Kota yang Menyalakan Lampu Tapi Sering Memadamkan Orang
“Ambisi yang sehat tidak sedang mengejar pujian—ia sedang mengejar bukti. Tapi jangan sampai bukti itu dibangun dari tubuh yang kau abaikan, dan hati yang kau tinggalkan.”
—(catatan yang ditulis di layar ponsel, lalu lupa disimpan)
.
Di lantai tinggi sebuah apartemen yang menghadap jalur layang dan laut lampu kendaraan, Jayeng menatap kota seperti menatap cermin yang tidak pernah jujur sepenuhnya.
Kota selalu memberi dua hal: kemungkinan dan kecemasan.
Dari jendela kaca, ia bisa melihat menara-menara kantor yang berdiri seperti orang-orang berjas—tegak, mahal, dan tampak yakin. Tapi Jayeng tahu, dari jarak sedekat apa pun, menara yang tampak gagah itu tetap menyimpan ruang rapat yang pengap, target yang tidak kenal belas kasihan, dan email yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di meja marmer kecil dekat pantry, laptopnya terbuka. Di layar: presentasi pitch deck untuk program pelatihan leadership, proposal konsultan komunikasi untuk sebuah perusahaan FMCG, draft kerjasama coworking space di pusat kota, dan satu lagi—konsep micro-venture yang ingin ia jalankan diam-diam: kelas networking mastery untuk profesional kelas menengah ke atas yang lelah bersosialisasi, tapi takut kehilangan peluang.
Jayeng tidak punya jabatan tetap yang bisa dipamerkan dengan santai di reuni. Ia memilih jalur yang banyak orang puji di depan, tapi diam-diam mereka takut jalani: single, independen, career-oriented, petualang, melanglang buana, master networking.
Ia bisa masuk ke ruangan mana pun dan membuat orang merasa “kenal” padanya—padahal baru lima menit.
Itu keahliannya. Itu juga kutukannya.
Karena setelah ruangan itu sepi, setelah tawa dan jabat tangan selesai, setelah kartu nama bertukar dan kalimat “kita kopi ya” melayang tanpa kepastian, yang tersisa di apartemen hanya suara kulkas dan dengung AC.
Jayeng membaca ulang catatan yang tadi ia tulis untuk dirinya sendiri:
“Pikiran tentang karier di awal pekan itu sehat. Tapi tubuhmu juga perlu diajak hidup.”
Ia tersenyum tipis.
Ambisi selalu terasa seperti vitamin: dibutuhkan, tapi bisa jadi racun kalau dosisnya salah.
Jayeng menutup laptop, berdiri, lalu menyalakan lampu ruang tamu. Ruangan itu rapi seperti hotel yang baru soft opening: wangi, bersih, dan terlalu sunyi. Di satu sudut ada koper kabin—siap kapan saja. Di sudut lain ada rak buku: bisnis, psikologi komunikasi, filsafat popular, dan beberapa naskah klasik yang Jayeng tidak pernah benar-benar selesai baca, tetapi selalu ia letakkan di situ agar orang yang berkunjung paham: ia serius.
Padahal yang ia cari bukan tampak serius.
Yang ia cari adalah tetap waras.
Di layar ponsel, notifikasi masuk dari seorang klien bernama Raden. Tidak pakai gelar, tidak pakai basa-basi panjang. Kalimatnya seperti perintah halus:
“Jayeng, presentasi besok harus bikin investor merasa aman. Jangan terlalu puitis.”
Jayeng menatap pesan itu lama.
Di kepalanya, ia mendengar suara yang lain: suara yang tidak tertulis, tapi selalu menyusup:
Aman itu bukan selalu benar.
Dan benar itu sering tidak aman.
Ia balas singkat: “Siap.”
Lalu menaruh ponsel di meja.
Di luar, kota seperti mengedip tanpa pernah memejam.
Jayeng berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah. Di cermin, ia melihat mata sendiri: tajam, capek, dan tetap memaksa tampak baik-baik saja.
Kota mengajari manusia satu kebiasaan yang paling berbahaya: terbiasa menunda rasa.
.
