Bab yang Ditutup agar Dada Kembali Lapang

“Ada bab yang harus ditutup bukan karena kalah, melainkan karena kita akhirnya memilih bernapas.”

.

Malam itu Jakarta seperti menahan napasnya sendiri.

Gedung-gedung di sepanjang Sudirman berdiri dengan kesombongan cahaya—lampu-lampu menyala rapi, jendela kaca memantulkan bayangan orang-orang yang pulang dengan tubuh lengkap tetapi jiwa tercecer. Di ketinggian lantai dua puluh tujuh sebuah apartemen, Panji berdiri mematung di depan jendela. Di bawahnya, arus kendaraan mengalir seperti sungai yang tak pernah diberi kesempatan berhenti—seolah kota ini takut jika berhenti, ia akan runtuh oleh pikirannya sendiri.

Di meja makan yang sekaligus meja kerja, laptop Panji masih menyala. Kalender digital tahun 2025 penuh warna: rapat investor, kelas daring, sesi mentoring, tenggat proposal, peluncuran program. Di sudut kanan atas, ia menulis satu kalimat pendek—bukan target, bukan ambisi:

“Closing this chapter.”

Ia menulisnya sore tadi, setelah membaca pesan ibunya yang hanya berisi tujuh kata:
Ayah masuk rumah sakit lagi.

Panji menutup laptop perlahan. Ia duduk, menunduk, lalu menghela napas panjang. Kelas menengah ke atas diajari satu keterampilan yang jarang tertulis di kurikulum mana pun: menyembunyikan lelah dengan rapi.
Ia bisa berbicara tentang properti, return of investment, strategi pemasaran hotel butik, dan bagaimana membangun brand agar “punya jiwa.” Tetapi malam ini, semua istilah itu terasa seperti bahasa asing.

Besok pagi ia harus terbang ke Malang—menandatangani kerja sama renovasi sebuah bangunan tua. Proyek itu milik Sekar. Teman lama. Sekaligus orang yang paling lama ia hindari selama dua tahun terakhir.

Ponsel Panji bergetar.

Nama Sekar muncul di layar.

“Masih jadi datang?” suara di seberang terdengar tenang, tetapi ada retak halus yang tak bisa disembunyikan.

“Jadi,” jawab Panji.

“Aku jemput di bandara. Aku… pengin ngomong.”

“Oke.”

Telepon ditutup. Hening kembali menguasai ruangan. Hening yang tidak damai—hening yang penuh tagihan perasaan.

Panji memandang pantulan wajahnya di kaca jendela. Lelaki empat puluh tahunan dengan setelan rapi, jam mahal, dan lingkar mata yang tidak bisa ditutupi cahaya kota. Ia pernah belajar mengubah luka menjadi presentasi. Di media sosial, ia terlihat seperti pria yang selalu selesai dengan dirinya sendiri. Padahal lima tahun lalu, ia berdiri gemetar di samping ranjang ayahnya yang baru keluar dari ruang operasi jantung.

Ayah menggenggam tangannya waktu itu dan berbisik,
“Nak, hidupmu jangan cuma jadi lomba.”

Kalimat itu menempel lama di kepala Panji, tetapi tak pernah benar-benar ia pahami.

Krisis datang beruntun. Panji mundur dari kantor lama, membuka usaha konsultasi branding dan pelatihan kepemimpinan. Di masa itulah Sekar kembali masuk ke hidupnya.

Sekar—yang di kepala Panji sering ia sebut Dewi Ratna, adaptasi bayangan dari kisah Menak Madura—perempuan cerdas, tenang, anak keluarga pengusaha properti di Malang. Sekar memberi Panji proyek pertamanya: rebranding hotel keluarga yang hampir mati pelan-pelan.

Panji bekerja seperti orang mengejar ampunan. Ia turun ke dapur, berdiri di belakang resepsionis, ikut melatih staf housekeeping, ikut menyusun ulang cara menyapa tamu. Ia menghabiskan tabungan untuk membayar tim kecilnya—karena baginya, kepercayaan lebih penting daripada margin.

Hotel itu bangkit. Okupansi naik. Nama hotel kembali disebut orang.

Suatu malam, di lobi yang mulai ramai lagi, Sekar memeluk Panji. Tidak lama. Tidak dramatis. Tapi cukup membuat Panji merasa—untuk pertama kalinya—ia bisa pulang.

Namun setelah itu, Panji mulai menghilang.

