Di Antara Aman dan Benar
“Hidup itu perjalanan belajar tanpa akhir. Kadang kita mengajari, kadang kita yang diajari. Kita semua pernah salah langkah. Yang penting: tetap belajar, memaafkan, dan jangan lelah membenahi diri.”
.
Pagi Jakarta selalu punya cara memaksa orang percaya bahwa waktu adalah mata uang paling mahal. Di bawah langit yang seperti kaca buram, deretan gedung di Sudirman berdiri dengan tatapan dingin: tegak, rapi, dan tak pernah benar-benar peduli pada siapa pun yang tumbang di dalamnya.
Inu menatap pantulan wajahnya di kaca lift kantor: mata yang kurang tidur, rahang yang mengeras seperti menahan sesuatu yang tak ingin keluar. Jasnya mahal, sepatunya mengilap, dan jam tangan di pergelangan itu—hadiah dari dirinya sendiri setelah deal besar tahun lalu—seolah berbisik: kamu sudah sampai.
Padahal, sampai di mana pun, seseorang tetap bisa jatuh—bahkan jatuh paling sering terjadi justru ketika orang-orang menepuk punggungmu.
Di lantai tiga puluh dua, ruang rapat memanjang seperti lorong pengadilan. Di ujung meja, layar menampilkan angka-angka: proyeksi, valuasi, pertumbuhan, exit strategy. Di sisi lain, wajah-wajah yang ia kenal bertahun-tahun berubah menjadi topeng profesional yang tak bisa ditebak.
“Ini bukan masalah kecil, Inu,” kata Rangga pelan, tapi nada suaranya tajam seperti pisau yang sengaja disimpan di balik senyum. Rangga adalah pengacara perusahaan—teman lama Inu sejak kuliah di kampus swasta elit, sama-sama pernah menjadi anak magang yang bangga karena bisa menembus dunia orang dewasa sebelum waktunya. “Ada jejak transaksi yang… aneh.”
Kata aneh itu menggantung, mengendap jadi ancaman. Seperti asap tipis yang tak terlihat, tapi membuat napas sesak.
Inu menelan ludah. “Aneh bagaimana?”
Rangga memutar layar. Grafik bergerak, rekening berpindah, tanggal-tanggal berkejaran seperti kereta. “Dana investor lewat beberapa lapis. Ada rekening perantara. Nama perusahaan cangkang. Klana ada di jalur itu.”
Nama itu membuat ruangan seperti kehilangan oksigen.
Klana.
Orang yang datang dengan gaya bicara meyakinkan, senyum yang selalu tepat, dan kemampuan membuat semua orang merasa sedang diajak masuk ke masa depan. Klana itu tipe yang kalau bicara tentang visi, orang-orang lupa bertanya: risikonya siapa yang menanggung?
Inu menatap angka di layar, tapi yang ia lihat justru potongan-potongan peristiwa: pertemuan di lounge hotel, gelas-gelas bening, tawa yang sengaja diatur, dan kalimat Klana yang dulu terasa seperti pegangan.
“Tenang. Ini cuma struktur. Semua orang main begini, Nu. Ini cara agar uang bergerak cepat.”
Inu dulu percaya.
Bukan karena bodoh. Tapi karena dunia memaksa orang pintar sekalipun untuk sesekali menutup mata demi target.
“Kalau ini meledak,” lanjut Rangga, “kamu yang akan diseret pertama. Kamu penandatangan. Kamu kepala unit. Kamu wajahnya.”
Wajah.
Inu merasakan kata itu menempel ke kulitnya. Wajah yang dibangun dari kerja keras, koneksi, prestasi, networking, dan foto-foto di panggung konferensi. Wajah yang dipoles oleh ketepatan presentasi dan kepiawaian bersalaman.
Tapi wajah juga bisa menjadi sasaran paling mudah ketika publik butuh kambing hitam.
Seseorang mengetuk meja kecil. “Kita perlu klarifikasi tertulis dari kamu hari ini.”
