Negeri yang Belajar Berbicara Pelan

“Ada peristiwa yang tidak meminta penjelasan,
hanya meminta sikap.”

Jingga membaca kabar itu ketika kota belum sepenuhnya bangun. Kopinya masih panas, jendela masih berembun, dan suara kendaraan belum terlalu rapat. Ia membaca sekali, lalu berhenti, seperti seseorang yang tahu bahwa pengulangan tidak akan mengubah makna.

Seorang turis asal Tiongkok meninggal dunia di kawasan Kawah Ijen.

Kalimat itu berdiri sendiri. Tidak menawarkan sebab. Tidak membuka ruang tafsir. Hanya satu kepastian: ada seseorang yang datang jauh-jauh, dan tidak pulang.

Jingga meletakkan cangkirnya. Tangannya tidak gemetar. Ia sudah terlalu lama berada di dunia komunikasi publik untuk bereaksi berlebihan. Namun di dadanya, ada sesuatu yang pelan-pelan turun, seperti beban yang tidak terlihat.

Ponselnya bergetar lagi.

Turis asal Spanyol, figur publik, tenggelam di perairan Pulau Komodo.

Ia menutup mata sebentar. Bukan untuk menolak kabar, melainkan untuk menempatkan dirinya kembali pada peran yang harus ia jalani. Dalam hitungan menit, dua peristiwa itu akan bergerak lebih cepat dari siapa pun: ke media, ke jejaring sosial, ke percakapan global yang tidak pernah benar-benar menunggu penjelasan.

Jingga tahu, sejak pagi itu, ia tidak lagi berbicara sebagai dirinya sendiri.

Ia bukan pejabat yang muncul karena sorotan. Latar belakangnya bukan panggung politik, melainkan ruang kelas komunikasi massa, meja kebijakan publik, dan simulasi-simulasi krisis yang selalu diajarkan sebagai kemungkinan—bukan kepastian.

Secara formal, ia menjabat sebagai juru bicara lintas kementerian untuk sektor pariwisata dan keselamatan destinasi. Tugasnya jelas: menyampaikan informasi kepada publik internasional dengan bahasa yang netral, faktual, dan dapat dipercaya.

Namun dunia tidak pernah benar-benar peduli pada jabatan.

Dunia hanya mendengar suara.

Dan suara itu, hari ini, adalah miliknya.

.

Rapat yang Tidak Mencari Pemenang

Rapat dimulai tanpa banyak kata pembuka. Tidak ada basa-basi. Tidak ada lelucon yang biasanya dipakai untuk mencairkan suasana.

Kanuragan duduk dengan berkas keselamatan destinasi yang sudah ia hafal di luar kepala. Diagram alur evakuasi, standar oksigen, batas aman gas belerang—semuanya tercetak rapi, seolah kertas-kertas itu bisa mencegah kematian jika dibaca cukup sering.

Jayengrana membuka peta media internasional. Grafik percakapan digital naik tajam, terutama dari Eropa dan Asia Timur. Kata-kata seperti negligence, accountability, dan tourism safety mulai muncul berulang.

Raras menyiapkan catatan etika komunikasi global. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimat yang ia tulis terasa seperti pengingat akan batas yang mudah dilanggar.

Tidak ada yang berbicara tentang promosi. Tidak ada yang menyebut target kunjungan. Angka-angka ditinggalkan di luar ruangan.

Yang mereka bicarakan adalah sikap.

“Kalau kita terlambat,” kata seorang pejabat senior yang datang belakangan, “narasi akan dibentuk orang lain.”

Jingga mengangkat kepala. Suaranya tenang, tetapi tegas.

“Kalau kita tergesa-gesa,” katanya, “narasi itu akan membentuk kita.”

Ruangan hening.

“Yang mati bukan wisatawan,” lanjutnya pelan.
“Yang mati adalah manusia.”

Kalimat itu tidak ditulis di notulen. Tetapi tidak ada yang melupakannya.

.

Tekanan yang Datang dari Banyak Arah

Tekanan tidak datang dari satu pintu. Ia datang dari segala arah.

Dari industri yang khawatir pembatalan massal.
Dari politisi yang takut headline.
Dari birokrasi yang terbiasa menutup celah dengan prosedur.
Dari media yang mencari kalimat tegas—apa pun artinya.

“Minimal kita harus bilang ini insiden terisolasi,” usul seseorang.

Jingga menggeleng pelan. “Kematian bukan insiden. Ia selalu peristiwa utuh.”

Untuk kasus Kawah Ijen, ia menolak penggunaan frasa “risiko wisata”. Ia tahu, kata itu terdengar logis bagi birokrasi, tetapi dingin bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia memilih kalimat yang lebih sederhana: duka, keterbukaan, evaluasi.

Untuk Komodo, tekanannya lebih berat. Korban dikenal publik. Kamera sudah siap. Narasi global sedang mencari pijakan.

Seorang konsultan komunikasi luar negeri mengirim pesan singkat:
Control the narrative before it controls you.

Jingga membaca pesan itu lama. Lalu mematikannya.

.

