Ambigu

“Yang paling melelahkan bukan kehilangan, melainkan ketidakjelasan: saat kamu masih ada di rumah yang sama, tapi tidak lagi berada di hati yang sama.”

.

Tidak ada pertengkaran malam itu.
Tidak ada pintu dibanting.
Tidak ada barang pecah.
Tidak ada air mata yang diumumkan.

Yang ada hanya jeda.

Jeda itu seperti lampu indikator di dashboard mobil: tidak berbunyi keras, tetapi menyala terus, membuat orang yang peka tidak bisa tenang. Orang yang tidak peka akan menganggapnya hiasan. Orang yang peka akan bertanya-tanya: apakah aku harus berhenti sekarang, atau aku boleh terus berjalan?

Sekar duduk di kursi penumpang, memandangi Jakarta yang melintas di luar jendela. Kota itu seperti mesin raksasa yang bekerja tanpa menunggu siapa pun. Lampu lalu lintas berganti warna tanpa ragu. Gedung-gedung tetap menyala meski banyak penghuninya sudah pulang dengan tubuh kosong. Papan iklan menampilkan wajah-wajah sempurna yang menjual kebahagiaan dalam tiga kalimat pendek: hidup sehat, investasi cerdas, keluarga bahagia.

Jakarta pandai menyembunyikan perasaan. Ia selalu tampak bergerak, padahal banyak yang diam di dalamnya.

Telepon Sekar bergetar. Nama Panji muncul sebentar, lalu menghilang.

Missed call.

Sekar menunggu. Biasanya Panji akan mengirim pesan setelahnya: “Maaf, meeting,” atau minimal emoji tangan meminta maaf—gestur kecil yang tidak penting bagi orang lain, tapi penting bagi Sekar. Gestur kecil adalah cara cinta berkata, “Aku masih mengingatmu.”

Namun malam itu tidak.

Sekar tersenyum kecil. Senyum orang dewasa yang terbiasa menenangkan diri dengan logika.

“Mungkin kepencet,” gumamnya.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi ia tahu ia telah terlalu sering menggunakannya belakangan ini—seperti mantra agar tidak perlu bertanya lebih jauh, seperti pagar kecil agar ia tidak perlu mengakui ketakutannya yang lebih besar.

Ia membuka chat Panji. Foto profil mereka: di sebuah pantai, Panji tertawa, Sekar menyandarkan kepala di bahunya. Foto itu terasa seperti milik orang lain.

Pesan terakhir dari Sekar pagi tadi:

“Semangat ya. Jangan lupa makan. Aku presentasi jam 2.”

Balasan Panji:

“Oke.”

Satu kata. Tanpa titik. Tanpa emotikon. Tanpa nada.

Sekar menutup ponsel. Ia memandang keluar. Lampu kota memanjang seperti garis-garis takdir yang ditarik tergesa-gesa. Ia ingin menelpon balik, tapi ia tahu: kalau ia menelpon balik, ia akan terdengar seperti orang yang menuntut.

Dan Sekar, yang hidupnya dibangun dari reputasi, selalu alergi pada label.

.

Ballroom yang Terang, Batin yang Retak

Siang tadi, sebelum Jakarta menjadi gelap, Sekar berdiri di depan ballroom sebuah hotel bintang lima kawasan Senayan. Ia mengenakan busana yang dipilih dengan cermat: elegan tanpa berlebihan, hangat tanpa terlihat “mencari perhatian”. Di dunia kelas menengah ke atas, bahkan kehangatan pun harus disajikan dengan ukuran yang tepat.

Acara peluncuran program beasiswa berjalan sempurna—setidaknya di permukaan. Sekar membawakan narasi tentang masa depan, tentang kesempatan kedua, tentang pemberdayaan. Orang-orang menepuk tangan di bagian yang seharusnya mengharukan. Kamera ponsel mengangkat momen yang tepat. Ada foto, ada video, ada caption.

Ia melihat wajah-wajah yang rapi: para eksekutif, para pengusaha, pasangan muda yang membawa anak-anak dengan seragam sekolah internasional. Gelas-gelas bening memantulkan cahaya lampu kristal. Senyum-senyum di meja bundar bergerak seperti mekanisme sosial: cukup lebar untuk terlihat ramah, cukup tipis untuk tetap berwibawa.

Sekar berdiri di panggung dan bicara seperti orang yang tahu semua jawabannya.

