Ditulis dengan gaya santai namun cerdas, serta penuh humor. Buku berisi catatan-catatan dari seorang hotelier, profesional di industri perhotelan dan pariwisata Indonesia, terkhusus Bali, ini nyaman dinikmati. Tidak saja penting bagi para praktisi perhotelan, tapi juga bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk-beluk bisnis dan kehidupan di dunia yang kerap dipandang glamour. Mulai dari bilik kamar hotel, dapur, hingga ruang-ruang pergaulannya yang hingar-bingar. Namun kadang juga menyentuh sisi hati yang terdalam dan sepi. Ditulis berdasarkan pengalaman, buku ini kaya pengetahuan dan pengajaran hidup yang patut diteladani.

TELAH TERBIT ->Hotelier Stories

Sejak 17 Desember 2016

Edisi pertama harga Rp. 150.000 per eksemplar + ongkos kirim via pos atau kurir

Ukuran buku A5 dengan 320 halaman dan berat per buku 400 gram.

Silakan pesan melalui email jeffrey@jeffreywibisono.com

Atau untuk yang berdomisili di Bali bisa datang langsung dan membeli di Ganesha Bookshops http://www.ganeshabooksbali.com/bookstore-order.cfm

cover-hotelier-stories-catatan-edan-penuh-teladan

 

Ucapan terima kasih khusus ditujukan kepada Ema Arifiani, organizer workshop Bikin Buku Club Bali (BBC #16) of Inspirator Academy. Buku ini terwujud dari hasil undangan untuk menjadi peserta workshop sehari penuh. Dilanjutkan dengan mengerjakan PR Harian yang harus dikirimkan via email untuk diterima mentor sebelum jam 12 malam. Teknik pendisiplinan dalam menciptakan kebiasaan menulis dimulai hari itu juga sejak 7 Mei 2016.  Beban tugas ini membuat saya non-stop menulis selama 40 hari dan menghasilkan 40 judul cerita pendek seri hotelier.

 

Endorsements

 

Jeffrey Wibisono si pejuang tangguh.

Pada awal pertumbuhan perhotelan modern Indonesia, belum banyak pihak yang mau terjun dan menekuni profesi di bidang perhotelan. Disamping belum populernya profesi ini, masih banyak persepsi negatif di beberapa kalangan masyarakat untuk bekerja di bidang perhotelan. Diperlukan pejuang dan perintis tangguh untuk mulai menggerakkan dan memajukan dunia perhotelan yang memang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan kepariwisataan Indonesia.

Jeffrey, adalah salah satunya. Dengan kemauan dan keberaniannya untuk mengungkapkan pengalaman suka dukanya menekuni profesi perhotelan, dari jabatan rendah sampai menggapai jabatan tertinggi, adalah suatu upaya yang harus diacungi jempol. Apalagi cara penyampaiannya yang secara popular, dan bernuansa kocak, sangat perlu dibaca oleh kalangan di luar perhotelan maupun yang menekuni dunia perhotelan itu sendiri.

Suatu karya yang berani. Selamat …!

Jakarta, September 2016

I Gede Ardika – Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata 2000 – 2004

 

Jeffrey, Hotel, dan Pariwisata Bali

Saya berkecimpung di dalam tugas-tugas kepariwisataan sejak tahun 1974, dan sudah merasai banyak jabatan; dari waiter, guide, Manager Restaurant, Manager Hotel, manager dan pemilik Biro PerjalananWisata, pemilik hotel, dan pemilik angkutan wisata. Bisa dibilang pula, sudah melihat dan menggeluti kepariwisataan Bali sejak awal, dan tetap mengikuti sampai hari ini.

Dan seingat saya, Jeffrey Wibisono mulai bekerja di Bali sejak awal 90an. Dan sejak itu pula saya sering berjumpa dalam berbagai macam kesempatan; party, rapat, dan lain sebagainya. Jeffrey yang saya kenal adalah sosok yang sangat cekatan dalam bekerja dan berusaha di bidang perhotelan, serta sebagai General Manager berbagai macam merek hotel.

