Mereka yang Tampak Baik-Baik Saja
“Kita sering menyebutnya ‘baik-baik saja’ hanya karena kita terlalu lelah menjelaskan luka.”
“Yang tampak mapan belum tentu pulang; yang tampak tenang belum tentu selesai.”
.
Langit kota selalu tampak tenang dari kejauhan, seolah semua orang di dalamnya hidup tanpa retak. Dari balik kaca gedung tinggi, lampu-lampu menyala seperti tanda bahwa kehidupan berjalan baik-baik saja—rapi, terencana, dan penuh arah. Namun, di antara elevator yang naik turun dan rapat-rapat yang selesai tepat waktu, ada orang-orang yang diam-diam menahan pertanyaan yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras: apakah hidup yang mereka jalani benar-benar milik mereka sendiri? Mereka tersenyum di ruang kerja, menandatangani kontrak, mengirim pesan motivasi di grup profesional, tetapi di sela jeda yang sunyi, ada keraguan yang tumbuh pelan—seperti bayangan yang mengikuti langkah, tanpa pernah benar-benar hilang.
Amir adalah salah satu dari mereka.
Pagi itu, ia berdiri terlalu lama di depan mesin kopi kantor. Bukan karena kopi yang ia tunggu lama turun, melainkan karena ia tidak benar-benar ingin kembali ke meja kerja. Mesin itu memuntahkan aroma pahit yang biasa ia sebut “penyelamat”, padahal sering kali hanya penunda: penunda kegelisahan.
Ponselnya bergetar. Notifikasi berbaris seperti antrian yang tidak sabar: email klien yang meminta revisi cepat, pesan tim yang menanyakan keputusan, undangan webinar “Future-Proof Your Career”, pengingat pembayaran cicilan apartemen yang tampak elegan di brosur namun terasa dingin saat malam, dan satu notifikasi dari aplikasi meditasi: “Tarik napas. Kamu aman.”
Amir menatap kalimat itu—kamu aman—lalu tersenyum tipis.
Lucu, pikirnya. Kota ini bahkan menjual rasa aman dalam bentuk kalimat.
Di seberang ruang pantry, seseorang tertawa kecil—tawa yang terlatih. Di kota ini, orang tertawa sambil menghitung. Orang tersenyum sambil waspada. Orang saling menyapa sambil menimbang.
Amir mengambil kopi, berjalan kembali ke ruang kerjanya, melewati koridor yang memantulkan bayangan dirinya di kaca-kaca. Bayangan itu tampak rapi: kemeja pas badan, sepatu mengilap, jam tangan yang ia beli setelah promosi terakhir. Tetapi di dalam, ia merasa seperti seseorang yang memegang ransel berat yang tidak terlihat orang lain.
Di layar laptop, email paling atas sudah menunggu: “We need to restructure.”
Kata “restructure” terdengar sopan. Seperti kata “penyesuaian” menggantikan “dipangkas”, atau “opportunity” menggantikan “ketidakpastian”. Amir menatapnya lama, seolah menatap pintu yang tidak ia minta untuk dibuka.
“Kadang yang menghancurkan bukan kehilangan, tapi ketidakjelasan,” batinnya. “Kita bisa menerima luka. Yang sulit adalah menebak dari mana luka itu datang.”
.
Ruang rapat di lantai tiga puluh dua selalu wangi. Wangi pendingin udara yang mahal, wangi karpet bersih, wangi kopi premium yang disajikan dalam cangkir kecil. Jendela kaca besar memperlihatkan kota seperti peta: jalan-jalan, gedung-gedung, dan orang-orang yang bergerak seperti titik-titik.
Di dalam ruangan, semua orang tampak profesional. Mereka duduk pada kursi yang empuk, membuka laptop, mengangguk pada kalimat-kalimat yang sudah sering dipakai untuk membungkus kenyataan: “efisiensi”, “penyelarasan”, “realokasi”, “transisi”.
Umarmaya duduk di seberang meja. Wajahnya tenang, riasannya tipis, rambutnya diikat rapi. Ia bekerja di ranah hukum korporasi, terbiasa melihat konflik di balik bahasa resmi, terbiasa melihat luka yang memakai jas. Ia jarang salah membaca situasi.
