Lantai Dasar

“AI bisa menghapus antrean, tapi tidak bisa menghapus rindu.”
“Ada hal-hal yang tidak butuh jawaban cepat—hanya butuh seseorang yang mau tinggal.”
“Di dunia yang makin otomatis, manusia justru diuji: masihkah ia sanggup menghangatkan?”

.

Langit Jakarta selalu tampak seperti seseorang yang sedang menahan tangis—abu-abu, menebal, lalu jatuh tanpa suara. Di atas jalan layang, mobil-mobil mengalir seperti nadi kota: teratur dari jauh, tetapi kacau bila didekati. Di sisi kaca gedung perkantoran, pantulan lampu-lampu menempel seperti doa yang tak sempat dilafalkan.

Sore itu, Menak duduk di kursi penumpang mobil listrik, memandangi layar ponsel yang tak juga berhenti menyala. Notifikasi bertubi-tubi: laporan okupansi, rapat valuasi, draf akuisisi, pesan dari grup manajemen, dan satu video TikTok yang dikirim berkali-kali oleh orang berbeda—komplain tamu yang mulai ramai, katanya.

Ia menelan ludah. Ia terbiasa menaklukkan perang dengan angka. Di kepalanya, semua bisa dipecah jadi kolom-kolom: risiko, proyeksi, solusi. Hidup—selama ini—seolah hanya soal memilih jalur yang paling efisien.

Namun ada satu pesan yang mengubah suhu darahnya, membuat semua angka seperti kehilangan arti:

Raden: Mas, aku di rumah sakit. Ibu masuk ICU.

Tidak ada emoji. Tidak ada tanda seru. Hanya kalimat datar yang membuat dada Menak sesak. Ia menatapnya lama sekali, seperti orang yang berharap kata-kata bisa berubah kalau ditatap lebih lama.

“Ke mana, Pak?” tanya sopir, suaranya hati-hati. Wajah pria paruh baya itu tampak seperti seseorang yang pernah memikul terlalu banyak, lalu belajar menyimpan semuanya di lipatan dahi.

Menak memejamkan mata. Ia mengingat jadwalnya: jam enam presentasi AI roadmap untuk jaringan hotel yang sedang bertumbuh, jam tujuh negosiasi valuasi, jam sembilan dinner dengan calon mitra edutech. Semua penting. Semua “tak bisa ditunda”.

Tapi ada sesuatu yang lebih tua daripada semua itu: ibu Raden.

“Ke rumah sakit,” jawab Menak. Suaranya terdengar seperti suara orang lain.

Mobil melaju. Lampu kota menetes di kaca jendela seperti hujan yang menahan diri. Menak mencoba bernapas teratur. Ia orang yang rapi—di kepala, di kata, di keputusan. Ia simbol “kelas menengah atas urban” yang berhasil: apartemen lantai tiga puluh, jam tangan pintar, mobil listrik, portofolio usaha yang berlapis—hotel, coffee roastery, co-living, dan sebuah startup edutech bernama LenteraKelas yang ia bangun untuk “mengubah cara orang belajar”.

Ia sering mengucapkan kalimat yang selalu menghasilkan tepuk tangan di panggung:

AI bukan lagi alat tambahan—AI adalah fondasi baru.

Ia percaya itu. Ia masih percaya.

Hanya saja, belakangan ia menemukan sisi lain: fondasi bisa menjadi lantai dingin, kalau tidak ada api yang menyalakan ruangan.

.

Rumah sakit swasta itu tampak seperti hotel bintang lima: lobby wangi, cahaya hangat, musik piano pelan. Bahkan ada concierge. Bahkan ada coffee bar yang menyuguhkan latte art seolah sedih bisa dipoles jadi cantik.

Menak melangkah cepat, seolah berjalan di atas jadwal yang mengejarnya. Di depan lift menuju ICU, ia melihat Raden berdiri menunduk, rambut berantakan, jas kusut, mata yang seperti habis diperas oleh hari-hari terlalu berat.

Raden bukan karyawan biasa. Ia Chief Experience Officer—orang yang selama ini menjaga “human touch” dan memastikan tamu merasa dipeluk, bukan sekadar dilayani.

Orang seperti Raden biasanya rapi. Biasanya tenang. Biasanya punya kata-kata.

