Unbossing
“Yang paling melelahkan bukan bekerja keras—melainkan pura-pura baik-baik saja demi terlihat ‘beres’ di mata orang.”
.
Pagi di kota selalu dimulai dengan bunyi yang sama: notifikasi.
Bunyi kecil dari layar—seperti ketukan halus yang mengingatkan bahwa hidup kelas menengah ke atas bukan sekadar soal punya pilihan, melainkan soal dipaksa memilih setiap hari: memilih tenang atau memilih menang.
Langit menatap plafon apartemennya yang putih bersih. Di bawahnya, meja kerja yang rapi seperti foto katalog: laptop, notebook kulit hitam, pena perak, gelas kopi panas yang tak sempat dinikmati pelan. Di sebelahnya, kemeja yang sudah disetrika tergantung di pintu lemari. Semua tertata, seperti narasi yang ingin ia jual pada dunia: “Aku baik-baik saja.”
Padahal, sejak tiga bulan terakhir, napasnya sering berantakan di jam-jam yang tidak masuk kalender.
Ia menekan tombol ponselnya. Kalender digital terbuka.
08.30: Board Meeting – Growth Q1
10.00: Investor Call – Due Diligence
12.00: Lunch with potential partner (Education Tech)
14.00: Site visit – New Project
16.30: HR review – talent retention
19.00: Dinner – “teman lama”
Hari itu tampak normal. Tapi Langit tahu: sesuatu yang tampak normal, sering kali adalah bencana yang belum sempat menampakkan wajah.
Di grup chat kantor, nama-nama beterbangan seperti lemparan bumerang: Bayu, Kartika, Lintang, Wirotama, Sekar, Gayatri, Rangga, Damar, Ratih.
Nama-nama itu terdengar seperti orang-orang yang pantas punya kontrol atas hidupnya. Nama-nama yang cocok untuk jadi judul presentasi, jadi pemilik perusahaan, jadi alumni kampus mahal, jadi pembicara seminar “work-life balance” dengan senyum yang terlalu rapi.
Nyatanya, mereka semua sedang lelah—hanya level kosmetiknya berbeda.
Langit membuka pesan dari Bayu.
Bayu: “Mas, hari ini kita finalin struktur baru ya. Ada rekomendasi terakhir?”
Langit mengetik cepat: “Oke. Kita bahas habis board meeting.”
Sebelum pesan terkirim, ia berhenti.
Tiga detik.
Seperti orang yang tiba-tiba sadar: selama ini ia bukan mengetik untuk menjawab, tapi mengetik untuk menyelamatkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa diselamatkan sendirian.
Ia hapus kalimat itu.
Lalu ia kirim:
“Boleh. Tapi aku mau bicara hal penting soal cara kerja kita.”
Dari dapur, bunyi mesin kopi mengakhiri hening. Langit merasakan dadanya mengembang—bukan lega, lebih mirip keberanian yang muncul karena lelah sudah mencapai titik puncak.
Di luar jendela apartemen lantai dua puluh itu, kota tampak seperti papan catur. Mobil kecil bergerak seperti bidak. Gedung-gedung memantulkan cahaya pagi. Dan di balik semua kemewahan visual, ada satu ironi yang tak pernah dibahas di brosur: kota mengajari orang menjadi sukses, tapi jarang mengajari orang menjadi utuh.
.
Kantor mereka berdiri di pusat bisnis, gedung kaca dengan lobi yang wangi. Ada aroma yang selalu sama: campuran parfum mahal, kopi premium, dan ambisi yang tidak pernah pulang ke rumah.
Di ruang rapat utama, Kartika duduk paling depan. Rambutnya rapi, jam tangannya berkilau, wajahnya tenang seperti orang yang sudah kebal oleh tekanan. Ia mengangguk pada Langit, lalu menatap layar besar.
Lintang, kepala divisi pemasaran, datang dengan senyum promosi—senyum yang bisa mengubah angka jadi cerita. Gayatri, pemimpin tim pembelajaran, membawa laporan program pengembangan talenta dan kerja sama universitas. Damar dari keuangan membuka laptop dengan cepat—seolah takut angka-angka itu kabur jika dibiarkan terlalu lama.
