Menunda Bicara Kehilangan Pulang

“Ada perasaan yang hanya bisa diselamatkan oleh kata-kata yang jujur.
Dan ada hubungan yang runtuh bukan karena kebencian,
melainkan karena terlalu lama menunda bicara.”

.

Senin, dan Cara Kota Mengajarkan Diam

Senin selalu datang dengan cara yang sama—diam-diam, tanpa peringatan. Ia tidak mengetuk. Ia tidak meminta izin. Ia hanya hadir, seperti kewajiban yang diletakkan di dada orang dewasa sejak bangun tidur: rapi, berat, dan tak bisa ditawar.

Langit Jakarta pagi itu tidak kelabu, namun juga tidak sepenuhnya cerah. Cahaya matahari memantul di dinding kaca gedung sepanjang Sudirman dengan dingin, seperti wajah-wajah manusia yang terbiasa menyimpan sesuatu di balik jas rapi, kartu akses, dan kalender rapat yang penuh warna. Ada kilau, tetapi tidak menghangatkan.

Dari apartemen lantai dua puluh tujuh, kota terlihat seperti peta hidup yang bekerja tanpa jeda. Jalan-jalan menjelma urat, kendaraan menjelma darah, dan suara klakson—yang sampai ke atas hanya sebagai dengung—menjadi napas panjang yang tidak pernah benar-benar tenang. Orang-orang bergerak cepat, seolah-olah hidup bisa diselamatkan dengan kecepatan.

Langit berdiri di depan jendela. Ia mengenali ritme itu. Ia hidup di dalamnya. Ia tumbuh bersama dengungnya. Ia tahu cara memotong keramaian tanpa terlihat ragu.

Namun pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada sesuatu yang tidak ikut bergerak.

Seperti jam yang berdetak tepat waktu, tetapi kehilangan arti waktu.

Di belakangnya, Gayatri duduk di tepi ranjang. Rambutnya tergerai tanpa rencana. Matanya belum sepenuhnya bangun, tetapi hatinya sudah lama terjaga. Ia memeluk lututnya sendiri—bukan karena dingin, melainkan karena tubuh manusia kadang mencari pelukan ketika tidak ada yang benar-benar memeluk dari dalam.

Hari itu bukan hari besar. Tidak ada ulang tahun. Tidak ada peringatan apa pun. Tidak ada jamuan, tidak ada tenggat presentasi, tidak ada angka yang harus diselamatkan.

Namun ada sesuatu yang menggantung di udara—bukan suara, bukan aroma—melainkan kebutuhan untuk bicara. Kebutuhan yang selama ini mereka anggap bisa ditunda, seperti menunda membalas pesan: nanti saja, nanti saja, nanti saja—hingga suatu hari “nanti” berubah menjadi “tidak pernah”.

Langit tahu, hari itu ia tidak bisa lagi diam.

Bukan karena ia tiba-tiba berani. Melainkan karena diamnya sudah terlalu lama, dan setiap hari yang ditunda terasa seperti menggeser rumahnya sendiri beberapa sentimeter menjauh dari tempat pulang.

.

Kedewasaan yang Terlalu Pandai Menyimpan

Mereka bukan pasangan muda yang mabuk cinta. Juga bukan pasangan renta yang hidup dari kenangan. Mereka berada di usia yang oleh banyak orang disebut “mapan”—usia di mana karier telah punya nama, rekening tidak kosong, dan lingkar pergaulan menyempit oleh seleksi alami: waktu dan kepentingan.

Langit mengelola beberapa unit usaha kreatif dan properti kecil. Namanya tidak terpampang di baliho, tetapi cukup dikenal. Ia terbiasa duduk di meja rapat, membaca peluang, menimbang risiko, dan berbicara dengan nada yang selalu terdengar yakin.

Ia belajar satu hal dari kota: jika ada masalah, buat daftar. Jika ada tekanan, buat rencana. Jika ada rasa takut, ubah menjadi angka.

Gayatri hidup dari kata-kata. Konsultan komunikasi korporat. Di ruang rapat, ia mampu mengubah krisis menjadi kalimat yang terdengar rasional. Ia tahu cara memilih kata yang tepat, menaruhnya di tempat yang tepat, dan membuat orang percaya pada keutuhan yang disusun.

Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Ia tahu bagaimana menata bahasa seperti menata ruang tamu: agar tamu nyaman, agar kekacauan tidak terlihat.

Ironisnya, di rumah, mereka sering kehilangan bahasa.

Hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Tidak ada drama di media sosial. Tidak ada pertengkaran terbuka. Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada piring pecah. Mereka tampak seperti pasangan dewasa yang tahu caranya bertahan.

Namun justru di situlah masalahnya.

