Pagi di Jakarta itu selalu punya cara sendiri untuk terlihat “baik-baik saja”. Seolah kemacetan, target, notifikasi, dan janji-janji rapat yang
“Orang besar bukan yang selalu benar di ruang rapat—melainkan yang tetap santun saat egonya punya alasan untuk menang.”“Kedewasaan bukan soal
“Kebaikan yang tidak pernah diberi batas, lama-lama dianggap kewajiban.” . Pagi itu Jakarta seperti biasa: tergesa, padat, dan nyaris tidak
“Kadang keluarga tidak memberi jawaban—mereka memberi cermin. Dan di cermin itu, kita melihat luka yang selama ini kita sebut ‘biasa’.”
“Ada orang yang tidak membuatmu kagum saat datang,tapi membuatmu kehilangan arah saat ia tidak ada.” . Langit Jakarta sore itu
“Kenyang itu bukan cuma urusan perut. Ada jiwa yang juga bisa kelaparan—ketika yang kita tonton, kita dengar, kita baca, dan