Permukaan yang berkilau, dan kerinduan yang tak terucap
Pada awal pekan, Jayeng selalu rapi.
Bukan karena ia perfeksionis, tapi karena ia tahu, di kota, kerapian sering dipahami sebagai kompetensi.
Dan kompetensi sering dikira karakter.
Ia memulai hari seperti ritual: kopi hitam, daftar prioritas, checklist target, dan satu kalimat motivasi yang ia kutip lalu ia ubah jadi miliknya sendiri:
“Kerja keras itu mulia. Tapi kerja tanpa jeda itu bunuh diri yang pelan.”
Jayeng bukan tipe yang suka mengeluh. Di lingkaran pergaulannya—orang-orang yang portofolionya berlapis: bisnis properti, saham, coffee chain, agency kreatif, perusahaan keluarga, sekolah internasional untuk anak, sampai rencana ekspansi ke luar negeri—mengeluh itu seperti mengakui kelemahan.
Mereka tidak suka kelemahan. Mereka hanya suka “tantangan”.
Jayeng tahu cara bicara dengan mereka. Ia bisa menyesuaikan nada, bahasa, dan jeda. Ia bisa membuat seorang pemilik usaha merasa dihargai, seorang direktur merasa dipahami, seorang investor merasa diistimewakan.
Tapi Jayeng juga tahu satu hal yang tidak pernah ia ajarkan di kelas networking:
semua orang ingin terlihat kuat, karena semua orang diam-diam takut runtuh.
Siang itu, ia menghadiri rapat di gedung kaca yang lobbynya wangi seperti uang baru. Di lift, ia bertemu Umar—teman lama yang dulu sama-sama merintis dari nol, lalu memilih jalan berbeda.
Umar masih seperti dulu: ramah, cepat, penuh janji, dan selalu punya cara membuat dirinya tampak sebagai solusi.
“Jayeng,” sapa Umar, memeluk bahu seperti saudara. “Kamu makin mahal, ya?”
Jayeng tertawa kecil. “Mahal itu relatif.”
Umar menepuk dadanya sendiri. “Aku sekarang pegang proyek edukasi juga. Tapi beda—lebih scale. Kamu harus gabung. Kita bikin sekolah bisnis buat kelas menengah atas yang pengin kelihatan sukses, tapi nggak punya arah.”
Kalimat Umar seperti lucu, tapi ada pisau di dalamnya.
Karena Jayeng tahu: sebagian besar klien mereka memang seperti itu. Mereka punya uang, punya akses, punya panggung. Tapi di balik panggung, mereka punya satu pertanyaan yang mereka malu tanyakan:
“Sebenarnya aku ini sedang hidup, atau sedang menjalankan hidup orang lain?”
Jayeng menatap Umar. Ada masa ia percaya penuh pada Umar—masa di mana mereka sama-sama miskin waktu, miskin jaringan, miskin pengalaman, tapi kaya harapan. Lalu harapan itu berubah jadi kompetisi halus.
Umar melanjutkan, “Aku dengar kamu lagi deketin Raden buat investor pitching. Hati-hati. Orang-orang seperti itu suka ‘membeli’ manusia, bukan membeli ide.”
Jayeng tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis.
Umar selalu punya komentar.
Dan komentar selalu punya harga.
Rapat berjalan. Jayeng mempresentasikan strategi komunikasi: bagaimana brand harus membangun trust, bagaimana tim harus dilatih untuk presence dan precision, bagaimana pelanggan kelas menengah ke atas tidak membeli produk—mereka membeli rasa aman, rasa bangga, rasa “aku pantas”.
Raden duduk di ujung meja, wajahnya tenang, tapi matanya seperti kamera: merekam detail.
Setelah presentasi selesai, Raden berkata singkat, “Bagus. Tapi terlalu manusiawi.”
Jayeng mengernyit. “Maksudnya?”
Raden menatapnya. “Investor mau angka. Mereka mau kalkulasi. Manusia itu bonus.”
Jayeng menahan napas.
Ada kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi ia simpan.
Karena ia sudah cukup dewasa untuk tahu: tidak semua kebenaran perlu disuarakan di ruangan yang salah.
