Parijoto di Atas Meja Rapat
“Ada luka yang tidak butuh disembuhkan—hanya butuh diakui. Seperti daun yang gugur: ia tidak kalah, ia sedang pulang ke tanah.”
.
Pagi di Jakarta selalu punya dua cuaca: yang tertulis di aplikasi, dan yang dirasakan di dada. Di layar ponsel, hujan sekadar ikon awan, angka persen, dan garis-garis tipis. Di dada, hujan adalah alasan orang terlambat, alasan suara jadi meninggi, alasan rapat jadi lebih kejam.
Kereta yang melintas di dekat Sudirman menggeram seperti hewan tua yang masih dipaksa kerja. Di trotoar, sepatu-sepatu mahal melangkah cepat, seolah semua orang sedang dikejar tenggat yang tak pernah punya wajah. Gedung-gedung kaca memantulkan diri masing-masing: sebuah kota yang sibuk bercermin, tapi sering lupa menatap.
Di lantai delapan belas sebuah gedung perkantoran, ruangan rapat sudah menyala sejak pukul tujuh. Meja panjang mengkilap, kursi-kursi empuk, proyektor menggantung seperti mata yang siap menilai. Ada aroma kopi single origin dari mesin premium, dan aroma lain yang lebih tipis tapi tajam: aroma kecemasan.
Di ujung meja, duduk Jayeng—nama yang terdengar seperti simpul. Wajahnya rapi, rambutnya disisir ke belakang, kemeja biru muda dengan manset yang bersih. Di layar laptopnya, slide presentasi sudah siap: rencana ekspansi, proyeksi margin, simulasi risiko. Di kepalanya, ada hal lain yang tidak masuk slide: pertanyaan tentang “cukup” yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis.
Jayeng bukan orang yang miskin. Ia juga bukan orang yang benar-benar kaya. Ia hidup di zona yang sering disebut nyaman—kelas menengah ke atas—dengan cicilan rumah yang tertib, mobil yang wangi, dan kartu kredit yang limitnya kadang membuatnya merasa “berhasil”. Ia punya gelar yang bagus, jaringan yang luas, dan kalender yang selalu penuh. Namun belakangan, ia sering merasa seperti hotel bintang lima yang lampunya mewah, tapi ruang mesinnya berisik.
Di seberang Jayeng, duduk Ragil, perempuan yang selalu membawa buku catatan kecil seperti amunisi. Ragil memimpin tim riset dan pengembangan di sebuah perusahaan consumer goods yang sedang naik daun. Ia bicara cepat, berpikir lebih cepat, dan punya kebiasaan menatap langsung ke mata orang ketika bertanya—seolah kebenaran adalah sesuatu yang bisa dipaksa keluar dengan tatapan.
Di dekat pintu, ada Sutris, kepala operasional yang jarang tersenyum. Di sampingnya, Laras, finance controller, yang setiap kali membuka file excel seperti sedang membuka ruang sidang. Dan di kursi paling ujung, agak menyamping, duduk Kinasih—orang baru di ruangan itu, konsultan brand dan budaya kerja yang direkrut untuk “merapikan narasi”.
Kinasih datang dari Malang, pernah lama tinggal di beberapa kota, dan kini hidup di Jakarta seperti orang yang selalu siap pindah. Ia tidak membawa laptop besar. Ia hanya membawa tablet tipis dan sebuah pouch kain kecil.
Rapat dimulai dengan kata-kata yang terdengar familiar: “growth”, “scale”, “efficiency”, “market share”. Kata-kata itu meluncur seperti kereta cepat, dan semua orang di ruangan itu seolah penumpang yang tidak boleh turun.
Jayeng memaparkan strategi: produk baru yang menargetkan segmen premium, kampanye digital besar-besaran, kolaborasi dengan influencer, dan pembukaan tiga hub distribusi di kota-kota tier dua. Ia bicara dengan tenang, tapi matanya kadang menepi, seperti mencari sesuatu di luar ruangan.