Padahal di dalam dadanya, ada pertanyaan yang tidak berhenti berputar.

Saat ia membaca teks di teleprompter—kalimat tentang “harapan”, “akses”, “kesetaraan”—ia tiba-tiba melihat sesuatu di layar ponsel salah satu tamu: sebuah notifikasi chat, singkat, dingin, tanpa emotikon. Sekar tidak membaca isi chat itu. Ia hanya melihat formatnya—dan format itu sangat mirip dengan chat Panji belakangan ini.

Seperti memo. Seperti tanda tangan. Seperti hidup yang menjadi laporan.

Tangan Sekar yang memegang mic bergetar sepersekian detik. Tidak ada yang sadar. Di panggung, getar kecil bisa disembunyikan dengan senyum. Ia menelan ludah, memaksa suara tetap stabil.

Namun lalu, pada satu momen ketika ia menyebut kata “keluarga”, dadanya seperti ditarik ke bawah. Ia melihat meja VIP: seorang laki-laki menepuk bahu istrinya sambil tertawa, tetapi matanya tidak menatap sang istri—matanya menatap layar ponsel.

Sekar merasa seperti melihat cermin.

Berapa banyak orang yang tetap duduk bersebelahan, tapi hati mereka sudah pindah?

Ia menahan napas. Ia menyelesaikan kalimat.

“Semoga kita tidak hanya memberi bantuan, tapi juga memberi harapan.”

Tepuk tangan.

Lampu.

Foto bersama.

Senyum.

Sekar turun panggung, berjalan ke belakang ballroom, menuju koridor yang lebih sunyi. Di sana, wangi parfum mahal berubah menjadi wangi pendingin ruangan. Ia menempelkan punggung ke dinding, menarik napas panjang seperti orang yang hampir tenggelam.

Air matanya naik, tetapi ia menahannya. Ia tidak mau menangis di hotel bintang lima yang selalu punya kamera. Ia membuka ponsel, berharap ada pesan Panji: “Gimana acaranya?”—sekadar pertanyaan kecil yang membuatnya merasa dipeluk.

Tidak ada.

Sekar memejamkan mata.

Di luar ballroom, orang-orang berfoto dengan latar “Hope”.
Di dalam dada Sekar, yang ada hanya jeda.

Dan jeda itu bernama: ambigu.

.

Rumah yang Rapi Seperti Museum

Malamnya, rumah mereka tetap seperti biasa: terang, rapi, dan sunyi.
Lampu ruang keluarga menyala setengah. Aroma lavender melayang pelan—pilihan Panji dulu, ketika mereka masih percaya bahwa wangi bisa menyelesaikan rasa.

Sekar meletakkan tasnya, melepas sepatu, berjalan tanpa suara.

Di dapur, piring bersih ditumpuk rapi. Gelas Panji tidak ada. Tidak ada tanda makan malam. Sekar membuka kulkas. Isinya tertata seperti etalase: salad siap saji, buah potong, yoghurt, air mineral premium. Semua tampak sehat, semua tampak benar.

Namun hidup tidak selalu sakit karena yang salah. Kadang hidup sakit karena yang benar terasa hambar.

Dari lantai atas terdengar langkah kaki.

Panji muncul di tangga, mengenakan kaos polos dan celana rumah. Rambutnya sedikit basah, mungkin habis mandi. Wajahnya tampan seperti biasa—tapi matanya seperti sedang memikirkan tempat lain.

“Sudah pulang?” tanyanya.

“Sudah. Acara lancar.”

“Bagus.”

Panji turun, membuka laci, mengambil botol air. Sekar menunggu kalimat berikutnya—sesuatu yang menghubungkan dua manusia yang tinggal di satu rumah: “Capek?” atau “Kamu makan?” atau “Aku kangen.”

Tidak ada.

Sekar akhirnya berkata, “Tadi kamu sempat telepon?”

Panji menoleh. Ada jeda sepersekian detik—jeda yang tidak pernah ada dulu.

“Oh, iya,” katanya. “Kepencet.”

Kata itu jatuh pelan seperti kunci yang diputar dari dalam.

Sekar mengangguk, berusaha tersenyum. “Oke.”

Panji berjalan menuju tangga lagi.

“Sekar,” panggilnya.

Sekar menoleh.

“Kamu… lagi kenapa?”

