Tenaga yang Kupakai untuk Memuliakan Diriku

“Berjuang itu perlu nalar, bukan cuma hati.
Kalau yang kamu perjuangkan saja tak merasa butuh,
lebih baik tenagamu dipakai untuk memuliakan dirimu sendiri.”
—(catatan yang terlambat kubaca, tapi akhirnya menyelamatkan)

.

Pada jam-jam ketika Jakarta seperti lupa cara bernapas—pukul delapan malam, lampu-lampu gedung masih menyala seolah seluruh kota sedang menahan kantuk—Jayengrana duduk sendirian di dalam mobil, menatap hujan yang jatuh tipis di kaca depan.

Ia tidak menyalakan mesin. Tidak menyalakan musik. Tidak menjawab pesan.

Di dashboard, notifikasi berkedip-kedip: rapat besok, revisi pitch deck, reminder pembayaran sekolah keponakan, undangan makan malam keluarga, dan satu chat yang paling ia takutkan namun paling ia tunggu: dari Muninggar.

Sejak sore, pesan itu tak kunjung masuk.

Jayengrana menatap ponselnya seperti menatap pintu rumah yang belum berani diketuk. Seperti menatap masa depan yang ia sendiri bangun, tetapi entah kenapa kini terasa bukan miliknya lagi.

Di luar, air menetes pelan dari atap parkiran sebuah mall di kawasan Sudirman. Mall itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia seperti kelas menengah ke atas Jakarta yang tak pernah sungguh-sungguh istirahat: selalu ada yang dikejar, selalu ada yang harus dibuktikan, selalu ada yang harus terlihat berhasil—setidaknya di feed.

Dan Jayengrana, yang dulu percaya bahwa kerja keras adalah bentuk cinta, mulai curiga: mungkin ia salah menerjemahkan.

Ia menoleh ke kursi penumpang. Di sana ada map tebal, bertuliskan spidol: “Rencana Ekspansi — Q1”. Di bawahnya, tulisan yang lebih kecil: “Untuk Masa Depan Kita.”

Kita.

Kata itu kini terasa seperti kaca: bening, indah, tapi mudah pecah hanya oleh satu kalimat yang tidak diucapkan.

Ia memejamkan mata. Mengingat suara Umarmaya siang tadi di kantor.

“Mas, aku tanya satu hal. Jangan marah.”

Jayengrana tersenyum tipis. “Kamu kalau tanya duluan ‘jangan marah’, biasanya pertanyaannya memang bikin marah.”

Umarmaya—kawan lama yang naik kelas karier bersama-sama sejak masih sama-sama magang—menghela napas.

“Mas masih yakin… ini semua masih saling?”

Jayengrana tidak menjawab.

Umarmaya melanjutkan pelan, tidak menggurui, hanya seperti orang yang tidak ingin temannya tenggelam tanpa sempat tahu bahwa ia sedang tenggelam.

“Kadang, kita itu bukan sedang membangun. Kita cuma sedang membuktikan. Dan yang paling capek… membuktikan pada orang yang tidak sedang menunggu.”

Jayengrana ingin menepis. Ingin bilang: “Kamu tidak tahu apa-apa.” Tapi kalimat itu macet di tenggorokan. Karena ia sendiri mulai tahu: beberapa perjuangan terasa seperti berlari di treadmill—keringatnya nyata, tapi jaraknya nol.

Ia membuka mata.

Hujan makin rapat. Lampu-lampu memantul di aspal seperti bintang yang jatuh dan patah berkeping-keping.

Di kejauhan, ia melihat sosok perempuan berpayung hitam berjalan cepat menuju lobi. Sepatu haknya mengetuk lantai. Rambutnya rapi. Tubuhnya tegak. Seorang perempuan yang kalau berjalan, seolah tidak mau memberi celah pada hidup untuk meremehkannya.

Jayengrana tiba-tiba teringat Muninggar: perempuan yang sama tegaknya, sama rapi, sama… sulit ditebak apakah ia sedang bertahan atau sudah menyerah.

Ia meraih ponsel.

Chat Muninggar masih sunyi.

Jayengrana menekan nama itu, lalu mengetik pelan:
“Kamu di mana?”

Dikirim.

Ia menunggu.

Tak ada centang biru.

Hanya hujan. Hanya lampu. Hanya dirinya sendiri—dan suara dalam dada yang mulai berani berkata jujur: mungkin ia telah terlalu lama mengira cinta itu harus selalu dibayar dengan lelah.