Ketika slide mencapai bagian “Value Proposition”, Kinasih mengangkat tangan pelan.
“Boleh saya tanya,” katanya, suaranya lembut, namun terasa menahan sesuatu. “Nilai yang kita jual ini… nilai untuk siapa? Untuk pembeli? Untuk investor? Untuk kita di ruangan ini? Atau untuk orang-orang yang tidak pernah masuk ruangan rapat tapi hidupnya kita ubah lewat keputusan kita?”
Ragil menoleh cepat. Sutris mendesah pelan. Laras mengangkat alis seperti menghitung risiko pertanyaan.
Jayeng tersenyum kecil, sebuah senyum yang sering dipakai orang untuk menjaga profesionalitas. “Kita tentu ingin nilai untuk semua pihak,” jawabnya. “Kalau perusahaan sehat, semua dapat manfaat.”
“Sehat itu seperti apa?” Kinasih tidak menyerang, tapi juga tidak mundur. “Sehat di laporan, atau sehat di hidup?”
Ruangan mendadak sunyi. Proyektor tetap menyala. Grafik tetap menanjak. Tapi ada sesuatu yang turun: kecepatan.
Jayeng merasa pertanyaan itu seperti mengetuk pintu yang selama ini ia gembok dari dalam. Ia menatap Kinasih. Perempuan itu menunggu tanpa menuntut.
“Begini,” Jayeng menghela napas, memilih kata-kata seperti memilih pecahan kaca agar tidak melukai. “Kita dituntut bertumbuh. Kalau tidak tumbuh, kita mati. Dunia sekarang begitu.”
Kinasih mengangguk, seolah mengerti. Lalu ia membuka pouch kain kecilnya. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil transparan, berisi buah berwarna ungu kemerahan, kecil-kecil, mengilap seperti manik-manik.
Beberapa orang saling pandang. Di meja rapat semewah itu, benda kecil itu tampak aneh—seperti doa yang salah tempat.
“Ini parijoto,” kata Kinasih.
“Buah apa?” Ragil bertanya spontan, setengah penasaran, setengah skeptis.
“Parijoto,” ulang Kinasih. “Tanaman yang sering dianggap membawa berkah. Ada mitos kuat di beberapa daerah—orang percaya buah ini membantu harapan menjadi nyata. Banyak yang mencari, membeli, membawa pulang. Ada yang menjadikannya simbol doa.”
Sutris tertawa kecil tanpa suara. “Kita di sini bahas bisnis, bukan jimat.”
Kinasih tidak tersinggung. Ia menggeser kotak kecil itu ke tengah meja, pelan, seperti menaruh sesuatu yang rapuh.
“Saya tidak minta kita percaya mitosnya,” katanya. “Saya hanya minta kita belajar dari cara manusia memberi makna pada sesuatu.”
Laras menatap buah itu dengan rasa ingin tahu yang disembunyikan.
Kinasih melanjutkan, “Parijoto hidup di tempat yang tidak glamor: lembap, teduh, sering di ketinggian. Ia tidak tumbuh di tanah yang dipamerkan. Ia tidak butuh sorot lampu. Buahnya kecil, tapi orang bisa menaruh harapan besar di atasnya.”
Jayeng merasa ada sesuatu yang bergerak di dadanya. Buah kecil, harapan besar. Ia teringat target yang besar, tidur yang kecil.
Ragil menyilangkan tangan. “Tapi fakta ilmiahnya bagaimana? Khasiatnya apa?”
“Nah,” Kinasih tersenyum, “kita masuk ke bagian ‘fakta’.”
Ia mengetuk tablet, menampilkan beberapa catatan. Ia tidak mengutip panjang-panjang, hanya menyebutkan garis besarnya: parijoto dikenal mengandung senyawa antioksidan; beberapa orang mengaitkannya dengan kesehatan; ada penelitian yang meneliti kandungan fitokimia; ada juga keterbatasan bukti untuk klaim-klaim tertentu. Banyak yang masih perlu diuji. Banyak yang masih berada di wilayah ‘mungkin’.
