Aspirasi
“Kadang yang paling kita butuhkan bukan ide baru,
melainkan keberanian untuk mendengar lebih lama.”
.
Kota yang Terlihat Baik-Baik Saja
Kota itu menyala seperti panggung raksasa yang tak pernah diturunkan tirainya.
Lampu-lampu apartemen memantul di kaca gedung tinggi, reklame digital berganti gambar tanpa jeda, dan sorot kendaraan membentuk aliran cahaya panjang yang seolah-olah menandai arah hidup manusia—cepat, lurus, dan nyaris tanpa ruang untuk ragu.
Dari kejauhan, semuanya tampak baik-baik saja.
Terlalu baik, bahkan.
Jayeng berdiri di balkon apartemennya, lantai dua puluh tiga, menghadap kota yang berkilau itu. Ia tidak sedang menikmati pemandangan. Ia hanya berdiri, membiarkan matanya terbuka sementara pikirannya berjalan ke arah lain.
Di bawah sana, jalan raya berkelok seperti sungai cahaya, membawa orang-orang pulang dari rapat, dari target, dari ambisi yang tidak pernah benar-benar selesai. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang menoleh.
Jayeng memegang cangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya.
Rasa pahit masih tertinggal di lidah, dinginnya menjalar pelan ke telapak tangan—seperti pengingat bahwa sesuatu yang seharusnya hangat telah terlalu lama dibiarkan.
Hari itu presentasinya sukses.
Investor mengangguk, beberapa tersenyum puas. Grafik pertumbuhan bergerak naik. Target kuartal berikutnya disepakati dengan cepat, seolah semua kemungkinan telah dipetakan.
Namun setelah pintu ruang rapat tertutup dan suara langkah kaki menjauh, Jayeng justru merasa seperti seseorang yang pulang ke rumahnya sendiri, tetapi mendapati lampu sudah mati dan tidak ada yang menunggu.
Ia hidup di tengah definisi sukses yang rapi dan terukur:
pendidikan baik, karier cemerlang, bisnis tumbuh konsisten.
Namun ada sesuatu yang tidak ikut tumbuh bersamanya.
Sebuah ruang sunyi—yang mula-mula kecil, lalu perlahan melebar, mengisi sela-sela hari yang tampak produktif.
.
Jayeng dan Bahasa Pertumbuhan
Jayeng dikenal sebagai orang yang “punya visi”.
Dalam banyak forum, namanya disebut sebagai contoh generasi baru pemimpin muda—rasional, progresif, dan adaptif. Ia fasih berbicara tentang growth mindset, problem solving, dan innovation seolah itu bahasa ibu yang dikuasainya sejak lahir.
Ia pernah bekerja di konsultan global, mengelola proyek lintas negara, hidup dalam ritme yang diukur oleh kalender dan jam penerbangan. Ia memahami sistem, peta bisnis, dan logika pertumbuhan.
Ketika memutuskan keluar dan membangun perusahaan rintisan di bidang edukasi berbasis teknologi, banyak orang menyebutnya berani.
Dalam wawancara, ia sering mengatakan bahwa ia ingin “menciptakan dampak”.
Namun belakangan, setiap kali mengucapkan kata pertumbuhan, Jayeng merasakan kekosongan yang aneh. Seperti sedang mengulang mantra yang dulu bermakna, tapi kini terdengar hampa.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—dengan pertanyaan yang tidak nyaman:
apakah ia masih mendengar, atau hanya menunggu giliran berbicara?
Ia menyadari sesuatu yang janggal:
ia terlalu sering menjelaskan,
terlalu jarang memahami.
.
Pesan Singkat Bernama Raras
Pesan itu datang tanpa pembuka yang manis, tanpa basa-basi.
“Jeng, kapan terakhir kamu mendengar tanpa niat menjawab?”
Jayeng membaca pesan dari Raras lebih dari sekali.
Raras—sahabat lamanya sejak SMA. Orang yang dulu duduk sebangku dengannya, yang sama-sama bermimpi keluar dari kota kecil, tapi memilih jalan hidup yang berbeda.
Jika Jayeng memilih korporasi lalu startup, Raras memilih komunitas.
Jika Jayeng berbicara di forum, Raras mendengarkan di ruang-ruang kecil yang tak pernah diliput.
Jayeng membalas singkat:
“Maksudmu?”
Jawaban Raras datang cepat, lebih singkat:
“Datang saja.”
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada janji.
Namun justru itu yang membuat Jayeng merasa pesan itu berat.
.
Menyusuri Akar yang Tidak Terpetakan
Perjalanan ke selatan kota terasa seperti berpindah dimensi.
