Ia yang Terlihat Baik-Baik Saja

“Ada wajah yang tampak seperti halaman kosong—padahal di baliknya, ada huruf-huruf kecil yang hanya Tuhan sanggup membacanya.”

.

Ia dipanggil Legi bukan karena namanya begitu—melainkan karena tutur katanya manis di ujung, getir di tengah, dan entah kenapa selalu meninggalkan rasa hangat di dada orang-orang yang pernah disapanya.

Di lobi apartemen yang lantainya mengilap seperti kaca ponsel baru, Legi berjalan pelan, menenteng tote bag linen berisi laptop, buku tipis berjudul Psikologi Uang, dan sebungkus croissant dari bakery di pojok Senopati. Ia seperti potongan hidup kelas menengah ke atas: rapi, wangi, dan seolah selalu punya urusan yang penting—meski kadang “penting” itu cuma cara halus untuk menyembunyikan kegelisahan.

Di Jakarta, orang-orang menyembunyikan takutnya dengan jadwal rapat, menyembunyikan sedihnya dengan brunch, menyembunyikan sepinya dengan workshop healing yang tiketnya lebih mahal dari cicilan motor.

Legi menyapa satpam lobi dengan senyum yang setengah, seperti ia sedang menahan sesuatu di belakang giginya.

“Pagi, Pak Damar.”

“Pagi, Mbak Legi. Sehat?”

“Sehat,” jawabnya cepat. Lalu ia menambahkan, seolah demi menjaga kesopanan kota, “Ya… lumayan.”

Orang yang tinggal di gedung sembilan belas lantai itu tahu: Legi wajahnya polos. Tidak meledak-ledak. Tidak suka drama. Tidak suka membuat orang lain repot. Ia tampak seperti seseorang yang akan memilih diam saat tersinggung, memilih tertawa saat hatinya retak, memilih bilang “gapapa” padahal tubuhnya sedang mengumpulkan serpihan.

Namun, sebagaimana kata Sekar—sahabatnya yang mengajar sastra di sebuah kampus swasta elit—wajah polos itu sering kali bukan tanda damai. Kadang ia adalah tanda perang yang sedang disembunyikan.

Sekar pernah berkata, sambil mengaduk kopi hitam di kafe yang lampunya sengaja remang: “Leg, kamu itu kayak halaman putih. Orang-orang merasa aman nulis apa saja di kamu. Padahal… halaman putih bisa penuh coretan, kan?”

Legi tertawa waktu itu, tapi tawa yang jatuhnya mirip benda rapuh.

Ia tidak menjawab. Ia hanya memandang jendela kafe, melihat hujan yang menetes rapi seperti daftar pengeluaran yang selalu gagal ia rapikan.

.

Legi pernah jadi tukang respon sana-sini—begitu ia menyebut masa lalunya, seolah itu candaan. Padahal pekerjaan itu bukan sekadar “respon”. Ia pernah menjadi suara yang menahan marah orang lain di ujung telepon. Pernah menjadi chat bubble yang dimaki-maki karena keterlambatan pengiriman. Pernah menjadi pihak yang harus terus sopan meski sedang ingin menangis.

Dari situ, ia belajar satu hal: kata-kata bisa jadi tempat orang menaruh lelahnya.

Maka ketika ia pindah karier menjadi account manager di agensi komunikasi, ia membawa kebiasaan itu: menampung. Menampung keluh klien. Menampung amarah bos. Menampung ketidakjelasan proyek. Menampung chat dari mantan yang tiba-tiba muncul seperti iklan pop-up.

Legi mudah disukai. Tidak banyak orang yang bisa menatap seseorang dan membuatnya merasa didengar—tanpa interupsi, tanpa ceramah, tanpa membandingkan.

Penggemarnya tidak sedikit.

“Mantanmu banyak, ya?” Panji pernah bertanya, setengah bercanda, setengah ingin memastikan sesuatu.

Pertanyaan itu keluar pada malam mereka makan di restoran Jepang, di meja dekat kaca yang menampakkan lampu kota seperti bintang yang dipaksa tinggal di bawah.