“Faktanya,” kata Kinasih, “parijoto tidak bisa menggantikan dokter. Tidak bisa menjadi jalan pintas. Tapi ia bisa menjadi simbol: bahwa manusia butuh sesuatu untuk memegang harapan.”
Jayeng menyandarkan punggung, merasa ruangan rapat itu mendadak berubah jadi ruang refleksi.
Kinasih menatap satu per satu. “Di bisnis, kita juga punya parijoto versi kita: angka-angka yang kita percaya bisa menyelamatkan. KPI yang kita puja. Prediksi yang kita gantungkan nasibnya. Kita bilang itu fakta. Padahal seringkali… itu juga mitos modern. Mitos yang kita sepakati bersama.”
Sutris ingin membantah, tapi suaranya tertahan. Karena ada kebenaran yang menyebalkan: banyak orang di ruangan itu memang hidup seperti sedang menyembah grafik.
Ragil mencondongkan tubuh. “Maksud Anda, kita harus berhenti mengejar angka?”
“Bukan,” jawab Kinasih cepat. “Saya orang kerja. Saya tidak romantis sampai bodoh. Angka penting. Tapi angka tidak boleh jadi Tuhan. Angka harus jadi alat.”
Jayeng menatap slide di layar: proyeksi naik 18% YoY. Di bawahnya, ada catatan: efisiensi biaya SDM 7%. Kalimat itu terasa seperti pisau yang rapi.
Ia teringat minggu lalu, ketika ia menyetujui pemangkasan tim kontrak di pabrik. Ia tidak bertemu orang-orang itu. Ia hanya bertemu angka. Ia bilang itu keputusan “rasional”. Tapi malamnya, ia tidak bisa tidur.
“Parijoto,” Kinasih berkata lagi, “buahnya kecil. Orang yang memakannya tidak tiba-tiba kaya. Tapi ada orang yang setelah memakannya, lebih tenang. Lebih yakin. Lebih siap menjalani hari. Kadang yang menyembuhkan bukan zatnya saja—tapi ritualnya.”
Ragil mengerutkan kening. “Itu placebo.”
“Mungkin,” Kinasih mengangguk. “Tapi placebo itu juga fakta tentang manusia: bahwa pikiran bisa mempengaruhi tubuh. Bahwa makna bisa mempengaruhi keputusan.”
Jayeng merasa kata “makna” itu seperti pintu yang terbuka. Ia ingat ayahnya di Surabaya, seorang pedagang yang tidak pernah bicara soal “purpose”, tapi selalu bilang: ‘Sing penting ojo ngapusi atimu dhewe.’ Yang penting jangan menipu hatimu sendiri.
Jayeng menelan ludah. Ia menatap kotak parijoto itu. Buah kecil itu tidak bicara, tapi seperti menatap balik.
“Lalu apa relevansinya buat strategi kita?” Laras bertanya, suaranya datar, tapi ada kelelahan di baliknya.
Kinasih menatap Laras dengan lembut. “Kita mau ekspansi premium. Kita mau menjual ‘kualitas hidup’ lewat produk. Tapi apakah di dalam organisasi ini, kualitas hidup itu ada? Apakah kita hanya menjual narasi, tapi di dalamnya kita menggerus manusia?”
Sutris mengetuk meja. “Kalau kita tidak efisien, kita kalah.”
“Efisien itu perlu,” Kinasih mengangguk. “Tapi efisiensi tanpa welas asih adalah mesin yang akhirnya memakan pengemudinya.”
Jayeng merasakan kalimat itu seperti menggurat. Ia menatap timnya: Ragil yang bekerja tanpa jam pulang; Sutris yang selalu tegang; Laras yang selalu takut salah; dirinya sendiri yang selalu mengejar. Mereka semua terlihat seperti orang-orang sukses. Tapi mata mereka tidak bersinar. Mata mereka hanya berjaga.
