Tapal Batas
“Ada batas yang tak boleh dilangkahi: menyakiti seseorang tepat saat ia paling rapuh. Karena luka di momen itu bukan salah paham—melainkan pilihan.”
.
Hujan Jakarta jatuh dengan cara yang selalu sama: seperti ingin menutup rapat-rapat sesuatu yang baru saja terbuka. Langit di atas Sudirman kelabu dan panjang, menempel di kaca-kaca gedung, lalu menetes ke trotoar yang sibuk oleh payung-payung mahal dan sepatu yang tak mau kotor.
Inu duduk sendirian di kursi tunggu lantai tiga puluh dua, di depan pintu kaca bertuliskan Konsultan Internal & Audit Kepatuhan. Nama ruangan itu selalu membuatnya tersenyum kecil. Seolah setiap masalah bisa diurai hanya dengan kata-kata panjang. Seolah hidup ini, jika diberi judul, akan lebih mudah dihadapi.
Tangannya menggenggam map tipis: hasil MRI, hasil lab, selembar surat rujukan. Di bagian bawah, ada stempel rumah sakit swasta terkenal di Kuningan. Harganya setara cicilan mobil. Tapi kelas menengah ke atas seperti mereka memang diajari satu hal sejak dini: jika takut, bayar.
Namun ada hal yang tak bisa dibayar. Dan hari itu, Inu baru paham.
Teleponnya bergetar. Nama yang muncul di layar: Sekar.
“Mas?” Suara Sekar terdengar seperti biasa—rapi, tenang, seperti orang yang selalu tahu harus meletakkan sendok di sisi mana. “Jadi?”
Inu menelan ludah. Di belakang kaca, kota memantul. Ia melihat dirinya sendiri: pria yang masih tampak baik-baik saja di mata orang lain, padahal di dalam ada gemuruh yang tak punya bentuk.
“Dokter bilang… ada massa,” Inu berkata pelan. “Belum pasti ganas. Tapi lokasinya…”
“Lho, kok bisa?” Sekar menyela cepat. Nada suaranya bukan panik—lebih mirip… kesal. Seperti seseorang yang baru tahu ada kebocoran di plafon saat tamu penting sedang datang.
Inu diam sesaat. Ia menunggu kalimat berikutnya: Kamu di mana? Aku ke sana. Atau Tenang, kita jalanin. Atau minimal: Kamu sendirian?
Yang datang justru: “Mas, rapat jam dua itu gimana? Jayeng sudah di boardroom. Investor dari Surabaya juga sudah standby. Kamu bisa video call, kan?”
Seperti itulah garis pertama yang hampir tak terasa ketika dilangkahi: bukan tamparan, melainkan pengalihan.
Inu menatap pintu kaca ruangan dokter yang masih tertutup. Ia melihat pantulan wajahnya sendiri, lalu berkata, “Aku baru saja dapat kabar ini, Sekar.”
“Ya, aku paham,” jawab Sekar, cepat. “Tapi ini juga penting. Mas tahu sendiri. Karyawan nunggu. Brand nunggu. Kita nggak bisa goyah.”
Kata brand meluncur lebih dulu daripada kata kamu.
Inu mengangguk, walau Sekar tak bisa melihat. “Aku coba,” katanya.
Setelah telepon ditutup, hujan Jakarta terdengar lebih keras. Atau mungkin, untuk pertama kalinya, Inu benar-benar mendengarnya.
.
Mereka berdua pernah menjadi pasangan yang dianggap “sempurna” oleh lingkaran sosialnya.
Sekar—lulusan luar negeri, pernah mengajar sebentar di kampus swasta elite, lalu memilih berhenti “agar fokus keluarga.” Ia punya cara bicara yang membuat semua orang merasa sedang diperlakukan dengan hormat, meski sebenarnya sedang diarahkan.