Umarmadi masuk belakangan, seperti biasa. Jas tanpa dasi, senyum santai, ponsel disimpan di saku seolah ia tidak peduli—padahal Amir tahu, Umarmadi peduli pada banyak hal. Hanya saja ia tidak ingin terlihat kalah.
Di ujung meja, manajer regional memulai presentasi. Slide bergerak cepat, grafik naik turun, angka-angka membentuk cerita yang ingin mereka dengar. Amir mencatat, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu dari masa kuliah: kalau seseorang terus-menerus sibuk, biasanya itu bukan karena hidupnya penuh. Itu karena hidupnya kosong dan ia menutupinya dengan kegiatan.
Sebuah kalimat muncul di kepala Amir, tanpa ia tahu dari mana:
“Yang membuat masa depan terasa kabur bukan karena kita kehilangan jalan—melainkan karena kita terlalu lama berjalan di jalan yang bukan milik hati.”
Ia merasakan dadanya sesak, seperti ada pintu yang didorong dari dalam.
Rapat selesai. Semua orang berdiri hampir bersamaan. Ada yang langsung mengangkat telepon, ada yang tertawa kecil seolah baru menang, ada yang menepuk punggung satu sama lain dengan gaya kita kuat.
Umarmaya menepuk bahu Amir.
“Kamu terlihat jauh.”
Amir tertawa singkat. “Aku di sini.”
“Tapi tidak sepenuhnya,” jawab Umarmaya.
Kalimat itu tidak keras. Tetapi menancap.
.
Tempat biasa mereka bukan warung, bukan pula restoran mahal yang dipakai untuk merayakan kesuksesan. Tempat biasa itu kafe di sudut jalan, di antara butik dan kantor konsultan pajak, tempat orang-orang kelas menengah ke atas pura-pura santai sambil tetap sibuk. Mereka duduk dengan laptop terbuka, mengobrol sambil menatap layar, memesan kopi sambil memeriksa saham.
Di sana, Umarmaya tidak perlu memakai bahasa hukum. Umarmadi tidak perlu berlagak kuat. Dan Amir—untuk beberapa saat—tidak perlu menjadi “Amir yang mapan”.
Umarmadi menyeruput espresso dan bertanya tanpa basa-basi, “Gimana?”
Amir mengaduk kopinya pelan. Ia mencari pintu untuk mengeluarkan sesuatu yang terlalu lama ia simpan.
“Aku tidak takut kehilangan pekerjaan,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Aku takut kalau ternyata aku tidak tahu apa yang harus dilakukan tanpa pekerjaan ini.”
Hening sejenak. Bukan hening canggung. Hening yang manusia.
Umarmaya mengangguk pelan, seperti sedang mengkonfirmasi sesuatu yang sudah ia tahu.
“Banyak orang sukses punya rahasia yang sama,” katanya. “Mereka tidak takut jatuh. Mereka takut kehilangan identitas.”
Umarmadi menatap Amir tajam, lalu berkata, “Kota ini mengajarkan kita menjadi sesuatu. Tapi jarang mengajarkan kita menjadi diri sendiri.”
Amir menelan ludah. Ia teringat rumah masa kecilnya—rumah sederhana, jauh dari gedung-gedung. Ia ingat ibunya menjemur pakaian sambil bersenandung, ayahnya pulang membawa bau jalan dan kelelahan. Waktu itu, hidup terasa sederhana: makan malam, tawa kecil, cerita pendek. Tidak ada kata “brand”, “positioning”, “resilience”. Hanya ada: cukup.
Sekarang ia punya segalanya yang dulu ia kira “cukup”—dan tetap merasa kurang.
“Aku merasa seperti aktor yang lupa naskahnya,” kata Amir.
Umarmaya tersenyum tipis. “Mungkin bukan lupa. Mungkin kamu sedang masuk bab baru.”
Umarmadi menepuk meja pelan. “Bab baru itu sering dimulai dengan rasa takut.”
Amir menghela napas.
“Terus aku harus apa?”
