Lampu-Lampu yang Terus Menyala Setelah Jiwa Pulang
“Yang paling berbahaya bukanlah kehancuran yang terlihat,
melainkan keteraturan yang tak lagi bertanya untuk apa ia dijaga.”
.
Jayeng selalu percaya, manusia tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat yang pernah membentuknya. Ia hanya belajar berjalan menjauh dengan langkah yang lebih tenang, seolah menahan diri agar kenangan tidak berubah menjadi penyesalan, dan penyesalan tidak menjelma menjadi dendam yang tak perlu.
Pagi itu, ia berdiri di seberang jalan protokol Jakarta Selatan—kawasan kelas menengah ke atas yang hidup dari kerapian dan kepastian. Segalanya tampak tertata: lalu lintas yang mengalir sabar, gedung-gedung tinggi berlapis kaca yang memantulkan cahaya pagi seperti keberhasilan yang sudah dipoles bertahun-tahun, papan nama restoran dengan huruf-huruf minimalis yang sengaja dirancang untuk tampak mahal. Kota ini tidak tergesa. Ia hanya sibuk menjaga citra bahwa semuanya baik-baik saja.
Hotel itu masih berdiri di sana.
Tidak ada spanduk penjualan.
Tidak ada tanda renovasi.
Tidak ada suara gaduh.
Bangunan itu tampak utuh—bahkan lebih rapi dari ingatan Jayeng. Dan justru di situlah kegelisahan itu muncul. Kerapian yang berlebihan sering kali adalah cara paling halus untuk menutupi kelelahan.
Delapan tahun lalu, hotel ini adalah tempat Jayeng belajar menjadi pemimpin tanpa pelindung. Tanpa warisan nama. Tanpa sistem matang yang bisa dijadikan tameng ketika keputusan tidak populer harus diambil. Ia datang dengan satu koper besar, satu jas yang belum sepenuhnya terasa miliknya, dan keyakinan yang masih sering diuji oleh keraguan sendiri.
Di tempat inilah ia belajar bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan kesediaan berdiri paling depan ketika sesuatu tidak berjalan, dan paling belakang ketika semua orang membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Ia belajar bahwa kemewahan bukanlah soal seberapa mahal sesuatu terlihat, melainkan seberapa konsisten ia dijaga ketika tidak ada yang mengawasi.
Kemewahan lahir bukan dari kelimpahan,
melainkan dari disiplin yang tidak pernah dipamerkan.
Jayeng menyeberang. Langkahnya pelan, bukan karena ragu, melainkan karena ia tahu apa yang akan ia temui bukan sekadar bangunan, melainkan cermin—dan tidak semua orang siap bercermin terlalu lama.
Pintu putar bergerak sempurna. Pendingin udara menyambut tanpa cela. Aroma ruang publik—yang dulu ia pilih dengan cermat bersama tim, setelah berhari-hari mencoba berbagai komposisi—masih ada, namun terasa netral. Aman. Seperti bau apa pun yang dirancang agar tidak mengganggu siapa pun, dan karena itu tidak meninggalkan kesan apa pun.
Ia berhenti di tengah lobi.
Ia tidak mencari cacat.
Ia membaca denyut.
Resepsionis tersenyum sopan, tapi matanya tidak lagi membaca wajah. Senyum itu hadir karena prosedur, bukan karena rasa memiliki. Bellboy bergerak sigap, namun langkahnya seperti mengikuti irama yang telah lama dihafal—tanpa perlu merasa. Petugas keamanan membuka pintu, tetapi tubuhnya seperti hanya menjalankan perintah otot, bukan kesadaran.
Semua berjalan.
Tidak ada yang benar-benar hadir.
Jayeng mengenali pola itu seperti dokter mengenali penyakit lama: bukan luka terbuka, bukan pendarahan, melainkan kelelahan yang dibiarkan terlalu lama sampai tubuh lupa bagaimana rasanya sehat.
Ini bukan kemunduran.
Ini bukan kegagalan.
Ini pergeseran senyap.
Yang merusak paling cepat
adalah sesuatu yang dibiarkan tampak normal.
Ia naik ke restoran lantai dua. Prana sudah menunggu. Rambutnya kini lebih banyak abu-abu, tetapi sikapnya masih sama—tenang, terukur, seolah tidak pernah terburu-buru oleh ambisi. Prana adalah tipe orang yang tidak banyak bicara tentang target, tetapi selalu tahu apa yang sedang ia jaga.
“Tempat ini masih cantik,” kata Prana, hampir berbisik, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.
“Cantik sering jadi alasan untuk berhenti peduli,” jawab Jayeng.
Mereka tersenyum kecil. Bukan senyum nostalgia, melainkan senyum dua orang yang menyadari bahwa sesuatu pernah dijaga dengan sungguh-sungguh—dan kini dilepas perlahan, bukan karena kejahatan, melainkan karena kelelahan kolektif yang tidak pernah dibicarakan.
Prana memandang dapur terbuka. Api menyala. Wajan mengilap. Perintah-perintah berjalan rapi. Tidak ada teriakan. Tidak ada kekacauan.
“Dapurnya bersih,” katanya.
“Dan?”
“Seperti orkestra tanpa dirigen.”
Jayeng tahu maksudnya. Semua instrumen masih ada. Semua pemain masih hadir. Tapi tidak ada yang benar-benar mendengar keseluruhan lagu.
Ketika niat tak lagi memimpin,
yang tertinggal hanyalah kerja yang lelah.
Ia lalu meminta izin menyusuri lorong karyawan. Lorong yang tidak pernah masuk brosur. Tidak pernah difoto. Tidak pernah dipuji. Lorong yang selalu jujur, karena di sanalah manusia berhenti berpura-pura.