Pertanyaan itu terdengar seperti peduli, tapi juga seperti tuduhan halus: kamu sensitif, ya?

Sekar ingin menjawab jujur: Aku tidak kenapa. Aku hanya melihat kamu menjauh sedikit demi sedikit, seperti orang yang menyusun jarak agar tidak perlu pamit.

Namun ia hanya berkata, “Nggak. Cuma capek.”

Panji mengangguk, lalu menghilang.

Sekar berdiri sendiri di dapur. Ia merasa seperti sedang menonton film yang ia tulis sendiri, tetapi pemeran utamanya tiba-tiba mengganti dialog tanpa memberi tahu.

Dan ia, sebagai penonton, hanya bisa menebak.

.

Kelas Sekar: Mengajar “Silent Crisis”

Hari berikutnya, Sekar mengajar kelas komunikasi krisis di sebuah ruang pelatihan kawasan Sudirman. Ruangannya dingin, kursi berderet, peserta memegang kopi dan laptop, wajah-wajah yang sedang mengejar promosi.

Sekar berdiri di depan layar, menatap para manajer muda: rapi, cepat, pintar. Mereka hidup di kota yang mengajarkan satu hal: bergerak, bergerak, bergerak.

Ia memulai dengan kalimat yang selalu membuat orang diam:

“Yang paling berbahaya itu bukan konflik, tapi sunyi.”

Beberapa peserta tersenyum, menganggap itu motivasi. Sekar melanjutkan, “Konflik membuat orang bicara. Sunyi membuat orang menebak. Dan tebakan jarang menghasilkan kebaikan.”

Ia menampilkan slide: Silent Crisis—krisis yang tidak meledak, tapi pelan-pelan menggerogoti kepercayaan. Perusahaan runtuh bukan karena satu skandal besar, melainkan karena kelalaian kecil yang ditoleransi.

Lalu ia berkata, tanpa sengaja—atau mungkin terlalu sengaja:

“Kalau seseorang berubah sedikit demi sedikit, jangan tunggu sampai kamu membenci. Bicara saat kamu masih sayang.”

Suara itu keluar dari mulutnya, tetapi ia merasa kalimat itu bukan untuk peserta.
Kalimat itu untuk dirinya sendiri.

Salah satu peserta bertanya, “Bu Sekar, gimana kalau kita sudah bicara, tapi pihak lain tetap menyangkal?”

Sekar menahan napas. Ia tersenyum profesional.

“Kalau begitu, masalahnya bukan komunikasi. Masalahnya keberanian untuk jujur.”

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang retak—karena ia tahu, di rumahnya sendiri, ia belum cukup berani.


4. Flashback: Saat Mereka Masih Hangat

Malam itu, Sekar menemukan kotak lama di lemari kecil kamar kerja. Tiket bioskop usang, nota makan murah, foto Polaroid dari kamar kontrakan pertama: mereka duduk di lantai, makan mi instan, tertawa seperti orang kaya raya.

Sekar memegang foto itu. Ingatan terbuka.

Dulu, ketika Panji belum punya apa-apa selain ambisi, ia pulang dengan baju berdebu karena baru mengukur ruangan klien. Sekar menyambutnya dengan segelas teh hangat, meski mereka sama-sama lelah.

Panji berkata, “Aku takut, Sekar. Takut gagal.”

Sekar menjawab, “Kalau gagal, kita ulang. Kalau jatuh, kita berdiri.”

Dulu mereka berbagi beban seperti berbagi makanan: sederhana, hangat, tanpa perhitungan.

Sekar ingat malam saat Panji berkata, “Kalau nanti aku sukses, aku tetap mau pulang ke kamu.”

Sekar tertawa. “Kamu ngomong kayak film.”

Panji mengangkat sumpit, serius. “Biar. Aku pulang, Sekar. Aku nggak mau jadi orang yang menang di luar, kalah di rumah.”

Sekar menatap foto itu lama. Kini ia bertanya dalam hati: Kapan kalimat pulang itu berubah menjadi jeda?

.

Bandung: Site Inspection dan Ekonomi Kepercayaan

Bandung pagi itu dingin, tetapi proyek hotel butik Panji terasa panas: banyak yang menunggu, banyak yang menilai, banyak yang menghitung.

Panji berdiri di lobby yang masih setengah jadi—lantai belum sepenuhnya selesai, aroma cat baru, pekerja lalu lalang. Ia memegang tablet, mengecek checklist: lighting, signage, alur tamu, aroma, musik, first impression.