Umarmadi berkata, lebih pelan, “Pertama, akui kamu takut. Kedua, jangan cari jawaban sendirian. Ketiga, berhenti menyamakan ‘jelas’ dengan ‘aman’. Kadang yang jelas itu justru penjara.”
Amir ingin tertawa, ingin menyangkal, tapi yang keluar justru rasa hangat di mata. Ia menunduk agar air matanya tidak terlihat.
Umarmaya menambahkan, suaranya seperti selimut: “Kamu tidak lemah, Mir. Kamu cuma… manusia.”
Kalimat itu membuat Amir terdiam lama. Di kota ini, kata “manusia” sering jadi label yang terlupakan.
.
Malam itu, Amir pulang ke apartemen yang rapi. Ketika ia membuka pintu, aroma ruangan yang dingin menyambutnya. Ia menyalakan lampu, menatap ruang tamu yang tertata seperti foto katalog. Semua terlihat benar, tapi terasa kosong. Seolah ia tinggal di rumah orang lain yang ia sewa dengan hidupnya sendiri.
Di meja, ada amplop dari ibunya—tulisan tangan yang pelan dan rapi. Amir jarang mendapat surat. Mereka biasa telepon. Tetapi ibunya suka menulis surat ketika sedang ingin mengatakan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan langsung.
Amir membuka amplop. Di dalam ada selembar kertas dan foto kecil: ayahnya sedang duduk di teras rumah lama, memegang gelas teh. Foto itu terlihat baru.
Tulisan ibunya:
Mir, ayahmu sering diam akhir-akhir ini. Bukan karena marah. Mungkin karena lelah. Kadang ibu takut, kita semakin jauh meski kita bisa saling telepon. Pulanglah kalau sempat. Ibu rindu lihat kamu makan dengan tenang, bukan terburu-buru. Ibu tahu kamu bekerja keras. Tapi jangan sampai kamu lupa hidup.
Amir menutup surat itu pelan. Ada sesuatu yang jatuh di dada—bukan karena kata-katanya menyakitkan, tetapi karena kata-katanya benar.
Ia menatap foto ayahnya. Ayahnya tidak pernah memaksa Amir menjadi apa pun. Tapi Amir sendiri yang memaksa dirinya menjadi “berhasil”. Amir sendiri yang menjadikan kariernya sebagai agama.
Ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat Amir diam: Muninggar.
Sudah lama mereka tidak bicara seperti dulu. Muninggar pernah menjadi bagian hidup Amir yang paling hangat, sebelum karier membuat segalanya kaku. Muninggar kini bekerja sebagai konselor karier dan pengajar di sebuah program executive education, bertemu banyak orang yang tampak sukses tapi retak di dalam.
Amir mengangkat telepon.
“Halo?”
Suara Muninggar lembut, tapi tegas.
“Aku dengar kabar dari Umarmaya. Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu membuat Amir ingin menjawab otomatis: baik. Tetapi lidahnya kali ini memilih kejujuran.
“Tidak terlalu.”
Muninggar diam sejenak.
“Aku bisa ketemu kamu? Tidak untuk menasehati. Cuma… biar kamu tidak sendirian.”
Amir menutup mata. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak, menjaga gengsi. Namun ada bagian lain yang lebih lelah—bagian yang ingin pulang ke manusia.
“Boleh,” jawab Amir pelan.
.
Mereka bertemu di sebuah taman kecil dekat apartemen. Taman yang dibangun developer agar terlihat “hijau” tetapi tetap tertata. Di bangku kayu, Muninggar duduk di samping Amir, jarak mereka cukup untuk menjaga masa lalu tidak langsung menabrak.
“Aku tidak akan menasihati,” kata Muninggar. “Aku cuma mau kamu bicara.”
Amir tertawa kecil, getir. “Lucu ya. Aku bisa presentasi dua jam di depan board, tapi untuk bicara soal diri sendiri… aku gagap.”
Muninggar mengangguk. “Karena board menilai kerja. Diri sendiri menilai hidup.”
Amir menatap tanah, lalu berkata pelan: “Aku merasa masa depan karierku… tidak pernah seburam ini.”
Muninggar bertanya: “Kalau kariermu hilang besok, apa yang masih kamu miliki?”
