Blur – Perihal Kehidupan

Jeffrey Wibisono V.

Tanda Tanya Perihal Kehidupan

 

Pada malam itu, badanku terbaring di atas tempat tidur, lelah sambil membiarkan hatiku dan benakku bertanya jawab liar kesana kemari.

Kali ini tentang 5W+1H tentang akhir kehidupan. Ada rasa khawatir dan kepikiran. Tetapi juga mempertanyakan tentang hakikat kehidupan  sebenarnya. Apakah aku sudah menjalani seutuhnya?

Aku bisa mempunyai lifestyle yang lumayan dari penghasilan bulanan. Bisa ke mall dan berbagai restoran setiap hari, berbelanja sepuasnya, mencari hiburan yang kadang tidak sehat, bergabung dengan beberapa asosiasi dan club. Tetapi, kok aku masih belum merasa puas ya.

Jadi, pertanyaannya adalah mengapa aku melakukan itu?

Apakah aku benar-benar membutuhkan kegiatan itu?

Aku berpikir bahwa aku bisa bebas melakukan apa pun dengan uangku dengan penghasilanku dengan kepunyaanku untuk memenuhi begitu banyak kebutuhan dalam daftar harian, mingguan dan bulananku. Sepertinya, aku memperlakukan kepunyaanku hanya sebatas memiliki. Setelah membeli tas kerja, menjadi hak, ya dipakai atau disimpan di lemari atau bahkan diletakkan begitu saja dengan sembrono. Aku sadar bahwa tidak benar-benar menaruh hati terhadap benda-benda dan materi yang kumiliki. Aku sering berpikir bahwa aku akan lebih senang jika bisa memiliki apa yang aku inginkan. Ini seperti berkompetisi dengan diri sendiri dalam memenuhi gaya hidup dan membentuk pola hidup. Aku tidak pernah merasa puas.

 

Aku melihat banyak orang di luar sana yang lebih baik dan lebih mampu dibandingkan aku sendiri. Timbul rasa kagum terhadap mereka. Dalam hati aku sering berkata “aku ingin seperti mereka, kaya raya, sukses, punya kuasa”. Aku gamang dalam pencarianku. Tapi aku juga berpikir adalah tidak masuk akal bagiku untuk mendapatkan segalanya dalam kehidupan. Aku paham ada batasan-batasan dan beragam perbedaan. Kalau di lalu-lintas ada istilah membaca rambu-rambu.

Saya juga telah banyak menyaksikan kenyataan bahwa sampai matipun, seseorang masih punya keinginan terhadap begitu banyak hal yang tidak akan pernah kita dapatkan.

Apakah in artinya kita telah menyia-nyiakan hidup dan buang-buang waktu?

Apakah ini artinya hal-hal yang telah kita lakukan adalah hal yang tidak berguna?

Apakah ini artinya kita tidak bermartabat?

Apakah sebenarnya hakikat kehidupan itu sendiri?

Apakah kita ini sudah hidup?

Apakah kalian pernah mendengar kata-kata “pesan terakhir almarhum” ? Nah! Itulah buktinya kalau seseorang sampai tarikan nafas terakhirnyapun masih punya sesuatu yang tidak rela untuk dilepaskan sehingga mesti dititipkan kepada yang hidup.

 

Pertanyaan selanjutnya yang kucari jawabannya adalah bagaimana sebenarnya cara memulai hidup?

Ini tidak sesederhana yang kupikirkan.

Ini adalah pertanyaan yang mendalam.

Sebagai pimpinan perusahaan, saya rutin harus melakukan tanya jawab terhadapa calon pekerja dalam proses rekrutmen.

Saya satu pertanyaan yang sering saya lontarkan adalah “at your this young age, so youthfull, why do you have to work?” (kamu masih begini muda, mengapa harus bekerja?)

Ada yang menjawab “untuk membahagiakan orang tua”

Lalu saya akan melanjutkan pertanyaan “apakah dalam hal ini kebahagiaanmu sendiri tidak perlu?”

Sampai disini, kita sering tidak mendapatkan jawaban.

A mistery!

Yang benar adalah dimana ada pertanyaan, ada jawabannya.

