Belajar Tinggal Bukan Pergi
“Orang yang paling rapi biasanya menyimpan paling banyak yang tidak sempat ia berantakan-kan.”
.
Malam Jakarta seperti kaca yang terus digosok: berkilau, licin, dingin. Dari balkon apartemen lantai dua puluh dua, Arga melihat garis-garis lampu kendaraan mengalir di jalan layang—seperti darah yang dipaksa tetap bergerak meski tubuh sudah lelah.
Di dalam ruang tamu, aroma kopi yang semula harum kini berubah getir—seperti luka yang terlalu lama dibiarkan terbuka, lalu mengering tanpa pernah diobati. Gelasnya berkeringat, meninggalkan lingkaran tipis di atas meja kayu. Arga menatap lingkaran itu seolah itu peta: bukti bahwa sesuatu pernah hangat, lalu kehilangan suhu.
Ponselnya bergetar lagi. Notifikasi. Grup. Foto. Tawa yang disetel.
Arga tidak membuka. Ia tahu isinya: keramaian yang rapi. Pipi yang tersenyum untuk kamera. Caption yang menampilkan “bahagia” sebagai komoditas.
Di luar, hujan turun pelan, menepuk kaca jendela seperti seseorang yang mengetuk pintu, lalu ragu untuk masuk.
Arga menghela napas—napas panjang yang bunyinya nyaris tak terdengar. Tapi di kepala, bunyinya seperti pintu dibanting.
Jangan merepotkan orang dengan sedihmu.
Kalimat itu datang seperti kebiasaan. Seperti wallpaper batin yang tak pernah ia ganti.
Ia berdiri. Menghidupkan lampu dapur. Bau sabun cuci piring naik dari wastafel. Bersih. Steril. Terlalu steril. Apartemen itu seperti ruang tunggu—bukan rumah. Tidak ada aroma baju yang dijemur. Tidak ada suara piring beradu. Tidak ada jejak “hidup” selain mesin pendingin yang menderu halus.
Arga menyalakan keran sebentar, membiarkan air mengalir, hanya untuk memastikan ada sesuatu di ruang itu yang bergerak.
Lalu ia kembali duduk, dan sunyi duduk bersamanya.
Sunyi yang bukan kosong, melainkan penuh—penuh hal-hal yang tidak ia ucapkan.
.
Pagi berikutnya, ruang rapat di hotel tempat proyek berjalan seperti mulut besar yang menelan orang-orang berjas. AC terlalu dingin, membuat kulit terasa kering, dan karpet baru mengeluarkan aroma lem—bau yang mengingatkan Arga pada sesuatu yang dipaksa menempel.
Di layar, angka-angka berbaris: proyeksi occupancy, paket MICE, skema promo, timeline renovasi. Semua tampak masuk akal. Semua tampak rapi.
Arga duduk di kursi yang kulitnya dingin, menatap tabel-tabel yang terlampau sempurna, lalu mencium sesuatu yang halus tapi mengganggu: ketidaksinkronan.
Seperti parfum mahal yang menutup bau kebohongan.
Di ujung meja, Umar tertawa keras. Tawa itu memantul di kaca dan kembali dengan gema yang terlalu percaya diri.
“Arga,” kata Umar, sambil menyandarkan punggung, “kamu ini pinter. Tapi jangan terlalu halus. Dunia bisnis itu keras. Kalau lembut, kalah.”
Arga tersenyum, menahan sesuatu di lidahnya. Ia memilih kata-kata seperti memilih piring di restoran fine dining: bukan hanya soal rasa, tapi soal efek setelahnya.
“Keras itu perlu,” jawab Arga tenang. “Tapi elegan juga perlu. Kita bukan cuma mengejar revenue. Kita membangun kepercayaan.”
Umar menatapnya, lalu tertawa lagi—tawa yang lebih pendek. Tawa yang seperti: kamu lucu.
“Kepercayaan itu bisa dibeli,” Umar menyelipkan. “Yang penting semua senang.”
Arga tidak membantah. Ia hanya mencatat.
Di sebelah Umar, Laras duduk dengan laptop terbuka. Ia mengangkat kepala ketika Arga bicara. Mata Laras—mata yang selalu seperti memeriksa sesuatu yang tidak tampak—bertemu mata Arga. Ada sesuatu yang singkat, hampir tak terbaca, tetapi terasa: kamu juga mencium bau ini, ya?
Rapat selesai. Kursi berderit. Botol air mineral beradu pelan. Orang-orang berdiri, saling menepuk bahu, seperti semua baru saja melakukan sesuatu yang penting.