.

Jayengrana bukan anak orang susah. Tapi juga bukan anak yang hidupnya dimanjakan tanpa tuntutan.

Ayahnya, seorang kontraktor yang membangun ruko-ruko dan gudang di pinggiran kota, membesarkan anaknya dengan satu kitab tebal bernama harus bisa. Ibunya, mantan guru yang kemudian mengelola bimbingan belajar kecil-kecilan di rumah, mengajarkan satu hal yang lebih halus: jangan jadi orang yang tidak punya harga diri.

Ketika Jayengrana lulus SMA di Surabaya, ia merantau ke Jakarta. Kuliah manajemen di kampus swasta yang mahal, bukan karena gengsi, tapi karena ayahnya percaya “jejaring itu investasi.”

Ia menelan semua itu seperti vitamin: disiplin, target, koneksi, presentasi, bahasa Inggris, sertifikasi, networking dinner dengan senyum yang dijaga.

Kariernya naik cepat. Konsultan bisnis. Lalu masuk korporasi. Lalu memimpin tim strategi. Umarmaya ikut di belakangnya, seperti bayangan yang setia—bukan karena tidak punya ambisi, tetapi karena ia percaya pada Jayengrana.

“Kamu itu magnet,” kata Umarmaya suatu malam ketika mereka merayakan promosi. “Orang-orang percaya sama kamu.”

Jayengrana tertawa. “Orang percaya sama angka. Aku cuma bikin angka itu terdengar seperti harapan.”

Di tahun ketujuh, Jayengrana bertemu Muninggar di sebuah forum pendidikan. Muninggar membawakan presentasi tentang kesenjangan literasi dan mimpi anak-anak kota yang terlalu cepat dewasa karena tuntutan keluarga.

Ia bicara tanpa banyak gaya. Tidak terlihat seperti orang yang sedang menjual gagasan. Lebih seperti orang yang sedang memperjuangkan sesuatu yang ia kenal secara personal.

Jayengrana terkesan. Bukan karena Muninggar pintar—di kelas mereka, pintar itu biasa. Ia terkesan karena Muninggar tampak tahu untuk siapa ia bekerja.

Mereka mulai dekat. Muninggar mengelola learning center premium di Jakarta Selatan—tempat les yang bukan sekadar “bimbingan belajar”, tapi “ekosistem prestasi”: konselor, psikolog, kelas public speaking, coding, sampai persiapan masuk kampus luar negeri.

Kliennya anak-anak dari keluarga mapan: apartemen, mobil dua, liburan tahunan, tapi tetap cemas. Karena di atas, cemasnya bukan soal makan—cemasnya soal menang.

Muniggar sering berkata, “Kelas menengah ke atas itu paradoks. Mereka punya banyak pintu, tapi tetap takut salah memilih pintu. Karena salah pintu artinya turun kelas.”

Jayengrana jatuh hati pada cara Muninggar melihat dunia: jernih, tapi tidak sinis. Peduli, tapi tidak cengeng. Tegas, tapi tidak memamerkan ketegasan.

Mereka membangun rencana. Membicarakan masa depan. Membicarakan rumah yang tidak harus besar, tapi harus terasa pulang. Membicarakan usaha yang tidak hanya untung, tapi juga punya makna.

Jayengrana bahkan mulai menyiapkan exit plan dari korporasi. Ia ingin membuat konsultan bisnis yang fokus pada transformasi edukasi dan hospitality—dua dunia yang menurutnya sama: melayani manusia, mengelola harapan, menjaga pengalaman.

Saat itu, semuanya terasa selaras. Seperti dua orang yang berjalan dalam hujan, dan hujan itu bukan masalah—karena mereka memayungi satu sama lain.

Sampai Nursewan muncul.

.

Nursewan bukan nama asli. Itu nama panggilan yang melekat sejak awal Jayengrana masuk korporasi.

Bos besar. Investor internal. Orang yang bisa membuat rapat berhenti hanya dengan batuk.

Ia selalu berpakaian rapi, dengan jam tangan yang tidak perlu terlihat mahal—karena aura kekuasaan sudah cukup menjadi aksesori. Nursewan jarang marah. Ia hanya membuat orang lain merasa bersalah karena tidak secepat pikirannya.