Investor utama datang: Kelana. Laki-laki lima puluhan, rambut rapi, parfum mahal, langkahnya tenang seperti orang yang selalu punya opsi. Kelana tidak pernah menaikkan suara, tetapi keputusan-keputusannya bisa mematikan karier banyak orang.

“Panji,” sapa Kelana, menepuk bahu Panji seolah mereka sahabat lama. “Saya mau lihat apakah ini bisa jadi story yang laku.”

Panji tersenyum profesional. “Bisa. Kita bangun bukan sekadar hotel, tapi pengalaman.”

Di samping Kelana, Angreni berdiri. Kemeja putihnya sederhana tapi potongannya tepat. Rambut diikat rapi. Ia memegang map, catatan, dan senyum yang tidak berlebihan. Ia tidak mencuri perhatian, tapi justru karena itu, ia menguasai ruangan.

Angreni menatap Panji sebentar, lalu berkata, “Alur tamu dari drop-off ke lobby harus lebih mengalir. Tamu premium tidak suka mikir.”

Panji mengangguk cepat. “Setuju.”

Kelana tertawa kecil. “Saya suka Angreni. Dia paham tamu saya.”

Panji ikut tertawa, meski di dalamnya ada sesuatu yang menegang: di hadapan Kelana, ia harus terlihat solid. Di dunia seperti ini, kedekatan adalah mata uang.

Mereka berjalan ke kamar show unit. Angreni menjelaskan detail: tone lampu, kualitas linen, aroma, posisi cermin. Kelana mengangguk, sesekali mencubit ujung bantal seperti orang menilai barang dagangan.

Di sela inspection, Kelana berhenti, menatap Panji seolah menimbang.

“Panji,” katanya, suaranya datar. “Saya ini invest bukan cuma uang. Saya invest kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal.”

Panji mengangguk. “Saya paham, Pak.”

Kelana tersenyum tipis. “Kamu paham belum cukup. Kamu harus stabil. Investor itu alergi pada laki-laki yang emosinya bocor.”

Panji menelan ludah.

Kelana menambahkan, seolah bicara tentang cuaca, “Kamu tahu kenapa saya benci drama rumah tangga masuk ke bisnis?”

Panji tidak menjawab.

“Karena bisnis butuh mesin. Rumah tangga bikin mesin jadi manusia.” Kelana mengangkat bahu. “Dan manusia itu… tidak efisien.”

Angreni tidak tertawa. Ia hanya memandang Panji sekilas—seperti memberi kode: jangan tunjukkan lelahmu.

Kelana melanjutkan, semakin sinis tapi halus, “Laki-laki sukses itu harus bisa ‘mengatur’ urusannya. Kalau kamu goyah, saya pindah. Saya tidak punya waktu untuk orang yang tidak bisa mengendalikan hidupnya.”

Kalimat itu tidak keras, tapi tajam. Itu bukan nasehat. Itu ultimatum yang dibungkus elegan.

Panji memaksa senyum. “Saya fokus.”

Kelana mengangguk, puas. “Bagus. Karena di level ini, Panji, kamu bukan orang. Kamu brand. Kamu produk. Kamu janji.”

Panji mengangguk lagi, menahan sesuatu di dada. Ia merasa dirinya sedang diperas menjadi “fungsi”—bukan lagi manusia yang boleh lemah.

Di saat seperti itu, Panji merasakan betapa nyamannya ketika ada seseorang yang mengerti tekanannya tanpa banyak tanya—karena orang itu berada di dunia yang sama.

Angreni.

Di lift menuju lobby, Kelana berkata pelan, seperti rahasia, “Yang bikin proyek ini jalan bukan desain. Bukan linen. Bukan aroma. Yang bikin jalan itu kamu dan orang yang kamu percaya. Kalau kamu mau proyek ini selamat, pilih orang yang bisa diam saat kamu kacau. Itu yang namanya partner.”

Panji menatap lantai lift. Angreni menatapnya sekilas, cepat, profesional.

Di dunia seperti ini, bahkan kedekatan bisa disalahartikan sebagai strategi.

Panji pulang ke hotel tempatnya menginap. Ia menatap ponsel. Pesan Sekar masuk: “Sudah makan?”

Panji mengetik “Sudah.” Menghapus. Mengetik “Nanti aku telpon.” Menghapus.