Inu mengangguk, tapi yang bergerak sebenarnya hanya lehernya. Dadanya seperti tertahan sesuatu—mungkin marah, mungkin takut, mungkin malu, atau mungkin campuran semuanya.
Di luar ruang rapat, Jakarta terus berderu. Tak ada yang berhenti karena satu orang sedang runtuh.
.
Di parkiran, udara panas menyerang seperti pukulan. Inu membuka pintu mobilnya, lalu berhenti. Di kaca spion, ia melihat seseorang berdiri tak jauh: pria tua dengan seragam keamanan, tubuhnya tidak besar, namun matanya tenang. Seolah ia sudah melihat banyak hal, dan tak lagi kaget pada apa pun.
Pria itu mengangguk kecil, sopan. “Pagi, Mas Inu.”
Inu tersentak. “Pak…?”
“Lembu,” jawabnya, tersenyum. “Dulu saya bantu-bantu di rumah eyangmu di Malang. Masih ingat?”
Nama itu seperti pintu yang tiba-tiba terbuka ke masa lalu: halaman rumah besar dengan pohon mangga, aroma tanah setelah hujan, suara ibu yang memanggil dari dapur. Inu kecil yang berlari tanpa memikirkan masa depan.
Sekarang, masa depan menagih dengan cara yang tak ramah.
“Pak Lembu… Bapak kerja di sini?”
“Sudah dua tahun. Anak saya kuliah. Saya cari yang tetap.” Lembu menatap Inu, tak menanyakan apa pun. Tapi tatapannya seperti memberi ruang, seolah berkata: kalau kamu ingin cerita, saya ada. Kalau tidak pun, tidak apa-apa.
Inu merasakan tenggorokannya kering. Di dunia yang semua orang menuntut jawaban cepat, keheningan Lembu terasa seperti kemewahan.
“Bapak… sehat?”
“Sehat itu relatif, Mas.” Lembu terkekeh. “Tapi masih bisa ngopi. Mas Inu sendiri?”
Inu hampir tertawa, tapi yang keluar hanya napas panjang. “Saya… lagi kacau.”
Lembu mengangguk perlahan. “Kacau itu tanda hidup. Yang bahaya itu kalau hati sudah tidak merasa apa-apa.”
Inu menatap pria tua itu, dan entah kenapa, ada sesuatu di matanya yang nyaris pecah. Namun ia menahannya. Ia terbiasa menahan.
Di dunia kelas menengah ke atas, menahan emosi sering dianggap bagian dari etika.
Padahal, menahan terlalu lama bisa membuat jiwa membusuk diam-diam.
.
Sore hari, Inu duduk di sebuah kafe yang dindingnya penuh buku, tempat anak-anak muda berdiskusi tentang startup, investasi, dan perjalanan ke luar negeri. Di sudut, ada dua orang yang ia kenal: Galuh dan Kirana.
Galuh melambaikan tangan. Ia wanita dengan mata tajam, pendiri platform edtech yang sedang naik daun, lulusan luar negeri, bicara cepat, dan selalu membawa laptop seperti bagian tubuh. “Sini, Nu.”
Kirana duduk di samping Galuh, mengenakan blouse sederhana tapi berkelas. Wajahnya tenang, tetapi mata Kirana menyimpan sesuatu yang sulit ditafsir. Kirana adalah dokter spesialis yang juga mengajar, orang yang hidupnya terlihat rapi dari luar—jadwal praktek, seminar, jurnal, hingga agenda charity. Namun, kerapian itu sering lahir dari ketegasan yang menyakitkan: memilih yang penting dan membuang yang tak perlu.
Termasuk, mungkin, orang.
Inu duduk. “Maaf, baru bisa.”
Kirana menatapnya lama, lalu bertanya tanpa basa-basi: “Kamu terlibat?”
Pertanyaan itu jatuh seperti palu. Tak ada hiasan. Tak ada bumbu.
“Tidak,” jawab Inu, terlalu cepat. Lalu ia menambahkan, lebih pelan, “tapi namaku ada di dokumen.”