Ketika Jayengrana mengajukan ide membangun unit bisnis konsultasi untuk pendidikan dan hospitality, Nursewan tertarik.

“Ini bisa jadi legacy,” kata Nursewan di ruang rapat kaca. “Tapi legacy itu tidak dibangun oleh idealisme. Dibangun oleh kontrol.”

Jayengrana mengangguk. Ia mengira itu sekadar gaya bicara korporat. Ia tidak tahu bahwa kata “kontrol” itu bukan metafora. Itu kontrak. Itu klausul. Itu jebakan yang halus.

Nursewan menawarkan modal. Menawarkan akses. Menawarkan pintu-pintu yang selama ini hanya bisa dilihat dari luar.

Jayengrana tergoda. Muninggar juga tampak mendukung, walau ada ragu di matanya.

“Aku takut kamu nanti bukan lagi punya hidupmu sendiri,” kata Muninggar suatu malam.

Jayengrana meraih tangannya. “Ini buat kita.”

Muniggar tersenyum kecil. “Aku tahu. Tapi kadang ‘buat kita’ itu alasan paling manis untuk mengorbankan diri.”

Jayengrana mencium keningnya, mengira cinta bisa menutup semua lubang.

Setelah deal, Nursewan meminta satu orang tambahan “untuk menjaga ritme eksekusi.”

Masuklah Umarmadi.

Umarmadi juga bukan nama asli. Tapi cocok: ia cepat, tajam, dan punya ambisi yang berkilau. Ia datang dari dunia startup, pernah gagal dua kali, lalu belajar memoles kegagalan itu jadi “pengalaman.”

Di meja rapat, Umarmadi bicara dengan percaya diri, memakai istilah-istilah yang terdengar seperti masa depan: scalability, growth hacking, pipeline, conversion, retention.

Jayengrana menyukai energinya. Muninggar tidak.

“Aku tidak suka cara dia menatapmu,” kata Muninggar setelah rapat pertama.

“Menatapku?” Jayengrana tertawa. “Dia menatap peluang.”

“Ya,” kata Muninggar. “Itu dia.”

Jayengrana mengabaikan. Karena dalam dunia bisnis, kita sering menertawakan intuisi—sampai intuisi itu terbukti benar.

.

Proyek berjalan cepat. Terlalu cepat.

Jayengrana mulai pulang lebih malam. Muninggar mulai lebih sering menunggu sendirian.

Kafe-kafe di Jakarta Selatan jadi saksi: gelas kopi yang dingin, laptop yang menyala sampai baterainya habis, dan obrolan yang selalu berakhir dengan kalimat, “Maaf ya, aku harus angkat telepon.”

Muninggar tidak pernah menuntut secara kasar. Ia hanya makin sering diam. Dan diam Muninggar bukan diam yang manja. Diam Muninggar seperti pintu yang ditutup perlahan—tanpa suara, tapi pasti.

Suatu malam, ketika Jayengrana pulang dengan wajah lelah dan mata masih menyimpan angka-angka, ia mendapati Muninggar duduk di ruang tamu, membuka map.

Map itu berisi brosur sekolah luar negeri. Jadwal konsultasi. Rencana pindah.

Jayengrana mengerutkan dahi. “Ini apa?”

Muninggar menatapnya tanpa marah. “Kesempatan.”

“Kesempatan siapa?”

“Kesempatanku.”

Jayengrana menelan ludah. “Kamu mau pergi?”

Muninggar menghela napas. “Aku dapat tawaran. Program kemitraan edukasi di Singapura. Dua tahun. Bisa jadi besar.”

Jayengrana ingin berkata: “Kita bisa besar di sini.” Tapi ia ingat, selama ini “kita” sering berarti “aku.”

“Kita gimana?” suaranya kecil.

Muninggar tersenyum pahit. “Aku juga ingin tanya itu. Kita gimana, Jay?”

Ada jeda panjang. Dalam jeda itu, Jayengrana menyadari: ia telah terlalu sibuk membangun masa depan sampai lupa merawat hari ini.

“Kamu kenapa baru bilang sekarang?”

Muninggar menatapnya. “Aku sudah bilang berkali-kali. Kamu yang tidak sedang hadir.”

Kalimat itu seperti ditampar pelan tapi tepat.

Jayengrana mencoba meraih tangan Muninggar. Muninggar tidak menepis. Tapi tangannya dingin.

“Aku berjuang,” kata Jayengrana.