Legi menaruh sumpitnya. Menunduk sebentar. Lalu berkata, datar tapi jujur, “Banyak itu bukan prestasi, Ji.”

Panji—konsultan strategi yang hidupnya tertata seperti presentasi—tersenyum kecil. Ia suka cara Legi tidak memoles luka jadi kebanggaan. Ia suka cara Legi menolak memamerkan masa lalu.

Yang Panji belum tahu: masa lalu Legi bukan daftar nama. Masa lalu Legi adalah daftar ruangan yang pernah ia pakai untuk menyembunyikan diri, satu demi satu, sampai ia lupa bentuk wajahnya sendiri.

Panji mengenal Legi dari sebuah proyek rebranding jaringan klinik kecantikan. Mereka sering bertemu di ruang rapat: Panji dengan laptop yang penuh grafik, Legi dengan catatan tangan yang rapi seperti doa.

Panji menyukai Legi karena ia tidak berisik—tapi nyata. Tidak pamer—tapi hadir. Tidak banyak gaya—tapi menuntaskan.

Di kota yang orang-orangnya sering jatuh cinta pada tampilan, Panji jatuh cinta pada ketenangan.

Legi, sebaliknya, takut pada ketenangan.

Karena ketenangan sering kali membuat suara yang selama ini ditahan jadi terdengar.

.

Mereka mulai dekat di bulan ketika Jakarta terasa seperti panci beruap: panas, lengket, dan membuat orang ingin cepat pulang.

Panji mengantar Legi pulang beberapa kali. Mobil Panji wangi sabun, dashboardnya bersih, playlistnya jazz yang tidak mengganggu.

Di lift apartemen, Legi sering menghela napas—bukan karena lelah, tapi karena ia tidak tahu harus menaruh rasa itu di mana.

“Kalau kamu capek, bilang,” kata Panji.

“Aku nggak capek,” jawab Legi. Jawaban otomatis.

Panji menatapnya. “Legi… capek itu bukan aib.”

Legi terdiam.

Di rumahnya yang minimalis, Legi menyalakan lampu kuning, melepas sepatu, mengganti baju, lalu duduk di sofa yang ia beli karena diskon besar—padahal ia tidak butuh.

Di meja tamu ada beberapa paket belum dibuka. Barang-barang kecil yang ia beli ketika dadanya sesak: lilin aromaterapi, buku jurnal, botol minum estetik, earphone baru, masker wajah impor, cardigan warna krem yang sama dengan cardigan dua bulan lalu.

Bukan karena boros saja.

Tapi karena setiap klik “checkout” seperti tombol kecil yang mengatakan: aku masih bisa mengendalikan sesuatu.

Legi membuka aplikasi bank. Angka di sana tidak menenangkan. Angka di sana seperti cermin yang menunjukkan ia sering menipu diri sendiri.

Ia menutup aplikasi itu. Lalu membuka media sosial. Lalu menutup lagi. Lalu berjalan ke jendela, menatap lampu-lampu kota.

Malam itu ia tidak bisa tidur.

Sebenarnya, sudah lama ia tidak bisa tidur.

Overthinking bukan sekadar kebiasaan. Ia adalah mekanisme bertahan. Ia seperti satpam batin yang tidak pernah pulang.

Di kepalanya, segala kemungkinan diputar: kalau Panji bosan, kalau Panji menemukan yang lebih “rapi”, kalau Panji melihat sisi dirinya yang berantakan, kalau Panji tahu ia masih takut disayang.

Legi memeluk bantal, lalu berkata pada dirinya sendiri: “Wes ngunu wae.”

Kalimat itu terdengar seperti pasrah, padahal ia hanya cara lain untuk menghindari.

.

Sekar pernah menegur Legi, di sebuah siang yang mereka habiskan di toko buku.

“Kamu itu sabar, tapi nggak sabaran,” kata Sekar, sambil membuka-buka novel yang sampulnya indah.

Legi tersenyum.

“Bisa sabar nunggu orang berubah,” lanjut Sekar, “tapi nggak sabar nunggu kamu sendiri sembuh.”