Di lorong, Laras mendekat.
“Arga,” sapanya.
Suara Laras tidak keras, tapi selalu tepat. Seperti jarum yang tahu di mana titik nyeri.
“Laras,” Arga balas, agak terlalu cepat, seolah takut jeda.
Laras memiringkan kepala. “Jakarta kecil ya.”
Arga tertawa kecil. “Jakarta… luas. Tapi orang-orangnya sering ketemu lagi.”
Laras menatap Arga sebentar lebih lama dari yang biasa dilakukan orang dewasa dalam percakapan sopan. Ia berkata pelan, dengan nada yang seperti bercanda tapi tidak benar-benar bercanda:
“Yang luas itu kota. Yang sempit itu ruang di dalam kepala kamu.”
Arga ingin tertawa, tapi dadanya justru mengencang. Ia memilih senyum. Senyum diplomatis. Senyum seperti pintu yang tidak benar-benar dibuka.
“Aku baik-baik saja,” katanya, refleks.
Laras mengangguk, tidak menyerang. “Kamu selalu bilang itu.”
Di kalimat itu ada subteks yang jelas: Dan kamu selalu tidak jujur.
.
Tiga hari setelah rapat itu, email undangan mediasi masuk.
Arga membuka laptop di meja yang bersih. Cahaya layar menempel di wajahnya. Kalimat “mediasi etik” terlihat seperti judul film yang ia tidak ingin tonton.
Begitu ia membaca kata “hukum,” telapak tangannya dingin. Kepalanya seperti disiram air es.
Ia membayangkan reputasinya retak. Ia membayangkan orang-orang yang selama ini tersenyum di depannya mulai berbisik. Ia membayangkan nama “Arga” menjadi label yang tidak nyaman di industri yang menyukai citra.
Ia ingin menghubungi seseorang. Tapi jari-jarinya tidak bergerak ke kontak keluarga. Tidak bergerak ke rekan kerja. Tidak bergerak ke siapa pun.
Ia sadar, dengan ngeri yang lembut: ia tidak punya “orang” untuk hal-hal begini.
Hidupnya penuh nomor, tapi kosong satu nama yang benar-benar bisa ia panggil tanpa alasan.
Arga memejam. Tiba-tiba, ia mendengar suara ibunya dulu:
“Jangan cengeng.”
Ia mendengar suara ayahnya:
“Harusnya kamu bisa lebih.”
Ia membuka mata. Ruangan terasa semakin sunyi, seperti apartemen itu ikut menahan napas.
Lalu ia menekan panggil. Nama yang ia pilih: Laras.
Bukan karena Laras bisa menyelesaikan masalah legal. Tapi karena Laras selalu punya satu kemampuan yang tidak dimiliki banyak orang: membuat Arga merasa tidak harus tampil kuat.
“Halo?” suara Laras di ujung sana.
Arga menelan ludah. “Aku kena serangan balik.”
Tidak ada dramatisasi. Tidak ada kalimat panjang. Hanya itu.
Di ujung sana, Laras tidak bertanya “kenapa” atau “kamu salah apa.” Laras hanya bertanya hal yang membuat Arga tercekat:
“Kamu sendirian?”
Arga terdiam sepersekian detik—seolah kata “sendirian” itu tiba-tiba punya definisi baru.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Aku ke sana,” kata Laras. Selesai.
Kalimat itu tidak indah. Tapi di kepala Arga, itu terdengar seperti doa.
.
Laras datang membawa aroma hujan dan parfum ringan yang tidak menyengat. Saat ia masuk, sepatu Laras mengeluarkan bunyi kecil di lantai—bunyi yang memecah sunyi apartemen seperti retakan halus di kaca.
Laras membaca dokumen itu. Keningnya berkerut.
“Ini framing,” katanya.
Arga menyandarkan punggung. “Aku takut.”
Laras menatapnya, lalu bertanya, lebih pelan, “Takut dianggap jahat, atau takut sendirian?”
Pertanyaan itu menampar dengan lembut. Arga membuka mulut, tapi tidak langsung punya jawaban.
Laras menunggu. Menunggu tanpa memaksa. Menunggu seperti seseorang menunggu pintu yang lama terkunci.
“Dua-duanya,” Arga akhirnya berkata.
Laras mengangguk. “Oke. Berarti kita butuh dua hal: bukti, dan napas.”
Laras menghubungi Panji—lawyer yang ia kenal. Panji datang malam itu, membawa laptop, bau rokok tipis di jaketnya, dan cara bicara yang tidak memberi ruang untuk drama.
