Agenda yang Tak Pernah Mencantumkan Pulang
Ada hidup yang rapi di kalender, tetapi berantakan di dada. Kita pandai menamai target, tapi gagap menyebut ‘pulang’.
.
Di lantai dua puluh tujuh sebuah apartemen yang menghadap jalan layang, kota tampak seperti mesin yang tak pernah dimatikan. Lampu merah—lampu putih—lampu kuning, semua bergerak, semua mengejar. Di kaca jendela yang bening, pantulan seorang lelaki berdiri: tubuhnya rapi, wajahnya lelah, matanya seolah menyimpan jarak yang tak bisa dijelaskan oleh angka-angka.
Namanya Jaya.
Di ponselnya, agenda minggu ini berbaris seperti prajurit: rapat investor, presentasi rebranding, makan malam klien, sesi mentoring, konferensi daring lintas zona waktu. Ada jam. Ada lokasi. Ada orang-orang penting. Ada tujuan yang ditulis tegas. Tapi tidak ada satu pun kalimat yang berbunyi: pulang.
Jaya sering tertawa ketika orang bilang hidupnya “sudah jadi.” Ia punya portofolio, punya nama, punya lingkar pertemanan yang jika disebut satu-satu terdengar seperti daftar tamu pembukaan sebuah hotel mewah. Ia pindah karier beberapa kali: dari agensi kreatif ke perusahaan teknologi, lalu mendirikan konsultan komunikasi, lalu berkolaborasi dengan investor properti. Di kalangan kelas menengah ke atas, diversifikasi itu bukan strategi—itu semacam iman: jangan menggantungkan hidup pada satu pintu, sebab satu pintu bisa terkunci kapan saja.
Namun di apartemen ini, ia sering mendapati dirinya duduk tanpa tujuan, menatap secangkir kopi yang dingin sebelum habis, memandangi sofa mahal yang tidak pernah benar-benar dipakai untuk berbagi cerita, dan mendengar suara AC sebagai satu-satunya “teman” yang setia.
Ada malam-malam ketika tubuhnya pulang, tapi jiwanya masih tertinggal di ruang rapat.
Malam ini termasuk salah satunya.
Di meja makan, laptop menyala. Di layar, slide presentasi berjudul besar: TRUST RECOVERY PLAN. Rencana pemulihan kepercayaan. Lucu, pikir Jaya. Ia bisa menulis rencana pemulihan untuk merek, untuk perusahaan, untuk reputasi publik—tapi ia tidak tahu cara memulihkan dirinya sendiri.
Pintu apartemen berbunyi pelan. Kunci diputar hati-hati, seperti orang yang tidak ingin mengganggu luka.
Yang masuk adalah Sekar.
Sekar tidak membawa kabar besar. Ia membawa makanan sederhana dalam kotak kertas, dan mata yang tidak terburu-buru. Ia bekerja sebagai konselor pendidikan di sekolah swasta unggulan—tempat anak-anak belajar tiga bahasa, punya jadwal lebih padat daripada orang dewasa, dan diajari cara “menang” bahkan sebelum mereka sempat belajar menerima kalah.
Sekar dan Jaya bertemu beberapa bulan lalu dalam sebuah diskusi publik tentang kota dan manusia. Saat itu, Sekar mengucapkan satu kalimat yang menancap di kepala Jaya seperti paku kecil yang tidak terlihat tapi terasa:
“Kita sering jatuh bukan karena bodoh, tapi karena terlalu percaya pada yang pandai berkata-kata.”
Jaya tidak langsung jatuh cinta pada Sekar. Ia hanya merasa: ada orang yang jika hadir, ruangan jadi lebih jujur.
Sekar menaruh kotak makanan di meja, lalu duduk tanpa menuntut penjelasan.
“Masih kerja?” tanya Sekar, suaranya seperti menepuk bahu pelan.
“Cuma… beresin,” jawab Jaya, padahal ia tahu yang ingin ia bereskan bukan slide—melainkan sesaknya sendiri.
Sekar memperhatikan layar laptop, lalu melihat agenda di ponsel Jaya yang terbuka. Ia tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek—senyum orang yang paham.
“Agenda kamu rapi,” kata Sekar.
Jaya mengangguk, ingin terdengar ringan. “Biar kelihatan hidup.”
Sekar diam sebentar, lalu menjawab pelan, “Kadang kita kelihatan hidup justru karena kita lupa cara merasa hidup.”
Kalimat itu membuat Jaya ingin tertawa dan menangis bersamaan.
Di luar, kota tetap berjalan. Di dalam, sesuatu mulai retak.
.
Keesokan paginya, Jaya menghadiri rapat penting dengan Menak—pengusaha properti yang selalu tampak tenang, selalu tampak menang. Menak adalah tipe orang yang jika masuk ruangan, udara ikut menyesuaikan. Ia bicara dengan tempo pelan, tapi semua orang mencatat. Ia jarang menaikkan suara, tapi semua orang takut mengecewakan.