Kedewasaan sering disalahpahami sebagai kemampuan menahan segalanya sendirian.

Mereka terlalu pandai menyimpan. Terlalu lihai menunda. Terlalu percaya bahwa diam adalah bentuk kebijaksanaan. Padahal diam juga bisa menjadi cara paling rapi untuk saling menjauh.

Diam yang diniatkan melindungi, perlahan berubah menjadi dinding. Dan dinding yang dibiarkan bertahun-tahun, suatu hari terasa seperti rumah yang dibagi dua—tanpa pernah ada percakapan tentang batas.

Mereka tidak kehabisan cinta. Mereka kehabisan keberanian untuk menaruh cinta itu dalam kata-kata yang jujur.

.

Rumah yang Rapi, Udara yang Berat

Apartemen mereka rapi. Hampir selalu rapi. Sofa abu-abu dengan bantal minimalis. Rak buku disusun berdasarkan warna. Meja makan yang lebih sering menjadi tempat laptop daripada piring. Satu lukisan abstrak di dinding—dibeli karena “cocok”, bukan karena dipahami.

Kota mengajarkan satu trik: jika yang di dalam berantakan, rapikan yang terlihat.

Langit menatap pantulan dirinya di kaca. Di belakang pantulan itu, kota berkedip seperti layar raksasa. Ia teringat hari pertama pindah ke apartemen ini—perasaan menang, perasaan berhasil, perasaan akhirnya “sampai”.

Dulu, Gayatri memeluknya di depan jendela itu.
“Kita sampai,” katanya.
“Iya,” jawab Langit. “Kita sampai.”

Sekarang, mereka masih di tempat yang sama. Tetapi rasanya seperti tidak sampai di hati yang sama.

Mereka tinggal di ruangan yang sama, tetapi ada jarak yang tidak bisa diukur. Jarak yang tumbuh dari hal-hal kecil yang ditahan: pertanyaan yang tidak jadi ditanya, kekhawatiran yang disimpan, kekecewaan yang dirapikan, keinginan yang tidak pernah diucapkan.

Debu halus yang tidak terlihat, tetapi membuat udara berat.

.

Kalimat Pertama

Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Langit duduk di samping Gayatri. Tidak ada ponsel. Tidak ada televisi. Tidak ada distraksi. Mereka membiarkan sunyi masuk—bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saksi.

“Aku capek,” kata Langit.

Gayatri menoleh. Bukan karena kaget, melainkan karena kata itu jarang keluar dari mulut Langit. Ia mengenalnya sebagai lelaki yang—bahkan ketika lelah—menyebutnya “sibuk”.

“Capek apa?”

Langit menarik napas panjang, seperti orang yang mengeluarkan kata dari tempat yang lama dikunci.
“Capek pura-pura kuat.”

Kalimat itu bukan ledakan. Ia lebih seperti retakan kecil di dinding yang selama ini tampak kokoh. Dari sana, kata-kata mengalir.

Tentang bisnis yang terlihat baik, tetapi menyimpan tekanan likuiditas. Tentang pinjaman yang tidak pernah dibahas karena takut terdengar gagal. Tentang proyek yang harus ditutup agar tidak berdarah lebih lama. Tentang wajah-wajah karyawan yang selalu hadir di kepalanya setiap malam.

“Aku kayak nyusun ilusi,” ucapnya pelan. “Aku jalan, tapi lantainya rapuh.”

Gayatri mendengar. Tidak memotong. Tidak menasihati. Tidak mengeluarkan kalimat profesional yang biasa ia pakai di ruang rapat. Ia hanya mendengar.

Didengar sepenuhnya adalah bentuk kasih yang paling jarang diberikan.

“Aku takut kamu kecewa,” kata Langit.

Gayatri ingin menjawab cepat—ingin menenangkan. Tetapi ia berhenti. Ia memilih jujur, meski itu berarti lambat.

“Aku bukan kecewa,” katanya akhirnya. “Aku… sering ngerasa kamu jauh.”

Padahal ia ada di sana. Di sampingnya. Di ranjang yang sama. Di rumah yang sama.

Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak menutup percakapan itu dengan “nanti”.

.

Uang, Malu, dan Harga Diri

Malam itu, mereka membuka pembicaraan yang selama ini dihindari: keuangan bersama. Bukan karena kekurangan, melainkan karena ketakutan akan ketidakseimbangan.

Langit takut dianggap gagal.
Gayatri takut dianggap menuntut.

Di meja makan, mereka menaruh laptop dan kertas. Situasinya hampir seperti rapat—tetapi kali ini tidak ada presentasi. Tidak ada angka yang dipoles.

