Yang Tidak Hangus oleh Api

Ada hati yang tak bisa dibakar oleh amarah, dan tak bisa dibasahi oleh air mata orang lain—karena ia belajar menjadi tegar tanpa menjadi keras.

.

Langit Malang selalu tampak seperti sedang menahan sesuatu.

Bukan hanya hujan—melainkan juga keputusan-keputusan yang tak pernah benar-benar selesai. Di antara udara dingin yang turun dari arah Batu, lampu-lampu jalan yang temaram di kawasan Ijen, dan ritme kota yang tidak pernah tergesa, orang-orang kelas menengah ke atas punya satu kebiasaan: menyembunyikan retak, lalu menyebutnya “sibuk.”

Jayengrana menatap pantulan dirinya di jendela rumah dua lantai di kawasan Tidar. Dari lantai atas, ia bisa melihat jalan yang mulai basah oleh gerimis. Rambutnya rapi, kemeja putihnya bersih, jam di pergelangan tangannya berkilau halus—barang yang dibeli bukan untuk pamer, tapi untuk menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia “berhasil.”

Padahal yang berhasil, kadang, hanya cara seseorang menipu dunia agar tidak bertanya: kamu baik-baik saja?

Teleponnya bergetar.
Nama yang muncul: Muninggar.

Jayengrana menarik napas, menunda satu detik lebih lama dari seharusnya—seperti orang yang menunda membuka amplop hasil pemeriksaan kesehatan.

“Ya?”

Di seberang sana, suara Muninggar terdengar tenang, terlalu tenang. Tenang yang sering muncul ketika seseorang sudah lelah menangis.

“Aku lihat namamu jadi headline.”

Jayengrana menelan ludah. Ia sudah tahu. Ia sudah membaca artikel itu sejak pagi—sambil menatap kopi yang mendingin di teras rumah, seperti menatap masa lalu yang tak bisa dipanaskan kembali.

‘Startup edukasi premium berbasis Malang diduga memanipulasi data pertumbuhan untuk menarik investor nasional.’

Satu kalimat, cukup untuk membuat kerja keras empat tahun terasa seperti debu di lantai rumah yang selalu dijaga rapi.

“Itu bukan aku,” jawabnya cepat, terlalu cepat.

“Aku tahu,” kata Muninggar. “Tapi orang-orang tidak peduli siapa yang benar. Mereka hanya ingin cerita yang bisa dibagikan.”

Jayengrana diam.

Dari kejauhan, suara kereta lewat seperti menggaris di udara. Kota selalu punya musik latar untuk tragedi.

“Aku di mana?” tanya Muninggar.

“Apa maksudmu?”

“Aku di mana di hidupmu, Jayeng?” Suaranya tidak meninggi, tapi kalimat itu seperti mengetuk kaca tipis. “Karena dari luar, kamu terlihat punya segalanya. Tapi aku merasa… aku cuma jadi penonton yang kamu ajak duduk paling belakang.”

Jayengrana memejam. Ada sesuatu yang sakit di dadanya—bukan karena berita itu, melainkan karena ia tahu Muninggar benar.

Selama ini, ia membangun banyak hal: jaringan bisnis, portofolio, reputasi, kelas-kelas edukasi untuk keluarga mapan Malang dan Batu, konsultasi brand untuk hotel-hotel baru di kawasan wisata, strategi pemasaran untuk klinik estetika, bahkan investasi kecil di coffee shop yang cepat menjamur.

Ia membangun semuanya—kecuali rumah batinnya sendiri.

“Kita bisa bicara nanti,” ucap Jayengrana.

“Kamu selalu bilang nanti,” jawab Muninggar, lembut, tapi tegas. “Nanti itu tempat paling nyaman untuk menyimpan hal-hal yang kamu takut hadapi.”

Telepon ditutup.

Jayengrana berdiri lebih lama di depan jendela. Malang memantulkan dirinya seperti cermin yang jujur—tidak menghakimi, tapi tidak memanjakan.

Di meja kerja, ada map proposal untuk presentasi investor Surabaya jam sepuluh. Ada naskah keynote untuk seminar edukasi parenting premium di salah satu hotel heritage di Ijen jam dua siang. Ada jadwal meeting dengan mitra bisnis di Batu jam lima.

Dan di sela semua itu, ada ruang kosong yang tak ada di kalender: ruang untuk menjadi manusia.