Di ujung meja, Wirotama—yang paling senior—mengamat-amati Langit seperti orang membaca tanda-tanda hujan dari gerak angin.
Rapat dimulai.
Slide demi slide muncul: pertumbuhan, margin, pipeline, brand partnership, retensi pelanggan, rencana ekspansi, strategi biaya. Semua terdengar seperti musik kemenangan.
Namun Langit mendengar suara lain di baliknya: suara orang-orang yang menahan air mata di toilet kantor. Suara ketukan jantung yang terlalu cepat di malam hari. Suara hubungan rumah tangga yang mulai retak karena “aku cuma sebentar” yang terlalu sering.
Ia menunggu momen yang pas, tapi momen yang pas tidak pernah datang dalam hidup orang dewasa. Momen yang pas itu sering kali harus diciptakan.
Ketika presentasi selesai, Wirotama menghela napas puas.
“Good. Kita siap scaling. Tinggal rapikan struktur. Orang-orang kita harus lebih disiplin. Lebih responsif. Lebih… total.”
Kata “total” itu menampar Langit seperti angin dingin.
Langit meletakkan pena. Suaranya tidak tinggi, tapi jelas.
“Aku setuju scaling. Aku juga setuju disiplin. Tapi aku mau kita bahas satu hal yang lebih mendasar: cara kita memimpin.”
Ruangan berhenti bergerak. Bahkan layar seperti ikut menahan napas.
Kartika menatap Langit. “Maksudmu?”
Langit mengusap keningnya sebentar. Ia tidak ingin terdengar dramatis. Ia ingin terdengar manusia.
“Kita semua di sini orang-orang yang mampu. Kita punya pendidikan, pengalaman, jaringan, modal. Tapi belakangan, aku lihat satu pola: kita mendorong orang bekerja seperti mesin, lalu heran kenapa mereka mulai dingin, pasif, dan kehilangan rasa memiliki.”
Damar mengangkat alis, ingin memotong, tapi Langit melanjutkan.
“Aku sedang memikirkan konsep yang mungkin terdengar aneh di dunia korporasi: conscious unbossing.”
Lintang tertawa kecil, bukan mengejek, lebih seperti refleks.
“Unbossing? Itu tren medsos ya?”
Langit menatap Lintang, lalu tersenyum tipis.
“Bukan tren. Ini soal keberanian. Bukan untuk menghapus pemimpin—tapi untuk menghentikan pemimpin yang menjadi bos di kepala orang. Bos yang membuat orang bekerja karena takut, bukan karena percaya.”
Wirotama menyandarkan tubuh. “Tapi tanpa tekanan, orang malas.”
Langit mengangguk pelan, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak lama.
“Tekanan itu perlu. Tapi ada bedanya tekanan dan penindasan halus. Ada bedanya target dan teror. Kita sering menyebut ‘sense of urgency’, padahal yang kita sebarkan adalah sense of anxiety.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi lebih lama dari sebelumnya.
Kartika menatap layar kosong, seperti mencari sesuatu yang bisa membantunya menyangkal.
“Jadi kamu mau kita jadi lembek?” tanya Kartika, suaranya datar.
Langit menahan napas. “Tidak. Aku mau kita jadi dewasa.”
Ia merapatkan tangannya di atas meja.
“Conscious unbossing itu begini: kita tetap menuntut standar tinggi, tapi kita juga menuntut kualitas kepemimpinan yang tinggi. Kita berhenti memimpin dengan kalimat-kalimat yang membuat orang merasa kecil. Kita berhenti mengukur loyalitas dari jam online. Kita berhenti menyamakan kesibukan dengan kontribusi.”
Gayatri menatap Langit dengan mata yang berbeda. Seperti orang yang tiba-tiba merasa tidak sendirian.