“Aku takut kamu ngerasa aku numpang,” kata Gayatri. “Aku capek harus selalu terlihat setara.”

Langit terdiam. Ia tidak pernah membayangkan ketakutan itu hidup di tubuh Gayatri.

“Aku punya cicilan lebih besar dari yang kamu tahu,” katanya. “Aku nggak bilang… karena takut.”

Gayatri menatapnya lama.
“Aku nggak butuh kamu sempurna,” katanya pelan. “Aku butuh kamu nyata.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kritik bisnis.

Mereka bicara panjang. Tentang rencana. Tentang risiko. Tentang mimpi yang tidak sepenuhnya sejalan. Tentang anak—yang selalu ditunda dengan alasan logis. Tentang ketakutan kehilangan ruang. Tentang ketakutan kehilangan makna.

Air mata jatuh tanpa drama. Diam hadir tanpa ancaman. Tangan saling mencari—lebih jujur dari seribu kalimat motivasi.

Malam itu, tidak semua selesai. Tetapi sesuatu dimulai.

.

Meja Panjang di Cipete

Beberapa minggu kemudian, mereka berkumpul di rumah Darma—rumah tua di Cipete yang direnovasi menjadi modern tropis. Jendela besar, meja makan panjang, aroma kopi dan kayu.

Wira datang belakangan—startup founder yang sering disebut “contoh sukses”. Sekar membawa salad—perempuan yang selalu “paling bisa diandalkan”. Ratna membawa oleh-oleh—ibu yang terlihat sempurna.

Percakapan dimulai dari hal-hal aman: saham, berita, pendidikan, liburan. Tawa hadir, tetapi tipis.

Ketika topik bergeser ke target tahun ini, Langit berkata, “Aku lagi belajar ngomong jujur.”

Sunyi jatuh—sunyi yang membuka pintu.

“Aku ngerasa kehilangan pulang,” lanjutnya. “Padahal rumahku ada.”

Sekar menunduk.
“Aku capek jadi yang selalu kuat,” katanya.

Ratna memejamkan mata.
“Aku capek jadi ibu sempurna.”

Wira tertawa getir.
“Aku capek pura-pura sukses.”

Darma lama diam.
“Aku juga takut,” katanya akhirnya.

Tidak ada ceramah. Tidak ada solusi instan. Hanya kehadiran. Hanya keberanian untuk mengaku.

Komunikasi terdalam bukan tentang siapa yang paling pintar bicara,
melainkan siapa yang paling berani jujur.

.

Hari-Hari Setelahnya

Kejujuran tidak membuat hidup ringan. Ia membuka jendela: udara segar masuk, debu terlihat.

Kadang Langit kembali menutup diri. Kadang Gayatri kembali memakai nada profesional. Tetapi kini mereka tahu—dan kesadaran itu mengubah segalanya.

Setiap malam, satu pertanyaan kecil:
“Ada yang kamu simpan hari ini?”

Kadang jawabannya “nggak”.
Kadang “ada”.
Kadang hanya air mata.

Dan itu cukup.

.

Suatu malam, Langit berdiri lagi di depan jendela apartemen. Kota di bawah berkilau. Tidak lebih hangat, tidak lebih ramah—tetap Jakarta.

Gayatri datang dari belakang, berdiri tanpa memeluk. Mereka berdiri berdampingan, seperti dua orang yang sedang belajar tinggal dalam ruang yang sama tanpa tergesa menyelesaikan apa pun.

“Kamu capek?” tanya Gayatri.

Langit tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulan mereka di kaca—dua sosok dewasa yang masih belajar bicara.

“Iya,” katanya akhirnya. “Tapi… aku tahu ke mana harus pulang.”

Gayatri tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan.

Di luar, klakson bersahutan. Lampu lalu lintas berganti. Kota terus bekerja, seolah tidak pernah peduli pada percakapan kecil di lantai dua puluh tujuh.

Langit dan Gayatri tetap berdiri di sana. Tidak berpelukan. Tidak juga menjauh.

Di antara mereka, ada ruang.
Dan untuk pertama kalinya, ruang itu tidak terasa mengancam.

Mungkin pulang memang bukan tempat yang selalu nyaman.
Mungkin pulang adalah kesediaan untuk tidak lagi menunda bicara—meski tidak semua kata tahu ke mana harus pergi.

Dan di kota yang tidak pernah berhenti ini, mereka membiarkan malam berjalan tanpa kesimpulan.

.

.

.

Malang, 31 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#MenundaBicaraKehilanganPulang #CerpenSastra #CerpenKompasMinggu #HubunganDewasa #KejujuranEmosional #KesunyianUrban #JakartaStory #KomunikasiPasangan #PulangYangJujur #CintaMatang

Leave a Reply