Home cerpen
Pagi di Jakarta itu selalu punya cara sendiri untuk terlihat “baik-baik saja”. Seolah kemacetan, target, notifikasi, dan janji-janji rapat yang
“Ada musuh yang tak perlu kau kalahkan dengan suara keras.Ia cukup dipermalukan oleh satu hal yang tak ia punya: kerendahhatian.”
“Percaya itu menenangkan.Tapi justru karena menenangkan, ia bisa mematikan kewaspadaan.”“Yang menyelamatkan manusia bukan curiga, melainkan keberanian bertanya sebelum terlambat.” .
“Kadang keluarga tidak memberi jawaban—mereka memberi cermin. Dan di cermin itu, kita melihat luka yang selama ini kita sebut ‘biasa’.”
“Ada bab yang harus ditutup bukan karena kalah, melainkan karena kita akhirnya memilih bernapas.” . Malam itu Jakarta seperti menahan
“Negeri ini tidak runtuh oleh orang jahat,melainkan oleh orang baik yang terlalu lama memilih aman.” . Pagi kota selalu punya