Legi ingin membantah, tapi tidak punya kata-kata.

Sekar melanjutkan, “Kamu tuh… setia kalau sudah cinta. Tapi sebelum nemu yang kamu cintai, kamu seperti… menguji semua pintu, takut kalau pintu yang kamu pilih ternyata pintu salah.”

Legi menatap rak buku. Ada judul-judul tentang ketenangan, tentang seni hidup, tentang terapi.

“Aku cuma… nggak mau salah,” jawab Legi pelan.

Sekar menutup bukunya, menatap Legi dengan mata yang sudah sering melihat manusia menipu dirinya sendiri.

“Kadang kita takut salah bukan karena kita perfeksionis,” kata Sekar, “tapi karena kita pernah disalahkan terlalu lama.”

Kalimat itu masuk ke dada Legi seperti hujan masuk ke tanah retak.

Ia ingat masa ketika ia kecil, ketika ayahnya sering pulang membawa lelah dan menaruhnya di rumah. Ia ingat ibunya yang diam, menyapu lantai sambil menahan air mata. Ia ingat dirinya yang belajar menjadi anak baik: tidak merepotkan, tidak meminta, tidak menangis keras-keras.

Di kota, pola itu berubah bentuk.

Legi menjadi perempuan dewasa yang tampak sukses: kariernya naik, lingkaran pertemanannya berkelas, pendidikan lanjutannya rapi. Namun di balik itu, ia tetap anak kecil yang takut membuat orang lain kecewa.

Dan ketika ia takut, ia belanja.

Ketika ia takut, ia menghilang.

Ketika ia takut, ia tersenyum.

.

Panji baru menyadari sisi “boros” Legi ketika mereka membicarakan hal sederhana: liburan.

“Kita ke Jepang?” tanya Legi, mata berbinar seperti anak kecil yang melihat balon.

Panji tertawa. “Boleh. Tapi kita rencanakan.”

Legi mengangguk cepat. “Aku sudah lihat tiket. Promo. Kalau kita beli sekarang—”

Panji memotong, halus. “Leg, kita lihat dulu keuangan. Kita bikin anggaran.”

Legi diam.

Di dalam dirinya, ada rasa malu yang naik pelan. Seperti seseorang yang tiba-tiba ketahuan menyimpan kebiasaan buruk.

Panji melanjutkan, “Aku bukan melarang. Aku cuma… pengin kita aman. Supaya kalau ada apa-apa…”

Kalimat “kalau ada apa-apa” membuat dada Legi mengencang.

Karena hidupnya selama ini penuh “apa-apa”.

Dan ia tidak pernah benar-benar merasa aman.

Legi menatap Panji. Ia tahu Panji tidak berniat menggurui. Tapi ada sesuatu yang menggores: seolah ia sedang diberi tahu bahwa caranya mencintai itu salah.

Malam itu, mereka berpisah dengan senyum yang dipaksakan.

Di mobil, Legi menyalakan radio keras-keras.

Sesampai di rumah, ia menangis tanpa suara.

Lalu—seperti kebiasaan yang memalukan—ia membuka aplikasi belanja.

Ia menaruh dua pasang sepatu di keranjang.

Lalu ia berhenti.

Tangannya gemetar.

Ia menutup ponsel. Ia menatap langit-langit apartemen.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri, pelan: Kenapa aku selalu lari ke barang-barang ketika aku takut?

Pertanyaan itu tidak langsung menjawab apa-apa.

Tapi pertanyaan itu seperti pintu kecil yang baru pertama kali terbuka.

.

Krisis datang bukan seperti petir. Ia datang seperti pesan WhatsApp yang singkat.

Panji mengirim chat pada jam dua pagi:

“Leg… ibu masuk rumah sakit.”

Legi bangun seperti disambar sesuatu. Seketika semua belanjaan, semua overthinking, semua keributan kecil jadi tidak penting.

Ia hanya tahu satu hal: Panji butuh ia hadir.

Legi datang ke rumah sakit dengan rambut disanggul asal, tanpa make up, memakai cardigan yang entah kenapa masih berlabel karena belum pernah dipakai.