Inu—anak kota yang naik dari bawah, bukan dari keluarga konglomerat, tapi cukup cerdas untuk mengimbangi mereka. Ia mulai dari pekerjaan biasa, lalu melompat ke dunia hospitality, lalu pindah ke consulting. Dari sana, ia membangun jaringan: pemilik properti, investor, pemilik restoran, petinggi komunitas, orang-orang yang membicarakan masa depan sambil memegang gelas yang harganya setara gaji sebulan.
Dalam lima tahun, mereka punya apartemen di SCBD, rumah di pinggiran dengan taman kecil yang selalu disiram tukang, dua mobil, dan bisnis yang sedang menanjak: studio pelatihan layanan yang berkembang menjadi konsultan budaya kerja untuk hotel-hotel dan perusahaan ritel.
Mereka juga punya satu hal yang sering dipamerkan di Instagram: “keluarga kecil yang kuat.” Padahal yang kuat, kadang hanya caption-nya.
Ada kalimat yang selalu Inu pegang dari ayahnya dulu:
“Urip kuwi dudu mung bab menang. Nanging bab sapa sing kowe ajeni nalika kowe duwe kuasa.”
(Hidup itu bukan cuma soal menang. Tapi soal siapa yang kau hormati ketika kau punya kuasa.)
Inu tak menyangka, ujiannya bukan soal kuasa. Melainkan soal rapuh.
.
Jam dua siang, Inu menyalakan laptop dari ruang pemeriksaan yang kosong. Ia duduk di kursi dokter, menghadap layar, masuk ke rapat dengan latar belakang putih rumah sakit—latar yang tak bisa dipoles filter.
Di layar, ia melihat Jayeng: wajahnya bersih, rambutnya rapi, senyumnya stabil. Jayeng tipe pria yang selalu terlihat siap. Ia pernah bekerja di perusahaan multinasional, lalu keluar untuk “membangun sesuatu yang lebih bermakna.” Kata-kata itu terdengar hebat, sampai Inu sadar: yang dimaksud Jayeng dengan bermakna adalah bernilai besar.
“Mas Inu,” Jayeng menyapa, hangat. “Kita mulai ya.”
Di samping Jayeng, ada dua investor: satu pria paruh baya dari Surabaya, satu perempuan dengan jam tangan yang berkilau seperti lampu lalu lintas. Sekar duduk dekat ujung meja, kemeja putih, wajah tenang.
Inu mencoba berbicara normal. Ia mempresentasikan rencana ekspansi, proyeksi revenue, skema pelatihan franchise, bahkan rencana digital product. Ia bicara seperti orang sehat. Seperti orang yang tidak baru saja diberi kabar bahwa tubuhnya mungkin sedang menyimpan sesuatu yang tak diundang.
Saat ia berhenti untuk minum, Jayeng mengambil alih, meluncurkan kalimat yang membuat Inu terdiam.
“Mas Inu akhir-akhir ini agak drop,” Jayeng tertawa kecil, seolah sedang membicarakan hal ringan. “Mungkin karena terlalu banyak kerja. Tapi tenang, sistem kita sudah jalan. Bahkan kalau Mas Inu istirahat, perusahaan tetap bisa jalan.”
Investor tersenyum. Sekar ikut tersenyum.
Inu menatap kamera. Ia menunggu Sekar menimpali dengan sesuatu yang melindungi. Misalnya: Mas Inu memang banyak kerja, tapi dia tulang punggung strategi. Atau: Kita support penuh kesehatan dan keberlanjutan, tapi kepemimpinan tetap kuat.
Sekar justru berkata, “Betul. Kita sudah siapkan semua SOP. Tim juga sudah mature. Jadi tidak ada single point of failure.”
Kalimat itu terdengar profesional. Dan di situlah masalahnya: ia terlalu profesional untuk situasi yang seharusnya personal.
Rapat selesai dengan tepuk tangan kecil. Investor bilang mereka akan “consider.” Jayeng menutup laptop dengan senyum kemenangan yang masih belum jelas bentuknya.