Galuh menghela napas. “Klana ya?”
Inu mengangguk.
Kirana menatap cangkirnya, seolah sedang menimbang sesuatu. “Aku pernah bilang, Nu. Dunia kamu itu bukan cuma angka. Ada orang. Ada konsekuensi.”
“Aku tahu.” Inu memejamkan mata sebentar. “Aku… percaya.”
Kirana mengangkat wajah. “Kenapa?”
Kenapa.
Pertanyaan yang seharusnya sederhana, tapi Inu mendadak seperti kehilangan bahasa. Bagaimana menjelaskan bahwa terkadang, orang percaya karena lelah melawan arus? Bahwa ada masa ketika integritas terasa seperti barang mewah, dan kompromi terasa seperti tiket bertahan?
“Aku ingin cepat,” jawab Inu jujur, suara itu seperti diambil dari bagian dirinya yang paling rapuh. “Aku ingin sampai. Aku ingin… membuktikan.”
Kirana tersenyum tipis, bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum pahit seseorang yang sudah berkali-kali melihat manusia mengulang kesalahan yang sama.
“Buktikan ke siapa?”
Inu terdiam.
Ada banyak: ayah yang selalu membandingkan dengan sepupu yang jadi pejabat, ibu yang bangga kalau nama anaknya disebut orang, teman-teman yang memuja pencapaian, dan diri sendiri yang selalu lapar.
Tapi yang paling menyedihkan: Inu ingin membuktikan pada rasa takutnya sendiri—takut jadi biasa, takut dilupakan, takut gagal.
Galuh mengetuk meja pelan. “Nu, kamu masih bisa selamat kalau kamu jujur dari awal. Jangan tunggu sampai kamu dipaksa.”
Kirana menatap Inu. Kali ini suaranya lebih lembut, tapi justru itu yang membuat Inu semakin sesak. “Aku tidak bisa hidup dengan orang yang memilih diam demi menjaga muka.”
Inu menelan. Kata muka itu mengingatkannya pada ruang rapat.
“Jadi kamu…”
“Aku bilang aku tidak bisa.” Kirana berdiri, merapikan tasnya. “Aku sayang kamu sebagai manusia, Nu. Tapi aku tidak mau ikut tenggelam dalam kebiasaan ‘yang penting aman’. Kalau kamu mau bertahan, bertahanlah dengan cara yang benar.”
Inu ingin memegang tangan Kirana, tapi ia takut. Ia takut tangan itu ditarik dengan dingin. Ia takut ditolak di tempat umum. Ia takut… terlihat lemah.
Dan ketakutan-ketakutan kecil itulah yang sering mengalahkan keberanian untuk melakukan hal besar.
Kirana pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang samar, seperti kenangan yang tidak mau menetap.
Galuh menatap Inu. “Kamu masih punya pilihan.”
Inu tersenyum pahit. “Pilihan itu kadang terasa seperti hukuman.”
Galuh menggeleng. “Enggak. Pilihan itu pertanda kamu masih hidup.”
.
Malamnya, Inu pulang ke apartemen di kawasan yang dikelilingi gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu yang tak pernah tidur. Ia menyalakan lampu ruang tamu, melihat lukisan abstrak yang dulu ia beli karena ingin terlihat berkelas. Sekarang lukisan itu hanya tampak seperti keributan warna tanpa makna.
Ponselnya bergetar: pesan dari Klana.
Nu, tenang. Ini bisa kita rapihin. Jangan panik. Besok ketemu.
Inu menatap pesan itu lama. Jari-jarinya ingin membalas, tapi sesuatu menahan.
Dalam batinnya, ada suara yang selama ini ia bunuh pelan-pelan: suara yang berkata bahwa ada hal-hal yang tak bisa “dirapikan” tanpa ada yang terluka.
Ia membuka laptop, mencari dokumen-dokumen. Jejak transaksi. Email. Kontrak. Ada malam-malam ketika ia melewatkan detail karena dikejar deadline, karena yakin timnya sudah memeriksa. Ada malam-malam ketika ia merasa “tak apa-apa” karena semua orang melakukan hal serupa.