Panji menatap Arga seperti orang yang menilai suhu ruangan.
“Kamu INFJ ya?” Panji menebak.
Arga tersenyum getir. “Aku tidak menulis itu di CV.”
Panji mengangkat alis. “Nggak perlu. Aku lihat dari cara kamu takut menyusahkan orang.”
Arga menunduk.
Panji mengetuk meja. Tok. Tok. Bunyi itu terdengar seperti ketukan pintu yang tegas.
“Dengar. Mereka main persepsi. Kalau kamu goyah karena reputasi, kamu kalah. Jadi kita bikin kamu berdiri di data.”
Arga menarik napas. Di dada, ada rasa lega kecil—bukan karena masalah selesai, tetapi karena ada struktur.
Dan struktur adalah hal yang selalu Arga pahami: cara bertahan.
.
Mediasi terjadi di ruang rapat lain, lebih dingin, lebih formal. Bau karpet dan AC bercampur dengan bau kopi basi yang terlalu lama mengendap. Di ujung meja, Umar duduk, tersenyum seperti orang yang datang ke pesta.
“Jujur saya kecewa,” kata Umar, dengan suara hangat yang dipoles. “Saya anggap Arga itu saudara. Tapi dia… menusuk dari belakang.”
Kata “saudara” terdengar seperti pisau yang dibungkus pita.
Panji tidak langsung membalas. Ia menyalakan proyektor. Di layar muncul timeline: email approval, notulen rapat, daftar vendor, bukti konflik kepentingan.
Panji berkata tenang, “Kalau diam saat salah disebut loyalitas, maka benar menjadi pengkhianatan.”
Umar tersenyum tipis. “Lawyer memang pintar membolak-balik.”
Panji menatapnya lurus. “Ini bukan soal pintar. Ini soal benar.”
Ada jeda. Udara seperti menegang.
Investor menutup pertemuan dengan kalimat yang membuat Umar kehilangan panggung:
“Kami menghargai Arga. Ini bukan pelanggaran. Ini proteksi.”
Umar berdiri, membetulkan jasnya, masih tersenyum.
“Silakan,” katanya. “Kita lihat nanti.”
Kalimat itu seperti pintu yang belum dibanting—tapi sudah terdengar akan dibanting.
.
Serangan kedua datang seminggu setelahnya.
Laras mengirim pesan: ada email ke klien desainnya, menyudutkan Laras seolah punya “hubungan personal” yang mempengaruhi keputusan. Mereka meminta Laras diganti.
Arga membaca pesan itu berkali-kali. Rasanya seperti menyaksikan orang yang ia jaga—yang ia akhirnya izinkan dekat—ditarik masuk ke lumpur yang ia coba hindari.
Kebiasaan lamanya muncul, cepat sekali:
Jauhkan diri. Lindungi orang dengan pergi.
Arga mengetik, “Maaf. Aku akan menjauh dulu.” Jemarinya sudah hampir menekan kirim.
Namun suara Sekar, beberapa hari sebelumnya, teringat:
“Kalau kamu punya orang baik di hidupmu… jangan kamu tinggal tanpa bicara.”
Arga menghapus.
Ia menelpon Laras.
“Aku takut kamu rugi karena aku,” kata Arga.
Laras menarik napas, suaranya tenang tapi tajam, “Aku rugi kalau kamu menghilang lagi.”
Arga memejam. “Aku nggak mau kamu ikut tenggelam.”
Laras tertawa pendek—tawa yang bukan lucu. “Kamu pikir kamu bisa jadi penyelamat dengan cara pergi?”
Arga diam.
Laras melanjutkan, “Aku bukan proyek yang harus kamu manage. Aku manusia. Dan aku memilih ada di sini.”
Kalimat itu membuat Arga ingin menangis, tapi ia menahannya. Bukan karena ia kuat. Karena ia masih belajar.
“Kalau aku mulai mundur…” Arga berusaha mencari kata. “Kamu…”
“Aku akan bilang,” Laras memotong. “Dan kamu juga harus bilang. Jangan hilang.”
Arga mengangguk, meski Laras tak melihat. “Aku akan bilang.”
Di kalimat itu, Arga menandatangani kontrak paling menakutkan: kontrak untuk hadir.
.
Di rumah orang tuanya, rahasia lama pecah seperti piring yang jatuh: bunyinya tidak keras, tetapi pecahannya menembus kaki.
Sekar mengaku pernah punya sahabat dekat, Kirana, yang ia tinggalkan karena “jalan terbaik”—menikah, keluarga, citra. Sekar bilang ia menyimpan rasa bersalah bertahun-tahun, dan dari rasa bersalah itu lahir cara hidup: menahan, menjaga, tidak dekat.