Ia hanya berkata, “Baik. Saya sesuaikan.”
Di lift pulang, Jayeng berdiri sendiri. Cermin lift memantulkan wajahnya dari berbagai sudut. Ia terlihat sukses—setidaknya dari luar. Tapi dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang tidak menemukan jalan keluar.
Ia teringat pesan yang ia tulis sendiri: relieve stress dengan aktivitas sosial.
Jayeng menatap ponselnya, membuka daftar kontak. Banyak nama: Dewi, Muninggar, Wulan, Panji, Ranggalawe, bahkan Menak—teman lama yang sekarang jadi pemilik restoran fine dining dan sering bicara tentang “legacy”.
Jayeng ragu.
Bagi orang seperti Jayeng, mengajak orang bertemu bukan masalah.
Yang sulit adalah: mengizinkan diri benar-benar hadir.
.
Pertengahan pekan: kopi, tawa dan ruang yang menguji
Ia akhirnya datang ke sebuah bar kecil di rooftop hotel butik. Musiknya tidak keras, tapi cukup untuk membuat orang merasa hidup. Lampu-lampu temaram, meja kayu, dan aroma citrus dari cocktail yang namanya terlalu puitis.
Di sana sudah ada Dewi—teman yang sejak dulu selalu jujur, bahkan ketika kejujuran itu tidak nyaman. Dewi bekerja di bidang pendidikan. Ia punya lembaga pelatihan untuk anak-anak eksekutif: kelas public speaking, etika komunikasi, dan emotional regulation yang mahal.
Dewi memeluk Jayeng singkat. “Kamu keliatan capek.”
Jayeng tersenyum. “Semua orang juga capek.”
Dewi menatapnya lama. “Kamu capek yang beda.”
Jayeng tidak menjawab. Ia duduk, memesan air mineral. Dewi tertawa kecil. “Kamu tetap saja. Datang ke bar, pesan air.”
Jayeng mengangkat bahu. “Aku cuma butuh suara manusia. Bukan alkohol.”
Dewi mencondongkan badan. “Jayeng, kamu itu ahli networking. Tapi kamu lupa satu hal: networking itu bukan soal banyak kenalan. Networking itu soal punya tempat pulang.”
Kalimat itu menampar pelan.
Jayeng menatap gelasnya. Di permukaan air, lampu-lampu kota memantul seperti bintang palsu.
Dewi melanjutkan, “Aku lihat kamu makin sukses. Klien kamu makin ‘atas’. Tapi aku juga lihat kamu makin sendirian.”
Jayeng tertawa kecil, tapi ada serak di ujungnya. “Sendiri itu pilihan.”
Dewi mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu, kadang kita bilang ‘pilihan’ untuk menutupi ‘ketakutan’.”
Jayeng menelan napas.
Ia ingin membantah. Tapi ia terlalu lelah untuk berdebat.
Mereka bicara tentang banyak hal: proyek, tren bisnis, diversifikasi usaha, orang-orang yang tiba-tiba berubah setelah punya uang, dan anak-anak muda yang lebih cepat paham teknologi daripada memahami dirinya sendiri.
Dewi bercerita tentang murid-muridnya: anak-anak dari keluarga mapan yang tidak kekurangan fasilitas, tapi kekurangan percakapan hangat di rumah. Anak-anak yang bisa presentasi dengan percaya diri, tapi menangis diam-diam di toilet karena merasa tidak cukup untuk orang tuanya.
Jayeng mendengarkan, dan tiba-tiba merasa seperti melihat dirinya sendiri versi dewasa: bisa bicara di depan ratusan orang, tapi tidak tahu cara meminta pelukan tanpa merasa lemah.
Di tengah percakapan, ponsel Jayeng bergetar. Pesan dari Umar:
“Hati-hati sama Raden. Aku punya info. Nanti aku jelasin.”
Jayeng menatap pesan itu lama. Ia tidak membalas.
Dewi memperhatikan. “Umar?”
Jayeng mengangguk.
Dewi menghela napas. “Kadang yang paling berbahaya bukan musuh. Tapi teman yang merasa kamu saingan.”