Ia menatap ponselnya lagi. Ada pesan masuk dari seseorang yang namanya sudah lama ia coba lupakan: Wiraraja.

“Jayeng, kamu masih hidup? Kalau iya, ketemu. Aku di kafe lama daerah Ijen. Bukan buat pamer—buat ngobrol. Aku bawa rokok, kamu bawa jujur.”

Jayengrana tersenyum tipis, getir. Wiraraja selalu seperti itu: tidak memberi solusi cepat, tapi memberi ruang agar seseorang berani melihat dirinya sendiri.

Ia menutup map proposal. Untuk pertama kalinya, ia membatalkan meeting tanpa rasa bersalah.

Kadang, untuk menyelamatkan hidup, kita harus berani terlihat tidak produktif.

.

Siang di Ijen terasa seperti panggung yang tenang. Orang-orang berpakaian rapi, mobil melintas pelan, dan kafe-kafe tua berdiri tanpa ambisi menjadi viral.

Jayengrana masuk ke sebuah kafe dengan lampu hangat, musik pelan, kursi kayu yang berderit pelan—tempat di mana masalah hidup bisa terlihat lebih jujur.

Wiraraja duduk di sudut, kaus hitam sederhana, sepatu yang tak mengilap, mata yang tajam tanpa menghakimi. Di meja, ada dua gelas air putih.

“Kopi?” tanya Jayengrana.

“Air dulu,” kata Wiraraja. “Biar kamu ingat, yang bikin kamu hidup bukan validasi.”

Jayengrana tertawa kecil—yang terdengar lebih seperti batuk.

“Beritanya kejam,” kata Wiraraja.

“Beritanya bukan kejam,” jawab Jayengrana. “Orang-orangnya.”

Wiraraja mengangguk. “Dan kamu? Kamu mau jadi orang-orang itu? Atau mau jadi kamu?”

Jayengrana menunduk. Ia merasa seperti kembali jadi mahasiswa rantau dulu—penuh mimpi, tapi mudah runtuh oleh kata-kata.

“Aku nggak manipulasi data,” kata Jayengrana. “Itu Umar.”

“Umar yang mana?” Wiraraja bertanya, tenang.

Jayengrana menatapnya.

Karena Umar bukan hanya nama seseorang. Umar juga bisa berarti: ambisi, ketakutan, dan kebutuhan untuk terlihat hebat.

“Partnerku,” jawab Jayengrana. “Dia yang pegang angka. Dia yang dekat sama investor. Dia yang selalu bilang, ‘kalau kita jujur, kita kalah.’”

Wiraraja menyeruput air, pelan. “Terus kamu percaya?”

Jayengrana ingin menjawab tidak. Tapi mulutnya kering.

“Sementara,” katanya akhirnya. “Aku… capek. Aku pikir, nanti kalau sudah stabil, baru kita rapikan.”

Wiraraja tersenyum miring. “Klasik. Kita menunda integritas sampai sukses. Padahal, kalau integritas ditunda, sukses itu cuma kosmetik.”

Jayengrana menatap meja. Ada cincin tipis di jari Wiraraja. Ia baru sadar.

“Kamu nikah?”

Wiraraja mengangguk. “Dua tahun. Sama Ratri.”

Jayengrana kaget. Dulu Ratri dikenal bebas. Terlalu cerdas untuk percaya pada janji.

“Kenapa bisa?”

Wiraraja menatap keluar jendela, ke arah pohon-pohon tua Ijen. “Karena akhirnya aku ngerti: komitmen bukan penjara. Komitmen itu rumah. Yang jadi penjara itu egoku sendiri.”

Jayengrana terdiam.

Wiraraja mencondongkan badan, suaranya turun.

“Jayeng, kamu tahu kenapa orang-orang kelas menengah atas gampang hancur?”

Jayengrana menggeleng.

“Karena mereka punya banyak yang bisa hilang,” kata Wiraraja. “Dan mereka lupa: harga diri bukan aksesori. Harga diri itu tulang.”

Jayengrana teringat Muninggar.

Wiraraja melanjutkan, “Aku dengar Muninggar nelepon kamu.”

Jayengrana mengangkat kepala. “Kamu tahu?”

Wiraraja mengangkat bahu. “Ratri temenan sama Muninggar.”

