Kaca Tanpa Suara

“Balas dendam paling melelahkan adalah berharap orang berubah.
Pemulihan paling sunyi adalah berubah tanpa perlu menjelaskan.”

.

Jakarta, pada jam-jam tertentu, bukan kota—melainkan mesin yang menelan napas orang.

Pagi itu langit kelabu seperti kertas karbon yang dipakai untuk menyalin keputusan: satu ketukan, jejaknya membekas. Dari jendela apartemen lantai dua puluh di kawasan Segitiga Emas, Tisna melihat jalan layang mengilap, lalu lintas bergerak seperti arus darah yang tak pernah diberi izin berhenti. Di bawah sana, orang-orang mengejar waktu seolah waktu bisa dipeluk—padahal yang dikejar sering kali hanya rasa aman palsu.

Di meja makan, roti panggang dingin sudah kehilangan aromanya. Kopi hitam masih hangat, tapi pahitnya bukan dari robusta—melainkan dari kata “seen” yang muncul di layar ponsel.

Nama itu: Umar.

Tidak ada pesan baru. Hanya tanda bahwa pesan semalam sudah dibaca, lalu dibiarkan membusuk di ruang hening.

Tisna menatap ponsel tanpa menyentuhnya. Di kepalanya, kalimat-kalimat berkeliaran seperti burung yang lupa kandang: Apa aku salah? Haruskah aku jelaskan lagi? Haruskah aku minta maaf, supaya ini reda?

Namun tubuhnya—tubuh yang sering lebih jujur daripada pikiran—menjawab dengan cara lain: telapak tangannya dingin, dada sesak, dan perut seperti menyimpan batu kecil.

Tisna INFJ—tipe yang gemar memahami orang sampai lupa memahami diri. Bukan karena ia suci. Tapi karena sejak kecil ia belajar: kalau ia ingin rumahnya aman, ia harus menjadi penengah, peredam, penerjemah suasana.

Ia bangkit, menuju kamar mandi, menatap wajahnya di cermin. Ada mata yang terlihat dewasa, tapi ada seseorang di dalamnya yang masih kecil—seseorang yang dulu belajar menahan suara supaya tidak menambah masalah.

Air mengalir. Ia membasuh muka. Embun tipis menempel di cermin, membuat bayangannya buram. Dan dalam buram itu, ia mendengar kalimat yang tak pernah ia ucapkan keras-keras:

Aku capek menjelaskan kebaikanku pada orang yang selalu mencari celah untuk menuduh.

Ia mematikan keran. Mengambil handuk. Mengusap wajah. Lalu, untuk pertama kali setelah lama, ia memutuskan sesuatu yang tampak sederhana, tapi sebenarnya revolusioner: hari ini ia tidak akan membalas apa pun.

Bukan untuk menghukum.

Untuk menyelamatkan.

.

Orang-orang kelas menengah ke atas pandai membeli banyak hal: gawai, kursus, kesehatan, liburan, bahkan ketenangan.
Tapi mereka sering lupa satu keterampilan paling mahal: memutus siklus.

Tisna bekerja sebagai konsultan komunikasi strategis untuk sebuah holding yang menaungi sekolah internasional, klinik estetika, dan properti hospitality. Ia biasa menyusun narasi merek, mengelola krisis, merapikan reputasi—pekerjaan yang tampak glamor dari luar, tapi penuh jebakan dari dalam. Ia harus paham apa yang boleh dibuka, apa yang harus ditutup. Ia harus tahu kapan diam adalah strategi, kapan bicara adalah penyelamat.

Lucunya, ia bisa melakukan itu untuk perusahaan orang lain—namun tidak untuk dirinya.

Jam sembilan lewat sedikit, ia melangkah ke lobi apartemen. Marmer putih, lampu gantung, resepsionis yang menebar senyum standar. Di sana, ia selalu terlihat baik-baik saja, karena dunia ini menyukai orang yang rapi.

Di lift, ia berdiri sendiri. Cermin memantulkan wajahnya yang tenang—tenang seperti kolam infinity di rooftop hotel bintang lima: tampak damai, tapi menyimpan kedalaman. Ia merapikan kerah blazer, memastikan lipstik tipisnya tidak berlebihan, lalu menghela napas pendek.

Di ponsel, Umar menelepon. Sekali. Dua kali.