Ia akhirnya menulis:

“Oke.”

Satu kata.

Ia memandang layar lama, lalu meletakkan ponsel.

Kadang orang menjauh bukan karena tidak cinta, tapi karena takut terlihat lemah.
Dan ketakutan itu sering menyamar sebagai “sibuk”.

.

Amir dan Nama yang Mengubah Udara

Amir mengundang Sekar makan malam di restoran Jepang. Amir adalah teman lama sejak mereka masih muda.

“Panji nggak ikut?” tanya Amir.

“Di Bandung.”

Amir mengangguk, menatap Sekar lama. “Aku mau bilang sesuatu, tapi aku takut kamu benci aku.”

Sekar merasakan tenggorokannya kering. “Bilang.”

Amir menurunkan suara. “Di circle investor ada pembicaraan tentang Panji. Ada partner baru. Namanya Angreni.”

Nama itu jatuh seperti batu ke air tenang.

Sekar pernah melihatnya di foto. Sekar tidak tahu apa-apa tentangnya, tapi ia tahu pola: pertemuan panjang, target bersama, rahasia kecil, rasa “kita satu tim” yang bisa menipu.

“Partner bisnis?” tanya Sekar pelan.

Amir mengangguk. “Harusnya. Tapi orang-orang ngomongnya beda.”

Sekar memejamkan mata sebentar. Ia ingin tertawa, ingin marah, ingin lari. Ia tidak melakukan apa pun.

Amir berkata, “Aku nggak tahu kebenarannya. Tapi kamu berhak tahu. Karena kalau kamu tahu dari orang lain, lebih sakit.”

Sekar menyeka ujung matanya, lalu berkata lirih:

“Kadang yang paling kejam bukan pengkhianatan… tapi perubahan kecil yang bikin kita bertanya-tanya apakah kita masih dicintai.”

Amir mengangguk. “Ya.”

.

Pertanyaan yang Akhirnya Keluar

Sekar menunggu Panji pulang malam itu. Rumah sunyi seperti museum. Ia merasa dirinya tamu yang terlalu sopan.

Ketika pintu akhirnya terbuka, Sekar berdiri.

Panji masuk, membawa tas, wajah lelah. Ia terkejut melihat Sekar belum tidur.

“Kok belum tidur?”

Sekar menatapnya lama. “Aku mau tanya.”

Panji menaruh tas. “Tanya apa?”

Sekar menarik napas. “Siapa Angreni?”

Wajah Panji berubah—bukan dramatis, justru jeda sepersekian detik sebelum menjawab.

“Dari mana kamu dengar?” tanya Panji.

Sekar tertawa tanpa suara. “Jadi benar ada.”

Panji menghela napas, duduk. “Angreni itu partner project. Investor rep. Dia handle banyak hal.”

Sekar menatap Panji. “Cuma itu?”

Panji mengangkat kepala. “Sekar, kamu kenapa jadi gini?”

Sekar menahan amarah. “Aku jadi gini karena kamu berubah tanpa bicara. Aku jadi gini karena kamu jawab aku seperti orang asing.”

Panji terdiam.

Sekar melanjutkan, suaranya tenang tapi bergetar: “Aku memperhatikan semuanya, Panji. Cara kamu balas chat. Cara kamu telepon. Cara kamu lihat aku. Aku bukan cari-cari salah. Aku cuma… kehilangan arah di rumah sendiri.”

Panji mengusap wajah. “Aku capek, Sekar. Semua lagi berat.”

“Aku juga capek. Tapi aku masih berusaha pulang ke kamu.”

Panji menatap Sekar. “Apa kamu menuduh aku?”

Sekar menggeleng pelan. “Aku bertanya. Tapi karena kamu nggak jujur sejak awal, pertanyaanku jadi seperti tuduhan.”

Hening menekan seperti langit rendah.

Panji akhirnya berkata, “Aku nggak selingkuh.”

Sekar menatapnya lama. “Kamu yakin?”

Panji menelan ludah. “Aku… dekat. Karena kerja. Karena tekanan. Angreni itu… mengerti hal-hal yang kamu mungkin capek dengarnya.”

Sekar tersenyum pahit. “Jadi masalahnya bukan selingkuh. Masalahnya kamu memilih bicara dengan orang lain tentang bebanmu, bukan dengan aku.”

Panji diam.