Jayeng menatap Dewi.
Kota di belakang mereka tetap ramai, tapi di meja itu ada hening yang terasa penting.
Jayeng menulis sesuatu di catatan ponsel:
“Jangan salah pilih lingkaran. Karena lingkaran menentukan arah.”
Dewi tersenyum tipis. “Bagus. Tapi jangan cuma ditulis. Dilakukan.”
Jayeng mengangguk, pelan.
Malam itu, Jayeng pulang dengan sesuatu yang jarang ia bawa pulang: rasa ringan.
Bukan karena masalah selesai.
Tapi karena ia ingat: ia tidak harus memikul semuanya sendirian.
.
Menjelang akhir pekan: kepala menunduk, target meninggi
Setelah pertemuan itu, Jayeng kembali ke mode yang paling ia kenal: fokus.
Ia menundukkan kepala, menyusun angka, merapikan deck, menyiapkan narasi yang lebih “aman” untuk investor. Ia menukar metafora dengan kalkulasi. Ia mengganti kalimat “manusia” menjadi “unit economics”.
Di layar laptop, kalimat demi kalimat berubah.
Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang tetap menyala: pertanyaan tentang makna.
Pada jam-jam malam, apartemen kembali sunyi. Jayeng menatap koper kabin. Ia ingat dulu ia suka bepergian karena ingin melihat dunia. Sekarang, ia bepergian karena ingin lari dari sunyi.
Ia membuka email: undangan gala charity dari Menak—teman lama yang sekarang dikenal di lingkaran sosial kelas menengah atas. Menak mengundang Jayeng sebagai pembicara singkat tentang “profesionalisme dan kebermanfaatan”.
Jayeng hampir menolak. Tapi ia ingat kalimat Dewi: tempat pulang.
Ia membalas: “Saya datang.”
Pada hari presentasi, Jayeng berdiri di ruangan rapat besar. Raden duduk, investor duduk, semua mata menatap. Jayeng memulai dengan data, angka, proyeksi. Ia membuat semuanya tampak logis, faktual, bisa dihitung.
Di tengah presentasi, ia menyelipkan satu kalimat yang ia pertahankan diam-diam:
“Bisnis yang sehat bukan hanya yang tumbuh cepat, tapi yang membuat orang di dalamnya tetap manusia.”
Raden menatapnya. Ada kilat kecil di matanya—entah setuju, entah tidak suka. Investor diam. Lalu salah satu investor bertanya tentang risiko.
Jayeng menjawab dengan tenang.
Di akhir presentasi, ruangan tidak meledak dengan tepuk tangan. Tapi ada satu hal yang Jayeng tangkap: seorang investor tua menatapnya seolah berkata, anak muda ini tidak cuma pintar, tapi punya hati.
Jayeng keluar ruangan, napasnya panjang. Di lorong, Umar menunggunya.
“Jayeng,” kata Umar, suaranya pelan. “Aku serius. Raden itu main dua kaki. Dia bisa pakai kamu, lalu buang kamu.”
Jayeng menatap Umar. “Kamu tahu dari mana?”
Umar mengangkat bahu. “Network.”
Jayeng tertawa kecil—pahit. “Lucu ya. Kita sama-sama master networking, tapi kita pakai itu untuk hal yang berbeda.”
Umar mengernyit. “Kamu nuduh aku?”
Jayeng menggeleng. “Aku cuma lagi belajar memilah.”
Umar mendekat, suaranya lebih tajam. “Kamu pikir kamu bisa berdiri sendiri?”
Jayeng menatap Umar, lama.
Lalu ia berkata pelan, kalimat yang keluar seperti keputusan:
“Aku sudah berdiri sendiri dari awal. Aku cuma sempat lupa.”
Umar diam.
Jayeng berjalan pergi.
Di lift, Jayeng menatap pantulan wajahnya. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa… lega.
Kadang, kemenangan bukan ketika kita membuat orang lain kalah.
Tapi ketika kita berhenti membuat diri sendiri kecil demi diterima.
.