Ternyata, “semua orang melakukan” bukan alasan. Itu hanya selimut tipis untuk menutupi rasa bersalah.
Inu merasakan dadanya panas, lalu dingin. Ia berdiri, berjalan ke balkon. Jakarta terlihat seperti lautan lampu. Cantik dari jauh, berbahaya kalau terlalu dekat.
Ia teringat kalimat yang pernah ia dengar dari seorang mentor bisnis:
“Reputasi dibangun bertahun-tahun, hancur dalam satu siang.”
Dulu ia menganggap kalimat itu klise. Sekarang, ia merasakannya seperti batu di dada.
.
Dua hari kemudian, berita mulai merambat di grup WhatsApp alumni, komunitas investasi, hingga circle makan malam: “Ada isu di perusahaan Inu.” “Katanya ada dana nyangkut.” “Klana kabur?” “Inu dibawa-bawa.”
Kelas menengah ke atas punya cara menyebarkan gosip dengan sopan: tidak pernah menyebut nama terlalu terang, tapi cukup untuk membuat orang menghindar.
Di sebuah acara ulang tahun teman di restoran mahal, Inu datang karena tak ingin terlihat “menghilang”. Ia berdiri dengan segelas air putih—ia bahkan tak sanggup minum alkohol. Orang-orang menyapanya hangat, tapi mata mereka menilai.
Ada yang berkata, “Semangat ya, bro.”
Ada yang menepuk pundak, lalu pergi cepat.
Di pojok ruangan, Inu melihat Kirana. Kirana sedang bicara dengan seorang dosen senior. Wajahnya tenang, seolah kehidupan Inu bukan urusannya lagi.
Inu menelan rasa perih. Ia mendekat, tapi sebelum ia sampai, seorang pria menyela—Klana.
Klana mengenakan blazer, wajahnya segar seperti tidak sedang dikejar badai. Ia memeluk Inu seperti sahabat lama. “Nu! Lama. Kita ngobrol bentar.”
Inu menatapnya. Untuk pertama kali, ia melihat sesuatu yang dulu tertutup oleh pesona: mata Klana tidak benar-benar hangat. Itu mata orang yang selalu menghitung.
Di parkiran, Klana bicara cepat. “Kamu harus tahan. Jangan kasih statement apa pun. Biarkan tim legal beresin. Kalau kamu ngaku, kamu habis. Ini permainan.”
Inu menatap Klana. “Permainan buat siapa?”
Klana tertawa kecil. “Nu, jangan sok suci. Kita semua di dunia ini main. Investor mau untung, kita kasih jalan. Kamu mau nama besar, aku bantu. Sekarang tinggal rapihin.”
Inu merasakan sesuatu pecah di dalamnya—bukan marah yang meledak, tapi kecewa yang dingin. “Kamu pakai aku.”
Klana mengangkat alis. “Aku kasih kamu panggung.”
“Panggung yang lantainya rapuh.”
Klana mendekat, suaranya lebih rendah. “Dengar, Nu. Kalau kamu jatuh, kamu bawa banyak orang. Termasuk Kirana. Termasuk keluargamu. Kamu mau jadi pahlawan? Silakan. Tapi ingat, pahlawan itu sering mati lebih dulu.”
Kalimat itu menusuk. Karena sebagian dari Inu masih takut mati—bukan mati fisik, tapi mati sosial. Mati reputasi. Mati akses.
Klana menepuk bahu Inu, lalu pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan rasa muak.
Inu berdiri sendirian di bawah lampu parkiran. Jakarta tak peduli.
.
Esoknya, Inu bertemu Lembu di mushola kecil dekat parkiran kantor. Lembu sedang menata sajadah. Wajahnya damai, seperti orang yang sudah berdamai dengan hidup yang tidak selalu adil.
Inu duduk di sebelahnya tanpa bicara.