Ada juga Ningar—kepala proyek yang terkenal “tahan banting.” Di atas kertas, Ningar adalah alasan proyek ini masih berdiri. Di balik kertas, Ningar adalah manusia yang memendam lelah sebagai prestasi.
Dan ada Kelara—orang keuangan, rapi, teliti, dingin. Kelara bisa mengukur risiko sampai dua angka di belakang koma, tapi tidak pernah belajar mengukur jarak emosi dalam hubungan manusia.
Proyek itu besar: rebranding kawasan hunian premium yang akan dipasarkan sebagai “oasis” di tengah kota. Mereka menjual pulang sebagai konsep. Menjual ketenangan, keluarga, udara segar, ruang bermain anak, komunitas yang hangat. Ironisnya, para penyusun konsep itu sendiri jarang punya ruang hangat di rumah masing-masing.
Rapat berjalan mulus—sampai sebuah isu muncul seperti asap dari bawah pintu: ada pelanggaran kontrak dari vendor utama, ada data yang tidak sinkron, ada keputusan yang diambil sepihak tanpa persetujuan tim inti. Menak bertanya dengan tenang, tapi pertanyaannya tajam.
“Siapa yang bertanggung jawab?”
Di ruangan yang dingin oleh AC dan etika korporat, semua mata, entah bagaimana, mengarah pada Jaya.
Jaya menatap layar, menatap catatan, menatap orang-orang yang semalam masih menepuk pundaknya dalam grup WhatsApp. Kini, mereka menunggu ia berdiri sendirian di depan badai.
Ningar tidak bicara. Kelara menunduk. Menak menatap tanpa ekspresi, seperti hakim yang tidak perlu marah untuk membuat seseorang runtuh.
Jaya akhirnya berkata, “Saya cek ulang dan saya bereskan.”
Kalimat itu terdengar profesional. Tapi ada bagian diri Jaya yang menjerit: Kenapa selalu aku yang harus menambal? Kenapa saat ada masalah, kehangatan kelompok berubah jadi kesunyian massal?
Hari itu, ia pulang dengan bahu lebih berat daripada tas laptopnya.
Di lift, ia melihat pantulan dirinya sendiri: rapi, tapi seperti seseorang yang sedang kehilangan rumah.
.
Malamnya, Jaya duduk di balkon apartemen. Angin kota menyentuh wajahnya, membawa aroma aspal, hujan yang tertahan, dan sesekali wangi kopi dari kafe di bawah.
Sekar datang lagi, tidak membawa banyak kata, hanya membawa hadir.
Jaya akhirnya pecah. Tidak dramatis. Tidak berteriak. Ia menangis dengan cara orang dewasa yang sudah terlalu lama diajari untuk kuat: air mata jatuh tanpa suara, bahu bergetar sedikit, napas terpotong, lalu ia buru-buru mengusap wajah—seolah malu pada dirinya sendiri.
Sekar tidak bertanya “kenapa”. Ia hanya berkata, “Aku di sini.”
Itu saja. Tapi kalimat itu seperti kursi yang akhirnya tersedia setelah perjalanan panjang.
Jaya menatap Sekar, suaranya serak. “Aku capek jadi orang yang selalu kelihatan bisa.”
Sekar mengangguk, seolah kalimat itu sudah lama ia tunggu. “Karena dunia kita sering memuji yang tahan banting, tapi jarang menghormati yang berani jujur.”
Jaya tertawa kecil, pahit. “Aku kerja bikin brand orang kelihatan punya rumah. Padahal aku sendiri… nggak tahu rumahku di mana.”
Sekar menatapnya lama, lalu berkata pelan, seperti menulis doa di udara:
“Rumah itu bukan soal alamat. Rumah itu soal tempat kamu boleh runtuh tanpa dipermalukan.”
Kalimat itu masuk ke dada Jaya, membuatnya ingin percaya lagi—bukan pada proyek, bukan pada pencapaian, tapi pada kemungkinan hidup yang lebih manusia.
.
Esoknya, Jaya mengambil keputusan kecil yang selama ini terasa mustahil: ia menunda satu rapat yang tidak benar-benar genting. Ia mematikan notifikasi selama dua jam. Ia berjalan tanpa tujuan di trotoar yang sempit, melewati gedung-gedung yang seolah berlomba menjadi langit.
Ia berhenti di sebuah toko buku.
Di rak, ia menemukan buku catatan kosong. Ia membeli satu, lalu duduk di kafe kecil, membuka halaman pertama, dan menulis tanpa strategi:
“Jika hidupku sebuah agenda, kapan terakhir kali aku mencantumkan pulang?”
Ia menatap tulisan itu lama. Lalu menulis lagi:
“Aku ingin pulang, tapi aku takut pulang berarti mengakui: aku lelah.”
Ada rasa malu yang menempel pada kata “lelah,” seolah lelah adalah dosa. Padahal, lelah adalah tanda: ada bagian diri yang telah bekerja terlalu keras tanpa dipeluk.
Sore harinya, ia menghubungi Ningar. Ia tidak bicara soal kesalahan vendor dulu. Ia bicara soal hal yang jarang dibicarakan di dunia profesional: kejujuran.