Pertanyaan itu seperti menarik karpet di bawah kaki. Amir ingin menjawab cepat: tabungan, jaringan, pengalaman. Tapi Muninggar tidak bertanya soal aset. Ia bertanya soal inti.
Amir menelan ludah. “Aku tidak tahu.”
Muninggar memandangnya lama. “Itu jawaban paling jujur yang bisa menyelamatkanmu. Karena dari ‘tidak tahu’ kamu bisa belajar lagi.”
Amir merasakan matanya panas. Ia menahan, tapi air mata tidak selalu bisa diperintah.
Muninggar melanjutkan, “Di kota ini, banyak orang terlihat seperti sedang naik. Padahal mereka cuma sedang menahan jatuh.”
Amir akhirnya menangis. Tangisnya sunyi, seperti hujan yang turun tanpa angin. Muninggar tidak menghibur dengan kata-kata besar. Ia hanya duduk. Kadang, kehadiran adalah obat yang lebih jujur daripada motivasi.
Setelah Amir agak tenang, Muninggar berkata, “Buat tiga kolom: hal yang kamu bisa, hal yang kamu suka, hal yang membuatmu merasa berguna bagi orang lain.”
Amir menyeka wajah. “Kayak tugas kuliah.”
Muninggar tersenyum. “Kita semua perlu kembali jadi murid, sebelum jadi pemimpin lagi.”
Lalu Muninggar menambahkan satu kalimat yang membuat Amir diam lebih lama:
“Kalau masa depan terasa kabur, jangan panik. Mungkin itu tanda kamu sedang dipanggil melihat ke dalam, bukan ke jauh.”
.
Malam-malam berikutnya, Amir mengisi kolom-kolom itu seperti orang mengaku, tanpa berharap dipuji.
Yang bisa: strategi, negosiasi, komunikasi krisis, menyusun tim, membangun brand, merancang pengalaman pelanggan, melatih orang, merapikan kekacauan.
Yang suka: menulis, mendengar cerita orang, merancang proses yang manusiawi, membangun budaya kerja yang tidak mempermalukan.
Yang berguna bagi orang lain: mentoring, membantu orang menemukan arah, menguatkan profesional yang tersesat, membangun bisnis yang etis.
Ia terdiam ketika melihat tulisannya sendiri. Ia seperti menemukan peta yang selama ini tersembunyi di bawah tumpukan laporan.
Di ponselnya, Umarmaya mengirim pesan: “Besok kumpul kecil. Ikut. Aku punya seseorang yang perlu kamu kenal.”
Amir membalas: “Oke.”
.
Kumpulan kecil itu berlangsung di co-working space yang dindingnya penuh poster kata-kata motivasi: innovate, scale, impact. Orang-orang berkumpul dengan gaya “santai”, tapi mata mereka serius: investor, dosen tamu, entrepreneur, dan profesional yang sedang mencari cara bertahan tanpa kehilangan diri.
Umarmaya memperkenalkan Amir pada Inu dan Sekar.
Inu bekerja di perusahaan teknologi edukasi, memimpin program upskilling untuk eksekutif menengah. Ia tampak rapi, tetapi ada lelah yang tidak bisa ditutupi blazer.
Sekar adalah pemilik kursus komunikasi yang mulai merambah platform digital. Ia mengajar public speaking—ironisnya, ia jago bicara untuk orang lain, tapi sering gagap untuk dirinya sendiri.
Mereka duduk bertiga.
Inu langsung berkata, “Aku dengar kamu restrukturisasi.”
Amir mengangguk. “Penyesuaian peran.”
Inu tersenyum pahit. “Kata paling sopan untuk membuat seseorang merasa tidak cukup.”
Sekar menatap Amir, lalu bertanya pelan, “Kalau kamu boleh jujur… kamu masih mencintai pekerjaanmu?”
Pertanyaan itu membuat Amir seperti tersedak. Di kota ini orang jarang bertanya soal cinta, terutama cinta pada kerja. Yang ditanya: target, bonus, pencapaian.
“Aku mencintai… sebagian,” jawab Amir. “Aku mencintai dampaknya. Tapi aku lelah pada topeng.”