Hari itu, Raden hanya punya satu: “Mas…”

Menak menepuk bahunya. Tepukan yang ingin menjadi sandaran, tapi terasa canggung karena Menak lebih terbiasa menyandarkan orang pada sistem.

“Gimana kondisi Ibu?”

Raden menggeleng. Air mata menggantung di kelopak, seperti lampu kota yang hampir padam. “Dokter bilang kritis. Komplikasi. Ginjal drop.”

Menak menelan napas. Ia ingin bertanya banyak hal, tetapi semua pertanyaan terasa tak pantas. Ia akhirnya bertanya yang paling sederhana.

“Kamu sudah makan?”

Raden tertawa kecil, mirip orang yang tak percaya ada orang masih menanyakan itu. “Belum kepikiran.”

Menak mengeluarkan ponsel, memesan sup hangat, roti, kopi. Semua otomatis. Semua cepat. Semua rapi. Jari-jarinya cekatan seperti ketika menandatangani kontrak.

Namun saat menekan tombol “order”, ia tersadar: ia melakukan ini seperti mengelola operasional, bukan menemani seseorang yang ketakutan.

Ia menaruh ponsel.

“Raden,” katanya pelan, “aku di sini.”

Raden tidak menjawab. Ia menatap pintu ICU yang tertutup rapat, seolah di balik pintu itu ada seluruh dunia yang bisa runtuh kapan saja.

Di monitor kecil, angka-angka naik turun: saturasi, tekanan darah, denyut. Data. Data. Data.

Menak teringat rapat kemarin tentang AI—bagaimana AI bisa membaca pola tamu, mempercepat response time, mengoptimasi housekeeping, memotong beban admin. Semua benar. Semua mengagumkan.

Tapi di depan ICU, Menak merasa bodoh. Karena ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan AI:

menahan tangan seseorang yang takut kehilangan ibunya.

Ia menatap tangan Raden yang menggenggam udara, seolah ibunya sedang berada di sana—hanya tidak tampak.

“Manusia bukan sekadar data,” pikir Menak. “Manusia adalah luka, harap, dan doa yang sering tak punya kata.”

.

Dua jam kemudian, Menak duduk di ruang tunggu dingin. Ia menunda rapat dengan pemilik brand. Menunda presentasi AI roadmap. Menunda dinner edutech.

Ia mengirim pesan singkat: Ada urusan mendesak. Saya reschedule.

Balasan datang profesional, cepat, dan dingin.

Jayeng: Investor tidak suka kejutan.
Panji: Valuasi bisa turun kalau kita dianggap tidak siap.
Ratri: Kita atur ulang. Kamu fokus dulu.

Menak menatap layar itu lama. Ia menyadari: dunia bisnis dibangun untuk bergerak, bukan untuk berhenti bersama orang yang menangis.

Di kepala, dua suara bertengkar.

Suara sistem: Kamu pemimpin. Kamu harus hadir di rapat.
Suara manusia: Kamu teman. Kamu harus hadir di sini.

Menak teringat masa kecilnya: ibunya pegawai admin hotel kecil, ayahnya pedagang yang gagal berkali-kali. Menak tumbuh dengan mantra: naik kelas. Menjadi aman. Menjadi “middle-up” yang punya pilihan.

Kini ia punya pilihan. Tapi mengapa rasanya justru lebih berat?

Raden berdiri, seperti diseret oleh kabar buruk. “Mas, dokter manggil.”

Di ruang konsultasi, dokter menjelaskan dengan bahasa hati-hati: risiko tinggi, persiapan, kemungkinan terburuk. Kata-katanya teratur. Seperti laporan harian. Tapi mata dokter tidak pernah benar-benar bisa menipu.

Raden bertanya dengan suara kecil, “Dok… kalau ibu saya nggak kuat… apa yang bisa saya lakukan?”

Dokter menatapnya lama, barangkali menimbang cara menyelamatkan seseorang yang tak bisa diselamatkan dengan obat.

“Temani,” kata dokter. “Bicara. Pegang tangannya. Terkadang yang paling penting bukan obat… tapi rasa aman.”

Menak merasakan sesuatu retak di dadanya. Ia mendengar definisi hospitality yang paling jujur—bukan yang pernah ia tulis di slide—melainkan yang lahir dari ruang sempit dengan bau antiseptik:

rasa aman.