“Aku tahu kamu juga kebakar,” kata Jaya. “Aku selama ini pura-pura kuat. Tapi proyek ini nggak akan selamat kalau kita terus saling diam.”
Di ujung telepon, Ningar terdiam lama, lalu akhirnya menghela napas yang terdengar seperti pintu yang dibuka dari dalam.
“Jaya,” kata Ningar, suaranya patah tipis, “aku juga capek. Aku cuma takut kalau aku ngomong, aku dianggap nggak profesional.”
Jaya tersenyum pahit. “Kita hidup di zaman yang mengira profesional itu berarti nggak boleh rapuh.”
Mereka bicara lama. Bukan tentang angka. Tentang batas. Tentang cara kerja yang manusiawi. Tentang berani bilang “cukup” sebelum tubuh dipaksa roboh.
Malam itu, Jaya menulis lagi:
“Solusi paling sunyi: memperlambat.”
Ia tahu, hidup tidak akan berubah dengan satu keputusan. Tapi ia juga tahu: perubahan besar sering dimulai dari keberanian kecil yang tidak viral.
.
Rapat berikutnya dengan Menak tidak mudah. Menak tetap tenang, tetap tajam. Tapi kali ini, Jaya tidak mengorbankan dirinya untuk terlihat heroik. Ia memaparkan fakta, membagi tanggung jawab, dan—yang paling sulit—menetapkan batas.
“Ini bukan soal siapa yang salah,” kata Jaya di depan ruangan. “Ini soal sistem yang kita biarkan membuat kita saling melempar. Kalau kita mau proyek ini pulih, kita harus pulih cara kerjanya.”
Kelara memandang dingin, tapi tidak memotong. Ningar mengangguk pelan. Menak menatap lama, seperti menilai bukan hanya rencana, tapi keberanian.
Setelah rapat, Menak menghampiri Jaya, suaranya datar namun ada sesuatu yang baru: pengakuan tanpa basa-basi.
“Kalau dari awal kamu ngomong begini, kita nggak sampai sejauh ini,” kata Menak.
Jaya ingin menjawab sinis, tapi ia memilih jujur. “Aku dulu takut dianggap lemah.”
Menak menatapnya, lalu berkata pelan—kalimat yang tak ia sangka keluar dari mulut seorang pengusaha setegas itu:
“Lemah itu bukan menangis. Lemah itu terus berpura-pura kuat sampai kamu kehilangan orang yang kamu sayang.”
Jaya pulang dengan dada berbeda. Kota masih sama, tapi ia tidak lagi merasa sepenuhnya terasing.
.
Malam berikutnya, Sekar mengajak Jaya makan malam di rumah ibunya—sebuah rumah sederhana di pinggir kota, tidak mewah, tapi hangat. Ada aroma tumis, ada suara piring, ada tawa yang tidak dibuat untuk kamera.
Di meja makan, ibu Sekar menyodorkan piring pada Jaya dan berkata, “Makan yang cukup ya, Nak. Orang kota itu sering lupa makan kalau lagi mikir.”
Jaya menunduk, dadanya mendadak sesak. Kata “Nak” itu sederhana, tapi terasa seperti diterima.
Sepulang dari sana, di dalam mobil, Jaya berkata lirih, “Aku lupa rasanya makan tanpa buru-buru.”
Sekar menatap jalan. “Karena kamu selama ini mengejar hidup, bukan menjalani.”
Jaya diam. Di lampu merah, ia memandang ponselnya yang menyala dengan notifikasi. Ia mematikannya.
Sekar tersenyum tipis, seperti seseorang yang melihat anak kecil akhirnya berani meletakkan beban.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Jaya membuka agenda minggu depan dan menambahkan satu baris yang tidak ada hubungannya dengan target:
Pulang.
Tidak ke alamat. Ke dirinya sendiri.
.
Di akhir tahun, proyek itu masih berjalan. Masih ada drama, masih ada risiko, masih ada rapat-rapat yang melelahkan. Kota tidak berubah menjadi lembut hanya karena seseorang belajar pulang. Tapi Jaya berubah dalam satu hal penting: ia berhenti menjadikan dirinya mesin.
Ia belajar bahwa keberhasilan tanpa pulang adalah perantauan yang disamarkan.
Dan dalam buku catatan kecilnya, ia menulis kalimat yang ingin ia pegang seumur hidup:
“Kalau hidupmu terlalu penuh sampai tidak ada tempat untuk pulang, mungkin bukan hidup yang kamu butuh—melainkan keberanian untuk memilih.”
Di luar jendela, kendaraan masih mengular. Kota masih bising. Tapi di dalam dada Jaya, untuk pertama kalinya, ada ruang yang bernapas.
Ada rumah kecil yang akhirnya dinyalakan lampunya.
.
.
.
Malang, 26 Desember 2025
.
.
#CerpenKompas #SastraUrban #KehidupanPerkotaan #KelasMenengah #RefleksiHidup #Kesunyian #MaknaPulang #Empati #RelasiManusia #CeritaIndonesia #SastraKontemporer #HumanInterest #LiterasiEmosional #HidupApaAdanya