Di lorong IGD, Panji duduk dengan wajah yang tidak ia kenali: pucat, kosong, dan seperti kehilangan tempat berpijak.

Legi menghampiri, duduk, memegang tangan Panji tanpa bertanya apa-apa.

Panji menatapnya, mata merah. “Aku takut.”

Legi menelan ludah. Ia ingin mengatakan “jangan takut” tapi ia tahu itu bohong. Takut adalah bagian dari cinta. Takut adalah bukti bahwa seseorang penting.

Maka Legi berkata, pelan: “Aku di sini.”

Dokter keluar. Ada kata-kata medis. Ada prosedur. Ada kebutuhan biaya.

Panji menunduk. “Tabungan ada… tapi mungkin nggak cukup kalau… kalau panjang.”

Legi memandang Panji.

Di kepalanya, ada daftar barang yang ia beli selama ini. Ada tas yang ia sayang. Ada jam tangan yang ia pakai untuk rapat-rapat penting. Ada perhiasan kecil yang ia beli saat ia merasa tidak ada yang memeluknya.

Legi menghela napas. Lalu berkata, tanpa dramatis: “Aku bisa bantu.”

Panji menggeleng cepat. “Nggak, Leg. Aku nggak mau…”

Legi menatap Panji, dan untuk pertama kalinya, suara Legi tidak manis. Suara Legi tegas, dewasa.

“Panji,” katanya. “Aku mungkin berantakan. Aku mungkin sering salah. Tapi aku nggak main-main kalau soal kamu.”

Panji terdiam.

Legi menggenggam tangan Panji lebih kuat. “Aku bukan musuhmu. Aku pasanganmu.”

Kata “pasangan” itu menggantung di udara seperti janji yang akhirnya punya bentuk.

.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang menguji.

Legi yang biasanya rapi, sekarang hidup di antara kantin rumah sakit dan bangku koridor. Legi yang biasanya overthinking soal chat yang terlambat dibalas, sekarang overthinking soal hasil lab dan tekanan darah.

Namun, ada sesuatu yang berubah: overthinking-nya menemukan tempat yang nyata. Ia tidak lagi melawan bayangan, ia menghadapi kenyataan.

Suatu siang, ketika Panji tertidur sebentar di kursi, Legi keluar sebentar.

Ia pergi ke gerai gadai di dekat rumah sakit.

Ia menjual jam tangan.

Ia menjual tas.

Ia menjual beberapa barang yang selama ini ia pikir “bagian dari dirinya”.

Tangannya bergetar saat menandatangani berkas.

Tapi di dalam dadanya, ada rasa yang tidak ia kenal: lega.

Bukan karena kehilangan barang.

Tapi karena akhirnya ia memilih manusia.

Ketika ia kembali, Panji bangun. Panji melihat amplop di tangan Legi, melihat mata Legi yang bengkak.

“Kamu ngapain?” tanya Panji.

Legi menatap Panji, tersenyum kecil. “Aku belajar hemat.”

Panji memejamkan mata, air mata jatuh pelan.

Legi duduk, memeluk Panji.

Dan di lorong rumah sakit yang dingin, Legi merasa: inilah cinta yang bukan kata-kata. Cinta yang bekerja. Cinta yang mau menanggung.

.

Ibu Panji membaik perlahan.

Namun, setelah krisis itu lewat, datang krisis yang lain: krisis yang tidak terlihat, tapi bisa meruntuhkan.

Panji mulai bicara soal masa depan, soal menikah, soal rumah, soal anak.

Legi mendengarkan, tapi tubuhnya bereaksi seperti alarm: jantung cepat, tangan dingin.

Ia ingin bahagia, tapi ia takut.

Legi mulai sulit tidur lagi. Ia mulai memikirkan semua kemungkinan buruk: Panji akan menyesal, Panji akan berubah, Panji akan melihat sisi gelapnya, Panji akan pergi.

Pada suatu malam, Panji berkata, “Kamu kenapa akhir-akhir ini menjauh?”