Inu menatap layar hitam. Di dalam dada, ada sesuatu yang jatuh pelan—bukan karena dokter, melainkan karena orang-orang yang ia kira rumah.
.
Malamnya, Inu pulang dengan taksi. Jakarta berkilau seperti kaca pecah. Ia masuk apartemen, melepas sepatu, duduk di sofa tanpa menyalakan lampu.
Sekar masuk belakangan, membawa bau parfum yang selalu membuat Inu ingat pertemuan-pertemuan penting.
“Mas,” Sekar membuka pembicaraan seperti rapat. “Besok kita perlu tanda tangan beberapa dokumen. Jayeng minta dipercepat.”
Inu menoleh. “Aku belum cerita lengkap soal hasil hari ini.”
Sekar menaruh tas, lalu duduk tidak terlalu dekat. “Ya, kamu bilang ada massa. Tapi belum pasti ganas, kan? Jadi kita jangan overreact dulu.”
Inu memandang wajah Sekar. Wajah itu tenang, terlalu tenang. Seperti seseorang yang sedang menjaga agar air tidak tumpah, bukan menjaga agar manusia tidak hancur.
“Aku takut,” Inu berkata, akhirnya. Suaranya pecah di kata terakhir. “Aku takut, Sekar.”
Sekar menarik napas pendek. “Mas, kamu ini leader. Kamu nggak boleh bicara begitu. Kamu tahu efeknya ke tim. Ke investor. Ke reputasi.”
Di situlah garis kedua dilangkahi: ketika ketakutan dianggap kelemahan yang harus disembunyikan, bukan beban yang harus dipeluk bersama.
Inu tertawa kecil, getir. “Jadi aku harus kuat demi reputasi?”
Sekar menatapnya, lalu berkata pelan, “Kita sudah bangun semuanya dari nol. Aku tidak mau semuanya runtuh karena kamu… panik.”
Kata kamu diucapkan seperti tuduhan.
Inu berdiri, berjalan ke jendela. Di bawah, lampu mobil bergerak seperti sungai. Ia berkata, lebih ke dirinya sendiri:
“Ada orang yang mencintaimu saat kamu bersinar. Tapi hanya sedikit yang bertahan saat lampumu padam.”
Sekar tidak menjawab.
Malam itu, Inu tidur di kamar tamu. Bukan karena marah, tetapi karena ia tiba-tiba sadar: ada jarak yang selama ini ia kira normal.
.
Hari-hari berikutnya seperti montage film yang tidak ingin ditonton.
Kontrol ke rumah sakit—sendirian. Menunggu hasil biopsi—sendirian. Membaca istilah medis yang asing—sendirian. Mengatur jadwal operasi kecil—sendirian.
Sekar sibuk: meeting, agenda komunitas, launching program, makan malam dengan calon klien. Jayeng makin sering muncul di berbagai forum, memperkenalkan dirinya sebagai “co-founder yang mengelola operasional.”
Ada satu sore, ketika Inu baru selesai konsultasi, ia memutuskan mampir ke kantor. Ia ingin melihat tim. Ia ingin mendengar suara manusia agar tidak tenggelam dalam suara mesin MRI.
Di lift, ia bertemu staf lama mereka, Nala, perempuan yang dulu direkrut Inu dari hotel bintang lima.
“Mas Inu,” Nala tersenyum, lalu wajahnya berubah ragu. “Mas… sehat?”
Inu mengangguk. “Masih.”
Nala menunduk. “Mas… aku nggak enak ngomong. Tapi akhir-akhir ini… ada perubahan.”
“Inu,” Inu membetulkan, pelan. “Panggil aku Inu saja.”
Nala terkejut, tapi mengangguk. “Inu… Jayeng minta semua keputusan lewat dia. Sekar juga… lebih sering rapat tanpa kamu. Aku pikir… mungkin kamu memang mau mundur?”
