“Kami orang Cina tidak biasa memberikan tip, tetapi porter tetap menunggu di depan pintu menunggu tip. Kami tidak punya uang pecahan, kalau pun ada, kami pikir itu terlalu sedikit.”

 

***

Lain di Cina, lain pula di Indonesia.

Puluhan tahun lalu ketika saya mengantar tamu grup dari Jerman pada masa awal saya menjadi sales di Bali, salah seorang tamu perempuan lanjut usia meminta saya menadahkan tangan. Dan.. bergemerincinglah bunyi uang logam di kedua telapak tangan saya.

Saya terpana melongo, karena sebelumnya tidak pernah menerima pemberian tip. Saya menatap wajah sang tamu yang kemudian mengatakan, “Is it enough?”

Saya yang cepat tersadar segera menyampaikan terima kasih dan berjalan mundur ke arah pintu lalu menutupnya. Berlari-lari saya kembali ke kantor dan lapor ke Director of Sales saya. “Pak, saya dapat tip! Ini…, semua coin Jerman, DM.”

Tak lama, pecahlah tawa kami. Karena uang receh pecahan logam itu pastilah tak laku di Bali. Namun ditukar pun tak hendak. Saya hanya cukup berbahagia mengoleksinya. Numimastic, itu nama kerennya

Jadi, kita memang harus tahu, mengerti, dan paham budaya tipping di berbagai negara, serta mengerti nilai mata uangnya. Sebaiknya, sebelum melakukan perjalanan ke suatu destinasi mancanegara, juga disempatkan membaca tentang peraturan tipping. Daripada membuat malu diri sendiri setelah mengetahuinya di kemudian hari.

Dalam dunia perhotelan di Indonesia sendiri, ada cerita menarik soal tipping ini.

Bellboy, bellman, belldriver adalah orang-orang pertama yang kita temui ketika memasuki lobi sebuah hotel. Mereka adalah representasi hotel dalam hal customer service untuk welcoming sense. Mereka juga harus cekatan membantu angkat junjung bagasi tamu, mengarahkan atau bahkan memarkirkan kendaraan tamu, serta memberikan petunjuk arah apabila diminta.

Read more