Jeffrey Wibisono V.
  • Home
  • Profile
  • Blogs
  • Support me and locals
Cerpen urban emosional tentang Mahadi—si tulus yang belajar pergi setelah sering kecewa—mencari damai di Jakarta dan menemukan dirinya kembali.

Ketika Tulus Itu Pergi

“Orang yang tulus kalau sudah sering kecewa, ia berhenti marah, berhenti berdebat—ia hanya menutup pintu. Dan sunyi di balik pintu
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 25, 2025
Tentang tangan-tangan biasa yang menyalakan harapan, ketika hidup terasa sempit namun hati belajar meluas.

Ruang Sempit, Langit Luas

“Aku membantu, bukan karena kuat. Aku membantu, karena pernah rapuh.” “Menolong bukan tentang mampu atau tidak, tetapi tentang hati yang
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 25, 2025
Cerpen gaya Kompas Minggu tentang kelas menengah ke atas dan social climber Jakarta—tanpa kisah cinta. Emosional, reflektif, dan menyentuh hati sanubari.

Ruang Kosong di Keramaian

“Gengsi yang bising, hati yang sunyi” “Tak semua yang berkilau membawa terang; sebagian hanya menyoroti sepi yang kita sembunyikan.” .
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 25, 2025
Cerpen urban: Wirya ditolak karena usia, menulis esai, bukunya terbit, dan ia bangkit menjadi pembicara publik—mengubah penolakan menjadi panggung.

Ketika Dunia Menutup Pintu Kata-Kata Menyediakan Kursi

“Hidup di kota besar tak selalu tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang tetap berjalan ketika panggung meredup
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 25, 2025
Cerita emosional berlatar Jakarta tentang persahabatan yang diuji jarak, kepentingan, dan waktu. Menamai ulang siapa yang tinggal dan siapa yang hanya singgah.

Ruang di Antara Kita

“Tidak semua orang yang berjalan bersamamu adalah temanmu.Sebagian hanya penumpang, sebagian hanya persinggahan.Bijaklah menamai persaudaraan.” . Senja di Halte Kota
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 25, 2025
Cerpen urban reflektif tentang persahabatan, batas sehat, dan hilangnya respek sebagai titik akhir. Mengharubiru, logis, dan intim ala gaya Kompas Minggu.

Ketika Respek Menjadi Titik Akhir

“Pelajaran paling mahal bukan tentang siapa yang mengkhianatimu,melainkan kapan kamu akhirnya berhenti menyuapi harapan yang tidak lapar.” . Kota ini
  • Creative Thinking Creative Thinking
  •   September 24, 2025
  • «
  • 1
  • …
  • 38
  • 39
  • 40
  • 41
  • 42
  • 43
  • 44
  • …
  • 146
  • »

Search

My Recent Post

  • Cermin Flexing
  • Hening Dalam Gemuruh
  • Buku Namaku Adalah Identitas, Brandku Adalah Warisan
  • Pilihan Perempuan
  • Tujuh Malam untuk Pulang
  • Api yang Belajar Menjadi Lampu
  • Rasa yang Tertinggal
  • Tepuk Tangan yang Tidak Pernah Datang
  • Cermin-cermin
  • Sebelum Telepon Itu Tak Lagi Berdering

Share To Your Circle

  • Support me and locals
  • Cart
  • My Account

Copyright © 2026 Jeffrey Wibisono V. . All rights reserved

back to top