Sekar duduk perlahan. “Aku tidak marah karena ada Angreni. Aku marah karena aku kehilangan tempat di hidupmu.”

Panji menunduk. “Aku nggak tahu gimana ngomongnya.”

Sekar tertawa getir. “Kamu tahu. Kamu cuma memilih diam.”

Panji mengangkat kepala, matanya berkaca. “Aku takut kamu kecewa.”

Sekar menghela napas panjang. “Aku lebih takut kamu hilang diam-diam.”

.

Konseling: Ketika Orang Kuat Tak Tahu Cara Lemah

Besoknya Sekar mengusulkan konseling.

Panji ragu. Dalam dunianya—target, investor, proyeksi—konseling terdengar seperti pengakuan gagal. Di dunia Kelana, kegagalan bukan luka, melainkan “nilai jual” yang turun.

Sekar berkata pelan, “Mengakui retak bukan berarti pecah. Mengakui retak itu kesempatan menambal sebelum pecah.”

Panji diam lama. Lalu mengangguk.

Di ruang konseling, Panji berkata sesuatu yang membuat Sekar tidak tahu harus marah atau iba:

“Aku merasa aku harus selalu kuat. Di kantor, di project, di depan investor. Aku pulang ke rumah… aku tidak tahu bagaimana cara menjadi lemah.”

Konselor bertanya, “Di depan siapa kamu takut lemah?”

Panji menatap Sekar. “Aku takut Sekar berhenti percaya padaku.”

Sekar menahan napas. Ia ingin berkata: Aku tidak butuh kamu selalu kuat. Aku butuh kamu jujur.

Namun kata-kata itu tertahan.

Sekar akhirnya berkata, “Aku juga punya peran. Aku mengajar orang bicara, tapi aku sendiri takut bicara. Aku sering menutup luka dengan kalimat bijak.”

Panji memandang Sekar. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia terlihat manusia, bukan mesin.

Sekar menyadari sesuatu yang menohok:
kadang rumah menjadi tempat paling sulit untuk jujur—
karena rumah menyimpan saksi dari semua versi diri kita.

.

Pesan Angreni

Beberapa hari kemudian, Sekar menerima pesan dari Angreni. Bahasanya sopan, profesional:

“Sekar, terima kasih sudah memberi ruang. Saya pamit dari project. Semoga kamu dan Panji selalu baik.”

Sekar membaca pesan itu lama. Ia tidak merasa menang. Ia tidak merasa kalah.

Hidup dewasa jarang memberi piala. Hidup dewasa lebih sering memberi pelajaran.

Sekar membalas:

“Terima kasih. Semoga kamu juga selalu baik.”

Ia menutup ponsel.

Di luar, kota tetap menyala.

.

Lampu Kota dan Nama yang Tak Lagi Ditakuti

Suatu sore, Sekar berdiri di dekat jendela ruang tamu. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu per satu. Dari kejauhan, kota tampak indah—rapi, teratur, seperti hidup yang berhasil direncanakan.

Panji belum pulang.

Sekar tidak lagi menghitung jam. Ia juga tidak menebak-nebak. Ia hanya berdiri di sana, memastikan napasnya sendiri masih terasa.

Di bawah, kendaraan bergerak seperti arus yang tidak pernah selesai. Orang-orang pulang, orang-orang pergi, orang-orang mengulang hari. Kota tidak bertanya siapa yang sedang patah.

Sekar menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi lama ia abaikan:

Kejelasan tidak selalu berarti bertahan,
dan perpisahan tidak selalu berarti pergi.

Ada hubungan yang perlu diperjuangkan.
Ada yang perlu dilepaskan.
Dan ada pula yang hanya perlu diberi nama, agar tidak terus menyiksa.

Sekar meraih ponselnya. Layar masih gelap. Ia tidak mengetik apa pun. Tidak juga menghapus apa pun.

Di luar, lampu-lampu kota terus menyala—tidak peduli siapa yang pulang, siapa yang terlambat, siapa yang akhirnya memilih jujur pada dirinya sendiri.

Sekar menarik napas dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi takut pada satu kata itu.

Ambigu.

.

.

.

Malang, 1 February 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#Ambigu #CerpenKompas #SastraIndonesia #SastraUrban #RelasiDewasa #KrisisSenyap #KomunikasiPasangan #AmbisiDanCinta #Jakarta #Bandung #Reflektif

Leave a Reply