“Dan kita mulai memimpin dengan kesadaran: setiap orang punya hidup di luar KPI,” lanjut Langit. “Orang-orang kita bukan sekadar resources. Mereka punya ibu yang sakit. Anak yang menunggu. Pasangan yang mulai merasa asing. Dan kalau kita tidak peduli, kita akan kehilangan mereka—bukan hanya secara fisik, tapi secara batin.”
Lintang menunduk. Ia teringat seorang staf kreatif yang beberapa hari lalu mengajukan resign tanpa drama, hanya satu kalimat: “Saya capek, Kak.”
Damar memutar bolpoinnya. Ia teringat angka absensi yang memburuk, produktivitas yang turun meski jam kerja makin panjang.
Kartika memegang gelas air. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menutupinya dengan senyum.
Wirotama diam.
Langit tahu, diam Wirotama bukan berarti setuju. Diamnya orang senior sering kali berarti: aku sedang menghitung risiko.
.
Siang itu, setelah rapat, Bayu datang menghampiri Langit di pantry.
“Mas, tadi… berani banget,” kata Bayu pelan.
Langit tersenyum, tapi mata dan bibirnya tidak sinkron. “Aku cuma capek pura-pura.”
Bayu menatapnya. “Aku juga.”
Mereka berdiri di dekat mesin kopi yang bunyinya sama seperti pagi tadi, tapi terasa berbeda. Seperti bunyi yang mengabarkan: ada sesuatu yang akan berubah.
Bayu menghela napas. “Aku baru tahu, Mas. Kemarin Sekar pingsan. Bukan karena sakit berat. Katanya… karena tidur cuma tiga jam selama seminggu terakhir.”
Langit menatap lantai, rahangnya mengeras.
“Kenapa gak ada yang cerita?”
Bayu mengangkat bahu. “Karena di sini, capek itu dianggap biasa. Kalau mengaku capek, dianggap lemah.”
Langit menatap Bayu. “Dan kita ikut membiarkan.”
Bayu mengangguk, seolah menyetujui sesuatu yang pahit.
“Aku pikir,” kata Langit, “kita perlu bikin perubahan kecil. Tapi konsisten.”
Bayu menatapnya. “Apa?”
Langit menjawab pelan, seperti menanam bibit.
“Mulai dari kita. Dari cara kita bicara. Dari cara kita memberi target. Dari cara kita mengukur orang. Dari cara kita membiarkan orang pulang.”
Bayu tersenyum getir. “Pulang itu kemewahan ya, Mas.”
Langit menatap jendela pantry, melihat kota yang bergerak tanpa peduli.
“Iya,” katanya. “Dan kita harus berhenti menjadikan pulang sebagai hadiah. Pulang itu hak.”
.
Malamnya, Langit datang ke sebuah restoran di rooftop hotel bintang lima. Pemandangan kota terbentang seperti lukisan. Musik live mengalun halus. Di meja, sudah ada seseorang: Ratih.
Ratih memegang menu tanpa benar-benar membaca. Wajahnya cantik dengan cara yang tenang. Ia pernah menjadi orang yang paling mengerti Langit. Lalu, perlahan, ia menjadi orang yang paling sering menunggu.
“Maaf telat,” kata Langit.
Ratih mengangguk. “Gak apa-apa. Aku udah biasa.”
Kalimat itu bukan marah. Justru itu yang menakutkan: ketika seseorang sudah terbiasa menoleransi luka kecil yang berulang.
Mereka memesan makanan. Mereka berbasa-basi. Mereka membicarakan proyek, cuaca, rencana liburan yang selalu gagal karena “meeting mendadak”.
Lalu Ratih meletakkan garpunya.
“Langit,” katanya pelan. “Aku mau tanya satu hal. Kamu masih hidup di rumah kita, atau cuma singgah?”
Langit seperti kehilangan bahasa. Ia menatap Ratih, mencari celah untuk bercanda, tapi tidak menemukan.
“Aku… cuma lagi sibuk,” jawabnya, dan ia sendiri benci kalimat itu.
Ratih tersenyum kecil, tapi di mata itu ada sesuatu yang sudah hampir padam.