Sekar mengangguk, seperti orang yang menemukan kata untuk lukanya sendiri.
Inu berkata lirih: “Kadang kita bukan lelah bekerja. Kita lelah berpura-pura baik-baik saja.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti lampu padam: gelap, tapi jujur.
Di ruangan itu, Amir melihat sesuatu yang selama ini tak ia lihat di kantor: banyak orang dewasa yang terlihat berhasil, tapi sebenarnya menahan retak.
Ia sadar: ini bukan sekadar krisis karier. Ini krisis identitas. Krisis makna. Krisis manusia yang terlalu lama dijadikan mesin.
.
Beberapa hari kemudian, restrukturisasi diumumkan resmi. Amir tidak dipecat, tapi perannya disusutkan. Ia tetap punya penghasilan, tetap punya akses, tetap punya nama. Namun egonya terluka. Dan anehnya—hatinya terasa lebih ringan.
Ia pulang dengan map tipis berisi dokumen perubahan peran. Di lift, ia melihat pantulan dirinya: rapi, tetapi mata seperti baru selesai dipukul halus oleh kenyataan.
Sesampai di apartemen, ponsel berdering. Ibunya.
“Mir,” suara ibu terdengar pelan, “kamu capek ya?”
Pertanyaan itu seperti kain hangat menutup kepala.
Amir menelan ludah. “Capek, Bu.”
Ibunya diam sejenak, lalu berkata, “Capek itu wajar. Tapi kalau kamu capek sampai lupa bahagia… itu bukan wajar, Mir.”
Amir memejamkan mata. Ia ingin menjawab banyak hal, tapi yang keluar hanya satu kalimat: “Aku takut, Bu.”
Ibunya menghela napas panjang—napas orang tua yang tidak punya banyak teori, tapi punya cinta yang tidak pernah belajar berhenti.
“Takut itu tanda kamu masih peduli sama hidupmu,” kata ibu. “Orang yang tidak takut itu bukan berani. Bisa jadi… sudah mati rasa.”
Amir terdiam. Ia ingat ayahnya di foto. Ia ingat surat. Ia merasa ada sesuatu yang memanggilnya pulang.
“Aku pulang minggu ini,” kata Amir.
Ibunya terdengar lega. “Pulang, ya. Ayahmu cuma bilang ‘iya’ kalau ibu sebut namamu.”
.
Perjalanan pulang ke rumah orang tua membuat Amir melihat Indonesia dari balik jendela mobil: jalan tol, warung kecil, spanduk bimbingan belajar, papan iklan properti, suara radio yang menyiarkan promo cicilan. Negara ini juga sedang mencari arah. Dan di antara negara yang mencari arah itu, ada seorang anak laki-laki dewasa yang mencoba menemukan dirinya sendiri.
Di rumah, ayahnya duduk di teras, memegang gelas teh. Rambutnya lebih putih dari yang Amir ingat. Bahunya sedikit turun. Tapi matanya tetap mata ayah: mata yang melihat anaknya bukan sebagai jabatan, melainkan sebagai manusia.
Amir duduk di sebelah ayah.
Ayahnya tidak langsung bertanya soal kerja. Ia hanya berkata, “Kamu kurus.”
Amir tertawa kecil. “Kerjaan.”
Ayahnya mengangguk pelan. “Kerjaan itu bisa habis. Kamu jangan ikut habis.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Amir menatap ayahnya lama.
Ayahnya melanjutkan, seperti sedang bicara ke udara, “Dulu ayah kerja juga capek. Tapi ayah pulang selalu tahu rumah. Kamu… pulang ke mana, Mir?”
Amir menunduk. Kata-kata ayah itu seperti mengangkat batu di dadanya, batu yang selama ini ia pura-pura tidak ada.
“Aku nggak tahu,” jawab Amir jujur.
Ayahnya menepuk pahanya pelan. “Kalau nggak tahu, ya cari. Tapi jangan cari dengan lari. Cari dengan duduk juga.”
Malam itu, Amir makan malam bersama ibu dan ayahnya. Nasi hangat, sayur sederhana, ikan goreng. Tidak ada plating cantik. Tapi Amir merasa kenyang, bukan hanya di perut.