Dada Jayengrana berdenyut. “Aku… sayang dia.”

“Sayang itu bukan kalimat,” kata Wiraraja. “Sayang itu pilihan yang kelihatan.”

Jayengrana memejam. Air menumpuk di kelopak matanya—air yang sudah lama ia tahan.

Wiraraja berkata pelan,
“Ada orang yang kuat karena hatinya kebal. Tapi ada orang yang kuat karena hatinya tetap lembut—meski sudah berkali-kali dipukul.”

Jayengrana mengusap wajah.

“Kamu kenal pitutur itu, kan?” lanjut Wiraraja. “Diobong ora kobong, disiram ora teles. Itu bukan berarti kamu jadi batu. Itu berarti kamu punya inti yang tidak bisa dirusak.”

Jayengrana menghela napas panjang. “Terus aku harus apa?”

“Kamu harus pulang,” kata Wiraraja.

“Pulang ke mana?”

“Ke dirimu yang dulu,” jawab Wiraraja. “Yang membangun edukasi bukan untuk pamer. Yang kerja bukan untuk tepuk tangan.”

.

Malamnya, Jayengrana mengemudi menyusuri Kayutangan, lalu memutar ke Tugu Malang. Lampu-lampu kota memantul di jalan basah. Kota ini tidak berisik, tapi cukup hening untuk membuat seseorang mendengar suara hatinya sendiri.

Pesan dari Umar masuk.

“Jayeng, tenang. Ini badai sebentar. Aku udah kontak media. Kita buat narasi. Kamu jangan bikin statement macem-macem. Trust me.”

Jayengrana membaca pesan itu berulang.
Dulu terdengar meyakinkan. Sekarang terdengar seperti larangan.

Ia menepi. Membuka laptop. Menatap laporan-laporan yang terlalu rapi.

Di situ ia menemukan dirinya sendiri: orang baik yang ikut diam.

Air matanya jatuh—sunyi.

Ia teringat ayahnya:
“Kamu boleh gagal cari uang, tapi jangan gagal jadi manusia.”

Jayengrana mengetik balasan:

“Besok pagi aku klarifikasi. Aku buka data asli. Kalau kamu salah, kamu tanggung. Aku juga tanggung karena aku diam. Ini bukan soal perusahaan. Ini soal harga diri.”

Telepon dari Umar meledak.

Jayengrana menjawab pelan, padat.
“Aku nggak mau menang kalau caranya bikin aku kehilangan diriku.”

Telepon ditutup.

Beberapa bulan berlalu tanpa penanda yang istimewa.

Kantor Jayengrana menjadi lebih kecil. Jadwalnya tidak lagi penuh. Beberapa nama berhenti menghubungi, beberapa pintu tertutup tanpa penjelasan. Ia belajar menerima itu sebagai bagian dari hidup yang tidak selalu perlu dimenangkan.

Di pagi hari, ia masih berjalan di bawah pohon-pohon tua Ijen. Udara tetap dingin. Kota tetap pelan. Tidak ada yang berubah secara dramatis. Tidak ada musik latar yang mengiringi keputusan-keputusan yang pernah diambilnya.

Muninggar kadang duduk di teras, membaca, tidak selalu berbicara.
Kadang mereka hanya berbagi diam.

Dan di antara semua yang tidak lagi sama, Jayengrana menyadari satu hal kecil yang nyaris luput disadari: ia tidak lagi terbangun dengan dada sesak. Ia tidak lagi menghindari pantulan dirinya sendiri di kaca.

Ia tidak tahu apakah semua ini akan bertahan.
Ia juga tidak tahu apakah hidup akan kembali menguji dengan cara yang lebih keras.

Namun pagi itu, ketika angin dari arah Batu menyentuh kulitnya, Jayengrana berdiri sejenak—tidak untuk memastikan apa pun, hanya untuk merasakan bahwa ia masih ada.

Di kota yang tidak pernah tergesa, ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di ruang-ruang rapat atau kelas-kelas motivasi:

bahwa ada hati yang tidak perlu dibakar agar kuat,
dan tidak perlu disiram agar hidup.

Ia melangkah lagi.
Pelan.
Tanpa janji.
Tanpa penutup.

.

.

.

Malang, 21 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #SastraIndonesia #CerpenMalang #Integritas #RelasiDewasa #RefleksiHidup #DiobongOraKobong

Leave a Reply