Tisna membiarkan dering itu mati.

Ada getar kecil di dada—rasa bersalah yang selalu muncul ketika ia menolak. Seperti refleks, seperti warisan. Tetapi ia mengingat sesuatu yang pernah ia baca di satu artikel psikologi: “Rasa bersalah sering muncul bukan karena kita salah, melainkan karena kita akhirnya melakukan sesuatu yang dulu tidak diizinkan.”

Lift berhenti. Pintunya terbuka. Ia melangkah keluar.

.

Umar masuk ke hidup Tisna seperti orang yang membawa payung di tengah hujan: datang saat dibutuhkan, membuat kita merasa aman, lalu suatu hari payung itu dipakai untuk menutupi dirinya sendiri.

Mereka bertemu pertama kali di sebuah acara alumni di ballroom hotel—lampunya hangat, musiknya sedikit terlalu keras untuk percakapan jujur, dan semua orang mengenakan parfum seolah wangi bisa menggantikan keutuhan.

Umar memulai percakapan dengan mudah. Ia karismatik. Punya cara bicara yang membuat orang merasa dipilih. Senyumnya melengkung pas—tidak terlalu manis, tidak terlalu dingin.

“Kalau orang pinter kayak kamu, harusnya nggak kerja buat orang terus,” katanya, sambil menatap Tisna seolah sudah membaca seluruh potensi dalam dirinya.

Tisna tertawa kecil. Ia mengira itu pujian.

Ia baru sadar belakangan: kalimat itu semacam pancingan. Umar selalu tahu cara membuat orang merasa istimewa—lalu, ketika orang itu sudah menyerahkan diri, ia mulai menagih.

Umar pernah jadi sales, lalu pindah ke brand partnership, lalu membuka agency kecil bersama teman kuliahnya, Rangga—nama yang sering disebut Umar dengan bangga, seperti bendera. Mereka menggarap kampanye influencer, membuat event peluncuran, mengelola akun brand, dan menjual “kreativitas” sebagai paket premium.

Lingkaran mereka hidup di kafe-kafe mahal dan ruang rapat ber-AC dingin, membicarakan growth, engagement, dan investasi seolah hidup bisa diringkas jadi slide.

Tisna masuk ke dunia itu perlahan. Awalnya ia hanya mendukung. Memberi masukan. Membantu menyunting proposal. Menyusun pitch deck. Ia melakukan itu dengan cara INFJ: diam-diam, teliti, penuh empati.

Dan Umar—seperti orang yang tahu di mana celah—mulai menanam pola.

Kalau Tisna telat membalas pesan karena rapat:
“Berarti aku nggak penting.”

Kalau Tisna ingin pulang cepat karena lelah:
“Kamu berubah sejak kariermu naik.”

Kalau Tisna bertanya tentang kebohongan kecil:
“Kamu terlalu sensitif, Na.”

Setiap kalimat seperti jarum kecil. Tidak cukup besar untuk mematikan, tapi cukup tajam untuk membuatnya terus berdarah tanpa sadar.

Tisna sering mencoba memahami. Ia mencari alasan untuk Umar: mungkin masa kecil, mungkin luka ayahnya, mungkin trauma lamanya. Tisna percaya bahwa orang yang menyakiti itu sebenarnya orang yang terluka.

Ia lupa satu hal: tidak semua luka minta disembuhkan. Ada luka yang dipakai orang untuk membenarkan perilakunya.

.

Jika hidup ini film, adegan runtuhnya bukan teriakan. Bukan tamparan. Bukan gelas pecah.

Runtuhnya terjadi dalam sebuah dokumen.

Hari itu, Tisna sedang menyusun strategi komunikasi untuk sekolah internasional—klien yang sensitif, penuh orangtua berprofil sosial tinggi, dan reputasi yang dipertaruhkan di setiap rumor. Ia mengunci layar laptop saat pergi sebentar untuk rapat lintas divisi.

Ketika kembali, ada email masuk dari seorang rekan partnership: “Na, ini proposal dari pihak agency. Nama kamu ada di sini. Kamu terlibat?”

Tisna membuka lampiran.

Dan tubuhnya membeku.