Setelah makan, ia keluar ke teras. Udara kampung lebih jujur dari udara kota. Tidak ada gedung yang memantulkan topeng. Tidak ada rapat yang menuntut senyum.
Amir menangis lagi—kali ini tanpa malu.
“Kadang kita menangis bukan karena lemah,” pikirnya. “Tapi karena akhirnya pulang.”
.
Sekembali ke kota, Amir tidak tiba-tiba menjadi manusia baru. Kota tidak memberi izin perubahan besar tanpa ujian. Ia masih harus bekerja. Masih harus menuntaskan tanggung jawab. Masih harus menghadapi orang-orang yang menilai dari jabatan.
Tetapi sesuatu berubah: ia berhenti menyamakan nilai dirinya dengan kartu nama.
Muninggar mengajaknya mengisi sesi mentoring kecil. Pesertanya sepuluh orang. Mereka duduk melingkar. Tidak ada podium. Tidak ada mic. Hanya kejujuran yang pelan.
Nama-nama mereka terdengar seperti potongan kisah lama yang berpakaian modern: Panji, Galuh, Ragil, Candri, Kuda, Lintang, Laras, Sekar, Inu, dan satu peserta baru: Damarwulan—seorang profesional komunikasi yang tampak percaya diri, tetapi matanya sering kosong.
Mereka bercerita. Tentang bos yang memuji di depan tapi merendahkan di belakang. Tentang orang tua yang mengukur anak dengan jabatan. Tentang pernikahan yang tampak harmonis, tapi sebenarnya dua orang asing tinggal dalam satu apartemen. Tentang bisnis yang terlihat maju, tapi pemiliknya tidak pernah merasa pulang.
Amir mendengar. Ia tidak selalu memberi jawaban. Ia memberi ruang. Ia baru mengerti: mendengar adalah bentuk kepemimpinan yang paling sunyi dan paling kuat.
Di sesi itu, Ragil berkata, “Aku takut salah langkah.”
Amir menatap Ragil, lalu berkata pelan, “Jangan tunggu masa depan terasa jelas untuk bergerak. Bergeraklah pelan-pelan, supaya masa depan punya alasan untuk menampakkan dirinya.”
Galuh mengusap mata. Candri menarik napas. Damarwulan menunduk lama, seolah kalimat itu membongkar sesuatu yang ia tutupi bertahun-tahun.
Di akhir sesi, Muninggar berkata pada Amir, “Kamu tidak sedang mengajar mereka. Kamu sedang menemani.”
Amir tersenyum. “Aku juga ditemani.”
.
Dari sesi-sesi kecil itu, lahirlah sesuatu yang tidak mewah tapi nyata: sebuah komunitas kecil bernama Ruang Jeda.
Inu membantu merancang modul edukasi. Sekar membantu mengemas materi komunikasi. Umarmaya membantu aspek legal dan etika. Umarmadi membantu model bisnis agar tidak rakus. Amir menulis konten dan merancang pengalaman pertemuan seperti merancang perjalanan tamu—karena ia tahu: manusia juga butuh hospitality, bukan hanya di hotel, tapi di hidup.
Mereka tidak menamai program itu “Transformasi Hebat” atau “Roadmap Sukses”. Mereka menamainya sederhana—karena kebenaran tidak butuh hiasan.
Pada sesi pertama resmi, Amir membuka dengan kalimat:
“Kalau hidupmu terasa sempit, bukan berarti kamu lemah. Bisa jadi kamu sedang tumbuh, tapi ruangnya belum kamu siapkan.”
Satu per satu orang mulai bicara. Mereka bicara dengan suara yang selama ini mereka simpan di dada. Mereka tidak lagi pura-pura.
Panji berkata, “Aku takut aku tidak berguna tanpa jabatan.”
Amir menjawab, “Jabatan itu alat. Tapi kamu bukan alat. Kamu manusia.”
Lintang berkata, “Aku capek jadi kuat.”
Amir menjawab, “Kuat itu bukan tidak menangis. Kuat itu berani jujur ketika semua orang menyuruhmu diam.”