Muninggar mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tidak pernah minta kamu berjuang sampai lupa cara mencintai.”

Jayengrana membuka mulut, tapi tak ada pembelaan yang terdengar cukup dewasa.

Muninggar menutup map perlahan.

“Aku capek jadi alasan dalam pitch deck,” katanya pelan. “Aku ingin jadi rumah.”

.

Di kantor, Umarmadi makin dominan. Ia mulai mengatur jadwal tanpa bertanya. Mulai memutuskan tanpa berdiskusi. Mulai menempatkan Jayengrana bukan sebagai pendiri, tapi sebagai “wajah” di depan klien.

Nursewan menyukai itu. Karena wajah bisa diganti. Kontrol tetap di tangan.

Umarmaya melihat semua itu, tapi ia memilih menunggu momen yang tepat untuk bicara.

Momen itu datang ketika Jayengrana diminta menandatangani dokumen baru: perubahan struktur saham.

“Ini normal,” kata Umarmadi. “Untuk efisiensi. Untuk investor confidence.”

Jayengrana membaca. Ada satu pasal kecil: keputusan strategis dapat diambil tanpa persetujuan Jayengrana bila “demi kepentingan perusahaan.”

Jayengrana menatap Nursewan.

Nursewan tersenyum. “Kamu kan percaya pada tim.”

Jayengrana menatap Umarmadi.

Umarmadi tersenyum lebih lebar. “Mas, ini bisnis. Jangan baper.”

Di titik itu, Jayengrana merasakan sesuatu retak di dalam dada: bukan hanya soal uang, tapi soal harga diri.

Ia pulang larut, membawa dokumen itu, membawa lelah, membawa resah—dan mendapati rumahnya kosong.

Muninggar tidak ada.

Di meja, ada secarik kertas.

Tulisan tangan Muninggar rapi, seperti hidupnya:
“Aku butuh ruang untuk mendengar diriku sendiri. Jangan cari aku dulu. Kalau kamu benar-benar ingin kita, temukan dulu kamu.”

Jayengrana duduk di lantai.

Ia membaca berkali-kali.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menangis bukan karena kalah, tapi karena sadar: ia telah mengorbankan sesuatu yang paling ia butuhkan—kedekatan—untuk membangun sesuatu yang belum tentu ia miliki.

.

Tiga hari Muninggar menghilang.

Di hari keempat, Jayengrana menerima pesan: “Kita ketemu. Di tempat biasa.”

Tempat biasa mereka dulu: sebuah taman kecil di belakang perpustakaan, jauh dari gemerlap mall. Tempat yang tidak instagrammable, tapi selalu terasa jujur.

Jayengrana datang lebih dulu.

Ia duduk di bangku kayu, menatap daun-daun basah.

Muninggar datang dengan langkah pelan. Wajahnya tenang, tapi matanya seperti habis menampung badai.

Jayengrana berdiri. “Kamu baik?”

Muninggar mengangguk. “Aku hidup.”

Jayengrana tertawa getir. “Aku tidak.”

Muninggar duduk. “Jay…”

Jayengrana menelan napas. “Aku tidak tahu kapan aku berubah jadi orang yang selalu sibuk. Aku kira itu bentuk tanggung jawab.”

Muninggar menatapnya lama. “Tanggung jawab itu bukan selalu menambah beban. Kadang tanggung jawab itu… berhenti.”

Jayengrana mengerut. “Berhenti?”

Muninggar mengangguk. “Berhenti mengejar yang tidak mengejar kamu. Berhenti membuktikan sesuatu pada orang yang tidak akan pernah cukup. Berhenti menjadikan aku alasan untuk kamu merasa benar.”

Kalimat-kalimat itu tajam, tapi tidak kejam. Seperti pisau bedah: sakit, tapi menyelamatkan.

Jayengrana menunduk. “Aku takut gagal.”

Muninggar tersenyum sedih. “Kita semua takut. Tapi kamu tahu yang lebih menakutkan? Berhasil—tapi kehilangan dirimu sendiri.”

Jayengrana terdiam.

Muninggar melanjutkan, suaranya pelan, tapi jelas.

“Aku sayang kamu. Tapi aku tidak bisa mencintai seseorang yang selalu menghilang demi mengejar validasi.”

Jayengrana mengangkat kepala. “Aku bisa berubah.”

Muninggar menghela napas. “Aku percaya kamu bisa. Tapi aku tidak bisa menunda hidupku sambil menunggu kamu sadar.”

