terlalu menyala bisa membuat kita lupa pada hal-hal yang menjaga hidup tetap berdiri.

Maka ia kembali pada rutinitas yang lama diabaikan. Seolah ia mencoba menjadi lelaki yang ia kenal—yang stabil, yang kuat, yang “baik-baik saja”.

Ia membersihkan apartemen sendiri. Menyapu lantai dengan gerakan pelan, seperti menyapu sisa-sisa dirinya yang berantakan. Ia memilah berkas lama. Membalas email satu per satu. Mengatur ulang jadwal. Menghapus beberapa hal yang sebenarnya tidak penting, tetapi dulu ia anggap wajib.

Ada sesuatu yang terapeutik dalam pekerjaan remeh:
seolah dunia mengingatkannya bahwa hidup bukan hanya tentang api, tetapi juga tentang abu yang harus dibersihkan.

.

Di sela kesibukan itu, nama-nama lama muncul kembali.

Panji.

Panji adalah sahabat yang dulu sama-sama mengejar karier, namun memilih belok arah. Ia membangun sekolah swasta progresif—tempat anak-anak kelas menengah kota diajarkan bukan hanya matematika dan bahasa Inggris, tetapi juga cara memeluk kegagalan tanpa kehilangan harga diri.

Ragil.

Ragil meninggalkan jabatan mapan, lalu membuka usaha kuliner berbasis budaya. Restorannya tidak besar, tetapi orang-orang datang untuk merasakan sesuatu yang jarang mereka temukan: rasa pulang. Ragil menghidangkan makanan seperti ia menghidangkan pengampunan.

Kencono.

Kencono adalah investor yang hidupnya tampak sempurna dari luar—jam tangan mahal, mobil mahal, koneksi luas. Namun Kencono selalu pulang sendiri. Ia punya banyak orang di sekitarnya, tapi tidak punya rumah dalam arti yang sebenarnya.

Mereka bertemu di sebuah ruang kreatif kota—tempat orang-orang dewasa “mencari makna” setelah merasa lelah menjadi mesin.

Diskusi mengalir tentang makna sukses, tentang bagaimana generasi mereka terlalu sibuk “menjadi” sampai lupa “merasakan”.

Panji menatap Jayengrana lama.

“Kadang,” kata Panji pelan, “kita terlalu pintar untuk bahagia.”

Kalimat itu menghantam Jayengrana lebih keras daripada kritik bisnis mana pun.

Karena ia tiba-tiba melihat dirinya dari luar: lelaki sukses yang sebenarnya sedang kekurangan satu hal yang paling sederhana—keberanian untuk jujur bahwa ia kesepian.

.

Malam itu, di apartemen, Jayengrana menulis.

Bukan proposal.

Bukan strategi.

Tapi catatan untuk dirinya sendiri.

Tentang Sekartaji. Tentang api. Tentang ketakutan kehilangan kendali.

Ia menulis seperti orang yang akhirnya berhenti berpura-pura. Di halaman pertama, ia menuliskan satu kalimat yang tidak berani ia ucapkan pada siapa pun:

Aku takut mencintai, karena aku takut kehilangan diriku sendiri.

Ia terdiam setelah menulis itu. Ia menatap kata-kata itu seperti menatap luka yang baru dibuka. Tidak ada darah, tapi ada sesuatu yang terasa perih.

Jayengrana sadar: cinta ini tidak salah. Sekartaji pun tidak salah.

Yang keliru adalah cara ia memposisikan cinta—sebagai pelarian dari beban hidup. Sebagai ruang yang membuatnya lupa pada tanggung jawab. Sebagai api yang ia jadikan pusat gravitasi.

Padahal hidup adalah tata surya yang membutuhkan banyak orbit.

Jika satu planet terlalu dekat ke matahari, ia akan hangus.

.

Perubahan datang mendadak.

Sebuah keputusan investasi besar memaksa Jayengrana turun tangan sendiri. Timnya goyah, ada yang ingin mundur, ada yang merasa tidak dihargai, ada yang mempolitisasi keadaan. Di tengah tekanan, ia mendadak ingat Sekartaji—bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai cermin.

Sekartaji pernah berkata, “Kalau kamu ingin benar-benar mencintai, jangan jadikan aku tempat bersembunyi. Jadikan aku tempat pulang setelah kamu selesai bertarung.”

Jayengrana dulu menganggap itu kalimat indah.

Kini ia paham: itu kalimat dewasa.