.

Malam turun pelan. Raden tertidur lelah di kursi ruang tunggu, kepalanya miring seperti anak yang lupa cara bersandar. Menak keluar sebentar untuk menghirup udara. Ia membuka ponsel lagi—dan dunia bisnis menyergapnya kembali.

Notifikasi dari LenteraKelas muncul.

Subjek: Penurunan Retensi Pengguna—Urgent.

Ia membuka dashboard: grafik retensi turun. Komentar pengguna bermunculan seperti keluhan yang tak sempat ditangani.

Materinya bagus, tapi saya nggak kuat ikut karena kerjaan.
Terlalu banyak video, terlalu sedikit pendampingan.
AI tutor-nya cepat, tapi saya tetap merasa sendirian.

Kalimat terakhir menusuk: merasa sendirian.

Menak menatap layar. Ia membangun LenteraKelas dengan mimpi ideal: pendidikan fleksibel untuk pekerja, untuk orang yang tidak punya waktu. Ia memakai AI tutor agar materi bisa dipersonalisasi. Ia ingin “kelas masa depan”.

Namun, di komentar itu, ia melihat lubang yang sama dengan lubang di industri hotel: kecepatan tanpa kehadiran.

Ia teringat wajah Dewi—staf front office—yang selama ini bekerja rapi, tapi matanya menyimpan takut. Terlintas juga wajah-wajah siswa LenteraKelas: ibu rumah tangga yang belajar digital marketing; resepsionis yang ingin naik jadi supervisor; anak magang yang ingin memahami revenue management. Mereka berlari. Mereka lelah. Mereka ingin ditolong.

Tapi mesin hanya memberi jawaban, bukan pelukan.

Menak mengetik pesan ke tim edutech:

Besok pagi kita bahas human mentor layer. AI tutor tetap, tapi harus ada pendampingan manusia. Jangan jadikan orang belajar sendirian.

Ia mengirim. Lalu menatap langit yang gelap.

Ia merasa lucu: ia ingin membuat semua serba cepat, tapi ia selalu kalah oleh hal paling lambat—hati manusia.

.

Beberapa hari berikutnya, transformasi AI berjalan. Chat concierge 24/7 aktif. Forecasting makin presisi. Admin report otomatis. Di kantor pusat, KPI berpendar seperti lampu lalu lintas yang mengatur napas perusahaan.

Di lobby salah satu hotel, Dewi berdiri di depan komputer front office dengan mata yang tak tenang. Ia menatap layar chat concierge yang menjawab tamu dalam tiga bahasa, cepat dan sopan.

Seorang tamu bertanya: Can I get late checkout?
Chat concierge menjawab: Certainly, please allow me to check availability.

Dewi merasa seperti melihat dirinya sendiri—namun versi yang tidak lelah, tidak lapar, tidak punya anak yang harus diantar sekolah, tidak pernah pusing memikirkan cicilan.

Pada break, Dewi menemui Raden. Suaranya bergetar. “Mas… kalau mesin bisa jawab semua, aku ini apa? Aku harus jadi apa?”

Raden menatap Dewi, lalu mengajaknya duduk. Ia tidak mengeluarkan motivasi instan. Ia mengambil waktu—seolah waktu adalah satu-satunya mata uang yang masih ia percaya.

“Kamu tahu,” kata Raden, “tamu itu datang bukan cuma bawa koper. Mereka bawa cerita. Ada yang habis dimarahi bos. Ada yang baru kehilangan. Ada yang menahan air mata. Mesin bisa jawab pertanyaan. Tapi kamu bisa… membaca.”

Dewi menggeleng pelan. “Tapi manajemen lihat angka, Mas. Lihat efisiensi.”

Raden menarik napas. “Maka kita harus ubah definisi efisiensi. Efisiensi bukan mengurangi manusia. Efisiensi adalah membebaskan manusia dari repetisi supaya ia bisa melakukan yang paling mahal: mengerti.”

Dewi menatap lantai. “Aku takut, Mas.”

Raden mengangguk. “Takut itu wajar. Tapi takut jangan bikin kamu berhenti belajar. Aku dampingi kamu.”