Puncak akhir pekan: Brilliant, attractive, dan satu kalimat yang mengubah arah
Gala charity itu diadakan di ballroom hotel yang lampunya hangat. Orang-orang berpakaian rapi, parfum mahal, dan senyum yang terlatih. Musik klasik mengalun pelan.
Jayeng datang sendirian. Tapi anehnya, ia tidak merasa kesepian.
Ada masa di hidupnya ketika datang sendirian terasa seperti kekalahan. Sekarang, datang sendirian terasa seperti pilihan yang dewasa: ia bisa hadir tanpa perlu ditemani, karena ia mulai menemani dirinya sendiri.
Menak menyambutnya dengan pelukan singkat. “Jayeng, kamu makin matang.”
Jayeng tertawa kecil. “Atau makin lelah.”
Menak menepuk pundaknya. “Lelah itu wajar. Tapi jangan sampai lelahmu membuat kamu lupa kenapa kamu mulai.”
Jayeng terdiam.
Di panggung kecil, Jayeng diminta bicara lima menit. Ia berdiri di depan mikrofon, melihat wajah-wajah yang mapan. Ia tahu, mereka tidak butuh motivasi murahan. Mereka butuh kejujuran yang elegan.
Jayeng berkata:
“Di kota, kita diajari satu hal: jangan kalah.
Tapi jarang ada yang mengajari: jangan kehilangan diri sendiri ketika menang.
Kita belajar diversifikasi karier, bisnis, investasi, pendidikan terbaik. Itu penting. Tapi ada satu investasi yang paling jarang kita rawat: investasi pada jiwa kita sendiri.
Saya percaya, keberhasilan itu bukan cuma angka. Keberhasilan itu adalah ketika Anda pulang ke rumah dan masih punya tenaga untuk mencintai orang-orang yang Anda sebut ‘penting’.”
Ballroom hening. Hening yang baik.
Jayeng melanjutkan, suaranya pelan:
“Kalau hidup Anda penuh agenda tapi kosong makna, mungkin bukan waktunya menambah target.
Mungkin waktunya menambah rasa.”
Ia menutup dengan satu kalimat:
“Karier bisa berhenti saat kita berhenti bekerja. Tapi kebermanfaatan bisa terus hidup bahkan saat nama kita tidak lagi disebut.”
Tepuk tangan muncul—tidak meledak, tapi hangat.
Jayeng turun panggung. Dadanya terasa ringan. Ia tidak tahu kenapa, tapi malam itu ia merasa lebih… brilliant. Seperti ada cahaya dari dalam yang tidak ia paksakan.
Saat ia mengambil air minum, seseorang memanggil namanya.
“Jayeng.”
Ia menoleh.
Muninggar berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tidak berubah banyak, hanya lebih tenang. Di matanya ada sesuatu yang dulu membuat Jayeng selalu ingin pulang—padahal Jayeng tidak pernah benar-benar tinggal.
Jayeng membeku beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Kamu.”
Muninggar mendekat. “Aku dengar kamu bicara. Kamu masih sama. Puitis, tapi tetap logis.”
Jayeng tertawa pelan. “Aku belajar… menyatukan keduanya.”
Mereka berjalan ke sudut ballroom yang lebih sepi. Di sana, suara musik jadi latar, bukan gangguan.
Muninggar menatap Jayeng. “Kamu masih sibuk?”
Jayeng mengangguk. “Selalu.”
Muninggar tersenyum tipis. “Kamu sadar nggak, sibuk itu sering jadi cara orang menghindari percakapan dengan dirinya sendiri?”
Jayeng menelan napas.
Muninggar melanjutkan, lembut tapi tegas: “Aku nggak datang untuk mengulang masa lalu. Aku cuma mau bilang… aku senang lihat kamu akhirnya terlihat ‘hadir’. Dulu kamu selalu ada, tapi seperti tidak benar-benar di tempatmu.”
Jayeng menatap Muninggar. Ada rasa yang naik ke tenggorokan—rasa yang lama ia sembunyikan di balik agenda dan penerbangan.
“Aku takut,” kata Jayeng, jujur. “Takut kalau aku berhenti, aku jadi tidak berarti.”