Lembu tidak bertanya dulu. Ia hanya menuang teh hangat dari termos. “Minum, Mas. Biar dada agak longgar.”
Inu memegang gelas itu, merasakan panasnya mengalir ke telapak. “Pak Lembu… kalau Bapak salah langkah, Bapak biasanya gimana?”
Lembu tersenyum samar. “Saya dulu pernah salah besar, Mas.”
Inu menoleh.
“Waktu muda, saya pernah ikut orang. Ikut proyek. Saya pikir demi keluarga. Ternyata proyek itu nipu. Waktu ketahuan, saya tidak bisa lari. Saya malu. Saya takut. Saya hampir… hilang akal.”
Inu menahan napas.
Lembu melanjutkan, “Yang menyelamatkan saya bukan uang. Bukan koneksi. Tapi satu hal: berani ngaku dan berani bayar. Bayarnya bukan cuma duit. Bayarnya rasa malu. Bayarnya waktu. Bayarnya nama yang jatuh.”
Inu memejamkan mata. “Saya takut, Pak.”
Lembu mengangguk pelan. “Takut itu manusiawi. Tapi ada takut yang sehat, ada takut yang merusak. Takut yang sehat bikin kita hati-hati. Takut yang merusak bikin kita bohong.”
Lembu menatap Inu, suaranya lembut tapi tegas. “Mas, kalau mau selamat, jangan cari jalan yang paling aman. Cari jalan yang paling benar.”
Kalimat itu jatuh di hati Inu seperti batu, tapi batu yang justru menguatkan pondasi.
Inu menunduk. “Kalau saya ngaku… saya mungkin kehilangan semua.”
Lembu tersenyum tipis. “Mas Inu, kadang Tuhan mengosongkan tangan kita supaya kita bisa pegang hal yang lebih penting.”
Inu menatap gelas teh. Di permukaannya, ia melihat bayangan dirinya—bayangan yang selama ini ia paksakan untuk terlihat kuat.
Ia teringat satu kalimat yang ingin ia percaya:
“Tidak semua kehilangan adalah hukuman. Kadang itu cara hidup membersihkan kita.”
.
Minggu itu, Inu membuat keputusan.
Ia menulis pernyataan. Ia mengumpulkan bukti. Ia menyerahkan semua yang ia tahu kepada tim legal dan regulator, bahkan ketika itu berarti namanya sendiri bisa tercemar. Ia menghubungi investor satu per satu, meminta maaf, menawarkan skema pemulihan yang masuk akal. Ia duduk berjam-jam di ruang pertemuan dengan orang-orang yang marah, kecewa, dan menatapnya seolah ia penjahat.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang paling berat: melihat dirinya sendiri tanpa topeng.
Saat media mulai memuat kabar, Inu memilih tidak menyalahkan siapa pun di depan publik. Ia tidak menyebut Klana sebagai monster. Ia hanya berkata jujur: ada kelalaian, ada kepercayaan yang salah, ada tanggung jawab yang harus ditanggung.
Malam setelah konferensi pers, Inu duduk sendirian di apartemen. Ponselnya penuh pesan: ada yang mendukung, ada yang mencaci, ada yang pura-pura tidak kenal.
Ia membuka pesan dari Kirana yang masuk satu jam lalu.
Aku lihat kamu berdiri dan tidak lari. Aku tidak tahu akhir cerita ini. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kamu pulang ke dirimu sendiri.
Inu membaca pesan itu berkali-kali. Dadanya sakit, tapi sakit yang bersih—bukan sakit karena ditikam, melainkan sakit karena akhirnya ia berhenti berbohong.
Ia membalas pelan:
Aku masih takut. Tapi aku capek jadi orang yang hanya mengejar aman.
Kirana tidak langsung membalas. Tapi Inu tidak menuntut. Ia tahu, kepercayaan itu bukan barang instan.
.