Dewi menahan tangis. Ia bukan menangis karena takut. Ia menangis karena ada orang yang berkata: aku akan tinggal.

.

Lalu pagi itu datang—pagi ketika rasa takut berubah menjadi ujian yang tak bisa disembunyikan.

Dewi belum sempat menyalakan komputer, ketika grup WhatsApp hotel bergetar tanpa jeda. Pesan-pesan pendek, cepat, menyisakan ruang kosong yang menakutkan.

Seseorang mengirim tautan TikTok.

Judulnya menyala-nyala: HOTEL MAHAL, TAPI DINGIN—HUMANITY ZERO.

Video memperlihatkan seorang perempuan paruh baya yang rapi, rambut disanggul, berdiri di lobi. Suaranya bergetar marah—atau mungkin bukan marah, tapi patah.

“Aku tidak butuh jawaban otomatis!” katanya. “Saya kehilangan suami saya semalam. Saya cuma mau… dimengerti.”

Potongan berikutnya menampilkan layar chat concierge yang menjawab sopan, cepat, dan entah kenapa terasa kejam. Kata-kata tepat. Nada halus. Tapi kosong. Seperti pelukan yang digambar.

Komentar sudah ribuan. Ada yang membela, ada yang mencaci. Kata “dehumanisasi” berulang-ulang.

Dewi menatap layar itu lama. Ini hotelnya. Ini sistem barunya. Ini ketakutan yang selama ini ia simpan: suatu hari orang akan berkata, “Kamu tidak diperlukan.”

Ia menghela napas, lalu berjalan ke lobi.

Perempuan di video itu masih di sana. Duduk kaku di sofa, mata merah, tangan menggenggam tas kecil seperti pelampung.

Dewi mendekat. Tidak membawa tablet. Tidak membawa SOP. Tidak membuka sistem.

Ia duduk di samping perempuan itu. Diam.

Beberapa detik yang terasa panjang.

“Apa saya boleh duduk di sini, Bu?” tanya Dewi pelan.

Perempuan itu menoleh. Mata basah. “Silakan.”

“Saya Dewi,” kata Dewi, perlahan, seolah namanya sendiri adalah janji.

Perempuan itu menelan napas. “Saya cuma… saya cuma mau ditanya apa kabar. Itu saja.”

Dewi menunduk. Ada rasa malu yang tiba-tiba muncul—malu sebagai manusia, bukan sebagai staf.

“Maafkan kami,” katanya. “Sistem kami cepat. Tapi kami… terlambat.”

Perempuan itu terisak. Untuk pertama kalinya sejak video itu beredar, seseorang tidak membantah. Tidak menjelaskan. Tidak membela hotel.

Dewi hanya berkata, “Saya di sini.”

Mereka duduk lama. Dewi memanggil teh hangat, bukan sebagai prosedur, tapi sebagai alasan kecil untuk mengatakan: aku peduli. Ia mengantar perempuan itu ke kamar, mengatur late checkout, dan menempelkan secarik kertas tulisan tangan:

Kalau Ibu butuh apa pun, tekan 0. Minta Dewi.

Sore harinya, video baru muncul. Masih dari akun yang sama.

Judulnya berubah: Akhirnya Ada yang Duduk dan Mendengar.

Di kolom komentar, ribuan orang menulis kalimat-kalimat yang sederhana—yang biasanya tidak masuk laporan bulanan.

Terima kasih, Mbak Dewi.
Ini baru hotel.
Semoga kita tetap manusia.

Di kantor pusat, Menak menatap layar itu dengan tenggorokan tercekat. Ia merasa ada sesuatu yang lebih penting dari semua grafis yang ia buat.

Raden berbisik, hampir seperti doa, “Itu… hospitality.”

.

Rapat investor akhirnya terjadi. Di ruang kaca kantor pusat, duduk Jayeng, Panji, Ratri, dan dua perwakilan investor asing via layar. Suara mereka jernih, wajah mereka tenang—tenang yang sering dimiliki orang yang tidak harus menanggung akibat dari keputusan yang mereka minta.

Investor berbicara cepat, tajam, tanpa banyak basa-basi.

“Your labor cost is too high. AI adoption should reduce headcount. We expect efficiency improvements within 90 days.”