Jayengrana merasakan dada sesak. Ia ingin memohon. Ingin bersujud. Ingin melakukan apa pun.

Tapi tiba-tiba ia teringat kalimat yang pernah ibunya ucapkan saat ia kecil, ketika ia memaksa bertahan di klub basket yang sudah jelas tidak menghargainya:

“Nak, jangan jadi orang yang mengemis tempat di hati orang lain. Kamu bukan pengemis. Kamu manusia.”

Jayengrana memejamkan mata. Ia baru paham: cinta pun punya martabat.

“Apa yang kamu mau sekarang?” tanyanya lirih.

Muninggar menatap langit yang abu-abu. “Aku mau kamu pulang ke dirimu. Aku mau kamu belajar memuliakan dirimu sendiri. Kalau nanti kita masih ditakdirkan… kita ketemu lagi dengan versi kita yang lebih utuh.”

Jayengrana menahan air mata. “Kalau tidak?”

Muninggar tersenyum pahit. “Kalau tidak… setidaknya kita tidak saling merusak.”

.

Malam itu, Jayengrana kembali ke kantor. Bukan untuk bekerja. Tapi untuk memutuskan.

Ia memanggil Umarmaya. Mereka duduk di ruang rapat kecil.

Jayengrana meletakkan dokumen perubahan saham di meja.

“Aku keluar,” kata Jayengrana.

Umarmaya tidak terkejut. Seolah ia sudah menunggu kalimat itu sejak lama.

“Mas yakin?”

Jayengrana mengangguk. “Aku kehilangan banyak hal. Tapi aku tidak mau kehilangan diriku juga.”

Umarmaya tersenyum tipis. “Akhirnya.”

Jayengrana menatapnya. “Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”

Umarmaya menghela napas. “Aku bilang. Tapi kamu mendengarnya seperti notifikasi: masuk, lalu kamu swipe.”

Jayengrana tertawa kecil. Pahit.

Mereka menyiapkan surat. Menyiapkan perhitungan. Menyiapkan konsekuensi.

Ketika Nursewan tahu, ia memanggil Jayengrana.

Di ruang besar, Nursewan menatapnya seperti menatap anak yang dianggap salah paham.

“Kamu emosional,” kata Nursewan. “Bisnis bukan tempat untuk perasaan.”

Jayengrana menatap balik. “Justru karena bisnis sering menyingkirkan perasaan, banyak orang jadi kehilangan kemanusiaan. Saya tidak mau jadi salah satunya.”

Nursewan menyipit. “Kamu pikir kamu bisa berdiri sendiri?”

Jayengrana tersenyum kecil. “Saya tidak tahu. Tapi saya tahu satu hal: saya tidak bisa berdiri kalau kaki saya diinjak.”

Nursewan tertawa pelan. “Idealismemu mahal.”

Jayengrana mengangguk. “Tapi harga diri lebih mahal.”

Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terasa ringan, meski masa depan di depan masih gelap.

Di lift, Umarmaya berdiri di sampingnya, menepuk bahunya.

“Mas,” katanya pelan, “kamu baru saja berpisah dari penjara yang pintunya tidak pernah dikunci. Kamu sendiri yang selama ini bertahan di dalam.”

Jayengrana menatap cermin lift. Wajahnya pucat, tapi matanya… seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang.

.

Hari-hari berikutnya seperti detoks: tubuhnya gemetar karena tidak lagi diberi racun yang selama ini dianggap energi.

Ia bangun pagi tanpa rapat. Ia minum kopi tanpa terburu-buru. Ia berjalan kaki tanpa headset. Ia mendengar suara kota dengan cara yang baru: ada burung di sela gedung, ada pedagang kecil di belakang kompleks mewah, ada satpam yang selalu menyapa tapi jarang disapa balik.

Ia mengunjungi ibunya di Surabaya. Duduk di teras rumah, mencium bau masakan yang sederhana tapi menghangatkan.

Ibunya menatapnya lama. “Kamu kenapa kurus?”

Jayengrana tertawa kecil. “Aku kebanyakan makan ambisi.”

Ibunya tidak tertawa. Ia hanya mengangguk pelan.

“Kamu tahu,” kata ibunya, “kelas menengah ke atas itu kadang bukan soal kaya. Tapi soal takut miskin. Mereka capek bukan karena kurang, tapi karena takut turun.”