Damarwulan akhirnya bicara, suaranya patah: “Aku sudah lama nggak tahu aku mau apa. Aku hanya melakukan yang orang bilang ‘baik’.”
Amir menatap Damarwulan dan berkata, “Kita sering mengejar ‘baik’ sampai lupa ‘benar’ bagi hati kita.”
Di sudut ruangan, Muninggar memandang Amir. Senyum kecilnya seperti mengatakan: kamu pulang.
.
Suatu malam, setelah sesi selesai, Candri mendekati Amir.
“Mir, boleh jujur?”
“Boleh.”
“Aku iri sama kamu.”
Amir tertawa kecil. “Kenapa?”
Candri menunduk. “Karena kamu berani memulai dari tempat yang jujur, padahal kamu sudah punya semuanya.”
Amir ingin menyangkal, tapi ia ingat: kejujuran adalah cara baru ia bernapas.
“Aku tidak memulai dari nol,” kata Amir pelan. “Aku memulai dari luka.”
Candri menatapnya. Matanya berkaca-kaca.
“Aku juga,” katanya.
Dan di momen itu, Amir merasa hangat—bukan hangat kemenangan, melainkan hangat kemanusiaan.
Ia sadar: edukasi yang paling solutif bukan yang paling canggih, tapi yang paling jujur. Orang tidak butuh peta sempurna. Orang butuh kompas yang benar.
.
Waktu berjalan. Tidak ada perubahan besar yang dramatis. Kehidupan jarang dramatik seperti film. Yang ada adalah perubahan kecil yang konsisten, seperti air mengikis batu.
Amir tetap bekerja, tetapi ia mulai mengurangi jam lembur yang tidak perlu. Ia menolak rapat yang hanya mempertahankan ego. Ia memilih proyek yang punya makna. Ia menulis lebih sering. Ia pulang lebih cepat sesekali, bukan karena malas, tapi karena ia ingin hidup.
Ia juga mulai menelepon ibunya lebih sering. Ia mulai mendengarkan ayahnya lebih lama. Ia mulai menyadari: keberhasilan yang tidak bisa dibagi dengan tenang, sebenarnya bukan keberhasilan—itu hanya piala.
Suatu malam, ia bertemu Umarmaya dan Umarmadi lagi di kafe yang sama.
“Kita dulu bertemu di sini untuk mengeluh,” kata Amir sambil tersenyum. “Sekarang kita bertemu di sini untuk… bernapas.”
Umarmadi mengangkat cangkir. “Untuk jeda.”
Umarmaya mengangkat cangkir. “Untuk hati.”
Amir ikut mengangkat cangkir. Di luar, kota masih ramai. Tapi di dalam, sesuatu terasa lebih tenang.
Ia pulang malam itu dengan langkah yang tidak tergesa. Ia naik elevator. Ia menatap pantulan wajahnya di dinding stainless: wajah itu masih sama, tetapi mata berbeda—mata yang tidak lagi memohon validasi.
Di apartemen, ia membuka buku catatan dan menulis:
“Ada masa ketika masa depan kabur bukan untuk menakutimu, tapi untuk memaksa kamu melihat ke dalam.”
Ia berhenti, lalu menulis satu kalimat lagi—seolah menulis untuk semua orang yang sedang menahan retak:
“Tidak semua yang terlihat baik-baik saja sedang baik-baik saja. Tapi tidak semua yang retak harus hancur. Ada retak yang menjadi pintu cahaya.”
Amir menutup buku. Duduk. Menutup mata.
Dan di balik kebisingan kota, ia akhirnya mendengar sesuatu yang dulu hilang: suaranya sendiri.
“Aku tidak harus tahu seluruh peta,” bisiknya pada dirinya. “Aku hanya harus setia pada langkah yang jujur.”
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala seperti ribuan mata. Tetapi untuk pertama kalinya, Amir tidak merasa diawasi.
Ia merasa pulang.
.
.
.
Malang, 21 Februari 2026
.
.
#MerekaYangTampakBaikBaikSaja #CerpenIndonesia #CerpenUrban #GayaKompasMinggu #KrisisKarier #RefleksiDewasa #MentoringHidup #KesehatanMental #KelasMenengah #RuangJeda