Legi menatap lantai. Kata-katanya keluar pelan, seperti orang mengeluarkan duri dari kulit.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Legi tertawa kecil, pahit. “Takut kalau aku nggak cukup baik buat kamu.”

Panji terdiam lama.

Lalu Panji berkata, “Leg… aku nggak jatuh cinta pada versi kamu yang sempurna. Aku jatuh cinta pada kamu yang nyata.”

Legi menggigit bibir. “Tapi aku boros.”

Panji mengangguk. “Kita belajar.”

“Aku overthinking.”

“Kita cari bantuan.”

“Aku sabar tapi nggak sabaran.”

Panji tersenyum. “Kita latihan.”

Legi menatap Panji, dan untuk pertama kalinya ia merasa: mungkin cinta tidak menuntut kita selesai dulu baru boleh disayang. Mungkin cinta adalah ruang latihan.

.

Mereka mulai hal-hal kecil.

Membuat anggaran bulanan.

Menulis pengeluaran harian.

Membatasi aplikasi belanja.

Legi menangis beberapa kali karena merasa gagal. Panji tidak marah. Panji menunggu.

Mereka ikut konseling pasangan.

Di ruang konseling, Legi berkata pada terapis: “Saya sering belanja kalau cemas.”

Terapis mengangguk, berkata, “Bukan belanjanya yang utama. Tapi cemasnya. Kita cari cara lain untuk menenangkan diri.”

Legi pulang dari sesi itu dengan kepala berat—namun untuk pertama kalinya, berat itu terasa seperti proses, bukan hukuman.

Sekar melihat perubahan itu.

“Kamu makin manusia,” kata Sekar.

Legi tertawa. “Dari kemarin juga manusia.”

Sekar menggeleng. “Dulu kamu manusia yang bersembunyi. Sekarang kamu manusia yang berani.”

.

Suatu sore, Legi mengajak Panji ke tempat ia dulu bekerja sebagai “tukang respon”.

Sebuah kantor kecil di belakang ruko, tempat ia dulu menahan tangis sambil mengetik “Baik, Kak. Kami bantu cek ya.”

Legi berdiri di depan pintu, berkata pelan: “Di sini aku belajar… kalau orang marah bukan selalu karena benci. Kadang karena mereka capek dan nggak punya tempat pulang.”

Panji menatap Legi.

“Dan aku juga belajar,” lanjut Legi, “kalau aku menampung semua itu, aku jadi lupa menampung diriku sendiri.”

Panji memegang tangan Legi. “Sekarang kamu punya aku.”

Legi menatap Panji, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa kalimat itu menakutkan.

Ia merasa kalimat itu seperti rumah.

.

Pada hari mereka resmi bertunangan—tanpa pesta besar, tanpa heboh—Legi menulis sesuatu di notes ponsel:

Wajahnya mungkin polos. Aslinya hanya Tuhan yang tahu. Tapi sekarang, aku tidak lagi takut pada asliku sendiri.

Malam itu, ia tidur lebih cepat.

Ia tidak bermimpi buruk.

Dan ketika ia bangun, ia tidak buru-buru membuka aplikasi belanja.

Ia membuka jendela. Menghirup udara pagi yang belum penuh klakson.

Di luar, Jakarta tetap Jakarta: bising, cepat, kadang kejam.

Namun di dalam diri Legi, ada sesuatu yang pelan-pelan jadi tenang.

Ia tahu ia masih bisa tergelincir.

Ia tahu ia masih bisa cemas.

Ia tahu ia masih bisa boros, masih bisa overthinking, masih bisa nggak sabaran.

Tapi ia juga tahu: sekarang ia tidak sendirian—dan lebih penting lagi, ia tidak lagi menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Legi tersenyum, kecil.

Manisnya tidak lagi dibuat-buat.

Manisnya jseperti kata “legi” dalam lidah Jawa: rasa manis yang tidak membohongi pahit, melainkan mengajarinya pulang.

.

.

.

Malang, 5 January 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #SastraIndonesia #CerpenUrban #KehidupanJakarta #CintaDewasa #Overthinking #LiterasiFinansial #SelfHealing #RelasiSehat #NamakuBrandku

Leave a Reply