Inu menatap pintu lift yang membuka. Lantai kantor terasa lebih dingin dari biasanya.
“Aku tidak pernah bilang mau mundur,” Inu berkata.
Nala menggigit bibir. “Aku juga yakin begitu. Tapi mereka bilang… kamu butuh fokus pemulihan. Jadi… biar kamu nggak terbebani.”
Kalimat “biar kamu nggak terbebani” terdengar manis, tapi Inu tahu: kadang yang manis adalah cara paling halus untuk menyingkirkan.
Garis ketiga dilangkahi: ketika kepedulian dijadikan selimut untuk menutupi niat.
.
Malam berikutnya, Inu mendapat email dari Jayeng. Subjeknya: Revisi Struktur Kepemilikan.
Jayeng menulis panjang—tentang efisiensi, perlindungan investor, keberlanjutan perusahaan, mitigasi risiko kesehatan founder. Ada lampiran dokumen: perubahan saham, pendelegasian wewenang, klausul yang membuat Inu… menjadi semacam simbol.
Inu membaca sampai selesai. Tangan kirinya gemetar.
Ia menunggu Sekar pulang. Ketika Sekar datang, Inu menyerahkan laptop. “Baca.”
Sekar membaca cepat. Wajahnya datar.
“Kamu setuju?” Inu bertanya.
Sekar menutup laptop. “Ini masuk akal,” katanya.
Inu terdiam. Kata-kata Sekar seperti jarum kecil: tidak langsung mematikan, tapi pelan-pelan menguras darah.
“Sekar,” Inu berkata lirih, “kalau aku sakit… kamu pilih perusahaan atau aku?”
Sekar memandangnya lama. “Mas, jangan bikin aku memilih.”
Inu mengangguk. Ia tersenyum seperti orang yang akhirnya paham jawaban yang selama ini tak diucapkan.
“Kalau seseorang tahu kamu sedang berada di tepi, tapi tetap mendorongmu jatuh, itu bukan ketidaksengajaan. Itu karakter.”
Sekar menatap ke arah lain. Di mata Sekar, mungkin Inu sedang dramatis. Di mata Inu, ini adalah titik balik.
.
Besoknya, Inu menghubungi satu orang yang sudah lama tidak ia temui: Umaya.
Umaya teman lama dari masa awal karier Inu. Dulu mereka sama-sama bekerja keras di kota. Umaya tidak sekaya lingkaran Inu sekarang, tapi ia selalu punya sesuatu yang jarang ditemui di ruangan-ruangan elite: ketulusan tanpa agenda.
Mereka bertemu di warung kopi kecil di Tebet—tempat yang tidak Instagrammable, tapi hangat.
Umaya melihat wajah Inu, lalu tidak bertanya apa-apa dulu. Ia hanya berkata, “Kamu kelihatan capek.”
Inu mengangguk. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia menangis di depan orang lain tanpa merasa harus menjaga reputasi.
Umaya menunggu sampai tangis itu mereda. Lalu berkata pelan, “Kamu boleh rapuh. Tapi jangan bodoh.”
Kalimat itu keras, tapi seperti obat yang pahit.
Inu tertawa kecil. “Aku tahu.”
Umaya menyandarkan punggung. “Gini, Inu. Orang-orang kota ini kadang lupa: hubungan itu bukan proyek. Kalau kamu sakit lalu mereka menjadikan sakitmu peluang, itu bukan salahmu. Tapi kalau kamu tetap memberi mereka akses, itu… keputusanmu.”
Inu menatap kopi hitamnya. Ada sunyi yang terasa seperti ruang baru.
“Aku harus bagaimana?” Inu bertanya.
Umaya menjawab tenang, seperti orang yang sudah lama belajar dari luka: “Bikin garis. Tegas. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk selamat.”
.
Hari itu, Inu bergerak dengan cara yang tidak biasa untuk dirinya: cepat, dingin, terukur.