Bahasa yang Bisa Menjadi Luka

Malam sebelum konferensi pers internasional, Jingga tidak langsung pulang. Ia duduk sendiri di ruang kerjanya yang lampunya redup. Dari jendela, Jakarta terlihat seperti biasa: bergerak, bercahaya, dan tidak menyadari bahwa di suatu tempat, keluarga lain sedang menunggu kabar yang tidak akan datang.

Ia membaca ulang draf pernyataan.
Ia mencoret satu kalimat yang terdengar terlalu teknis.
Ia menghapus satu paragraf yang berpotensi defensif.
Ia menghentikan satu kalimat tepat sebelum terdengar seperti pembelaan.

Ia tahu, bahasa bisa melukai tanpa niat.

Ingatan masa kecilnya muncul tanpa diminta.

Rumah itu tidak besar. Dindingnya biasa. Ayahnya seorang guru sekolah negeri. Ibunya membuka warung kecil di depan rumah. Di sana, suara jarang ditinggikan.

Ayahnya punya kebiasaan berhenti membaca koran setiap kali menemukan berita duka. Ia melipat kertasnya perlahan, lalu diam sejenak.

“Kalau kamu tidak tahu harus berkata apa,” kata ayahnya suatu sore,
“jangan menambah suara.”

Jingga kecil mengangguk, tanpa sepenuhnya mengerti.

Bertahun-tahun kemudian, kalimat itu tumbuh menjadi sesuatu yang lain:
diam sebagai tanggung jawab.

.

Konferensi Pers Tanpa Perayaan

Pagi konferensi pers, ruangan disiapkan tanpa simbol berlebihan. Tidak ada gambar destinasi. Tidak ada slogan. Tidak ada bendera. Tidak ada klaim.

Hanya podium, kursi wartawan, dan pencahayaan yang tidak mencari dramatisasi.

Jingga berdiri di belakang layar. Jasnya rapi. Wajahnya tenang. Di dalam dirinya, ada retak yang tidak boleh terlihat.

Raras mendekat, suaranya rendah.
“Ingat, kamu tidak sedang menjawab pertanyaan,” katanya.
“Kamu sedang mewakili cara sebuah negara berpikir.”

Ia mengangguk.

Lampu menyala. Mikrofon aktif.

Jingga melangkah ke depan.

“Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan media internasional,” katanya dalam bahasa Inggris yang datar. “Hari ini kami tidak berbicara tentang promosi. Kami berbicara tentang kehilangan.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Kami menyampaikan duka cita kepada keluarga korban. Setiap orang yang datang ke negeri kami adalah tamu. Dan setiap kehilangan adalah tanggung jawab moral yang kami rasakan.”

Pertanyaan datang cepat.

“Apakah ini kegagalan sistem keselamatan?”
“Apakah Indonesia lalai?”
“Apakah destinasi ini masih aman?”

Jingga tidak langsung menjawab. Ia memberi jeda. Ia tahu, jeda adalah bagian dari bahasa.

“Kami tidak akan berspekulasi,” katanya. “Kami memilih transparansi melalui investigasi terbuka dan evaluasi menyeluruh. Keselamatan tidak boleh menjadi formalitas.”

“Bagaimana dengan citra pariwisata Indonesia?”

Jingga menatap lurus ke depan.

“Citra tidak dibangun dari penyangkalan,” jawabnya.
“Citra dibangun dari sikap saat diuji.”

Kalimat itu dicatat.
Dikutip.
Disiarkan.

.

Setelah Lampu Mati

Setelah konferensi pers selesai, ruangan kembali kosong. Mikrofon dipindahkan. Kabel digulung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada perayaan.

Jingga berdiri sebentar di sana. Tanpa jas. Tanpa kamera.

Ia memikirkan laut Komodo—indah, tetapi tidak pernah berjanji aman.
Ia memikirkan asap belerang di Kawah Ijen—diam, tetapi menempel lama.

Beberapa hari kemudian, rekomendasi resmi keluar: pembatasan baru, pelatihan ulang pemandu, revisi protokol, evaluasi lintas lembaga. Tidak populer. Tidak instan. Tetapi nyata.

Ia menerima pesan-pesan tidak resmi:
“Kamu terlalu pelan.”
“Kamu membuat negara terlihat lemah.”

Jingga tidak membalas.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan. Dunia beralih ke berita lain.

Suatu sore, ia melewati ruang konferensi pers yang kini kosong. Podium masih di sana. Tidak berubah.

Ia tidak berhenti lama.

Ia berjalan pergi, tanpa memastikan apakah kata-katanya akan bertahan.
Tanpa menilai apakah sikap itu cukup.
Tanpa kesimpulan.

Di belakangnya, ruangan tetap sunyi.
Di luar, dunia berjalan seperti biasa.

Dan mungkin, pikirnya,
memang begitulah cara sebuah negeri belajar berbicara pelan.

.

.

.

Malang, 7 Januari 2026

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompas #NegeriYangBelajarBerbicaraPelan #KomunikasiKrisis #JuruBicaraNegara #BahasaYangDijaga

Leave a Reply