“Tau gak,” kata Ratih, “yang bikin aku capek bukan kamu sibuk. Tapi kamu selalu bilang ‘sebentar lagi’. Dan ‘sebentar lagi’ itu ternyata bertahun-tahun.”
Langit menelan ludah. Ada rasa perih yang naik dari dada ke tenggorokan.
Ratih melanjutkan, suaranya tetap lembut.
“Kamu ngurus banyak orang di kantor. Kamu bantu mereka bertumbuh. Kamu jadi mentor. Tapi kamu lupa… di rumah, aku juga butuh kamu hadir.”
Langit menunduk. Ia ingin membela diri, tapi ia sadar: pembelaan diri itu hanya cara halus untuk menolak bertanggung jawab.
“Aku takut,” kata Langit tiba-tiba.
Ratih menatapnya.
“Takut apa?”
Langit menarik napas panjang.
“Aku takut kalau aku berhenti sebentar, semuanya runtuh. Aku takut kalau aku gak jadi ‘bos’ yang sigap, orang-orang kecewa. Aku takut dianggap gak kompeten.”
Ratih mengangguk pelan, seperti orang yang akhirnya melihat akar masalah.
“Jadi kamu jadi bos untuk semua orang,” katanya, “tapi kamu lupa jadi manusia untuk diri sendiri.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada kritik apa pun di rapat.
Langit merasakan matanya panas.
Di rooftop itu, di antara orang-orang yang tertawa dengan gelas wine, Langit hampir menangis—bukan karena sedih semata, tapi karena akhirnya ada yang mengatakan sesuatu yang ia butuhkan: kebenaran yang tidak menghina, tapi menyadarkan.
Ratih mengulurkan tangan. Menyentuh punggung tangan Langit.
“Aku gak minta kamu berhenti bermimpi,” kata Ratih. “Aku cuma minta kamu berhenti mengorbankan hidup demi terlihat hebat.”
Langit memejamkan mata. Di dalam kepalanya, semua hal berjalan cepat: rapat, target, investor, reputasi, angka-angka. Dan di sela-selanya, ada hal yang selama ini ia tunda: cinta, rumah, tubuh, napas.
“Aku mau berubah,” katanya pelan.
Ratih menatapnya, dan kali ini matanya tidak dingin.
“Berubah itu bukan janji,” kata Ratih. “Berubah itu praktik.”
.
Besok paginya, Langit datang ke kantor lebih awal. Ia menulis di papan kecil di ruang tim inti. Tulisan tangan, sederhana, tapi tegas:
“Mulai hari ini: kita kerja dengan sadar. Bukan dengan takut.”
Ia mengumpulkan Kartika, Bayu, Lintang, Gayatri, Damar, Wirotama.
“Ini bukan revolusi besar,” katanya. “Ini koreksi arah.”
Ia menuliskan lima poin:
-
Jam respons: tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga.
-
Meeting hygiene: rapat maksimal 45 menit, dengan keputusan jelas.
-
No hero culture: lembur bukan kebanggaan, itu tanda sistem bocor.
-
Feedback manusiawi: kritik pada proses, bukan menyerang pribadi.
-
Ruang pulih: tiap tim wajib punya ritme istirahat dan evaluasi.
Damar menatap poin ketiga lama sekali.
Kartika menyilangkan tangan, tapi wajahnya tidak sekeras kemarin.
Lintang mengangguk pelan, seperti orang yang merasa dilepaskan dari sesuatu yang selama ini mencekik.
Gayatri tersenyum kecil—senyum yang mengandung harapan.
Wirotama menghela napas, lalu berkata, “Kalau ini gagal, kita yang disalahkan.”
Langit menatap Wirotama tanpa menantang.
“Kalau ini gagal,” kata Langit, “setidaknya kita gagal dengan cara yang bermartabat.”
Diam.
Lalu Bayu tertawa pendek, gugup.
“Aku ikut.”
Satu demi satu, mereka mengangguk.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada musik inspiratif. Tidak ada video cinematic.