Ia menemui pengacara. Ia menghubungi notaris. Ia mengumpulkan bukti: rekaman rapat, email, dokumen. Ia tidak ingin perang, tapi ia juga tidak mau lenyap.
Di rumah, ia berbicara dengan Sekar sekali lagi. Kali ini tanpa memohon.
“Aku akan pisahkan aset pribadi dan aset perusahaan,” kata Inu. “Aku akan ambil porsi yang memang hakku. Dan aku akan keluar dari struktur operasional. Tapi brand dan metode pelatihan—yang aku tulis dan aku desain—akan aku bawa.”
Sekar terdiam. “Kamu menghancurkan semuanya.”
Inu menggeleng. “Tidak. Aku menyelamatkan diriku.”
Sekar berdiri, suaranya meninggi untuk pertama kalinya. “Kamu egois!”
Inu menatap Sekar, pelan. “Egois itu ketika kamu melihat orang yang kamu sebut pasangan sedang rapuh, lalu kamu memilih menjaga citra. Aku hanya memilih hidup.”
Sekar membeku.
Di situlah garis terakhir dilukis: bukan dengan amarah, tetapi dengan kejelasan.
.
Proses medis berjalan. Hasil akhirnya: tumor jinak, tapi harus dipantau ketat. Tubuh Inu tidak seburuk yang ia takutkan, tetapi jiwanya sudah terlanjur merasakan sesuatu yang lebih ganas: pengkhianatan yang memakai baju rapi.
Ia pindah ke apartemen kecil yang lebih sederhana. Tidak dekat pusat kota. Tidak dekat hiruk-pikuk. Ia mengurangi pertemuan. Ia memilih napas.
Bisnis lamanya berjalan tanpa dia. Jayeng muncul di media sosial, menulis tentang “resiliensi.” Sekar terlihat lebih sering tersenyum di foto-foto.
Namun suatu malam, Inu menerima pesan dari Nala: “Inu, beberapa klien mulai tanya ‘kenapa Inu nggak ada’. Mereka bilang kualitasnya beda.”
Inu membaca pesan itu lama. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa… pulih sedikit.
Di balkon apartemen barunya, ia menatap langit yang tidak sepadat langit Sudirman. Ia mengingat sesuatu yang pernah ia tulis di catatan lama:
“Kesuksesan bisa dibangun dengan strategi. Tapi keselamatan batin hanya bisa dibangun dengan kejujuran.”
Ia menutup mata, menarik napas pelan. Ia tahu, ia tidak bisa mengontrol orang lain. Tapi ia bisa mengontrol satu hal: siapa yang ia izinkan masuk ke ruang rapuhnya.
Keesokan paginya, Inu mulai menulis lagi. Modul baru. Buku baru. Metode pelatihan baru. Tapi kali ini, bukan untuk membuktikan diri pada kota—melainkan untuk mengingatkan dirinya sendiri:
“Garis yang tak boleh dilewati bukan soal etika bisnis. Itu soal kemanusiaan.”
Dan pada akhirnya, mungkin itulah kemenangan paling senyap: ketika seseorang tidak lagi memohon dimengerti, tetapi memilih pergi dengan martabat.
.
Di kota, kita diajari banyak hal: investasi, diversifikasi, networking, personal branding, SOP, KPI, dan reputasi. Tapi tidak ada kurikulum yang mengajarkan bagaimana menghadapi orang yang tetap menyakitimu saat mereka tahu kamu sedang rapuh.
Maka biarlah cerpen ini menjadi pengingat:
“Empati bukan aksesori. Ia fondasi. Dan ketika fondasi itu hilang, bangunan sebesar apa pun akan runtuh—diam-diam.”
.
.
.
Malang, 28 Januari 2026
.
.
#CerpenKompas #SastraIndonesia #KisahPerkotaan #KelasMenengah #Empati #SelfRespect #PengkhianatanHalus #PemulihanBatin #KehidupanJakarta #GarisBatas