Ia bekerja siang malam. Ia menyelesaikan konflik, menutup lubang, menahan keruntuhan. Ia menghubungi ibunya, mengunjungi ibu itu, duduk sebentar, mendengarkan cerita-cerita kecil yang selama ini ia lewatkan karena terlalu sibuk.

Di rumah ibunya, Jayengrana melihat kalender dinding yang penuh coretan kecil: tanggal kontrol kesehatan, jadwal arisan, catatan belanja, nomor telepon tetangga.

Ia tersentak: hidup ibunya sederhana, tetapi penuh perhatian. Hidupnya sendiri kompleks, tetapi sering lupa memberi perhatian.

Di perjalanan pulang, Jayengrana menangis diam-diam di mobil. Bukan tangis dramatis. Hanya mata yang basah karena ia sadar: ia terlalu lama mengejar hal-hal besar sampai lupa menghargai hal-hal yang menjaga dirinya tetap manusia.

.

Ia menghubungi Sekartaji.

Pesan pertama hanya dua baris. Tidak puitis. Tidak berputar-putar. Hanya jujur.

Maaf aku menjauh. Aku sedang berusaha menata hidupku agar tidak menjadikanmu pelarian. Kalau kamu masih mau, aku ingin bicara baik-baik.

Lama sekali tidak ada balasan.

Jayengrana menatap layar seperti menatap pintu yang mungkin tidak akan pernah dibuka lagi.

Namun ia tidak menyesal. Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis demi mengontrol. Ia menulis demi bertanggung jawab.

Ketika balasan itu datang, ia tidak langsung merasa lega. Ia justru merasa takut.

Karena ini bukan tentang menang atau kalah.

Ini tentang menjadi dewasa.

.

Mereka bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Tempat itu biasa saja. Tidak ada estetika berlebihan. Tidak ada latar dramatis.

Hanya dua manusia yang duduk saling berhadapan, membawa versi diri yang sedikit lebih jujur.

Sekartaji tampak sama, namun ada sesuatu yang berubah. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya lebih matang. Seperti orang yang sudah belajar bahwa menunggu tidak selalu berarti menang.

Jayengrana menatapnya lama, lalu menunduk.

“Aku tidak pergi,” kata Sekartaji pelan.
Jayengrana menahan napas.
“Aku hanya tidak mau menjadi pelarian.”

Kalimat itu jatuh di meja seperti sendok yang tidak sengaja terlepas: bunyinya kecil, tapi membuat ruang mendadak hening.

Jayengrana mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menahan siapa pun.

“Aku tidak ingin membuatmu jadi ruang kosong yang aku isi ketika aku lelah,” katanya. “Aku ingin kamu jadi rumah. Tapi rumah bukan tempat orang kabur. Rumah tempat orang pulang dengan sadar.”

Sekartaji menatapnya, lama.

“Kalau begitu,” katanya, “pulanglah dengan utuh.”

Jayengrana ingin menangis. Ia tidak menangis. Ia hanya menarik napas panjang, seperti orang yang akhirnya belajar cara hidup.

.

Api itu tidak padam.

Ia hanya berubah bentuk—menjadi cahaya yang cukup untuk berjalan, tanpa membakar jalan di belakang.

Di kota yang tetap menyala sepanjang malam, Jayengrana berjalan pulang dengan langkah ringan.

Ia akhirnya memahami:

Cinta yang sehat tidak membuat kita meninggalkan diri sendiri.

Ia hanya membuat kita lebih berani menjadi utuh.

Dan hidup kelas menengah ke atas, dengan segala privilese dan pendidikannya, tetaplah rapuh jika tidak diimbangi kesadaran diri.

Cinta—yang sejati—tidak pernah meminta kita mengorbankan integritas.

Ia hanya meminta kita hadir, utuh, dan bertanggung jawab.

Malam itu, di balkon apartemen, Jayengrana kembali memegang secangkir kopi.

Kali ini, ia meminumnya sebelum dingin.

.

.

.

Lumajang, 6 Februari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #SastraIndonesia #CintaDewasa #KehidupanUrban #RefleksiHidup #CeritaKota

.

Quotes Highlight

  • “Cinta bukan tempat bersembunyi dari hidup, tapi alasan untuk menjalaninya dengan lebih jujur.”

  • “Tidak semua api harus dipadamkan. Beberapa cukup dijaga agar tidak membakar rumah.”

  • “Dewasa bukan tentang memilih yang paling kita inginkan, tapi yang paling bisa kita pertanggungjawabkan.”

  • “Rumah bukan tempat kabur. Rumah tempat pulang dengan sadar.”

Leave a Reply