Sebulan kemudian, Inu tidak lagi bekerja di lantai tiga puluh dua. Ia mengundurkan diri sebelum dipecat. Ia menjual beberapa aset untuk menutup sebagian kerugian dan membantu pemulihan. Ia pindah ke tempat yang lebih kecil, lebih sunyi.
Orang-orang bilang ia “jatuh”. Namun Inu mulai merasakan sesuatu yang aneh: dalam jatuh itu, ia justru belajar berdiri tanpa sandaran palsu.
Galuh mengajaknya bertemu di ruang kerja sederhana milik komunitas sosial. “Nu, aku ada ide,” kata Galuh. “Kamu punya pengalaman, jaringan, dan pelajaran yang mahal. Jangan disimpan jadi luka. Jadikan modul.”
“Modul?”
“Program literasi finansial buat anak-anak yang mau masuk dunia kerja. Buat pekerja hospitality. Buat UMKM kelas menengah yang sering kebablasan utang demi gaya hidup. Kamu tahu kan, banyak orang terlihat kaya tapi rapuh.”
Inu terdiam. Ia teringat wajah-wajah di ruang rapat. Wajah-wajah yang percaya bahwa angka bisa menyelamatkan segalanya.
Padahal, yang sering menyelamatkan manusia justru: karakter.
“Aku bukan orang suci,” kata Inu.
Galuh tersenyum. “Justru itu. Kamu punya cerita. Dan cerita sering lebih mengubah manusia daripada ceramah.”
Inu mengangguk pelan. Ada rasa takut, tapi juga ada rasa hidup. Seolah ia diberi kesempatan kedua—bukan untuk mengulang, tapi untuk membenahi.
Di sela-sela program itu, Inu beberapa kali bertemu Kirana. Mereka tidak langsung kembali seperti dulu. Ada jarak yang harus dihormati, ada luka yang harus dipahami. Namun, ada percakapan yang perlahan tumbuh: percakapan tentang menjadi dewasa tanpa kehilangan hati.
Suatu sore, mereka duduk di taman kota, melihat anak-anak berlari. Kirana berkata pelan, “Dulu aku marah karena kamu memilih aman.”
Inu menatap tanah. “Aku marah juga… ke diriku sendiri.”
Kirana mengangguk. “Sekarang aku belajar: marah boleh, tapi jangan jadi rumah.”
Inu menatap Kirana. “Aku tidak minta kamu kembali cepat. Aku cuma… ingin kamu tahu, aku berusaha.”
Kirana tersenyum samar. “Aku tahu.”
Di langit, matahari turun pelan. Jakarta tetap bising. Tapi di antara bising itu, Inu merasakan sesuatu yang jarang: ketenangan yang tidak berasal dari pencapaian, melainkan dari kejujuran.
Ia teringat Lembu.
Ia mencari Lembu di kantor lama, tapi Lembu sudah pindah kerja. Namun suatu hari, Inu mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
Mas Inu, urip kuwi sinau. Yen wis salah, benahi. Yen wis lara, warasna. Ojo lali ngapuro awakmu dhewe. – L.
Inu menatap pesan itu lama. Matanya panas.
Ia akhirnya mengerti: memaafkan diri bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan diri adalah keberanian untuk hidup setelah mengaku salah—dan tidak mengulangnya.
Di dalam dirinya, ada kalimat yang tumbuh pelan, seperti akar yang menemukan air:
“Kita tidak ditentukan oleh jatuhnya, tapi oleh cara kita bangun—dan kepada siapa kita memilih jujur.”
Jakarta di depannya seperti lautan lampu lagi. Cantik dari jauh. Tapi kali ini, Inu tidak ingin menaklukkannya.
Ia hanya ingin berjalan di dalamnya, sebagai manusia—bukan sebagai topeng.
Dan itu, ternyata, jauh lebih berat… sekaligus jauh lebih merdeka.
.
.
.
Malang, 9 Januari 2025
.
.
#CerpenKompas #SastraIndonesia #KisahPerkotaan #KelasMenengahAtas #Integritas #Trust #PengampunanDiri #BelajarHidup #NamakuBrandkuVibes