Nama “Tisna” tercantum sebagai penasehat komunikasi dalam proposal kerja sama Umar dengan sekolah internasional itu—sekolah yang masih berada di bawah holding tempat Tisna bekerja. Lebih buruk: ada cuplikan strategi internal yang persis seperti dokumen yang ia buat. Ada insight, ada timeline, ada krisis plan—bahkan ada frase yang ia kenali sebagai gaya bahasanya sendiri.

Ia merasa seperti seseorang yang baru pulang ke rumah dan menemukan pintunya sudah dibuka dari dalam.

Tangannya gemetar. Dada panas. Napasnya pendek. Ia tidak menangis. Ia hanya diam, karena INFJ sering memproses sakitnya dalam hening.

Ia menelepon Umar.

“Mas, ini apa?”

Umar menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan alasan.

“Tenang, Na. Itu cuma buat bikin mereka percaya. Kamu kan capable.”

“Kenapa pakai materi internal?”

“Ya kamu kan yang bikin. Masa nggak boleh dipakai?”

“Kita belum pernah sepakat.”

Umar tertawa kecil. Tawa yang biasanya terdengar manis, kali ini terdengar seperti meremehkan.

“Kamu serius banget sih. Ini kan untuk masa depan kita juga.”

Di kalimat “kita” itulah Tisna melihat seluruh pola. “Kita” dipakai sebagai selimut untuk menutupi “aku.”

“Umar,” katanya, lebih pelan, “hapus proposal itu. Dan kirim klarifikasi.”

Ada sunyi sebentar. Lalu Umar berubah—seperti lampu yang tiba-tiba berganti warna.

“Kamu tuh… kalau nggak bisa support, jangan jadi beban.”

Kata “beban” itu jatuh seperti gelas kaca di lantai marmer. Tidak pecah keras. Pecah halus. Tapi serpihannya masuk ke telapak kaki, membuat setiap langkah berikutnya terasa sakit.

Tisna menutup telepon.

Dan di situlah ia berhenti menjelaskan.

Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: ia bukan pasangan bagi Umar—ia resource. Ia bukan rumah—ia akses.

.

Malam itu, Tisna pulang dan duduk di lantai ruang tamu. Lampu dimatikan. Kota di luar jendela tetap menyala seperti tidak peduli. Ia menahan napas, menahan suara, menahan semuanya—sampai akhirnya air mata keluar seperti hujan yang terlalu lama ditahan oleh awan.

Tangisnya tidak dramatis. Tangisnya seperti air yang mencari jalan sendiri: sunyi, panjang, dan membersihkan sesuatu yang sudah lama menempel.

Di antara tangis, ia teringat ibunya.

Ibunya pernah berkata: “Kalau kamu baik terus, orang akan lupa kamu juga manusia. Mereka akan pikir kamu diciptakan untuk mengerti.”

Kalimat itu dulu terdengar seperti nasihat biasa. Sekarang, kalimat itu seperti lampu darurat di lorong gelap.

Ia mengambil ponsel. Menulis empat kalimat di notes—bukan untuk menghancurkan Umar, tapi untuk membangun pagar.

  1. Diam bukan hukuman. Diam adalah pagar.

  2. Glow up bukan pamer. Glow up adalah pemulihan.

  3. Bahagia bukan provokasi. Bahagia adalah bukti hidup masih layak.

  4. Putus akses bukan dendam. Putus akses adalah sanitasi.

Ia membaca ulang. Mengulang ulang. Seolah kalimat-kalimat itu mantra yang menahan hatinya agar tidak kembali runtuh.

.

Pagi berikutnya, ia melakukan sesuatu yang tidak romantis, tapi menyelamatkan: mengubah kata sandi.

Email. Cloud. Aplikasi kerja. Akun media sosial. Semua.

Ia menyalakan two-factor authentication. Menghapus perangkat yang tidak dikenal. Memeriksa riwayat login. Seperti orang yang membersihkan rumah dari pintu belakang yang selama ini dibiarkan terbuka.

Lalu ia melakukan hal yang lebih sulit: mengubah kebiasaannya sendiri.

Biasanya, jika Umar marah, ia akan mengalah. Biasanya, jika Umar menuduh, ia akan menjelaskan. Biasanya, jika Umar diam, ia akan panik.

Hari itu, ia memilih tidak melakukan apa pun.

Umar mengirim pesan panjang—seperti esai yang menuntut pengampunan.