Ia menunda membalas pesan. Menunda mendefinisikan hubungan. Menunda keberanian. Seolah definisi adalah perangkap yang akan mengurung kebebasannya.

Saat Sekar bertanya, “Kamu takut apa?”
Panji menjawab, “Takut gagal.”

Ia tidak pernah mengatakan yang sebenarnya:
ia takut mencintai dan tidak mampu menjaga;
takut menjadi seperti ayah—bekerja sampai lupa tubuhnya sendiri;
takut membangun rumah yang nanti runtuh karena ia terlalu sibuk mengejar “lebih.”

Sekar menunggu.
Panji menghilang.

Hubungan mereka berhenti tanpa kalimat perpisahan.

Dua tahun berlalu. Panji mengisi kekosongan dengan pencapaian. Sekar mengisi keheningan dengan bisnis baru. Dan kini, di penghujung 2025, semua yang tertunda meminta ditagih.

.

Bandara Abdul Rachman Saleh menyambut Panji dengan udara dingin yang jujur. Tidak seangkuh Jakarta. Tidak berpura-pura hangat.

Sekar berdiri di dekat pintu kedatangan. Ada garis-garis halus di sekitar matanya—garis yang dibuat oleh tidur yang kurang dan beban yang tak pernah diceritakan.

“Kamu kurusan,” kata Sekar.

“Kamu juga,” jawab Panji.

Di dalam mobil, Sekar menyetir tanpa banyak bicara. Kota Malang lewat dengan tenang—rumah-rumah, pohon-pohon, kios kecil, spanduk kursus: TOEFL, coding, kelas bisnis daring. Kota ini pun sedang berlari, tetapi dengan napas yang berbeda.

“Kita ke rumah sakit dulu,” kata Sekar akhirnya.
Guna yang bilang. Ayahmu dirujuk semalam.”

Nama itu membuat Panji terdiam. Guna—teman lama mereka, kini dokter jantung. Dalam kisah Menak Madura, Guna selalu digambarkan sebagai penimbang yang tenang.

Di rumah sakit, ruang rawat itu terang dan dingin. Ayah Panji terbaring dengan kabel monitor di dada. Wajahnya lebih tua, tetapi tatapannya masih tajam.

“Kamu datang,” kata ayah pelan.

Panji menggenggam tangan ayahnya. Ibu duduk di sisi ranjang, matanya sembab, tetapi senyumnya tetap sopan—seolah kesedihan pun harus dijaga etikanya.

Guna masuk, memeriksa catatan medis.
“Stabil. Tapi kali ini harus serius. Ayahmu nggak boleh hidup seperti dulu.”

Ayah tersenyum tipis.
“Dulu itu hidup, Nak. Sekarang baru belajar.”

Guna melirik Panji dan Sekar bergantian.
“Ada penyakit yang nggak bisa sembuh kalau orang-orangnya terus pura-pura nggak sakit.”

Kalimat itu jatuh tepat di dada Panji.

.

Sore itu, Panji dan Sekar duduk di kursi tunggu. Televisi kecil menampilkan berita ekonomi: inflasi, properti, suku bunga.

“Lucu ya,” kata Sekar.
“Angka selalu lebih mudah daripada perasaan.”

“Karena angka nggak menuntut kejujuran,” jawab Panji.

Sekar menatapnya lama.
“Aku capek, Panji. Bukan capek kerja. Aku capek nunggu orang yang selalu bilang nanti.”

Panji menutup mata.
“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut aku nggak cukup. Takut kalau aku dekat sama kamu, aku harus berubah, dan aku nggak tahu caranya. Jadi aku lari.”

Sekar menarik napas panjang.
“Aku cuma minta kamu hadir. Tapi kamu bikin aku jadi pintu yang kamu tutup pelan-pelan.”

Air mata Panji jatuh. Ia malu pada semua seminar vulnerability yang pernah ia bawakan. Ternyata, membahas rapuh jauh lebih mudah daripada menjadi rapuh.

“Aku mau berhenti,” katanya.

“Kalau begitu,” ujar Sekar pelan,
“tutup babnya. Jangan setengah.”

.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih lambat—dan itu terasa asing bagi Panji. Ia meninjau bangunan tua proyek co-living bersama Sekar, Ragil, dan Pateh—nama-nama yang dulu hanya ada di lingkar bisnis, kini masuk ke lingkar hidup.

Di bangunan berdebu itu, Sekar membuka jendela lebar-lebar.
“Di sini aku mau bikin perpustakaan kecil,” katanya.
“Bukan pajangan. Beneran buat hidup.”