Rapat berlanjut, tapi kini dengan gelombang lain. Jayeng mulai bertanya hal-hal yang biasanya ia lewati: dampak pemangkasan, program reskilling, keseimbangan beban kerja, dan bagaimana kampanye premium tidak menjadi tipu daya.
Ragil, yang biasanya agresif, mendadak terdengar manusiawi ketika menyebut bahwa timnya kelelahan. Sutris mengaku bahwa turnover di gudang meningkat. Laras bilang, pelaporan bagus tidak berarti orang baik-baik saja.
Di tengah pembahasan, Kinasih membuka satu buah parijoto, membaginya kecil-kecil di piring kertas. Ia tidak memaksa siapa pun makan. Ia hanya meletakkan.
Aneh, tapi ruangan rapat itu seperti mengalami sesuatu yang jarang terjadi: jeda. Orang-orang mengambil buah kecil itu seperti mengambil kesempatan untuk menjadi pelan.
Jayeng menggigit parijoto dengan ragu. Rasanya tidak dramatis. Ada manis tipis, asam ringan. Tapi sesuatu di kepalanya terasa seperti diremas lalu dilepas: ia tidak bisa menjelaskan, namun ia merasa lebih sadar.
Sadar bahwa hidupnya selama ini seperti tanaman yang dipaksa berbuah di bawah sorot lampu, tanpa tanah yang cukup.
Sadar bahwa ia punya dua pilihan: terus berlari sampai jatuh, atau belajar bertumbuh dengan akar.
Selesai rapat, Jayeng berdiri sendiri di depan jendela. Jakarta terlihat seperti papan sirkuit: lampu-lampu kecil bergerak, sinyal-sinyal menyala, semuanya cepat.
Kinasih mendekat tanpa suara. “Rasanya bagaimana?” tanya Kinasih, merujuk pada parijoto, tapi Jayeng tahu pertanyaan itu lebih luas.
Jayeng tersenyum kecil, kali ini lebih jujur. “Biasa saja.”
Kinasih tertawa pelan. “Ya. Parijoto bukan sihir. Tapi kadang manusia butuh simbol untuk mengingatkan: jangan menggantungkan hidup hanya pada hal-hal yang bisa dihitung.”
Jayeng mengangguk. “Saya merasa… kita sering jadi orang yang punya segalanya, tapi gampang hancur oleh hal kecil.”
“Karena yang kecil sering kita abaikan,” kata Kinasih. “Seperti akar. Tidak kelihatan, tapi menentukan.”
Jayeng menatap ke bawah, ke trotoar. Ia melihat orang-orang berjas, membawa tas mahal, berjalan cepat. Ia melihat juga petugas kebersihan, mendorong kereta sampah, berjalan pelan. Kota itu bergerak bersama, tapi tidak semua orang punya ritme yang sama.
Jayeng berkata pelan, “Saya ingin mengubah sesuatu. Tapi saya takut.”
Kinasih tidak menghibur dengan kalimat manis. Ia hanya berkata, “Takut itu wajar. Tapi lebih menakutkan kalau kita sudah tidak takut lagi melakukan yang salah.”
Jayeng menghela napas panjang. Ia teringat betapa sering ia menormalkan hal yang tidak normal: kerja sampai lupa keluarga, rapat sampai lupa makan, keputusan tanpa wajah manusia.
Hari itu, Jayeng tidak tiba-tiba menjadi orang suci. Ia tetap harus menutup kuartal, tetap harus mengejar target, tetap harus bernegosiasi dengan investor. Tetapi ada sesuatu yang berubah: ia mulai memberi ruang bagi akar.