Bagiku, ini adalah hal yang sangat penting yang akan menentukan di mana kita harus memulai dan ke mana harus pergi.

Bertanya-tanya untuk apa sebenarnya hidupku dan apa yang kucari?”

Pertanyaan dengan makna yang sangat besar dan jawabannya seharusnya luar biasa.

Teman-teman muslim biasanya spontan menjawab dengan kata-kata Wallahu A’lam Bishawab yang artinya Hanya Allah yang Maha Mengetahui

 

Kembali kepada pengalaman hidupku dan sampai saat ini yang rasanya tidak pernah puas dengan hiburan, pakaian bagus, atau sesuatu yang baru, dan apapun upaya yang telah dan sedang kulakukan.

Sepertinya aku mendapat jawaban bahwa aku memiliki kebutuhan terdalam dalam hidupku, tetapi aku berusaha untuk memenuhinya dengan hal-hal yang salah. Jadi kebutuhan-kebutuhan itu tidak pernah benar-benar terisi.

Ini tentang kebutuhan batin kebutuhan jiwa – my soul my inner self.

Sesuatu yang tidak bisa kulihat dan kusentuh, tetapi nyata.

Jadi kebutuhan jiwaku mengarahkan  terhadap hal-hal yang tidak bisa kulihat atau kusentuh. Sesuatu yang ada di dalam ketiadaannya.

Bukan penghargaan  terhadap segala pencapaikan dan prestasiku.

Tetapi kasih.

Kasih yang berarti bisa menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Sering sulit dalam prakteknya dan terpaku dalam titik temu yang membeku.

 

Sering aku ingin membebaskan dan menyelamatkan orang lain dari penindasan orang lain. Penindasan secara batin maupun fisik.

Aku ingin orang lain menjadi diri sendiri, bebas merekspresi dengan segala kemampuan dan kreatifitasnya dan bersukacita karena memberi manfaat terhadap orang lain. Didalam hati kecilkupun hal sukacita inilah yang ingin kumiliki sendiri.

Memberi apabila kita memiliki sesuatu. Praktek inilah yang kusebut kasih.

Kita semua tahu setiap detik banyak orang bersaing menjadi kaya seperti dalam perdagangan di bursa saham. Ingin mengalahkan orang lain, melakukan apa pun untuk mendapatkan uang.

Media massa memberitakan ranking orang-orang terkaya di dunia. Mereka menjadi terkenal. Kemudian trendi, mengikuti fashion dan lifestyle adalah cara-cara untuk menjadi layak untuk hidup. Masalah itu datang dari gagasan bahwa hidup adalah mencapai sebanyak yang kita bisa.

Sering aku lupa bahwa sukacita datang dari memberi dan bersedekah.

Karena ketika aku ingin mendapatkan segala sesuatu, aku  merasa tidak  memiliki sesuatu dan selalu berkekurangan.

Sebaliknya, ketika aku mulai memberi, aku menyadari bahwa aku adalah seseorang yang bermanfaat untuk orang lain. Aktivitas  inilah menciptakan sukacita di hatiku.

Kekhawatiranku sekarang adalah kalau-kalau penghasilanku tidak mencukupi untuk berbagi dengan orang lain.

 

Lalu apakah aku sudah menjalani kehidupan seutuhnya?

Apakah aku telah berkecukupan?

Ya… aku selalu dicukupi oleh Tuhan Allah.

Kok rasanya aku bisa tenang dengan bersyukur dan bisa menikmati segala limpahan nikmat kesenangan dan kesusahan yang silih berganti. Kehidupanku menjadi indah karena berkat yang berbeda-beda tersebut setiap saat.

 

Tak terasa pengembaraan batin dan pikiranku perihal kehidupan telah memakan waktu tidurku. Nyatanya aku belum benar-benar tertidur sampai mataharipun telah terbit.  Hari dan tanggal malam itu telah berlalu dan aku masih berbaring di atas tempat tidurku pada pukul tujuh dengan membisu, berpeluh dan menyongsong arti hidup yang baru.

 

Bali, 06 Januari 2018

 

2019-01-06T16:39:04+00:00

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.