Wajah-wajah muda berlalu cepat. Mereka bekerja dengan patuh. Dengan efisien. Dengan kepala menunduk pada tugas. Namun sorot mata mereka tidak menyimpan cerita apa pun selain jam pulang dan tanggal gajian.
Seorang staf muda berhenti sejenak, ragu-ragu.
“Bapak tamu?”
Jayeng tersenyum.
“Bukan. Aku dulu pernah menjaga tempat ini.”
Staf itu mengangguk, lalu pergi—tanpa bertanya lebih jauh, tanpa ingin tahu lebih dalam. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena tidak ada lagi yang mengajarkan bahwa tempat ini pernah berarti lebih dari sekadar pekerjaan.
Jayeng berdiri sejenak, merasakan kesunyian yang padat.
Organisasi tidak runtuh karena pengkhianatan,
melainkan karena nilai-nilai berhenti diceritakan.
Ruang rapat masih ada. Lebih modern. Lebih nyaman. Lebih sunyi. Kursi ergonomis menggantikan kursi kayu lama. Proyektor terbaru menggantikan papan tulis penuh coretan.
Dulu, di ruangan ini, perdebatan terjadi hampir setiap minggu. Tentang standar. Tentang detail. Tentang kehadiran pemimpin di lantai. Tentang makanan sebagai identitas, bukan pelengkap.
Hari ini, ruangan itu seperti menunggu seseorang yang lupa datang.
“Masih bisa diselamatkan?” tanya Prana.
Jayeng menatap meja itu lama, seolah mencari bekas percakapan lama yang tertinggal di serat kayunya.
“Bisa,” katanya akhirnya.
“Tapi bukan dengan renovasi.”
“Dengan apa?”
“Dengan keberanian untuk bertanya ulang.”
.
Malam itu, Jayeng menyusuri Jakarta. Dari balik kaca mobil, kota tampak indah. Lampu-lampu menyala rapi, seperti hotel yang baru saja ia tinggalkan. Apartemen-apartemen tinggi berdiri seperti simbol keberhasilan yang jarang dihuni sepenuhnya.
Ia melihat kehidupan yang serupa.
Apartemen tinggi dengan balkon sunyi.
Pernikahan yang utuh tapi dingin.
Karier mapan yang tidak lagi memberi rasa bangga.
Ia teringat hubungan yang pernah ia jalani. Tidak ada konflik besar. Tidak ada perpisahan dramatis. Mereka hanya berhenti hadir sepenuhnya. Percakapan berubah menjadi laporan. Perhatian berubah menjadi kewajiban.
Cinta tidak mati karena pertengkaran,
tetapi karena kehadiran yang pelan-pelan menghilang.
Beberapa hari kemudian, Prana menelepon.
“Kita dulu terlalu sibuk menjaga hotel,” katanya lirih,
“sampai lupa bertanya apakah hidup kita sendiri masih bernyawa.”
Kalimat itu menetap lama di benak Jayeng.
Ia berjalan malam itu di trotoar kota. Melihat pasangan muda membicarakan cicilan, target, dan liburan. Melihat pria paruh baya berbicara keras di ponsel, seolah mengejar sesuatu yang bahkan ia lupa namanya.
Dan semuanya menjadi jelas.
Hotel itu bukan bangunan.
Ia adalah metafora.
Tentang organisasi yang tetap berjalan meski kehilangan makna.
Tentang relasi yang tetap utuh meski kehilangan kehangatan.
Tentang manusia dewasa yang tampak berhasil, tetapi lupa bertanya apakah hidupnya masih menuju ke arah yang ia pilih.
Tidak semua yang rapi
bergerak ke tujuan yang benar.
Jayeng tidak pernah berniat menjadi penyelamat. Ia hanya ingin setia pada satu hal: kesadaran.
Kemewahan, baginya, bukan lagi status.
Kemewahan adalah laku.
Dalam pitutur Jawa, ngemong berarti memelihara dengan sabar—hadir tanpa menguasai, menuntun tanpa menekan, menjaga tanpa mengikat.
Pemimpin sejati
tidak membuat semua orang bergantung,
tetapi membuat semua orang tahu arah.
Jayeng mulai memilih ruang-ruang yang menuntut kehadiran, bukan sekadar prestise. Ia menolak beberapa tawaran yang tampak menggiurkan. Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu, tidak semua tempat layak diperjuangkan.
Suatu sore, tanpa rencana, ia kembali berdiri di depan hotel itu. Kali ini ia tidak masuk. Ia hanya memandang.
Lampu-lampu lobi menyala terang.
Pintu putar terus bergerak.
Orang-orang keluar masuk seperti biasa.
Tidak ada tanda bahwa sesuatu pernah salah.
Jayeng berdiri lama.
Apakah hotel itu akan menemukan kembali jiwanya?
Ataukah ia akan terus hidup dalam keteraturan yang kosong?
Ia tidak tahu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu tahu.
Ia berbalik, melangkah pergi, menyatu dengan keramaian kota. Lampu-lampu tetap menyala di belakangnya—seperti di banyak tempat lain, seperti di banyak kehidupan lain.
Malam itu, kota tampak hidup.
Dan entah mengapa, Jayeng merasa pertanyaan itulah yang menjaga semuanya tetap bernapas.
Mungkin yang membuat sesuatu tetap hidup
bukan jawabannya,
melainkan keberanian untuk terus bertanya.
.
.
.
Malang, 27 Desember 2025
.
.
#CerpenKompas #SastraIndonesia #CerpenReflektif #KehidupanUrban #FilosofiJawa #KepemimpinanSadar #LuxuryWithSoul #RefleksiHidup #NamakuBrandku