Tisna, kamu terlalu cepat menilai. Aku cuma takut kehilangan kamu. Aku cuma butuh kamu percaya. Kamu tuh satu-satunya yang ngerti aku…

Tisna membaca pesan itu sekali. Lalu mengunci layar.

Ia menyadari, pesan itu bukan permintaan maaf. Itu permintaan akses.

Dan di situlah ia mempraktikkan hal pertama: silent boundary.

Bukan silent treatment. Bukan permainan. Bukan hukuman. Tapi pagar.

.

Hari ketiga, Umar mengubah strategi: “kebaikan.”

Ia mengirim makanan ke kantor. Bunga putih. Catatan kecil: Maaf ya. Aku khilaf. Aku cuma takut kehilangan kamu.

Orang-orang kantor gemas. Mereka suka narasi seperti itu. Manis. Sinematik. Mudah diunggah.

Tisna menatap bunga itu lama. Putihnya seperti kepolosan yang dipamerkan. Catatan “khilaf” terdengar seperti noda yang bisa dicuci.

Padahal yang dilakukan Umar bukan noda. Itu kebocoran integritas.

Ia mengembalikan bunga lewat resepsionis, tanpa pesan. Ia hanya berkata, “Tolong jangan terima kiriman atas nama saya lagi.”

Suara Tisna datar, tapi tangannya dingin.

Sore harinya, Umar menelepon berkali-kali. Tisna tidak mengangkat.

Ia mulai memahami: orang yang biasa mengendalikan dengan emosi akan panik ketika emosi itu tidak lagi mendapat panggung.

.

Glow up Tisna, dari luar, terlihat seperti perubahan cepat: kulitnya lebih bersih, tubuhnya lebih ringan, matanya lebih terang. Orang mengira itu hasil klinik estetika atau liburan mahal.

Padahal glow up itu dimulai dari hal kecil:

  • tidur delapan jam,

  • minum air,

  • jalan kaki setiap sore,

  • mengurangi gula,

  • merapikan jadwal,

  • menolak rapat yang tidak perlu,

  • berhenti memeriksa ponsel setiap lima menit.

Glow up yang lebih besar tidak terlihat: ia mulai terapi.

Psikolognya perempuan paruh baya bernama Gandari. Suaranya lembut, matanya tajam, dan ia tidak memberi solusi instan seperti seminar motivasi.

“Kalau kamu terus menjadi rumah bagi semua orang,” kata Gandari, “kamu akan kehabisan ruang untuk tinggal.”

Tisna pulang dari sesi pertama dan duduk lama di mobil. Jakarta sore hari macet seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berubah: ia merasa napasnya kembali.

Di sesi-sesi berikutnya, Gandari menuntunnya menelusuri akar: mengapa ia selalu merasa wajib memperbaiki orang lain?

Jawabannya kembali ke masa kecil.

Ayahnya, seorang lelaki yang sukses di bidang properti, punya cara marah yang sunyi. Ia tidak memukul. Ia mencabut perhatian.

Jika Tisna salah, ayahnya tidak berteriak—ayahnya menjadi tembok. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Rumah menjadi dingin. Tisna kecil belajar satu hal: untuk mendapatkan damai, ia harus menjadi baik. Lebih baik. Selalu lebih baik.

Ibunya, perempuan halus yang hidupnya dihabiskan untuk menjaga citra keluarga, selalu berkata: “Jangan bikin ribut. Kita keluarga terhormat.”

Sejak itu, Tisna tumbuh sebagai peredam. Ia pandai membaca suasana. Pandai menahan tangis. Pandai mengalah.

Ketika Umar datang membawa pola yang mirip ayahnya—mencabut perhatian, menuduh, membuatnya merasa bersalah—Tisna seperti kembali menjadi anak kecil yang ingin rumahnya aman.

Dan kini, untuk pertama kali, ia sedang belajar menjadi dewasa yang melindungi anak kecil itu.

.

Umar tidak suka kehilangan akses.

Ia mulai menyebar narasi ke lingkaran sosial mereka: Tisna sombong. Tisna berubah. Tisna terlalu karier.

Di dunia kelas menengah ke atas, gosip jarang berupa teriakan. Gosip berupa bisik-bisik di lounge, komentar di grup, obrolan di acara brunch.