Panji menimpali dengan bahasa bisnis yang ia kuasai seperti bahasa ibu: “We can automate admin, reporting, and part of guest services. It will reduce cost.”

Ratri menahan diri, tapi akhirnya bersuara, lirih, seolah kata-katanya bisa pecah kalau ditinggikan. “Reducing headcount too aggressively will damage service culture. Hospitality is trust.”

Investor mengerutkan dahi. “Trust doesn’t pay dividends.”

Menak yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.

“Trust is why guests come back,” katanya. “Trust is why brand survives.”

Investor tertawa pendek. “You’re emotional.”

Menak menatap kamera. “Yes,” katanya pelan. “Because hospitality is emotional.”

Sejenak ruangan sunyi. Jayeng melirik Menak, seperti membaca angka yang belum muncul: risiko.

Menak melanjutkan, lebih pelan, tapi tegas. “Kami akan lakukan AI transformation. Tapi bukan dengan cara memotong manusia secara brutal. Kami akan reskill. Kami akan redesign roles. Kami jadikan learning sebagai mesin kedua.”

Investor menghela napas. “This is expensive.”

Menak mengangguk. “It is.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “But losing our soul is more expensive.”

Panji tampak gelisah. Jayeng menghitung risiko di matanya. Ratri menatap Menak, seperti baru melihat pemimpin, bukan sekadar CEO.

Investor akhirnya berkata, datar, “We will consider. But we want results.”

Menak menjawab, “You will get results. And you will get something else—reputation. The kind that money can’t buy.”

Rapat selesai dengan tegangan yang menggantung. Setelah layar mati, Panji langsung berdiri.

“Kamu barusan mempertaruhkan valuasi.”

Menak menatap Panji. “Aku mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar,” katanya. “Cara kita menjadi manusia di tengah mesin.”

Panji menggeleng. “Kamu idealis.”

Menak tersenyum pahit. “Mungkin. Tapi idealisme itu kadang satu-satunya pagar supaya kita tidak jadi monster yang rapi.”

Di kepala Menak, video Dewi lewat lagi: seorang staf duduk dan tinggal. Ia ingin berkata pada Panji: kadang yang menyelamatkan perusahaan bukan strategi paling canggih, tapi satu kursi yang ditarik pelan untuk orang yang sedih.

Panji tidak menjawab. Ia pergi dengan langkah yang lebih berat dari biasanya.

.

Malam itu, kantor sudah hampir kosong. Lampu hanya menyala di satu ruangan: ruang Panji.

Panji menatap layar laptop. Di sana terbuka sebuah email, belum terkirim.

Subjek: Alternative Cost Optimization Plan.

Isinya rapi. Terlalu rapi. Tabel demi tabel menunjukkan bagaimana margin bisa melonjak jika program reskill “dipangkas”. Bahasa yang dipakai dingin dan pintar: streamlining, redundancy elimination, accelerated ROI.

Panji tahu, jika email itu terkirim, investor akan senang. Valuasi naik. Tekanan turun. Ia akan terlihat sebagai eksekutor yang “berani”.

Namun wajah-wajah muncul di kepalanya: Dewi, dengan mata takutnya. Raden, dengan duka yang belum kering. Menak, dengan keyakinan yang kini terasa mahal.

Panji membuka jendela. Kota berkilau. Di bawah sana, orang-orang pulang dengan lelah masing-masing. Ia bertanya dalam hati: untuk apa margin tinggi kalau malam tidak bisa tidur?

Tangannya hover di atas tombol send.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ratri.

Panji, aku baru lihat video Dewi. Aku bangga. Jangan kita rusak ini.

Kalimat sederhana itu seperti palu kecil yang tepat memukul retakan hatinya.

Panji memejamkan mata. Ia menghapus draft email itu.

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang mengucapkan “selamat”.

Tapi kadang, keputusan paling besar memang terjadi dalam ruangan sunyi, di hadapan tombol yang tidak jadi ditekan.

.

Di sela semua itu, kondisi ibu Raden semakin turun. Raden tetap bekerja—setengah jiwa di hotel, setengah jiwa di ICU. Ia tersenyum di rapat, lalu hancur di parkiran rumah sakit.