Gedung kaca perlahan berganti rumah petak. Kafe estetik berubah menjadi warung kecil dengan bangku plastik. Jalanan menyempit, suara klakson berkurang, digantikan obrolan pelan dan suara kipas angin tua.
Raras menunggunya di depan sebuah bangunan sederhana—ruang belajar komunitas yang nyaris tak punya papan nama. Cat dindingnya memudar, lantainya tidak sepenuhnya rata.
Di dalam, anak-anak duduk melingkar. Buku-buku bekas tersusun seadanya. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada layar digital. Tidak ada poster motivasi dengan kata-kata besar.
Namun mata mereka hidup.
Jayeng merasakan sesuatu yang jarang ia temui:
kehadiran yang utuh.
Seorang anak laki-laki mengangkat tangan. Suaranya pelan, tapi mantap.
“Mbak, kalau orang tua saya cuma buruh, apa saya masih boleh bercita-cita tinggi?”
Jayeng menunduk.
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban cepat. Ia membutuhkan kejujuran.
Di ruang inilah Jayeng memahami sesuatu yang tidak pernah ia temukan di ruang rapat mana pun:
problem sejati sering kali tidak terdengar karena terlalu sunyi.
.
Empati yang Tidak Bisa Di-slide-kan
Malam itu Jayeng tidak membuka laptopnya.
Ia duduk lama di kursi, membiarkan pikirannya bekerja tanpa struktur presentasi, tanpa target output.
Ia teringat semua konsep design thinking yang pernah ia ajarkan: empathize, define, ideate.
Namun untuk pertama kalinya, ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa selama ini empati hanya berhenti sebagai tahap—bukan sebagai sikap hidup.
Ia teringat kalimat yang pernah ia tulis di slide, tapi baru kini benar-benar ia rasakan:
“Empati bukan tentang merasa iba,
melainkan kesediaan untuk tidak menjadi pusat segalanya.”
Jayeng mulai menuliskan ulang pertanyaan dasarnya, bukan untuk publik, melainkan untuk dirinya sendiri:
Masalah siapa yang sebenarnya ingin aku selesaikan?
Aspirasi siapa yang selama ini tidak kudengar?
.
Retak yang Membuat Cahaya Masuk
Beberapa bulan kemudian, Jayeng mengambil keputusan yang dianggap “tidak efisien” oleh sebagian timnya:
ia menunda ekspansi, dan memilih turun langsung ke komunitas.
Ia duduk, mendengar, mencatat.
Bukan sebagai CEO.
Bukan sebagai mentor.
Melainkan sebagai manusia yang belajar.
Ia mendengar cerita kegagalan, harapan kecil, dan mimpi yang jarang diucapkan keras-keras.
Di sanalah ia menemukan pola yang selama ini luput:
bukan kekurangan ide,
melainkan ketiadaan ruang untuk didengar.
Entrepreneurship, baginya, berubah makna.
Bukan lagi tentang kecepatan, tetapi ketepatan.
Bukan tentang skala, tetapi kedalaman.
.
Aspirasi sebagai Jembatan
Program baru lahir tanpa gemuruh peluncuran.
Tanpa jargon bombastis.
Tanpa klaim mengubah dunia.
Ia sederhana:
pendidikan berbasis komunitas,
kurikulum adaptif,
mentor dari lintas profesi,
dan skema biaya silang.
Jayeng tidak lagi bertanya:
“Bagaimana bisnis ini tumbuh?”
melainkan:
“Siapa yang ikut tumbuh bersamanya?”
.
Kota yang Tetap Sama, Diri yang Berbeda
Suatu sore, Jayeng kembali berdiri di balkon apartemennya.
Kota masih menyala. Jalan masih sibuk. Waktu masih berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Namun kali ini, ia tidak merasa hampa.
Ia tahu, pertumbuhan sejati tidak selalu terlihat dari atas.
Sering kali ia berakar di bawah—di tempat aspirasi menunggu untuk didengar.
“Entrepreneur sejati bukan mereka yang paling cepat naik,
melainkan mereka yang paling setia menemani orang lain bertumbuh.”
.
Tentang Aspirasi
Aspirasi bukan teriakan.
Ia bisikan yang membutuhkan kesabaran.
Di dunia yang sibuk berbicara,
mendengar adalah bentuk keberanian yang paling radikal.
Dan di kota ini—di antara gedung tinggi dan mimpi besar—
Jayeng akhirnya mengerti:
pertumbuhan bukan soal menjadi lebih tinggi,
tetapi menjadi lebih manusia.
.
.
.
Malang, 30 Januari 2026
.
.
#CerpenKompas #GrowthMindset #Empati #Entrepreneurship #AkarRumput
#DesignThinking #CeritaIndonesia