Umar menghubungi teman-teman Tisna. Ia bahkan mendekati salah satu rekan kerja Tisna, kepala partnership bernama Panji—lelaki tenang, berhati-hati, tidak suka drama.

Suatu siang, Panji memanggil Tisna.

“Tisna, ada orang namanya Umar kontak aku. Dia bawa proposal. Ada nama kamu. Aku perlu pastikan: kamu terlibat?”

Tisna menelan ludah. Detik itu terasa panjang.

Ia bisa saja menutupinya demi citra. Tapi ia ingat satu prinsip yang disampaikan Gandari: batas diri tanpa kejujuran adalah pagar yang bolong.

“Aku tidak terlibat,” kata Tisna. “Dan itu salah satu alasan aku berhenti berkomunikasi dengannya.”

Panji mengangguk pelan. “Aku butuh kamu bikin memo singkat untuk legal. Kita amankan posisi kamu.”

Tisna keluar dari ruangan Panji dengan kaki lemas. Tapi ada rasa aneh: lega.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menyelamatkan Umar. Ia menyelamatkan dirinya.

Legal perusahaan bergerak cepat. Mereka memeriksa jejak dokumen. Mereka menelusuri siapa mengirim apa. Mereka memastikan tidak ada kebocoran sistem.

Dan twist yang lebih pahit muncul: ternyata Umar tidak hanya mengambil materi dari Tisna—Umar juga menggunakan nama holding itu untuk meyakinkan investor kecil yang ia dekati. Ia menjual “akses” pada jaringan sekolah internasional dan properti hospitality sebagai pintu masuk.

Umar sedang membangun rumah dari identitas orang lain.

Ada surat resmi yang meminta Umar menarik proposal, menghentikan penggunaan nama dan materi internal, serta mengirim klarifikasi ke pihak-pihak terkait. Ada juga ancaman konsekuensi hukum jika ia mengulangi.

Di sinilah Tisna memahami: yang ia hadapi bukan sekadar hubungan toksik. Ini persoalan etika dan integritas.

Dan ia, yang selama ini takut “membuat ribut”, akhirnya memilih ketegasan.

.

Umar mengirim pesan terakhir:

“Jadi kamu gitu ya. Kamu hancurin aku.”

Tisna membaca pesan itu lama.

Ada dua perasaan di dalamnya: sedih, dan marah.

Sedih karena ia pernah mencintai orang ini. Marah karena bahkan di ujung, Umar masih memposisikan dirinya sebagai korban.

Ia hampir membalas: “Bukan aku. Kamu sendiri.”

Tapi ia ingat: penjelasan sering menjadi undangan untuk debat. Dan debat dengan orang yang tidak berniat memahami hanya akan menguras.

Ia tidak membalas.

Ia menekan blok.

Lalu ia melakukan hal keempat: putus akses informasi.

Ia keluar dari grup yang Umar ada di dalamnya. Ia memutus jalur yang membuat Umar bisa memantau hidupnya. Ia mengatur privasi sosial media. Ia meminta teman dekatnya, Sukma, untuk tidak lagi “jadi penghubung”.

Sukma, yang biasanya suka menjadi penengah, menatap Tisna lama. “Kamu yakin?”

Tisna mengangguk. “Aku capek jadi jembatan untuk orang yang terus menerus menginjak.”

Sukma menghela napas. “Aku dukung.”

Dukungan itu sederhana, tapi bagi Tisna, itu seperti payung yang akhirnya benar-benar melindungi.

.

Ada fase setelah putus akses yang tidak pernah diceritakan orang: rasa bersalah yang datang tanpa diundang.

Malam-malam tertentu, Tisna terbangun. Ia membayangkan Umar sendirian. Ia membayangkan Umar menyesal. Ia membayangkan Umar berubah. INFJ memang sering lebih cepat memaafkan daripada melupakan.

Tapi setiap kali rasa bersalah itu datang, ia membuka catatan empat kalimatnya.

Diam adalah pagar.
Glow up adalah pemulihan.
Bahagia adalah bukti.
Putus akses adalah sanitasi.

Dan ia belajar membedakan dua hal yang selama ini ia campuradukkan: empati dan akses.

Ia boleh empati. Tapi ia tidak wajib memberi akses.

.

Beberapa bulan berlalu. Hidup Tisna tidak langsung menjadi dongeng. Ada hari-hari ketika ia masih ingin menyerah, masih ingin kembali, hanya karena rindu pada versi manis Umar di awal hubungan.