Panji tersenyum pahit. Ia teringat dirinya sendiri—berhasil secara finansial, tetapi miskin ruang bernapas.

Saat Pateh bertanya soal komitmen waktu, Panji berkata jujur,
“Aku commit. Tapi bukan dengan cara lama. Kalau sistem butuh aku setiap hari, berarti sistemnya yang salah.”

Sekar menatap Panji. Untuk pertama kalinya, ia melihat lelaki itu tidak sedang lari.

.

Malam pergantian tahun, di balkon apartemen Jakarta, kembang api meledak jauh di langit.

“Kamu takut nggak kalau kita gagal lagi?” tanya Sekar.

“Takut,” jawab Panji jujur.
“Tapi aku lebih takut kalau aku nggak berani hidup.”

Ia menggenggam tangan Sekar.

“Kalau nanti kita lelah, kita istirahat.
Bukan pergi.
Kalau nanti kita marah, kita bicara.
Bukan diam.
Kalau nanti kita takut, kita pulang.
Bukan lari.”

Sekar menangis.
“Dan kalau nanti kita lupa, kita saling mengingatkan.”

Panji membuka ponselnya, melihat resolusi lama: omzet, ekspansi, pengakuan. Ia menghapus sebagian—bukan karena menyerah, melainkan karena sadar.

Yang ia cari selama ini bukan tepuk tangan,
melainkan tenang.

Ia menulis satu kalimat penutup tahun:

“Menutup bab bukan berarti menyerah—itu cara paling sunyi untuk menyelamatkan diri.”

Kembang api terakhir meledak.
Langit kembali gelap.

Tetapi kali ini, Panji tidak merasa sendirian.

Ada bab yang selesai.
Ada bab yang baru.

Dan untuk pertama kalinya,
ia siap membacanya—tanpa berlari.

.

Beberapa minggu setelah pergantian tahun, hidup Panji tidak tiba-tiba menjadi tenang seperti foto-foto motivasi. Ia justru menemukan satu kenyataan yang tidak pernah dibicarakan di panggung-panggung inspirasi: ketenangan pun menuntut keberanian.

Keputusan mengurangi proyek membuat pemasukan Panji tidak lagi stabil seperti sebelumnya. Kalender yang dulu penuh kini memiliki ruang kosong—ruang yang dulu ia pikir sebagai hadiah, tetapi sekarang terasa seperti ujian. Setiap ruang kosong memanggil suara lama dalam kepalanya: kamu sedang menyia-nyiakan potensi.

Di salah satu pagi, Panji duduk sendirian di apartemen. Ia menatap email yang belum dijawab: undangan menjadi pembicara utama di konferensi nasional—bayaran besar, eksposur luas, jaringan strategis. Jadwalnya padat. Hampir mustahil dilakukan dengan ritme hidup baru yang ia janjikan pada dirinya sendiri.

Ia memegang ponsel, jari-jarinya ragu.

Dulu, ia tidak pernah ragu.

Sekar memperhatikan perubahan itu dengan diam. Ia tidak lagi menanyakan jadwal Panji setiap hari. Ia belajar menahan dorongan untuk mengatur, karena ia tahu: orang yang baru belajar tinggal tidak boleh terus diawasi, atau ia akan kembali lari.

Namun suatu malam, ketika Panji pulang lebih larut dari kesepakatan mereka sendiri, Sekar berkata pelan, tanpa nada menuduh:

“Kamu kelihatan seperti sedang bernegosiasi dengan dirimu sendiri.”

Panji duduk. Menarik napas panjang.
“Aku takut,” katanya jujur.
“Takut apa?”
“Takut aku sedang meredam diriku sendiri.”

Kalimat itu menggantung lama di udara.

Sekar tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air, menyesapnya perlahan.
“Panji,” katanya kemudian, “ada perbedaan antara meredam diri dan mengatur diri.”

Panji menatapnya.

“Kamu dulu seperti api yang tidak pernah mengenal tungku. Sekarang kamu belajar memasak. Api tetap api—tapi tidak membakar rumah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menampar sesuatu yang dalam. Panji sadar: selama ini ia percaya bahwa ambisi harus selalu tampak keras agar dianggap hidup. Ia lupa bahwa ambisi pun bisa bertumbuh dengan sunyi.

Konflik berikutnya datang dari arah yang lebih nyata: uang.