Suatu malam, Menak memanggil Raden ke kantor. Ia menatap Raden yang tampak lebih kurus, seolah sebagian dirinya sudah tertinggal di ruang perawatan.

“Raden, kamu harus cuti.”

Raden menggeleng cepat. “Aku nggak bisa, Mas. Ini lagi fase penting. Transformasi AI. Tim butuh aku.”

Menak menatapnya lama. “Tim butuh kamu sebagai manusia juga. Kamu bukan mesin.”

Raden tertawa kecil, getir. “Ironis ya. Kita ngomong AI biar manusia lebih manusia. Tapi aku sendiri malah jadi… robot.”

Kalimat itu membuat Menak terdiam. Ia merasa seperti ditampar oleh kebenaran yang lembut.

Raden melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Mas, kalau aku cuti, aku takut posisi ini diambil orang. Aku takut dianggap lemah.”

Menak merasakan dilema yang lebih tajam daripada rapat investor: dilema antara struktur dan rasa.

Sebagai CEO, ia harus menjaga sistem.
Sebagai teman, ia harus menjaga manusia.

Ia mendekat, menepuk bahu Raden. “Dengar,” katanya. “Kalau ada yang berani menganggap kamu lemah karena kamu menemani ibumu, orang itu yang lemah.”

Raden memejamkan mata. Air matanya turun. “Aku takut kehilangan ibu, Mas.”

Menak menelan napas. Ia teringat ibunya sendiri yang sudah lama meninggal—dan betapa ia dulu terlalu sibuk membangun karier, sampai lupa meminta maaf pada waktu.

“Kamu temani ibumu,” kata Menak. “Aku yang jaga sistem.”

Untuk pertama kalinya, Raden terlihat seperti anak kecil yang diberi izin pulang.

.

Dua minggu kemudian, ibu Raden meninggal.

Tidak ada drama besar. Tidak ada teriakan. Hanya satu detik ketika monitor berhenti berbunyi, lalu dunia terasa seperti kehilangan warna. Suara mesin yang biasa menegaskan hidup, mendadak berhenti, dan ruang menjadi terlalu sunyi.

Raden memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin. Tangisnya pecah, tetapi tetap tertahan, seperti orang yang terlalu lama diajari untuk “kuat”.

Menak berdiri di sudut ruangan, menggenggam tangannya sendiri, menahan sesuatu yang ingin keluar.

Saat itu, Menak merasa semua KPI tidak ada artinya. Semua target NPS tidak ada artinya. Semua valuasi tidak ada artinya.

Yang ada hanya satu: kehilangan.

Di pemakaman, hujan turun lembut. Orang-orang membawa payung hitam yang tampak seperti bunga-bunga duka. Tanah basah. Wangi tanah yang selalu mengingatkan bahwa manusia, pada akhirnya, kembali ke dasar.

Raden berdiri dekat nisan, berbisik, “Ibu selalu bilang, kerja itu penting, tapi keluarga itu rumah. Aku baru ngerti sekarang.”

Menak menatap tanah basah. “Aku juga.”

Di kepala Menak, kalimat presentasinya muncul lagi: AI adalah fondasi baru. Ya.

Namun hari itu Menak menambahkan sesuatu yang tidak ada di slide:

Fondasi baru tidak boleh mengubur manusia.

.

Beberapa bulan setelah itu, transformasi AI justru membuat jaringan hotel mereka lebih kuat.

Bukan hanya karena AI. Tapi karena cara mereka menempatkan AI.

Admin report otomatis, tapi staf admin tidak dibuang—mereka dilatih menjadi orang-orang yang menyelesaikan masalah tamu dengan tenang. Tim revenue tidak lagi sibuk entry data; mereka fokus strategi dan cerita. Dewi yang semula takut, kini menjadi semacam “penjaga hangat”: tugasnya bukan mengetik cepat, melainkan memastikan tamu merasa dipahami.

LenteraKelas menambahkan human mentor layer. Materi tetap dipandu AI, tapi ada manusia yang menemani. Retensi naik pelan-pelan, seperti tanaman yang akhirnya dapat air.

Di sesi workshop internal, Menak menulis di papan:

AI does the work. Humans deliver the warmth.
Lalu ia menambahkan dalam bahasa Indonesia, dengan tinta lebih tebal:

Mesin bekerja. Manusia menghangatkan.