Namun ia memegang satu praktik yang diajarkan Gandari: ketika rindu datang, jangan ingat wajahnya—ingat polanya.

Dan pola Umar jelas.

Umar akhirnya kehilangan beberapa klien. Rangga, partnernya, memutus kerja sama setelah konflik internal. Agency mereka retak. Dalam lingkaran sosial, Umar masih bisa tertawa, tapi tawanya tidak lagi sehangat dulu.

Sementara itu, Tisna pelan-pelan membangun hidup baru: ia mengambil sertifikasi komunikasi krisis, ia mengajar kelas tamu di sebuah kampus swasta, ia membantu ibunya membuka program kecil literasi untuk ibu-ibu di lingkungan apartemen.

Hal-hal kecil itu membuatnya merasa utuh.

Kebahagiaan Tisna tidak lagi berupa unggahan. Kebahagiaan itu berupa napas yang tidak terburu-buru.

Dan di situlah poin ketiga bekerja: kebahagiaan sebagai “pesan tanpa kata.”

Bukan untuk memprovokasi orang. Tapi untuk membuktikan pada diri sendiri: ia masih bisa hidup tanpa drama.

.

Enam bulan setelahnya, ada acara pertemuan alumni di hotel yang sama. Ballroom yang sama. Lampu hangat. Musik terlalu keras.

Tisna datang bukan untuk mencari siapa pun. Ia datang karena ia ingin menguji dirinya: apakah ia sudah benar-benar bebas?

Di dekat panggung, ia melihat Umar.

Umar tampak lebih kurus. Senyumnya masih ada, tapi seperti lampu yang watt-nya berkurang. Ia melihat Tisna, lalu berjalan mendekat. Di wajahnya ada campuran rindu, marah, dan gengsi—campuran yang membuat orang terlihat seperti sedang menahan napas.

“Na,” katanya.

Tisna mengangguk sopan. “Mar.”

Umar menelan ludah. “Kamu… bahagia?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi Tisna tahu: itu bukan pertanyaan tentang kebahagiaan. Itu pertanyaan tentang akses yang hilang.

Tisna tersenyum pelan—senyum yang tidak menggoda, tidak memancing, tidak memamerkan. Senyum yang hanya menandakan: ia baik-baik saja.

“Aku sedang belajar,” jawabnya. “Dan itu cukup.”

Umar ingin berkata sesuatu. Tapi di mata Tisna, ia melihat bukan lagi lelaki yang harus diselamatkan. Ia melihat seorang dewasa yang memilih jalan sendiri—dan ia memilih tidak ikut.

Tisna melangkah mundur setengah langkah. Gerak kecil, tapi jelas—seperti garis tipis di lantai: ini batas.

Di belakang Umar, seseorang memanggil namanya. Ia menoleh. Ada urusan lain yang menuntutnya. Dunia selalu memberi alasan untuk pergi.

Umar pergi, dan Tisna berdiri sebentar, menatap ruangan yang ramai. Lalu ia menyadari sesuatu yang mengejutkan: ia tidak lagi merasa kecil.

Ia tidak merasa harus menang. Tidak merasa harus membuktikan. Tidak merasa harus menjelaskan.

Ia hanya merasa hidup.

.

Malam itu, sebelum tidur, ia menulis satu kalimat baru di catatan ponselnya:

“Orang yang menyakitiku tidak perlu hancur. Cukup tidak lagi punya pintu ke hidupku.”

Ia mematikan lampu.

Di luar, Jakarta masih menyala, seperti biasa.

Tapi di dalam, ada sunyi yang sehat. Sunyi yang tidak menyeramkan. Sunyi yang akhirnya terasa seperti rumah.

Dan untuk pertama kali setelah lama, Tisna tidur tanpa perlu menunggu siapa pun berubah.

.

Kadang kita mengira kemenangan adalah membuat orang menyesal.
Padahal kemenangan paling besar adalah berhenti menjadi tempat orang menyimpan racunnya.
Batas bukan kebencian. Batas adalah cara paling elegan untuk tetap manusia.

.

.

.

Malang, 23 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#cerpen #kompasminggu #sastraindonesia #batasdiri #healing #integritas #INFJ

Leave a Reply