Jayengrana menatap tangan ibunya yang mulai keriput. Tangan itu pernah memegang kapur tulis, pernah memegang uang belanja, pernah memegang kepalanya ketika ia demam.

“Aku kehilangan Muninggar,” katanya pelan.

Ibunya menghela napas. “Kamu tidak kehilangan. Kamu sedang dikosongkan agar bisa diisi ulang.”

Jayengrana menelan air mata.

Ibunya menambahkan, “Kalau kamu sayang seseorang, jangan jadikan dia panggung untuk membuktikan kamu hebat. Jadikan dia tempat untuk kamu jadi manusia.”

Jayengrana memejamkan mata.

Kalimat itu sederhana. Tapi terasa seperti doa.

.

Bulan ketiga, Jayengrana mulai membangun lagi—dengan cara yang berbeda.

Ia membuka konsultan kecil, bukan di gedung mewah, tapi di ruko sederhana yang dekat kampus. Klien pertamanya bukan konglomerat, tapi sekolah swasta menengah yang ingin memperbaiki sistem layanan, juga hotel kecil yang ingin membenahi budaya kerja.

Ia bekerja bersama Umarmaya, dua orang saja. Mereka menyusun program pelatihan: komunikasi, service excellence, manajemen pengalaman, dan—yang paling Jayengrana tekankan—integritas emosional.

“Kalau kita melayani manusia, kita harus paham manusia,” kata Jayengrana kepada tim kecilnya. “Dan manusia itu bukan cuma KPI.”

Kadang, ia merasa sepi. Seperti rumah yang baru dibangun tapi belum ada penghuni.

Ia masih memikirkan Muninggar.

Tapi kini, ia berusaha tidak mengejarnya dengan panik. Ia belajar: rindu yang dewasa bukan rindu yang memaksa.

Suatu malam, ketika ia sedang merapikan materi pelatihan, ponselnya berbunyi.

Nama Muninggar.

Jayengrana terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Jantungnya seperti ingin melompat keluar.

“Halo,” suaranya parau.

“Halo, Jay,” suara Muninggar terdengar jauh, tapi hangat.

“Kamu di mana?”

“Singapura.”

Jayengrana mengangguk, meski Muninggar tidak melihat. “Kamu… baik?”

“Aku belajar,” jawab Muninggar. “Tentang sistem. Tentang manusia. Tentang diriku.”

Jayengrana menelan napas. “Aku juga.”

Ada jeda. Jeda yang dulu penuh cemas, kini terasa seperti ruang.

Muninggar berkata pelan, “Aku baca tulisanmu. Yang tentang memuliakan diri.”

Jayengrana membeku. Ia memang menulis—seperti terapi. Ia menulis tentang berhenti mengejar yang tidak membutuhkan, tentang harga diri, tentang pulang ke diri sendiri.

“Aku cuma menulis supaya tidak gila,” katanya.

Muninggar tertawa kecil. “Ternyata tulisanmu menolong orang lain juga. Termasuk aku.”

Jayengrana menahan air mata. “Maaf.”

Muninggar menghela napas. “Aku sudah memaafkan. Tapi memaafkan tidak selalu berarti kembali.”

Jayengrana mengangguk. “Aku tahu.”

Muninggar melanjutkan, suaranya lembut: “Aku cuma mau bilang… aku bangga kamu memilih dirimu. Karena dulu, aku mencintaimu bukan karena kamu kuat. Tapi karena kamu punya hati. Sayangnya kamu sempat lupa.”

Jayengrana menutup mata. Air mata jatuh.

“Aku masih sayang kamu,” katanya jujur.

Muninggar diam sebentar. “Aku juga. Tapi aku tidak mau kita saling mengorbankan lagi.”

Jayengrana mengangguk.

Muninggar berkata pelan, seperti menutup buku yang lama dibaca: “Kalau nanti kita bertemu lagi, aku ingin bertemu dengan Jayengrana yang tidak mengemis validasi. Jayengrana yang tahu kapan berhenti. Jayengrana yang… pulang.”

Jayengrana tersenyum di antara tangis. “Aku sedang belajar pulang.”

“Bagus,” jawab Muninggar. “Teruskan.”

Telepon ditutup.

Jayengrana menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Ia merasa sedih.

Tapi untuk pertama kalinya, sedih itu tidak menghancurkan. Sedih itu seperti hujan: basah, dingin, tapi membuat tanah siap ditanami ulang.