Muninggar menggeleng. “Berarti itu bukan karena kamu bergerak terus. Berarti itu karena kamu punya hati yang tidak kamu gadaikan.”
Jayeng menutup mata sebentar. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang runtuh—bukan runtuh yang menghancurkan, tapi runtuh yang membebaskan.
Muninggar berkata lagi, pelan:
“Kamu itu menarik bukan karena kamu sukses. Kamu menarik karena kamu punya keberanian untuk tetap belajar. Jangan hilangkan itu hanya demi validasi.”
Jayeng menatap Muninggar, dan untuk pertama kali setelah lama, ia merasa… cantik dari dalam. Bukan cantik fisik. Cantik karena jujur.
Mereka tidak berjanji apa-apa. Tidak ada drama. Tidak ada adegan memohon. Hanya dua orang dewasa yang bertemu, saling mengakui luka, lalu memberi ruang.
Di akhir percakapan, Muninggar berkata:
“Kalau kamu mau, sesekali jangan cuma networking untuk karier. Networkinglah untuk hidupmu.”
Jayeng tersenyum—tangisnya hampir jatuh.
“Aku akan coba,” jawabnya.
Muninggar mengangguk. “Bagus. Karena kamu tidak harus selalu kuat sendirian.”
.
Pulang: apartemen, sunyi, dan jeda yang akhirnya menyembuhkan
Malam itu Jayeng pulang ke apartemen dengan langkah pelan. Kota masih menyala. Tapi di dadanya, ada sesuatu yang lebih terang: pengertian.
Ia duduk di sofa, membuka ponsel, lalu menulis satu catatan yang kali ini ia simpan:
“Ambisi itu baik. Tapi ambisi yang tidak tahu jeda akan mengubahmu jadi mesin—dan mesin tidak bisa mencintai.”
Jayeng memikirkan hidupnya yang terdiversifikasi: proyek konsultasi, bisnis kecil, kelas pelatihan, jaringan lintas kota, pertemuan-pertemuan yang membuatnya tampak penting. Ia bisa terus seperti itu. Ia bisa terus naik.
Tapi malam itu ia sadar: naik tanpa arah sama saja seperti berlari di treadmill—keringat banyak, tapi tetap di tempat.
Ia memutuskan satu hal kecil, tapi nyata:
ia akan menjadwalkan pertemuan sosial bukan sebagai “strategi”, tapi sebagai “perawatan”.
Ia akan mengizinkan diri tertawa tanpa agenda.
Ia akan bekerja keras, tapi juga belajar pulang—kepada tubuh, kepada hati, kepada manusia.
Di luar, kota tetap bising.
Namun Jayeng akhirnya mengerti:
Sunyi bukan musuh. Sunyi adalah ruang untuk jujur.
Dan di ruang jujur itu, ia tidak lagi merasa kalah karena sendiri.
Ia hanya merasa sedang membangun hidup yang lebih utuh.
Sebelum tidur, ia menatap koper kabin. Untuk pertama kali, koper itu tidak terlihat seperti alat pelarian. Ia terlihat seperti alat perjalanan—perjalanan yang sekarang tidak selalu menjauh, tapi juga bisa kembali.
Jayeng memejamkan mata.
Dan kota, untuk sekali ini, terasa seperti mengerti.
.
.
.
Malang, 19 Januari 2025
.
.
#CerpenKompas #CerpenUrban #CerpenIndonesia #KelasMenengahAtas #Karier #Ambisi #Networking #Bisnis #Edukasi #RefleksiHidup #HealingJourney #SelfRespect #Kebermanfaatan #Storytelling #Emosional
.
Quotes tambahan
-
“Kesibukan yang tidak punya jeda akan mengubahmu menjadi orang asing bagi dirimu sendiri.”
-
“Networking terbaik adalah yang membuatmu punya tempat pulang, bukan sekadar tempat singgah.”
-
“Kadang yang kamu butuhkan bukan target baru, tapi napas yang baru.”
-
“Ambisi itu sehat, selama ia tidak memakan hatimu.”
-
“Berhasil itu bukan hanya terlihat hebat—tapi tetap manusia.”