“Aku mirip Ibu,” Arga berkata pelan, seperti baru sadar.
Sekar mengangguk, air mata menetes ke ujung hidungnya. “Ibu membesarkan kamu supaya kuat. Tapi ternyata… Ibu cuma mewariskan cara bertahan.”
Bayu, yang biasanya tegas, kali ini bicara tanpa baju besi:
“Ayah keras karena takut,” katanya. “Takut kamu lemah, karena dulu ayah lemah dan diinjak.”
Arga menatap ayahnya. Dalam raut Bayu yang menua, Arga melihat sesuatu yang mengejutkan: ketakutan yang sama, hanya beda gaya.
Dan twist terakhir datang bukan dari Umar, melainkan dari dokumen lama: Bayu pernah terjebak kerja sama “jalan cepat” saat bisnisnya hampir jatuh, dan Umar menyimpan jejak itu untuk pemerasan.
Bayu menandatangani pernyataan legal untuk memutus rantai. Tangan Bayu gemetar.
Arga melihatnya, dan untuk pertama kalinya ia mengerti: ayahnya tidak pernah benar-benar kuat. Ayahnya hanya tidak pernah punya izin untuk rapuh.
.
Malam ketika semuanya mereda, Arga pulang ke apartemen. Bau ruangan sama: steril, dingin. Namun kali ini, ada Laras di sofa. Sepatunya diletakkan sembarangan—tidak rapi. Dan entah kenapa, itu membuat ruangan terasa lebih hidup.
Arga duduk di lantai, bersandar pada sofa. Ia tidak ingin terlihat “siap.” Ia hanya ingin ada.
Laras menatapnya. “Kamu masih ingin lari?”
Arga menutup mata. Di luar, hujan turun, mengetuk kaca seperti jari yang sabar.
“Aku ingin,” Arga jujur. “Tapi… aku tidak pergi.”
Laras tidak langsung tersenyum. Ia menatapnya lama, lalu berkata, suaranya pelan, “Itu cukup.”
Arga membuka mata. “Aku masih sering merasa sendiri, bahkan saat ada orang.”
Laras mengangguk. “Karena sendirimu bukan soal jumlah orang di ruangan. Tapi soal apakah kamu mengizinkan dirimu dipercaya.”
Arga menelan ludah. Kata “percaya” terasa asing. Tapi bukan lagi menakutkan.
Ia menatap Laras, “Kalau suatu saat aku diam…”
Laras menyela, “Diam boleh. Menghilang tidak.”
Arga mengangguk. “Aku akan belajar.”
Laras menyandarkan kepala, menatap langit-langit, lalu berkata seperti mengingat sesuatu, “Kirana pernah bilang ke ibumu, kalau ingin anaknya sehat, ibunya harus belajar dekat dulu.”
Arga memejam. Ia membayangkan Sekar bertemu Kirana di rumah sakit. Dua perempuan dewasa yang akhirnya mengakui bahwa “jalan terbaik” kadang hanya jalan untuk menunda sakit.
Di dada Arga, ada rasa hangat kecil—hangat yang tidak menggebu, tapi menetap. Seperti api kecil yang tidak perlu dilihat orang lain, cukup terasa oleh yang punya.
Arga menatap meja. Gelas kopi dingin masih di sana. Lingkaran bekas air masih ada.
Namun kali ini, Arga mengambil gelas itu, membawanya ke wastafel, membilasnya, dan membuat teh hangat.
Aroma teh naik perlahan—hangat, sederhana, tidak mewah.
Laras menerima cangkir itu, jemarinya menyentuh jemari Arga sebentar.
Tidak ada kalimat romantis.
Tidak ada deklarasi besar.
Tapi di sentuhan kecil itu, Arga merasa: ia sedang pulang, pelan-pelan.
.
Di luar, Jakarta tetap gaduh, tetap berkilau, tetap sibuk menyamarkan luka dengan lampu-lampu.
Namun malam itu, Arga akhirnya mengerti satu hal yang tidak pernah diajarkan di rumah yang rapi:
kesendirian yang paling mematikan bukan saat tidak ada siapa-siapa—
melainkan saat kamu terus pergi, bahkan ketika akhirnya ada seseorang yang memilih tinggal.
.
.
.
Malang, 23 Januari 2026
.
.
#CerpenKompasMinggu #INFJIndonesia #KesendirianEmosional #TraumaKeluarga #FitnahBisnis #Integritas #RelasiDewasa #BelajarHadir #NamakuBrandku