Ia memulai dari hal yang tampak kecil: menunda pemangkasan, menggantinya dengan program efisiensi yang tidak mengorbankan kontrak paling rentan. Ia meminta Ragil membuat peta beban kerja dan mengatur ulang ritme. Ia meminta Sutris merancang sistem pelatihan lintas fungsi agar orang gudang punya jalan naik. Ia meminta Laras merancang indikator kesehatan organisasi yang tidak hanya finansial—tapi juga manusia: turnover, burnout, kepuasan tim, dan waktu pulang.
Orang-orang mengira Jayeng “melunak”. Ada yang bilang ia “terlalu idealis”. Ada yang mencibir: “Nanti kalau profit turun, siapa yang tanggung jawab?”
Jayeng menanggungnya. Bukan karena ia paling benar, tapi karena ia lelah menjadi orang yang terlihat sukses tapi rapuh.
Beberapa bulan kemudian, di sebuah forum internal, Jayeng membawa sebuah pot kecil ke panggung. Di dalamnya, tanaman parijoto tumbuh pelan—daunnya hijau, batangnya kecil, seperti tidak ingin mengganggu.
“Ini bukan simbol mistik,” kata Jayeng di depan ratusan karyawan. “Ini pengingat. Kita boleh bertumbuh cepat, tapi jangan mencabut akar. Kita boleh mengejar premium, tapi jangan membuat kemanusiaan jadi barang murah.”
Ia berhenti sebentar. Suasana hening. Lalu ia menambahkan, suaranya sedikit bergetar, “Saya minta maaf—kalau selama ini kita terlalu sering memuja angka sampai lupa orang.”
Tidak semua orang menangis. Tidak semua orang percaya. Tapi beberapa orang menunduk. Karena mereka tahu: minta maaf dari pemimpin bukan kelemahan. Itu keberanian yang jarang.
Setelah acara, seorang staf muda menghampiri Jayeng. Namanya Wijaya. Ia baru bekerja dua tahun, lulusan universitas swasta, cerdas tapi pendiam.
“Mas,” kata Wijaya, gugup, “saya dulu pernah lihat parijoto di rumah nenek saya. Nenek saya bilang… parijoto itu buah doa. Bukan karena buahnya menyihir, tapi karena orang yang memakannya jadi ingat: hidup itu titipan.”
Jayeng menatap Wijaya. Di dadanya ada sesuatu yang hangat, tapi juga menyakitkan—seperti sadar bahwa ia baru belajar hal yang seharusnya ia tahu sejak lama.
Ia mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Dan titipan itu harus dijaga, bukan diperas.”
Malamnya, Jayeng pulang lebih awal. Ia menyalakan lampu rumah yang hangat, bukan lampu kantor yang putih. Ia membuka sepatu, duduk sebentar, dan mendengar sunyi. Sunyi yang dulu ia takuti, kini ia butuhkan.
Di meja makan, ia melihat kotak kecil parijoto yang dulu diberikan Kinasih. Ia mengambil satu, memakannya pelan.
Rasanya tetap biasa saja.
Tapi kali ini, yang berubah bukan lidahnya.
Yang berubah adalah cara ia menatap hidup: tidak lagi sebagai lomba, tapi sebagai taman. Ada musim. Ada cuaca. Ada akar. Ada buah yang kecil, tapi cukup untuk mengingatkan manusia agar tidak menjadi mesin.
Di luar, Jakarta masih bising. Tetapi di dalam rumah, Jayeng akhirnya mendengar suara yang lama hilang: suara hatinya sendiri, yang pelan-pelan pulang.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia percaya: pertumbuhan yang paling mewah bukan yang paling cepat, melainkan yang paling manusia.
.
.
.
Malang, 5 Januari 2026
Jeffrey Wibisono V.
.
.
#Cerpen #KompasMinggu #Parijoto #MitosDanFakta #FilosofiHidup #BudayaKerja #Leadership #EtikaBisnis #KelasMenengah #CeritaPerkotaan #RefleksiDiri #MaknaBertumbuh #NamakuBrandku