Perubahan besar memang sering dimulai tanpa efek suara.
.
Tiga minggu kemudian, ada hal-hal kecil yang berubah.
Sekar kembali tersenyum, bukan senyum basa-basi.
Tim kreatif mulai menghasilkan ide yang lebih segar, bukan hanya karena punya waktu, tapi karena punya ruang bernapas.
Absensi membaik. Turnover melambat.
Bukan karena kantor berubah menjadi “surga”, melainkan karena kantor berhenti menjadi “medan perang”.
Namun kota tidak pernah suka pada perubahan yang tidak bisa dipamerkan.
Suatu sore, Langit mendapat email dari investor:
“We noticed response time has slowed. Is the team still fully committed?”
Langit membaca itu lama.
Ia bisa saja menjawab dengan diplomasi yang menyenangkan. Ia bisa saja kembali ke pola lama: menekan tim, mempercepat respons, mengorbankan malam.
Tapi ia teringat Ratih.
Ia teringat Sekar yang pingsan.
Ia teringat dirinya sendiri, malam-malam yang dipenuhi dada sesak.
Langit mengetik jawaban:
“Tim kami berkomitmen penuh pada hasil. Dan kami memilih membangun sistem kerja yang berkelanjutan agar kualitas tetap terjaga.”
Ia menekan send.
Setelah itu, ia mematikan laptop.
Ia pulang.
Di lift, ponselnya bergetar—banyak notifikasi. Ia tidak membuka.
Di parkiran, ia menghirup udara, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, napasnya terasa seperti miliknya sendiri.
.
Di rumah, Ratih sedang menyiapkan makan malam sederhana. Tidak mewah, tapi hangat.
Langit berdiri di pintu, memandang Ratih seperti orang yang baru pulang dari perjalanan jauh.
Ratih menoleh, terkejut.
“Kok cepet?”
Langit tersenyum.
“Aku belajar pulang.”
Ratih menatapnya, lalu tersenyum balik—senyum yang pelan, tapi utuh.
Mereka makan bersama. Tidak banyak bicara. Tapi di meja itu, ada sesuatu yang lebih penting daripada percakapan: kehadiran.
Setelah makan, Langit mencuci piring. Ratih mengeringkan.
Di sela bunyi air dan piring, Ratih berkata, “Kadang aku pikir… kamu terlalu baik untuk dunia kerja yang keras itu.”
Langit menggeleng.
“Bukan. Dunia kerja itu keras karena orang-orang baik diam terlalu lama.”
Ratih menatap Langit, lalu kembali mengeringkan piring dengan pelan.
Di jendela, kota masih menyala. Masih bising. Masih memamerkan sukses.
Tapi di dalam rumah kecil mereka, ada kemenangan yang tidak bisa diposting: kemenangan atas diri sendiri.
Sebelum tidur, Langit memegang ponselnya. Ia menulis satu kalimat di catatan pribadi:
“Aku tidak lagi ingin menjadi bos di hidup orang lain—kalau itu membuatku jadi budak di hidupku sendiri.”
Ia mematikan layar.
Gelap turun, tetapi kali ini gelap terasa seperti pelukan, bukan ancaman.
Dan seperti kota yang tak pernah benar-benar tidur, hidup pun mungkin tidak akan pernah benar-benar tenang.
Namun malam itu, Langit tahu satu hal: tenang bukan hadiah—tenang adalah keputusan.
Cerita ini tidak berakhir dengan kesimpulan sempurna.
Karena hidup orang dewasa jarang memberi akhir yang rapi.
Yang ada hanya pilihan: terus mengulang, atau mulai sadar.
Dan kesadaran—meski pelan—selalu membuka jalan pulang.
.
.
.
Malang, 8 Februari 2026
.
.
#Unbossing #ConsciousLeadership #BudayaKerjaSehat #BurnoutRecovery #Kepemimpinan #WorkLifeHarmony #KotaDanKesepian #KarierDewasa #HidupSadar #NamakuBrandku