Pateh menghubungi Panji. Anggaran proyek co-living perlu penyesuaian. Investor menginginkan percepatan. Konsekuensinya jelas—Panji harus turun lebih intens, atau kualitas program edukasi yang ia impikan harus dikurangi.

“Realistis saja,” kata Pateh di telepon.
“Pasar tidak peduli idealisme.”

Panji terdiam lama setelah telepon ditutup. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung ke sofa. Di kepalanya, dua suara bertabrakan:

Yang satu berkata: Ini dunia nyata. Jangan naif.
Yang lain berbisik: Kalau semuanya tunduk pada pasar, siapa yang menjaga manusia?

Malam itu, Panji tidak tidur. Ia menulis—bukan proposal, bukan pitch deck, tetapi catatan yang jujur tentang apa yang ingin ia bangun.

Ia menyadari sesuatu yang selama ini terlewat:
Visi tidak harus spektakuler untuk bisa dicapai. Ia harus bisa ditinggali.

Keesokan harinya, Panji menemui Pateh dan Ragil. Ia datang tanpa slide presentasi. Hanya dengan kertas penuh coretan tangan.

“Aku tidak mau memperbesar proyek ini,” kata Panji tenang.
“Aku mau memperdalamnya.”

Ragil mengernyit. “Itu berisiko.”
“Iya,” jawab Panji. “Tapi risiko terbesar adalah membangun sesuatu yang kita sendiri tidak sanggup tinggal di dalamnya.”

Ia mengusulkan perubahan:
bukan ekspansi cepat,
melainkan replikasi pelan;
bukan angka besar,
melainkan dampak yang bisa diukur secara manusiawi.

Pateh terdiam lama. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menimbang dengan tabel.
“Kamu siap kalau pertumbuhannya lebih lambat?”
Panji mengangguk.
“Aku siap tumbuh bersama, bukan di depan.”

Keputusan itu tidak disambut tepuk tangan. Tetapi ada satu hal yang Panji rasakan malam itu: dadanya tidak sesak.

Ayah Panji membaik perlahan. Suatu sore, mereka duduk di teras rumah sakit, memandang matahari turun.

“Kamu kelihatan beda,” kata ayah.
“Kurang sibuk?”
“Lebih hidup,” jawab Panji.

Ayah tersenyum kecil.
“Dulu ayah kira hidup itu tentang jadi kuat. Sekarang ayah tahu—hidup itu tentang tahu kapan berhenti.”

Kalimat itu mengunci sesuatu dalam diri Panji.

Beberapa bulan kemudian, proyek co-living berjalan. Tidak viral. Tidak heboh. Tetapi stabil. Penghuninya bukan hanya profesional muda, melainkan orang-orang yang mulai belajar mengenal batasnya sendiri.

Panji tidak menjadi figur besar seperti dulu. Ia menjadi mentor yang bisa ditemui di ruang bersama, minum kopi, mendengar cerita tanpa harus selalu memberi jawaban.

Sekar melihat Panji dari jauh suatu sore. Lelaki itu sedang membantu seorang staf muda menyusun rencana hidup sederhana—bukan karier lima tahun, tetapi ritme hidup yang masuk akal.

Sekar tersenyum.

Malam itu, di rumah, Sekar berkata,
“Kamu tahu kenapa aku bertahan?”

Panji menatapnya.
“Karena kamu tidak lagi menjanjikan langit. Kamu menyediakan tanah.”

Panji terdiam. Ia sadar:
ambisi yang paling sulit adalah ambisi untuk cukup.

Di akhir tahun berikutnya, Panji menulis di jurnalnya—bukan resolusi, bukan target:

Aku tidak ingin hidup yang mengesankan.
Aku ingin hidup yang bisa aku hidupi.

Ia menutup buku itu pelan.

Tidak ada kembang api.
Tidak ada sorak.

Hanya napas yang akhirnya kembali ke tubuhnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya,
itu sudah lebih dari cukup.

.

.

.

Malang, 27 Desember 2025

Jeffrey Wibisono V.

.

.

#CerpenKompasMinggu #SastraPerkotaan #CeritaDewasa #RefleksiHidup #MenutupBab #BernapasKembali #NamakuBrandku

.

Quotes Tambahan 

  • “Dewasa bukan tentang kuat terus-menerus, tapi berani mengaku lelah.”

  • “Hubungan tidak rusak karena konflik, tetapi karena orang-orang memilih menghilang.”

  • “Ada keberhasilan yang tampak hebat di luar, tetapi membuat kita kelelahan di dalam.”

Leave a Reply