Saya sangat menyambut gembira hadirnya buku yang berisi berbagai pengalaman yang dilihat dan dirasakan Jeffrey tentang bisnis hotel dan dunia pariwisata, khususnya Bali ini. Diceritakan dengan bahasa yang sederhana, lugu, dan mudah dicerna.

Buku ini saya harapkan akan memberikan pengertian dan pencerahan kepada anak-anak muda di Bali, para usahawan pariwisata dan pejabat pemerintah setempat tentang di mana letak dan standard kepariwisataan Bali secara nyata. Hal ini sangat berguna bagi kita semua untuk menoleh balik ke belakang, ketika value hidup atau kualitas hidup masyarakat Bali sudah menurun walaupun isi kantong mereka menebal.

Pembicaraan tentang daya dukung Bali yang diembuskan berbagai pakar sejak lima belas tahun yang lalu perlu dengan segera dan serius dicermati. Serta dilakukan koreksi-koreksi agar Bali tidak menjadi tourist destination in the past.

Akhirnya, selamat membaca dan menyimak.

Aloysius Purwa, MBA – Pengusaha dan Pioner Pariwisata Bali

 

Hotel, bisa jadi rumah kedua, dalam kehidupan kita. Setidaknya dalam hal keunikan,kekhasan, yang tak kita sadari walau kita terlibat di dalamnya. Misalnya kenapa yang namanya bellboy, ada yang berwajah kakek dan bahagia? Di mana  dan kapan sebaiknya memberi tip, atau… menerima tips? Jeffrey Wibisono sang hotelier menuliskan dengan renyah, enak dikunyah, dan bermanfaat.

Arswendo Atmowiloto  – Budayawan

 

Pengalaman hidup Jeffrey Wibisono itu mirip ‘Permadani Terbang Aladdin’ yang mampu membawa kita semua ke dalam petualangan imajinatif dengan simpul-simpul yang mengajarkan kita pada kearifan sangat langka.

Kafi KurniaKolumnis dan Konsultan Marketing

“Mengenyam pendidikan di Dunia Hospitality kemudian sempat nyemplung ke dunia kerjanya membuat saya ketawa sendiri membaca buku ini. Semua hal yang tidak diajarkan di kampus perhotelan manapun seluruh DUNIA terangkai cerdas di sini. Kita diajak ketawa sekaligus belajar bersama dari catatan Oom Jeffrey.”

Brili Agung – Penulis 23 Buku – CEO Inspirator Academy

Lewat pemaparan yang deskriptif dan bewarna, saya seolah dibawa penulis memasuki ruang-ruang hotel mewah dengan segala kompleksitasnya, mengulik di balik pintu dapur, menyapu lobby di jam senggang untuk mendapatkan pengetahuan dengan manajemen hotel dari sang ahli sang hotelier!

Margareta Astaman – Penulis Best Seller “After Orchard”

Membaca tutur dalam buku berdasarkan pengalaman hidup ini, membuat saya terkesima. Buku ini ditulis dengan rasa humor tinggi, menjadikan kekeliruan tidak harus dihakimi tetapi dibenahi dengan tetap memanusiakan kolega, belajar m

enjadi lebih baik dari lidah yang kesleo, kaki yang terserimpet ditengah glamour nya kepariwisataan.

Berbagi ilmu tanpa menggurui, mengajari. Mengkritisi tanpa mempermalukan. Bersaing tanpa menjatuhkan kolega.

Kepariwisataan adalah alat mengkayakan jasmani dan rohani kita, ruang dan waktu, akan kemana kita melangkah. Menjadi berlian atau justru jadi korban glamournya dunia plesure itu? Berani tampil beda dan menunjukkan citra diri, itulah Jeffrey sang hotelier yang saya kenal..

Dwi Yani – Wartawan dan Penulis