Raden berdiri di sampingnya, wajah lebih tenang, lebih dalam—luka masih ada, tapi ia tidak lagi menolak luka itu.

“Dulu aku takut AI bakal mengambil semuanya,” kata Raden kepada peserta. “Tapi ternyata AI memberi aku sesuatu yang paling mahal: waktu. Waktu untuk hadir.”

Menak memandang ruangan: ada Dewi, ada tim housekeeping, ada admin yang dulu takut, ada supervisor yang dulu skeptis. Di mata mereka, Menak tidak melihat kepatuhan. Ia melihat sesuatu yang lebih langka: percaya.

Dan di dunia bisnis modern, kepercayaan adalah mata uang yang tidak bisa dicetak.

Menak menutup sesi dengan suara pelan, seolah tidak ingin melukai hening.

“AI adalah fondasi baru,” katanya. “Tapi fondasi itu harus menopang manusia—bukan menindihnya. Karena hotel yang hebat bukan yang paling canggih. Hotel yang hebat adalah yang membuat orang merasa aman.”

Di luar ruangan, kota masih bising. Masih cepat. Masih dingin.

Tapi di dalam ruangan itu, ada hangat yang lahir dari keputusan kecil: memilih manusia.

.

Beberapa minggu setelah pemakaman ibu Raden, Menak menyetir sendiri ke pinggiran kota. Tanpa sopir. Tanpa agenda. Tanpa notifikasi yang ia izinkan masuk.

Ia berhenti di sebuah rumah tua. Catnya pudar, pagarnya berdecit pelan saat dibuka. Di sinilah ia tumbuh. Di sinilah ia dulu belajar bahwa hidup bukan sekadar menang—hidup juga soal bertahan.

Ia membuka pintu. Bau kayu tua dan kenangan menyambutnya.

Di ruang tamu kecil, masih ada meja makan yang sama. Kursi yang sama. Di dinding, foto ibunya mengenakan seragam hotel—tersenyum kaku, bangga, lelah.

Menak duduk di kursi itu lama.

Di rumah ini, tidak ada KPI.
Tidak ada dashboard.
Tidak ada AI.

Yang ada hanya waktu yang pernah berlalu terlalu cepat.

Ia teringat ibunya yang sering pulang malam, tetap menanyakan PR-nya. Teringat ayahnya yang gagal, tapi tetap mengajarinya jujur. Teringat dirinya sendiri yang dulu bersumpah akan “naik kelas”, dan betapa sumpah itu—pelan-pelan—mengubahnya jadi orang yang selalu berlari.

Menak menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara.

“Bu,” bisiknya, “aku bikin hotel besar sekarang. Pakai mesin pintar. Tapi aku takut… takut lupa caranya jadi manusia.”

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menyusup dari celah jendela. Angin yang tidak menjanjikan apa-apa, tapi tetap datang.

Menak membuka mata. Ia melihat sesuatu di meja: buku catatan lama ibunya. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang pudar:

Kerja yang baik itu yang bikin orang lain pulang dengan hati lebih ringan.

Menak terdiam. Dadanya sesak, tapi hangat. Ia menyadari: ibunya tidak pernah bicara tentang teknologi. Tidak pernah bicara tentang valuasi. Tidak pernah menyebut KPI. Tetapi ia mengerti inti yang selalu dicari Menak, bahkan di tengah AI:

membuat orang pulang dengan hati lebih ringan.

Menak berdiri pelan. Ia menatap foto ibunya sekali lagi.

Bukan senyum CEO.
Bukan senyum visioner.
Tapi senyum seorang anak yang akhirnya pulang.

Di luar, langit masih abu-abu. Tapi Menak merasa, untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidak ingin mengalahkan langit. Ia hanya ingin tinggal sejenak—dan menghangatkan.

Sebab AI bisa menghapus antrean, tapi tidak bisa menghapus rindu.

Dan ada hal-hal yang tidak butuh jawaban cepat—hanya butuh seseorang yang mau tinggal.

.

.

.

Malang, 13 Januari 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #CerpenIndonesia #AIHospitality #HumanTouch #Leadership #Reskilling #TransformasiDigital #Edutech #KelasMenengah #NamakuBrandku

Leave a Reply