Ia teringat kalimat yang pernah ia tulis di kertas kecil dan ditempel tahu-tahu di meja kerjanya:

“Tidak semua yang pergi itu kehilangan.
Kadang itu cara hidup mengajarimu:
yang harus kamu peluk dulu—adalah dirimu sendiri.”

.

Suatu pagi, Jayengrana datang ke kelas pelatihan yang ia isi untuk sekelompok manajer muda. Mereka rapi, wangi, penuh ambisi—versi muda dari dirinya.

Ia memulai bukan dengan teori, tapi dengan cerita.

“Pernah nggak kalian merasa… capek berjuang, tapi seolah tidak ada yang benar-benar butuh perjuangan kalian?”

Ruangan hening.

Jayengrana melanjutkan pelan.

“Kadang kita terjebak menjadi pahlawan untuk orang yang tidak minta diselamatkan. Kita merasa mulia karena berkorban. Padahal, bisa jadi kita hanya takut ditinggalkan, takut dianggap tidak berguna.”

Ia menatap mereka satu-satu.

“Kalau kalian ingin sukses, belajarlah bekerja. Tapi kalau kalian ingin utuh, belajarlah berhenti.”

Seseorang mengangkat tangan. “Pak, berhenti itu bukannya kalah?”

Jayengrana tersenyum.

“Berhenti itu bukan kalah. Berhenti itu memilih diri. Karena tidak semua pertarungan layak ditangisi. Ada pertarungan yang seharusnya ditinggalkan.”

Ia menulis di papan:

Nalar + Martabat = Arah.
Hati tanpa martabat = lelah.

Ia tidak tahu apakah mereka akan ingat materi itu. Tapi ia tahu: ia sedang menebus dirinya sendiri—bukan dengan menjadi sempurna, tapi dengan menjadi sadar.

Selesai sesi, Umarmaya menghampiri.

“Mas,” katanya, “ini versi kamu yang aku tunggu.”

Jayengrana menatapnya. “Versi apa?”

Umarmaya tersenyum. “Versi yang tidak lagi menjadikan kerja sebagai pelarian. Versi yang bisa diam tanpa takut.”

Jayengrana menarik napas panjang. Di dalam dada, masih ada luka. Tapi luka itu kini punya alamat. Tidak liar. Tidak menguasai.

.

Di malam yang lain, Jayengrana kembali duduk di dalam mobil—di parkiran yang sama, di kawasan yang sama.

Tapi kali ini, ia tidak menunggu pesan. Ia tidak menunggu orang.

Ia hanya menatap hujan dan merasa cukup.

Ponselnya berbunyi. Bukan dari Muninggar. Dari seorang klien kecil: kepala sekolah yang berterima kasih karena sistem layanan mereka membaik, guru-guru lebih tenang, murid-murid lebih berani bicara.

Jayengrana tersenyum.

Kadang, keberhasilan bukan tentang gedung tinggi. Tapi tentang orang-orang yang kembali merasa manusia.

Ia membuka kaca sedikit. Udara hujan masuk. Dingin, tapi segar.

Di luar, Jakarta masih berlari. Tapi untuk pertama kali, Jayengrana tidak merasa harus ikut lomba.

Ia menutup mata dan berbisik pelan—bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri:

“Aku tidak akan lagi menghabiskan tenaga
untuk membuktikan aku layak dicintai.
Aku akan membangun hidup yang layak kutinggali.”

Hujan turun pelan, seperti amin.

Dan di tengah kota yang tidak pernah benar-benar tidur, Jayengrana akhirnya menemukan satu hal yang selama ini ia cari di luar:
pulang.

.

.

.

Malang, 15 Januari 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#Cerpen #CerpenKompas #CerpenUrban #Jakarta #KehidupanKota #KelasMenengahAtas #HargaDiri #SelfRespect #Karier #Bisnis #Edukasi #RelasiDewasa #HealingJourney #Reflektif #Storytelling

.

Quotes tambahan cerpen

  • “Kadang yang paling berani bukan yang bertahan, tapi yang tahu kapan berhenti.”

  • “Jangan jadikan lelahmu alat tawar agar dicintai.”

  • “Harga diri adalah rumah. Cinta yang sehat tidak meminta kamu menjual rumah itu.”

  • “Tidak semua yang kamu kejar ingin kamu temukan.”

Leave a Reply